riniraihan

PENGEMBANGAN KETERAMPILAN MENULIS ANAK USIA DINI MELALUI BELAJAR VISUAL PASIR DAN JARI

Posted on: June 6, 2011

PENGEMBANGAN KETERAMPILAN MENULIS ANAK USIA DINI MELALUI BELAJAR VISUAL PASIR DAN JARI

BINTI SULISTIORINI
TIM PENDUKUNG: DETI HINGTYAS

Abstract: Writing is a skill that can be studied after other aspects of capacity controlled. One is the aspect of fine motor coordination and the ability of visual perception. Fine motor coordination can be trained with play sand and fingers (hands-on learning). Enables finger is kind of activities that bring more tactile nerves.

Key word: writing skill, finger and visual studybelajar, childrenhood

Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan memasuki pendidikan lebih lanjut. Menurut Hasna (dalam Kurniasari, 2010) pendidikan anak usia dini adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditunjukkan bagi anak sejak lahir sampai usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan.
Pendidikan anak usia dini bertujuan untuk mengembangkan semua aspek perkembangan yang dimiliki anak dan diharapkan dengan adanya pendidikan anak usia dini dapat mengembangkan hidden potency sehingga potensi tersebut dapat teraktualisasi. Salah satu aspek perkembangan anak usia dini yaitu perkembangan
motorik. Aspek motorik tersebut melatih koordinasi gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh. Motorik tersebut dibedakan menjadi dua yaitu motorik kasar dan motorik halus (Kurniasari, 2010), untuk motorik kasar menekankan pada koordinasi tubuh yang menekankan pada gerakan otot-otot besar sedangkan motorik halus menekankan pada koordinasi otot tangan atau kelenturan tangan yang bersifat keterampilan. Perkembangan motorik halus juga dapat membantu anak dalam belajar menulis, karena kemampuan menulis menuntut ketrampilan motorik halus yang melibatkan koordinasi jari.
Kegiatan menulis dasar sudah dapat dimulai saat anak menunjukkan perilaku seperti mencoret-coret buku atau dinding, kondisi tersebut menunjukkan berfungsinya sel-sel otak yang perlu dirangsang supaya berkembang secara optimal (Depdiknas 2007: 6). Penyediaan alat tulis tidak harus kertas dengan pensil melainkan alat permainan edukatif yang dapat melatih kelenturan koordinasi jari untuk persiapan menulis dasar, seperti menggunting, merobek, menjumput, meremas, kegiatan melatih kelenturan dimulai ketika anak berpura-pura menulis di atas kertas, pasir atau bentuk media lainnya.
Bermain pasir adalah permainan menyenangkan bagi anak-anak dari jaman dahulu sampai sekarang. Tugas anak adalah bermain karena dengan bermain mereka akan menemukan berbagai pengalaman dan pengetahuan. Apakah semua permainan menghasilkan pengetahuan? Hanya permainan yang mengasah aspek-aspek perkembangan, yang bisa meningkatkan pengetahuan anak. Bermain pasir merupakan salah satu permainan yang mengasah kemampuan psikomotorik, kognitif, sensoris, sosial emosi, bahasa, sehingga selain bermain anak juga belajar.

MENULIS
Menulis adalah suatu keterampilan yang dapat dipelajari setelah aspek kemampuan lainnya dikuasai. Salah satunya adalah aspek koordinasi motorik halus dan adanya kemampuan persepsi visual.
Keterampilan motorik halus adalah penggunaan bagian tubuh atau otot-otot kecil seperti tangan. Dalam hal perkembangan menggenggam (prehension), dicatat bahwa anak usia 12-15 bulan sudah bisa memegang benda dengan ibu jari dan telunjuk, sehingga mereka sudah dapat menyusun dua balok ke atas (dalam Mother And Baby, 2008).
Stimulasi yang sesuai untuk anak usia ini adalah yang melatih gerakan ibu jari telunjuk dan lengan. Beberapa gerakan stimulasi yang dapat dilakukan, antara lain adalah, menyusun balok, memindahkan uang logam atau kancing ke dalam kotak, memukul pasak dengan kayu, menyendokan pasir atau tepung dari satu wadah ke wadah yang lain.
Pada usia dua tahun pensil dipegang dengan meletakkan ibu jari di sisi kiri dan jari telunjuk menjulur keluar untuk membantu mengontrol gerakan pensil. Hasil gambar anak masih berupa coretan berulang (scribbles). Dengan bantuan imajinasi mereka, coretan yang tak bermakna dapat dirangkai menjadi suatu gambar dengan cerita tersendiri. Contohnya, anak bercerita bahwa dua coretan spiral yang dibuatnya adalah gambar sapi yang sedang makan rumput.

TAHAP PERKEMBANGAN MENULIS ANAK
Buncil (2010) menyebutkan tahapan menulis anak, antara lain.
Tahap 1: Coretan-Coretan Acak. Mulai membuat coretan; random scribbling; Coretan awal; coretan acak; coretan-coretan seringkali digabungkan seolah-olah “krayon” tidak pernah lepas dari kertas. Warna-warna coretan dapat dikelompokkan bersama dan menyatu atau terpisah dalam kelompok-kelompok setiap halaman. Coretan dapat satu warna atau beberapa warna.

Tahap 2: Coretan Terarah. Coretan terarah dimunculkan dalam bentuk garis lurus ke atas atau mendatar yang diulang-ulang; garis-garis, titik-titik, bentuk lonjong, atau lingkaran (huruf tiruan) mungkin terlihat tidak berhubungan dan menyebar secara acak di seluruh permukaan kertas.

Tahap 3: Garis dan Bentuk Khusus diulang-ulang, (Menulis Garis Tiruan)
Diwujudkan melalui bentuk, tanda, dan garis-garis yang terarah; dapat terlihat mengarah dari sisi kiri ke kanan halaman dengan huruf-huruf yang sebenarnya atau titik-titik sepanjang garis; dapat mengarah dari atas ke bawah halaman kertas.

Tahap 4: Latihan Huruf-Huruf Acak atau Nama. Huruf-huruf muncul berulang-ulang diwujudkan dari namanya; beberapa dapat diakui dan yang lainnya sebagai simbol; dapat mengambang di atas kertas, digambarkan di dalam garis, ditulis dalam gambar sederhana yang sudah dikenalnya missalnya rumah, saling berhimpit di atas yang lainnya secara berulang-ulang. Huruf-huruf nama mungkin saling tertukar , dan/atau ditulis di atas dan dibawah. Latihan nama dapat menggunakan huruf besar atau yang lainnya kecil, contoh-contoh yang abstrak atau benar.

Tahap 5: Menulis Nama. Nama mungkin yang pertama, terakhir, atau gabungan dan tulisan dapat muncul berulang-ulang dalam berbagai warna alat-alat tulis (spidol,ayon, pensil); nama dapat ditulis di depan atau sebagai cerminan pikiran, di dalam kotak dengan latar belakang atau bayangan berwarna; nama dapat ditulis di atas kertas dengan gambar di bawah; rangkaian angka-angka dan abjad dapat dimasukkan.

Tahap 6: Mencontoh Kata-Kata di Lingkungan. Menulis kata-kata dari lingkungan secara acak dan diulang-ulang dalam berbagai ukuran, orientasi dan warna; termasuk nama anggota keluarga lainnya.

Tahap 7: Menemukan Ejaan. Usaha pertama untuk memeriksa dan mengeja kata-kata dengan menggabungkan huruf yang bermacam-macam untuk mewujudkan sebuah kata seperti yang digambarkan berikut ini:(1)1Huruf konsonan awal (D mewakili Dinosaurus). (2) Huruf konsonan awal dan akhir (DS mewakili DinoSaurus). (3) Huruf konsonan tengah (DNS mewakili DiNoSaurus). (4) Huruf awal, tengah, konsonan akhir dan huruf hidup dituliskan pada tempatkan.

Tahap 8: Ejaan Umum. Usaha-usaha mandiri untuk memisahkan huruf dan mencatatnya dengan benar menjadi kata lengkap.

TAHAPAN MENULIS
Selain mengetahui kesiapan anak untuk belajar menulis, perlu memerhatikan juga tahapan perkembangan kemampuan menulis pada anak. Dengan begitu, orangtua dapat memberikan stimulus yang tepat, sesuai dengan kemampuan anak. Cara menstimulasinya adalah dengan menggunakan variasi metode dan media yang menarik agar anak senang berlatih menulis. Ada 6 tahapan kemampuan anak sebagai “penulis muda” (dalam Bunda Ali, 2009) yaitu. (1) Inexperienced Writer yaitu Tahapan menggunakan gambar, tulisan scribble (coretan/ sketsa) ataupun bentuk lain seperti huruf, dan sebagainya. Contoh, tulisan anak yang bentuknya baru mirip huruf. (2) Prewiter yaitu Tahapan mencontoh huruf, kata ataupun kalimat pendek. Anak juga mulai menggunakan huruf-huruf yang dikenalnya dalam menamakan suatu benda, dan menulis kata-kata yang pernah dipelajari (pernah terekam dalam memori). Contoh, tulisan satu kata. (3) Developing Writer yaitu Anak paham bahwa kata-kata yang mereka ucapkan dapat dituliskan pula; mengerti bahwa kata-kata biasanya mewakili bunyi-bunyi tertentu. Juga mulai muncul huruf-huruf lain yang menunjukkan pemahamannya tentang hubungan bunyi maupun simbol, dan mulai menulis kata demi kata namun spasi antara kata biasanya belum muncul. Di tahap ini, anak dapat membaca tulisannya sendiri. Contoh, tulisan dua tiga kata tanpa spasi.
(4) Beginning Writer yaitu Anak dapat menulis kata demi kata, menulis dengan bimbingan orang dewasa, mulai menggunakan spasi untuk memisahkan satu kata dengan kata lain, serta mulai menunjukkan pemahaman tulisan di buku, majalah dan lainnya. Contoh, tulisan 3 kata dengan spasi. (5) Experienced Writer yaitu Di tahap ini, tumbuh kepercayaan diri anak. Dia mulai bisa menulis mandiri, menggunakan rancangan/pola/gambaran dari lingkungan sekitarnya sehingga menjadi kata yang bermakna, memahami penggunaan spasi, dapat menuliskan ide sederhana tapi cukup komplet, dan bisa mengeja kata-kata yang cukup sulit.
(6) Exceptional Writer yaitu Anak menunjukkan antusiasme yang tinggi. Dia lebih senang untuk menulis mandiri, menulis kalimat yang panjang, sudah terlatih menggunakan spasi antarkata, dan lain-lain. Contoh, tulisan anak SD awal, dimana tekanan tulisan sudah cukup mantap, dan bisa membuat kalimat.
Umumnya, kemampuan menulis anak TK (prasekolah) yang mendapat stimulasi baik, berada pada tahapan 3-4. Ketika anak usia TK sudah mencapai kemampuan seperti experience (tahap 5) ataupun exceptional writer (tahap 6), ini adalah bonus. Sebagai pendidik, orangtua tidak bisa mengharapkan semua anak usia prasekolah mencapai keterampilan seperti ini. Dengan stimulasi yang baik dan berkesinambungan, diharapkan pada usia SD, anak semakin terampil dan antusias dalam menulis mandiri.

PERSIAPAN MENULIS
Persiapan menulis menyangkut kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk mempersiapkan motorik halus anak, terutama pada bagian 3 jari, yaitu ibu jari, telunjuk dan jari tengah. Persiapan menulis perlu dilakukan anak untuk menghindari rasa frustrasi dari guru atau orangtua dan anak. Anak yang tidak dipersiapkan untuk belajar menulis juga akan merasa lebih cepat capek, sehingga akan membuat orangtua menjadi lebih tidak sabar.
Persiapan menulis sendiri dapat dilakukan dengan melatih anak melakukan hands-on learning, kegiatan menggunakan syaraf taktil dan berolahraga (GKI Surya Utama, 2009). Kegiatan hands-on learning adalah kegiatan di mana anak menyentuh benda-benda yang sedang dipelajari, bukan hanya melihat. Misalnya, menyentuh langsung pasir, menghitung koin dan lain sebagainya. Hal ini tentu akan berbeda jika anak belajar dengan hanya melihat saja ketika guru mencontohkan menulis angka.
Sementara kegiatan menggunakan syaraf taktil adalah jenis kegiatan yang lebih banyak menghidupkan syaraf-syaraf taktil di tangan. Hal ini dapat dilakukan dengan merasakan tekstur halus, kasar, licin, lengket dan lain sebagainya. Melatih syaraf taktil selanjutnya dapat membantu motorik halus anak yang sangat diperlukan untuk menulis nantinya.

BERMAIN PASIR
Bermain pasir bahkan telah diklaim sebagai metode terapi yang berhasil dilakukan untuk anak autis selama 70 tahun di Inggris, dan lebih dari 50 tahun di Switzerland. Metode ini pertamakali dikembangkan di Inggris oleh Dr. Margareth Lowenfeld, psikiater anak pada tahun 1930an. Metode ini kemudian dikembangkan juga di Australia, Jepang dan China. Ternyata, metode terapi menggunakan bermain pasir tidak hanya berhasil digunakan untuk anak autis, tapi juga untuk anak yang mempunyai masalah dengan ketakutan, mimpi buruk, agresif, sering menangis, persaingan saudara, mengompol, dan masalah anak lainnya (dalam Parent Guide, 2010). Selain itu, banyak anak-anak menyukai pasir, pasir sendiri bertekstur lembut yang enak dipegang dan digenggam oleh tangan kecil anak. Selain itu, bahan ini bersifat multiguna karena mudah diubah bentuknya ke bentuk lain sehingga dapat menghasilkan sebuah karya seni sesuai daya imajinasi anak.

MANFAAT BERMAIN PASIR DALAM PENGEMBANGAN KETERAMPILAN MENULIS ANAK USIA DINI

Ternyata di balik keasyikan anak-anak meremas, mengaduk, mencetak, menggambar, atau menulis di atas pasir, tersimpan banyak manfaat bagi perkembangan mereka. Adapun manfaat dari bermain pasir bagi anak-anak (dalam Parent Guide, 2010) antara lain.
Pertama, psikomotorik. Anak-anak bermain pasir menggunakan jari, tangan, lengan mereka, dan melatih koordinasi diantaranya. Menggali pasir menggunakan sekop, membentuk menggunakan berbagai cetakan melatih otot-otot, koordinasi mata dan motorik halus anak.
Kedua, kognitif. Bermain pasir menambah pengetahuan anak mengenai berbagai bentuk, ukuran, perubahan wujud, sehingga meningkatkan kecerdasan anak. Ketiga, sensoris. Bermain pasir merangsang anak untuk mengasah kemampuan sensoris melalui sentuhan kulitnya.
Keempat, sosial. Bermain pasir bersama teman akan meningkatkan kemampuan sosialnya untuk saling berbagi, membantu, melakukan kompromi, meminta sesuatu, menawarkan mainan, dan juga membangun hubungan persahabatan. Kelima, bahasa. Saat bermain bersama teman, komunikasi verbal yang terjadi dua arah akan semakin memperkaya kosakata dan memperlancar bicara anak.
Meski terlihat sederhana, bermain pasir juga terbukti bermanfaat untuk melatih syaraf taktil anak. Karena dengan teksturnya pasir dapat menghidupkan syaraf taktil. Selain itu pasir juga dapat dimanfaatkan oleh anak untuk mengenalkan huruf dengan cara menggambarkan huruf di atas pasir tanpa takut salah, karena jejak di pasar mudah dihapus. Menggiling play dough dengan telapak tangan misalnya, juga akan menghidupkan syaraf taktil, sementara membentuk atau mencetak akan menguatkan pergelangan tangan.

MENULIS DENGAN PASIR DAN JARI
Menulis di pasir dengan jari telunjuk, jari tengah, atau jari-jari yang lain dapat menjadi alat bantu belajar menulis anak. Kegiatan menulis dengan pasir dan jari ini dapat dimulai dengan menyiapkan pasir bagi anak-anak. Bila lahan sempit, pasir dapat diletakkan di baskom atau tempat lainnya. Sebelum belajar menulis berlangsung, permukaan pasir diratakan, sehingga hasil tulisan dapat terlihat dengan jelas. Sebelum menulis, orangtua dapat memberi contoh cara menulis huruf atau angka di atas pasir dengan jari.
Selama kegiatan menulis di pasir, dapat dilakukan variasi dengan mengubah pasir kering menjadi pasir basah dengan menambahkan sedikit air. Ada perbedaan saat menulis di atas pasir kering dan basah. Biarkan anak mencari perbedaan tersebut dan menceritakan pengalamannya.

PERAN ORANGTUA
Jennifer D. Melville (dalam dalam Parent Guide, 2010), mengingatkan bahwa meskipun bermain pasir sangat menyenangkan dan membawa berbagai manfaat untuk anak, namun orang tua tidak boleh lengah karena dikhawatirkan adanya kuman dan parasit dalam pasir yang dimainkan anak. Bila terkontaminasi, maka kesehatan anak akan terganggu. Oleh karena itu, supaya terjaga keamanannya, orang tua sebaiknya.
Pertama, memastikan kebersihannya. Periksalah apakah ada kotoran binatang, pecahan kaca, besi berkarat, atau benda-benda berbahaya lainnya. Kedua, memberikan pengertian kepada anak, untuk bermain pasir tanpa menghambur-hamburkan ke atas karena beresiko mengenai mata sendiri dan orang lain.
Ketiga, mencuci tangan menggunakan sabun atau disinfektan setelah selesai bermain, supaya tangan kembali bersidan dan bebas dari kuman. Keempat, memberikan pengertian kepada anak bahwa selama belum dicuci, tangan yang penuh pasir tidak boleh mengelap mulut, menggaruk mata, telinga, atau bagian tubuh yang bisa kemasukan pasir.
Bermain pasir sangat menyenangkan bagi anak. Tetap berikan pendampingan untuk memastikan keamanannya dan akan melihat bagaimana pasir bisa membantu meningkatkan kecerdasan anak.

KESIMPULAN
Menulis adalah suatu keterampilan yang dapat dipelajari setelah aspek kemampuan lainnya dikuasai. Salah satunya adalah aspek koordinasi motorik halus dan adanya kemampuan persepsi visual. Keterampilan motorik halus adalah penggunaan bagian tubuh atau otot-otot kecil seperti tangan. Dan bermain pasir merupakan cara untuk perkembangan motorik halus anak. Bermain pasir juga terbukti bermanfaat untuk melatih syaraf taktil anak. Karena dengan teksturnya pasir dapat menghidupkan syaraf taktil. Melatih syaraf taktil selanjutnya dapat membantu motorik halus anak yang sangat diperlukan untuk menulis nantinya.
Bermain pasir sangat menyenangkan bagi anak. Tetap berikan pendampingan untuk memastikan keamanannya dan akan melihat bagaimana pasir bisa membantu meningkatkan kecerdasan anak.

DAFTAR RUJUKAN
Buncil. 2010. Tahap-tahap Perkembangan Anak dalam Menulis, (Online), (http://childrengarden.wordpress.com/2010/04/02/tahap-tahap-perkembangan-anak-dalam-menulis/, diakses tanggal 15 April 2011)
Bunda Ali. 2009. Membentuk Lilin Plastisin, Bermain Pasir, dan Menggunting Ternyata Ada Hubungannya dengan Kemampuan Menulis, (Online), (http://bundaali.multiply.com/journal/item/46/YUK_BELAJAR_MENULIS, diakses tanggal 15 April 2011)
GKI Surya Utama. 2009. Membantu Anak Untuk Siap Membaca, Menulis, dan Matematika, (Online), (http://www.gkisuryautama.org/artikel.php?id=98& kategori=parenting&halaman=&title=Membantu%20Anak%20Untuk%203S%20%28siap%20membaca,%20siap%20menulis,%20siap%20matematika%29, diakses tanggal 15 April 2011)

Kurniasari, Diyah, 2010. Pendekatan Pembelajaran Beyod Center And Circle Time (BCCT) di Sentra Persiapan dalam Upaya Persiapan Menulis Dasar, (Online), (http://etd.eprints.ums.ac.id/9830/1/A520085029.pdf, diakses tanggal 15 April 2011)

Mother And Baby. 2008. Ajarkan Balita Menulis, (Online), (http://portal.cbn.net .id/cbprtl/cyberwoman/detail.aspx?x=MotherAndBaby&y=cyberwoman|0|0|8|1305, diakses tanggal 15 April 2011)

Parent Guide. 2010. Serunya Bermain Pasir!, (Online), (http://www.parents.co.id /dsp_content.php?kat=6&pg=atg&&emonth=08&eyear=2010, diakses tanggal 15 April 2011)

TINGGALKAN KOMENTAR,,,,, :)
TERIMA KASIH

2 Responses to "PENGEMBANGAN KETERAMPILAN MENULIS ANAK USIA DINI MELALUI BELAJAR VISUAL PASIR DAN JARI"

ijin mengkopi ya, thanks infonya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: