riniraihan

mainan bingkisan kivilisik usia 0-1 tahun

Posted on: September 30, 2012

mainan bingkisan kivilisik usia 0-1 tahun

Posted: September 20, 2012 in Uncategorized

2

Karya :

binti sulistiorini, dkk

Universitas Negeri Malang

 

MAINANAN KIVILISIK ANAK USIA 0-1 TAHUN

  1. A.   Latar Belakang

Menjadi orang tua mungkin adalah suatu peristiwa paling emosional, menakjubkan, dan menggugah dalam hidup manusia. Namun dalam segala kebahagiaan yang dialami, tetap timbul kekhawatiran dan ketakutan akan segala resiko pertumbuhan dan perkembangan bayinya. Semua bayi itu terlahir dengan temperamen yang unik. Walaupun begitu, sebagai orang tua sebaiknya mengajarkan nilai dan kepedulian kita terhadapnya. Ini berarti bahwa baik nature (pembawaan) maupun nurture (lingkungan) memainkan peran penting dalam perkembangan kepribadian bayi (Su Laurent dan Peter Reader, 2009: 11). Pekembangan fisik anak usia 0 – 1 tahun secara umum Tak ada yang bisa diperbuat bayi berusia satu bulan selain menangis. Tapi lambat-laun, seiring perkembangan kemampuannya, dia mulai bisa menggapai-gapai mainan yang tergantung di atas boksnya. Bayi belajar mengoordinasikan mata dan tangannya, hingga dia bisa meraih mainan itu. Anak usia 2 bulan masih mulai mengenal tangan dan kakinya untuk bermain. Selanjutnya untuk Usia 3-5 bulan sudah mulai dapat menggunakan anggota tubuhnya untuk menahan kepala dengan stabil, dapat mengangkat kepala sejajar badannya ketika diberi rangsangan untuk posisi duduk, hingga akhirnya anak akan mulai bisa duduk sendiri. Memasuki bulan ke 7-8 anak mulai bisa bermain sambil duduk tanpa terjatuh, dan anak mulai mencoba  merangkak. Bersamaan dengan ini, anak dapat melepas sesuatu dengan sengaja, anak akan mengambil benda kemudian melemparnya. Di usia ke 9 anak mulai dapat menggunakan jarinya lebih kuat untuk mencubit atau lebih terkoordinasi dengan baik. Menjelang bulan ke 10 hingga mencapai 1 tahun anak mulai dapat berdiri hingga berjalan sedikit demi sedikit.

Menurut pengamatan anak usia 7 bulan, tersebut sudah bisa duduk walaupun belum kuat menyangga badannya sendiri, anak masih suka menghisap jari tangannya jadi apapun mainan di masukkan kemulutnya. Sedangkan anak usia 9 bulan menurut pengamatan anak sudah bisa merayap, sudah bisa mengkoodinasikan tangan dan kaki untuk bermain, walaupun mainan yang ada masih dipukul-pukul saja. Anak-anak tersebut belum bisa diajak bercakap-cakap, anak tersebut hanya masih bisa diajak cilukBa.

Permasalahan anak usia 7 bulan yang belum kuat menyangga badannya ini disebabkan karena seringnya anak digendong tidak dilatih untuk duduk sendiri seperti diberi penyangga bantal dibelakangnya. Sedangkan anak yang masih suka menghisap jari tangannya, seharusnya anak diberi mainan gigitan yang aman bagi anak. Sedangkan untuk anak usia 9 bulan permasalahan yang ada yaitu anak masih saja mempermainkan alat permainan yang ada hanya dengan dipukul-pukul saja. Kurang berfariasi untuk menggerakkan anggota tubuhnya. Dari berbagai permasalahan yang terjadi pada anak usia 0-1 tahun tersebut khususnya usia antara 6-9 bulan, maka untuk alternatif pemecahan masalahnya dapat diberikan rangsangan berupa kegiatan bermain “Mainan Bingkisan Kivilisik” yang diharapkan dapat mengembangkan aspek perkembangan multiple intelligensi yaitu pada bidang kinestetik supaya anak dapat menggerakkan anggota tubuhnya dengan baik. Serta perkembangan visual spasial anak.

Permainan ini dipilih dengan tujuan untuk mengembangkan multiple intelligences khususnya kecerdasan kinestetik untuk melatih koordinasi tangan anak usia 0-1 tahun. Selain itu  pada kegiatan bermain ini anak akan dirangsang untuk menyelesaikan masalah sederhana yaitu bagaimana cara mengambil alat permainan yang ada dalam bungkusan tersebut dengan membuka bungkusan sesuai cara anak sendiri. Diharapkan dengan kegiatan bermain yang diberikan anak akan berkembang visual spasialnya dengan menunjukkan ketertarikan pada alat permainan dan kegiatan bermain tersebut. Khusunya kegiatan bermian ini diharapkan dapat mengembangkan perkembangan fisik khususnya bagi anak yang diobservasi yaitu agar supaya anak dapat mulai menggerakkan dan menggunakan bagian anggota tubuhnya dengan baik sesuai dengan perkembangan seusianya.

 

  1. B.   Tujuan penulisan

Melalui penyusunan buku ini diharapkan nantinya akan berguna bagi para pendidik dan orang tua sebagai pedoman dalam pendidikan dan pengasuhan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak pada rentan usia 0-1 tahun. Supaya pertumbuhan anak pada usia ini dapat berkembang sesuai dengan idealisme pengasuhan anak yang terstandar. Untuk mengantisipasi terjadinya malpraktik atau salah pengasuhan pada awal pertumbuhan dan perkembangan yang merupakan pondasi awal dari pada kehidupan anak kelak di masa mendatang.

 

  1. C.  Ruang Lingkup

Pekembangan fisik anak usia 0 – 1 tahun secara umum Tak ada yang bisa diperbuat bayi berusia satu bulan selain menangis. Tapi lambat-laun, seiring perkembangan kemampuannya, dia mulai bisa menggapai-gapai mainan yang tergantung di atas boksnya. Bayi belajar mengoordinasikan mata dan tangannya, hingga dia bisa meraih mainan itu. Anak usia 2 bulan masih mulai mengenal tangan dan kakinya untuk bermain. Selanjutnya untuk Usia 3-5 bulan sudah mulai dapat menggunakan anggota tubuhnya untuk menahan kepala dengan stabil, dapat mengangkat kepala sejajar badannya ketika diberi rangsangan untuk posisi duduk, hingga akhirnya anak akan mulai bisa duduk sendiri. Memasuki bulan ke 7-8 anak mulai bisa bermain sambil duduk tanpa terjatuh, dan anak mulai mencoba  merangkak. Bersamaan dengan ini, anak dapat melepas sesuatu dengan sengaja, anak akan mengambil benda kemudian melemparnya. Di usia ke 9 anak mulai dapat menggunakan jarinya lebih kuat untuk mencubit atau lebih terkoordinasi dengan baik. Menjelang bulan ke 10 hingga mencapai 1 tahun anak mulai dapat berdiri hingga berjalan sedikit demi sedikit.

Karakteristik anak usia 0-1 tahun sejak dini diantaranya meliputi aspek perkembangan sebagai berikut: perkembangan motorik sosial emosional, bahasa, kognitif. Ciri-ciri bermain anak 0-1 tahun menurut jean piaget anak belajar melalui pengalaman sebelumnya dan gerakan-gerakan spontan dan akhirnya terkoordinasi dengan baik.Dalam kegiatan bermain mempunyai beberapa peranyang mengembangkan multipleintellegence diantaranya: lingustik,matematik,visualspasial,kinestetik,musikal,interpersonal,intrapersonal,natural,spiritual.Permainan bingkisan kivilisik bertujuan mengembangkan kecerdasan jamak anak yang meliputi kecerdasan kinestetik,visual spasial,linguistik,musik. Permainan ini menggunakan bentuk balok yang terbuat dar flanel yang berwarna-warni dalam tujuan supaya lebih menarik yang di dalamnya berisikan kue. Dalam bermain ini tidak da peraturan bermain.

Kegiatan bermain ini diberi nama “Mainan Bingkisan Kivilisik” artinya mainan bermakna alat untuk bermain bingkisan artinya sebuah kotak untuk membungkus mainan, dan kivilisik merupakan kepanjangan dari kinestetik, visual spasial, linguistik dan musik. Sedangkan tujuan dari kegiatan bermain ini untuk mengembangakan beberapa aspek perkembangan anak diantaranya dari segi fisik anak bisa duduk dengan bantuan dan mencoba merangkak. Dari segi bahasa anak mulai merespon bila dipanggil namanya dan mengoceh saat bermain. Sedangkan dari segi seni dapat mendengarkan suara-suara disekitarnya. Kegiatan ini mempunyai beberapa manfaat bagi anak yang antara lain: (a) Mengembangkan  kecerdasan kinestetik anak, (b) Mengembangkan visual spasial anak, (c) Mengembangkan linguistik anak, (d) Mengembangakan musik anak.

 

 

 

LANDASAN TEORI

  1. A.   Karakterisrik Anak Usia 0-1 Tahun

Batasan tentang masa anak cukup bervariasi, istilah anak usia dini adalah anak yang berkisar antara usia 0-8 tahun. Namun bila dilihat  dari jenjang  pendidikan yang

berlaku di Indonesia, maka yang termasuk dalam kelompok anak usia dini adalah

anak usia SD kelas rendah (kelas 1-3), Taman Kanak-kanak, Kelompok Bermain dan

anak masa sebelumnya (masa bayi) (Ernawulan Syaodih: 9).

Masa usia dini merupakan masa yang penting yang perlu mendapat penanganan

sedini mungkin. Khususnya usia bayi 0-1 tahun:

  1. Perkembangan Motorik

Perkembangan motorik merupakan perkembangan unsur kematangan dan pengandalian gerak tubuh. Ada hubungan yang saling mempengaruhi antara kebugaran tubuh, keterampilan motorik, dan kontrol motorik.

Karakkteristik perkembangan motorik umur  0 – 1 tahun: a) Bermain dengan tangan, b) Menahan barang yang di pegangnya, c) Mengangkat kakai dan memainkan jari tangan di depan mata, d) Mencoba merangkak, e) Berjalan jika di pegang atau berpegangan.

  1. Perkembangan Emosi

Emosi merupakan suatu keadaan atau perasaan yang bergejolak pada diriseseorang yang disadari dan diungkapkan melalui wajah atau tindakan, yang berfungsi sebagai inner adjustment (penyesuaian dari dalam) terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan.
Karakteristik perkembangan emosi umur 0 – 1 tahun antara lain: a) Menunjukkan kenyamanan , minat dan kesenangan, b) Menanggapi orang lain selain pada orang tuanya, c) Mempunyai pola tidur yang teratur, d) Mulai berinisiatif untuk berintraksi dengan orang dewasa, e) Menunjukkan emosi yang beragam sepanjang harinya, biasanya berkaitan dengan stimulasi dari lingkungan.

  1. Perkembangan Sosial

Perilaku sosial merupakan aktivitas dalam berhubungan dengan orang lain, baik dengan teman sebaya, orang tua maupun saudara-saudaranya. Sejak kecil anak telah belajar cara berperilaku sosial sesuai dengan harapan orang-orang yang paling dekat dengannya, yaitu dengan ibu, ayah, saudara, dan anggota keluarga yang lain.

Karakteristik perkembangan sosial anak umur 0-1 tahun antara lain: a) Mulai merespon dengan senyum, b) Memperhatikan wajah dan/atau suara orang dewasa, c) Secara visual memilih seseorang dari pada benda diam saat melihat wajah atau mendengar suara seseorang, d) Mulai menyesuaikan tanggapannya pada orang lain, e)  Tersenyum dengan selektif, punya senyuman khusus untuk orang tua atau orang yang di kenalnya.

  1. Perkembangan Bahasa

Bahasa adalah bentuk aturan atau sistem lambang yang digunakan anak dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dilakukan untuk bertukar gagasan, pikiran dan emosi. Bahasa bisa diekspresikan melalui bicara mengacu pada simbol verbal. Karakteristik perkembangan bahasa anak umur 0 – 1 tahun antara lain: a) lebih banyak bersuara dari pada nangis, b) Mulai mengucapkan hurup-hurup hidup saat menangis, c) Menirukan suara saat di timang dengan mendekut, d) Bersuara atau berteriak tidak senang sebagai cara lain dari pada menangis.

  1. Perkembangan Kognitif

Di dalam kehidupan, anak dihadapkan kepada persoalan yang menuntut adanya pemecahan. Menyelesaikan suatu persoalan merupakan langkah yang lebih kompleks pada diri anak. Sebelum anak mampu menyelesaikan persoalan, anak perlu memiliki kemampuan untuk mencari cara penyelesaiannya. Karakteristik perkembangan kognitif anak usia 0-1 tahun antara lain: a) Mengetahui secara visual objek objek yang di letakka 8-10 inci di depan matanya, b) Melihat cahaya, c) Menghitung 3 buah benda, d) Mengikuti isyarat tubuh orang dewasa.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik perkembangan anak usia 0-1 tahun adalah sebagai berikut:

  • Ø Dari segi perkembangan motorik, anak sudah mampu bermain dengan tangan, menahan barang yang di pegangnya, mengangkat kakai dan memainkan jari tangan di depan mata, mencoba merangkak, berjalan jika di pegang atau berpegangan.
  • Ø Dari perkembangan emosi, anak sudah bisa Menunjukkan kenyamanan , minat dan kesenangan, menanggapi orang lain selain pada orang tuanya, mempunyai pola tidur yang teratur, mulai berinisiatif untuk berintraksi dengan orang dewasa, menunjukkan emosi yang beragam sepanjang harinya, biasanya berkaitan dengan stimulasi dari lingkungan.
  • Ø Dari perkembangan sosial, anak sudah mampu mulai merespon dengan senyum, memperhatikan wajah dan/atau suara orang dewasa, secara visual memilih seseorang dari pada benda diam saat melihat wajah atau mendengar suara seseorang, mulai menyesuaikan tanggapannya pada orang lain, tersenyum dengan selektif, punya senyuman khusus untuk orang tua atau orang yang di kenalnya.
  • Ø Perkembangan bahasa, anak sudah bisa lebih banyak bersuara dari pada nangis, mulai mengucapkan hurup-hurup hidup saat menangis, menirukan suara saat di timang dengan mendekut, bersuara atau berteriak tidak senang sebagai cara lain dari pada menangis.
  • Dari perkembangan kognitif, anak sudah mampu mengetahui secara visual objek objek yang di letakka 8-10 inci di depan matanya, melihat cahaya, menghitung 3 buah benda, mengikuti isyarat tubuh orang dewasa.

 

  1. B.   Karakterisrik Perkembangan Bermain Anak usia 0-1 Tahun

Bermain berasal dari kata main yang artinya melakukan permainan untuk menyenangkan hati (dengan menggunakan alat-alat atau tidak), melakukan perbuatan untuk bersenang-senang (dengan alat tertentu atau tidak) dan lain-lain. Adapun bermain berarti melakukan sesuatu untuk bersenang-senang, berbuat sesuatu untuk bersenang-senang saja. Su Laurent dan Peter Reader, 2009: 12 mengemukakan bermain penting sekali bagi perkembangan bayi. Dengan bermain, anak-anak mengenali dunia sekitarnya, mengembangkan kemampuan motorik mereka, dan belajar cara berkomunikasi.

Dari berbagai bahasan mengenai kegiatan bermain, pada umumnya hanya membedakan atau mengkategorikan kegiatan bermain tanpa secara jelas mengemukakan bahwa suatu jenis kegiatan bermain lebih tinggi tingkatan perkembangannya dibandingkan dengan jenis kegiatan lainnya. Karena bermain sebagai kegiatan utama yang mulai tampak sejak bayi berusia 3-4 bulan dan sangat penting bagi perkembangan kognitif anak, social dan kepribadian anak pada umumnya. Bermain selain berfungsi penting bagi perkembangan pribadi juga memiliki fungsi social dan emosianal.melalui bermain anak merasakan berbagai pengalaman emosi: senang, sedih, bergairah, kecewa, bangga, marah. Adapaun tahapan perkembangan bermain menurut para ahli pendidik anak usia dini adalah sebagai berikut:

Menurut Mildred Patren, karakteristik perkembangan bermain anak usia 0-1 tahun  pada tahap bermain unoccopied play (0-4 tahun), mempunyai ciri-ciri: anak tidak benar-benar terlibat dalam kegiatan bermain, melainkan hanya mengamati yang ada disekitarnya yang menarik perhatian anak.

Sedangkan menurut  Jean Piaget (Montolalu: 2.17), perkembangan anak bermain pada tahapsensory motor play (+/- ¾ bulan-1,5 tahun)bermain dimulai pada periode perkembangan koginitif sensori motor, anak belajar melalui skema-skema panca indranya, benda yang dilihat tidak menetap, dipelajari melalui pengalaman-pengalamannya sebelumnya. Gerakan-gerakan dari yang kebetulan sebarangan meningkat kegerakan-gerakan yang lebih disengaja lagi sepanjang tahapan. anak mulai belajar mengkoordinasikan fungsi-fungsi penglihatan dan gerak (seperti melihat benda yang menarik, kemudian merebutnya) dilakukan berulang-ulang karena merasa senang melakukannya.

Sedangkan Hurlock (Montolalu: 2.20) menyebutkan bahwa pada usia ini anak termasuk dalam tahapan bermain Tahap Penjelajahan (Exploratory stage) ) (0-5 tahun), ciri dari tahap penjelajahan berupa kegiatan mengenai objek atau orang lain, mencoba menjangkau atau meraih benda dikelilingannya, lalu mengamatinya. Penjelajahan semakin luas, saat anak sudah dapat merangkak dan berjalan, sehingga anak akan mengamati setiap benda yang akan diraihnya.

Dalam Bronson, bayi lahir sampai 1 tahun (0-1tahun) ciri dari bayi lahir sampai 6 bulan pada kemampuan motorik persepsi, kognitif. Sedangkan menurut Relly, (exploration play) (0-2tahun), ciri dari tahap exploration play berupa timbul keinginantahuannya yang besar untuk menjelejahi dunia sekitarnya dan dirinya sendiri. Bermain bebas tanpa aturan dan sehenda hatinya.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tahapan bermain anak usia 0-1 tahun menurut Mildred Patren anak usia 0-1 tahun termasuk dalam tahapan unoccopied play, Hurlock dalam tahapan bermain tahap penjelajahan (Exploratory stage), Bronson  bayi lahir sampai 6 bulan kemampuan motorik persepsi, kognitif dan terakhir menurut Relly exploration play. Disimpulkan bahwa tahapan bermain anak usia 0-1 tahun berkembangan pada saraf sensorik dan saraf motorik anak dalam hal ini sudah  bisa dilihat anak belajar mengkoordinasikan fungsi-fungsi penglihatan dan gerak (seperti melihat benda yang menarik, kemudian merebutnya) dilakukan berulang-ulang karena merasa senang melakukannya. Hal ini terlihat dari beberapa ciri atau karakteristik yang ditimbulkan oleh anak dan umumnya terjadi pada anak-anak. Oleh karena itu pendidik dan orang tua hendaknya memperhatikan dan memfasilitasi dengan baik masa pertumbuhan dan perkembangan ini.

 

  1. C.   Peranan Bermain dalam Memfasilitasi Perkembangan Anak Usia 0-1 Tahun

Bermain merupakan tahap awal dari proses belajar pada anak yang dialami hampir semua orang. Melalui kegiatan bermain yang menyenangkan, seorang anak berusaha untuk menyelidiki dan mendapatkan pengalaman yang banyak. Baik pengalaman dengan dirinya sendiri, orang lain maupun dengan lingkungan di sekitarnya. Dalam kegiatan bermain mempunyai beberapa peran yang dapat mengembangkan perkembangan anak berbasis multiple intelligences diantaranya:

  1. Kecerdasan linguistik

Kecerdasan linguistik menurut amstrong (2002:2) berpendapat bahwa kecerdasan linnguistik adalah kecerdasan dalam mengolah kata atau kemampuan dalam menggunakan kata secara efektif baik secara lisan maupun tertulis. Kecerdasan ini memiliki 4 ketrampilan yaitu membaca, menulis, menyimak, dan berbicara.

Cara untuk mengembangkan kecerdasan linguistik pada anak usia 0-1 tahun antara lain dapat dilakukan dengan cara:

  1. Mengajak anak berbicara sejak bayi, anak memiliki pendengaran yang baik sehingga sangat dianjurkan berkomunikasi dan menstimulasi anak dengan mengajaknya berbicara
  2. Membacakan cerita atau mendongeng sebelum tidur atau dapat dilakukan kapan saja sesuai situasi dan kondisi
  3. Memperdengarkan dan memperkenalkan lagu anak-anak
    1. Kecerdasan logika matematika

Kecerdasan logis matematika yaitu kecerdasan yang berkaitan dengan pengolahan angka kemahiran menggunakan logika atau akal sehat kemampuan menghitung dan kemampuan memecahkan masalah.

Ciri-ciri adalah  dapat mencerna laporan, suka menganalisis dan membuat hipotesa, mampu menjelaskan masalah secara logis, mampu menghubungkan sebab akibat, menyukai pelajaran yang berhubungan dengan angka (wahdah.or.id).

  1. Kecerdasan visual spasial

Kecerdasan spasial yaitu kecerdasan yang berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk memahami apa yang dilihat, kemampuan untuk memvisualisasikan gambar di dalam karena seseorang atau menciptakannya secara nyata maupun di atas kertas. Contoh arsitek designer.

Ciri-cirinya adalah :

  1. Suka membuat dan mempelajari peta, table, diagram, dan skema
  2. Senang membuat corat coret atau sketsa
  3. Suka menjelaskan sesuatu dengan menggunakan gambar denah atau gambar lainnya (wahdah.or.id).
  4. Kecerdasan kinestetik

Menurut amstrong (2002:3) berpendapat bahwa kecerdasan kinestetik atau kecerdasan fisik adalah suatu kecerdasan dimana saat menggunakannya seseorang mampu atau terampil menggunakan anggota tubuhnya untuk melakukan gerakan seperti berlari, menari, membangun sesuatu, melakukan kegiatan seni dan hasta karya.

Cara mengembangkan kecerdasan kinestetik anak adalah dengan kegiatan latihan ketrampilan fisik. Dengan latihan ketrampilan fisik anak akan dapat berkembang fisik motoriknya, seperti merangkak, belajar berdiri, dan mulai dapat melangkan kakinya.

  1. Kecerdasan musikal

Aenurut amstrong (2002:3) berpendapat bahwa kecerdasan musikal adalah kemampuan memahami aneka bentuk kegiatan musikal, dengan cara mempersepsi (penikmat musik), membedakan (kritikus musik), mengubah (komposer) dan mengekspresikan (penyanyi).

Stimulasi untuk kecerdasan musikal adalah ajak anak belajar menyanyikan lagu-lagu walaupun anak belum mengikuti syair lagu yang dinyanyikan.

  1. Kecerdasan interpersonal

Kecerdasan Interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan bekerjasama dengan orang lain, kecerdasan ini amat penting bagi keberhasilan dalam hidup karena banyak aspek kehidupan yang melibatkan interaksi dengan orang lain. Ciri-cirinya adalah :  banyak teman, suka berkonsolidasi, aktif dalam kegiatan kelompok, suka mampu dan mengajari (wahdah.or.id).

  1. Kecerdasan Intrapersonal

Menurut amstrong (2002:4) berpendapat bahwa kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan seseorang untuk berfikir secara reflektif, yaitu mengacu kepada kesadaran reflektifmenganai perasaan dan proses pemikiran diri sendiri. Adapun kegiatan yang mencakup kecerdasan ini adalah berfikir, meditasi, bermimpi, berdiam diri, merenung, menyendiri.

  1. Kecerdasan naturalis, berkaitan dengan kepekaan dalam mengapresiasi alam dan lingkungan sekitar (Inspirasiku.com).

 

  1. Kecerdasan spiritual

Zohar dan Marshall (2001:3-4) beranggapan bahwa kecerdasan spiritual dapat diartikan sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memcahkan persoalan makna dan nilai. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan dalam memandang makna atau hakikat kehidupan ini sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk tuhan Yang Maha Esa yang berkewajiban menjalankan semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa setiap anak mempunyai kemampuan atau potensi untuk bisa cerdas, yaitu multiple intelligences yang ada pada mereka. Seluruh potensi yang ada pada diri anak yang harus dikembangkan dan dioptimalkan. Ketika ada anak yang bermasalah dengan perkembangannya harus segera ditindak lanjuti.  Tugas penulis, orangtua maupun guru sebagai pendidik adalah berusaha sebaik mungkin untuk menemukan dan mengembangkan sebanyak mungkin kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing anak yang dapat mendukung kemampuan kreativitasnya.

 

 

  1. D.   Relevansi Permainan

Relevansi permainan kegiatan bermain “Mainan Bingkisan Kivilisik” ditinjau dari perkembangan anak usia dini menghasilkan kesesuaian antara kegiatan “Mainan bingkisan” dengan tugas perkembangan anak. Menurut Havighurts tugas-tugas perkembangan pada anak bersumber pada tiga hal, yaitu: kematangan fisik, rangsangan atau tuntutan dari masyarakat dan norma pribadi mengenai aspirasi-aspirasinya. Tugas-tugas perkembangan tersebut adalah sebagai berikut: tugas-tugas perkembangan anak usia 0-6 tahun, meliputi belajar memfungsikan visual motoriknya secara sederhana, belajar memakan makanan padat, belajar bahasa, kontrol badan, mengenali realita sosial atau fisiknya, belajar melibatkan diri secara emosional dengan orang tua, saudara dan lainnya, belajar membedakan benar atau salah serta membentuk nurani (duniapsikologi.com).

Sedangkan menurut Erikson dalam bukunya Childhood and Society, Erikson membagi fase dan tugas perkembangan, sebagai berikut: masa bayi (0 – 1 ½ tahun) à pada masa ini disebut sebagai masa saat kepercayaan harus ditanamkan, masa si anak harus belajar bahwa dunia merupakan tempat yang baik baginya, dan masa ia belajar menjadi optimis mengenai kemungkinan-kemungkinan mencapai kepuasan (edukasi.kompasiana.com).

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa tugas perkembangan anak usia 0-1 tahun meliputi kematangan fisik anak, misalnya dengan cara belajar mengambil atau memegang makanan atau benda. Pada usia 0-1 tahun khususnya usia 6-9 bulan dalam kegiatan bermain menggunakan “Mainan Bingkisan Kivilisik” anak diusahakan mulai menjauhkan tangan anak dari mulut. Maksudnya supaya anak mulai mengurangi memasukkan semua benda ke dalam mulutnya, karena sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia 6-9 bulan yang biasanya sudah mulai dapat mengambil dan membuang benda menggunakan tangannya. Sedangkan belajar berbahasa. Pada anak usia 0-1 tahun khususnya usia 6-9 bulan perkembangan bahasa atau cakap anak dapat berkembang melalui bermain “Mainan Bingkisan Kivilisik” untuk merangsang anak bersuara atau berteriak bila tidak senang sebagai cara lain dari pada menangis.

 

 

 

PROFIL PERMAINAN

  1. A.  Identitas Permainan

Kegiatan bermain ini diberi nama “mainan bingkisan kivilisik”. Maksudnya, mainan bermakna alat untuk bermain bingkisan artinya sebuah kotak untuk membungkus mainan, dan kivilisik merupakan kepanjangan dari kinestetik, visual spasial, linguistik dan musik.

 

  1. B.  Tujuan

Kegiatan bermain “Mainan Bingkisan Kivilisik”ini mempunyai tujuan untuk mengembangakan beberapa aspek perkembangan anak diantaranya dari segi fisik anak bisa duduk dengan bantuan dan mencoba merangkak. Dari segi bahasa anak mulai merespon bila dipanggil namanya dan mengoceh saat bermain. Sedangkan dari segi seni dapat mendengarkan suara-suara disekitarnya.

  1. C.  Manfaat

Kegiatan bermain atau permainan “Mainan Bingkisan Kivilisik” ini mempunyai beberapa manfaat bagi anak yang antara lain:

  1. Dengan kegiatan bermain ini kecerdasan kinestetik anak akan Berkembang melalui kegiatan mengambil, meraih,nmemegang dan melempar bingkisan menggunakan tangan anak.
  2. Mengembangkan visual spasial anak

Dengan kegiatan bermain ini, kecerdasan visual spasial anak akan berkembang melalui kegiatan melihat warna dan bentuk gambar, mengamati gerak benda yang dipegangnya.

  1. Mengembangkan linguistik anak

Dengan kegiatan bermain ini kecerdasan linguistik anak akan berkembang melalui kegiatan guru mengajak anak berbicara, dan anak menjerit ketika kegiatan bermain.

  1. Mengembangakan musik anak

Dengan kegiatan bermain ini kecerdasan musikal anak akan berkembang melalui kegiatan anak diajak bernyanyi oleh guru sebelum kegiatan bermain atau selama kegiatan bermain.

 

  1. D.  Peralatan yang Dibutuhkan

Peralatan yang dibutuhkan dalam kegiatan bermain atau permainan “Mainan Bingkisan Kivilisik”  ini adalah antara lain:

  1. Kotak berwarna-warni

kotak yang setiap sisinya berbeda warnanya yang berisi dakron atau spons dan sebuah kotak kecil. Kotak ini digunakan untuk menyimpan mainan yang bisa terlempar dan dapat diraih anak.

 

 

 

 

  1. Kue

Kue untuk diletakkan di dalam kotak.

 

 

 

 

 

  1. E.  Aturan Permainan

Aturan permainan dalam kegiatan bermain atau permainan “Mainan Bingkisan”  ini tidak ada karena anak masih berusia dibawah 1 tahun sehingga anak belum bisa di ajak untuk membuat dan melaksanakan peraturan yang dibuat. Jadi dalam kegiatan ini anak diberikan alat permainan supaya anak bisa memainkan alat permainan itu sebisa mungkin.

 

  1. F.  Setting Permainan

Setting permainan dalam kegiatan bermain “Mainan Bingkisan”  ini tidak ada dikarenakan kegiatan bermain bagi anak usia 0-1 tahun masih bersifat individual dan asal anak mau bermain dengan senang serta anak usia 0-1 tahun masih belum bisa diajak berkomunikasi dengan baik.

 

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. G.  Skenario Permainan

Skenario permainan yang disusun untuk kegiatan bermain “Mainan Bingkisan Kivilisik”  ini adalah:

  1. Menyiapkan alat bermain untuk anak sambil mengajak anak berkomunikasi menggunakan bahasa bayi supaya anak senang terlebih dan tidak menangis.
  2. Memperlihatkan alat permainan kepada anak.
  3. Memperlihatkan cara menggunakan mainan di depan anak sehingga anak akan memperhatikan (jika anak mau).
  4. Memberikan alat permainan kepada anak.
  5. Biarkan anak bermain sendiri sampai anak menemukan benda didalam mainan bingkisan kivilisik.
  6. Setelah anak bermain dan sukses mencapai tujuan dan mendapatkan benda didalam mainan bingkisan, anak mendapat hadiah kue.

 

 

VALIDASI PERMAINAN

 

  1. A.   Pengertian Validasi

Validasi adalah suatu tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai bahwa tiap bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan atau mekanisme yang digunakan dalam produksi dan pengawasan akan senantiasa mencapai hasil yang diinginkan. Validasi juga aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid tidak hanya mampu menghasilkan data yang tepat akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut. Oleh karena itu, tidak ada validitas yang berlaku umum untuk semua tujuan pengukuran. Suatu alat ukur biasanya hanya merupakan ukuran yang valid untuk satu tujuan yang spesifik. Dengan demikian, anggapan valid seperti dinyatakan dalam “alat ukur ini valid” adalah kurang lengkap. Pernyataan valid tersebut harus diikuti oleh keterangan yang menunjuk kepada tujuan (yaitu valid untuk mengukur apa), serta valid bagi kelompok subjek yang mana (violetatniyamani.blogspot.com).

 

  1. B.   Tujuan Validasi

Tujuan validasi adalah untuk menghasilkan hasil analisis yang paling baik. Untuk memperoleh hasil tersebut, semua variabel yang terkait dengan metode analisis harus dipertimbangkan seperti prosedur pengambilan sampel dan tahap penyiapan sampel.

 

  1. C.   Validator

Dalam pelaksanaan validator tersebut penulis menggunakan responden sebagai validator meliputi:

  1. Ahli model permainan adalah dosen yang memiliki kompetensi dibidang pembelajaran anak usia dini, dalam hal ini diharapkan dapat memberikan penjelasan dan penilaian yang objektif tentang permainan yang divalidasi.
  2. Ahli Materi

Ahli materi guru atau kepala PAUD  yang memiliki kompetensi terhadap bidang pengembangan anak usia dini. Yang berperan sebagai ahli materi permainan.

  1. Audien

Audien yang digunakan dalam validasi ini adalah orang tua dari anak yang melakukan permainan.

  1. D.   Proses Validasi

Proses validasi yang pertama dilakukan adalah dengan menyiapkan hasil vidio dari permainan “Mainan Bingkisan Kivilisik” yang telah dipraktekkan kepada anak usia 0-1 tahun untuk diperlihatkan kepada ahli model permainan dan mengisi angket yang telah disiapkan. Kemudian pengisian angket oleh kepala PAUD sebagai ahli materi serta audien atau orang tua dari anak yang telah melihat pelaksaan dari permainan tersebut.

 

  1. E.   Instrumen

Instrumen merupakan alat untuk mendapatkan atau memperoleh data yang diinginkan tentang kegiatan bermain “Mainan Bingkisan”. Dalam kegiatan bermain “Mainan Bingkisan” ini penulis menggunakan instrumen berupa angket dan observasi.

 

  1. F.   Teknik Analisis Data

Pengolahan data dari hasil pengisian angket tersebut menggunakan analisis dengan rumus:

 

Keterangan:

: skor rata-rata

N            : jumlah soal

n             : jumlah jawaban masing-masing option a, b, c, d

1, 2, 3, 4  : bobot masing-masing option a, b, c, d

Kategori penyekoran jawaban sebagai berikut:

a = 4                                              c = 2

b = 3                                             d = 1

 

Prosentase keseluruhan aspek responden dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

 

Keterangan :

: skor rata-rata responden

: prosentase jumlah seluruh responden

N  : jumlah responden

Setelah analisis data yang dilakukan, dilanjutkan dengan interpretasi data yaitu menentukan ukuran validasi permainan yang divalidasi dengan kriteria dari ahli model pembelajaran, ahli materi, dan audien.

 

Penyajian Data Prosentase Tingkat Kevalidan

Rentang nilai

Kategori

Bobot

Keterangan

80% – 100%

Sangat Valid

4

Bisa digunakan tanpa revisi

70% – 79%

Valid

3

Bisa digunakan dengan revisi

60% – 69%

Kurang Valid

2

Bisa digunakan dengan sebagian revisi

0% – 59%

Tidak Valid

1

Tidak layak digunakan

 


 

HASIL VALIDASI

  1. A.  Paparan Hasil Validasi

Dari hasil validasi yang dilaksanakan kepada ketiga responden dapat dipaparkan sebagai berikut:

  1. Ahli model permainan

Hasil validasi yang dilaksanakan kepada ahli model permainan dalam hal ini adalah Bu Errifa Susilo, S.Pd, M.pd dengan mengisi angket menghasilkan nilai bahwa kegiatan bermain “mainan bingkisan Kivilisik” untuk anak usia 0-1 tahun adalah 87,5%, yang dikategorikan sangat valid. Yaitu bisa digunakan tanpa revisi.

  1. Ahli materi

Hasil validasi yang dilakukan kepada ahli materi dalam hal ini adalah Ibu kepala Sekolah PAUD dengan mengisi angket menghasilkan nilai bahwa kagiatan bermain “mainan Bingkisan Kivilisik” untuk anak usia 0-1 tahun adalah 85,4%, yang dikategorikan sangat valid. Yaitu bisa digunakan tanpa revisi.

  1. Audien

Hasil validasi yang dilakukan kepada audien dalam hal ini angket di isi oleh pengasuh TPA menghasilkan nilai bahwa kegiatan bermain “minan Bingkisan Kivilisik” untuk anak usia 0-1 tahun adalah 87,5%, yang dikategorikan sangat valid. Yaitu dapat digunakan tanpa revisi.

  1. B.  Pembahasan

Dari paparan hasil validasi yang telah disebutkan di atas, dapat dinyatakan bahwasanya kegiatan bermain dan alat permainan “Mainan Bingkisan Kivilisik” cocok dan dapat digunakan dan diterapkan untuk anak usia dini khususnya anak usia 0-1 tahun. Hal ini terlihat dan terbukti dari hasil validasi yang diperoleh dari ahli model permainan menyatakan bahwa kegiatan bermain ini sangat valid, sedangkan hasil dari ahli materi menyatakan bahwa hasilnya sangat valid, kenudian hasil dari audien yang diisi oleh pengasuh TPA anak menyatakan bahwa hasilnya juga sangat valid. Dari hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa kegiatan bermain “Mainan Bingkisan Kivilisik” ini sangat valid dan dapat digunakan tanpa revisi.

  1. C.  Perbaikan Permainan

Perbaikan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kegiatan bermain “Mainan Bingkisan Kivilisik” adalah sebagai berikut:

  1. Anak diajak menari dengan diiringi musik
  2. Memperlihatkan alat permainan kepada anak.
  3. Memperlihatkan cara menggunakan mainan di depan anak sehingga anak akan memperhatikan (jika anak mau).
  4. Memberikan alat permainan kepada anak.
  5. Biarkan anak bermain sendiri sampai anak menemukan benda didalam mainan bingkisan kivilisik.
  6. Setelah anak bermain dan sukses mencapai tujuan dan mendapatkan benda didalam mainan bingkisan berupa kue.


 

BAB VI

PENUTUP

  1. A.  Kesimpulan

Paparan di atas menjelaskan bahwa perkembangan anak usia 0-1 tahun mempunyai beberapa karakteristik yang antara lain Pekembangan fisik anak usia 0 – 1 tahun secara umum Tak ada yang bisa diperbuat bayi berusia satu bulan selain menangis. Tapi lambat-laun, seiring perkembangan kemampuannya, dia mulai bisa menggapai-gapai mainan yang tergantung di atas boksnya. Bayi belajar mengoordinasikan mata dan tangannya, hingga dia bisa meraih mainan itu. Anak usia 2 bulan masih mulai mengenal tangan dan kakinya untuk bermain. Selanjutnya untuk Usia 3-5 bulan sudah mulai dapat menggunakan anggota tubuhnya untuk menahan kepala dengan stabil, dapat mengangkat kepala sejajar badannya ketika diberi rangsangan untuk posisi duduk, hingga akhirnya anak akan mulai bisa duduk sendiri. Memasuki bulan ke 7-8 anak mulai bisa bermain sambil duduk tanpa terjatuh, dan anak mulai mencoba  merangkak. Bersamaan dengan ini, anak dapat melepas sesuatu dengan sengaja, anak akan mengambil benda kemudian melemparnya. Di usia ke 9 anak mulai dapat menggunakan jarinya lebih kuat untuk mencubit atau lebih terkoordinasi dengan baik. Menjelang bulan ke 10 hingga mencapai 1 tahun anak mulai dapat berdiri hingga berjalan sedikit demi sedikit.

Dari tugas perkembangan tersebut maka disusunlah sebuah buku tentang kegiatan bermin yang cocok untuk anak usia 0-1 tahun sesuai dengan tugas perkembangannya dan bisa digunakan sebagai rujukan untuk kegiatan bermain anak.

  1. B.  Saran
    1. Untuk pendidik dan pengasuh TPA semoga buku ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang kegiatan bermain yang sesuai dengan usia anak.
    2. Untuk para pembaca semoga buku ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang kegiatan bermain anak dan dapat dijadikan acuan untuk kegiatan bermain anak yang sesuai dengan usianya.
    3. Untuk para mahasiswa semoga penyusunan buku ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang kegiatan bermain anak yang sesuai dengan usianya.

 


 

DAFTAR RUJUKAN

Prof.Dr.Winarno Surakhmad M.Sc.Ed. dan Drs.Anwar Syah.1997/1998.Psikologi Perkembangan.PT Karya Unipres:Jakarta.

Su Laurent dan Peter Reader. 2009. Ensiklopedia perkembangan Bayi. Erlangga: Jakarta.

Yuliani Nurani Sujiono dan Bambang Sujiono. 2010. Bermain kreatif. PT indeks: Jakarta.

http://violetatniyamani.blogspot.com/2007/09/teori-validitas.htm

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: