riniraihan

mainan bingkisan kivilisik usia 0-1 tahun

Posted: September 20, 2012 in Uncategorized

2

Karya :

binti sulistiorini, dkk

Universitas Negeri Malang

 

MAINANAN KIVILISIK ANAK USIA 0-1 TAHUN

  1. A.   Latar Belakang

Menjadi orang tua mungkin adalah suatu peristiwa paling emosional, menakjubkan, dan menggugah dalam hidup manusia. Namun dalam segala kebahagiaan yang dialami, tetap timbul kekhawatiran dan ketakutan akan segala resiko pertumbuhan dan perkembangan bayinya. Semua bayi itu terlahir dengan temperamen yang unik. Walaupun begitu, sebagai orang tua sebaiknya mengajarkan nilai dan kepedulian kita terhadapnya. Ini berarti bahwa baik nature (pembawaan) maupun nurture (lingkungan) memainkan peran penting dalam perkembangan kepribadian bayi (Su Laurent dan Peter Reader, 2009: 11). Pekembangan fisik anak usia 0 – 1 tahun secara umum Tak ada yang bisa diperbuat bayi berusia satu bulan selain menangis. Tapi lambat-laun, seiring perkembangan kemampuannya, dia mulai bisa menggapai-gapai mainan yang tergantung di atas boksnya. Bayi belajar mengoordinasikan mata dan tangannya, hingga dia bisa meraih mainan itu. Anak usia 2 bulan masih mulai mengenal tangan dan kakinya untuk bermain. Selanjutnya untuk Usia 3-5 bulan sudah mulai dapat menggunakan anggota tubuhnya untuk menahan kepala dengan stabil, dapat mengangkat kepala sejajar badannya ketika diberi rangsangan untuk posisi duduk, hingga akhirnya anak akan mulai bisa duduk sendiri. Memasuki bulan ke 7-8 anak mulai bisa bermain sambil duduk tanpa terjatuh, dan anak mulai mencoba  merangkak. Bersamaan dengan ini, anak dapat melepas sesuatu dengan sengaja, anak akan mengambil benda kemudian melemparnya. Di usia ke 9 anak mulai dapat menggunakan jarinya lebih kuat untuk mencubit atau lebih terkoordinasi dengan baik. Menjelang bulan ke 10 hingga mencapai 1 tahun anak mulai dapat berdiri hingga berjalan sedikit demi sedikit.

Menurut pengamatan anak usia 7 bulan, tersebut sudah bisa duduk walaupun belum kuat menyangga badannya sendiri, anak masih suka menghisap jari tangannya jadi apapun mainan di masukkan kemulutnya. Sedangkan anak usia 9 bulan menurut pengamatan anak sudah bisa merayap, sudah bisa mengkoodinasikan tangan dan kaki untuk bermain, walaupun mainan yang ada masih dipukul-pukul saja. Anak-anak tersebut belum bisa diajak bercakap-cakap, anak tersebut hanya masih bisa diajak cilukBa.

Permasalahan anak usia 7 bulan yang belum kuat menyangga badannya ini disebabkan karena seringnya anak digendong tidak dilatih untuk duduk sendiri seperti diberi penyangga bantal dibelakangnya. Sedangkan anak yang masih suka menghisap jari tangannya, seharusnya anak diberi mainan gigitan yang aman bagi anak. Sedangkan untuk anak usia 9 bulan permasalahan yang ada yaitu anak masih saja mempermainkan alat permainan yang ada hanya dengan dipukul-pukul saja. Kurang berfariasi untuk menggerakkan anggota tubuhnya. Dari berbagai permasalahan yang terjadi pada anak usia 0-1 tahun tersebut khususnya usia antara 6-9 bulan, maka untuk alternatif pemecahan masalahnya dapat diberikan rangsangan berupa kegiatan bermain “Mainan Bingkisan Kivilisik” yang diharapkan dapat mengembangkan aspek perkembangan multiple intelligensi yaitu pada bidang kinestetik supaya anak dapat menggerakkan anggota tubuhnya dengan baik. Serta perkembangan visual spasial anak.

Permainan ini dipilih dengan tujuan untuk mengembangkan multiple intelligences khususnya kecerdasan kinestetik untuk melatih koordinasi tangan anak usia 0-1 tahun. Selain itu  pada kegiatan bermain ini anak akan dirangsang untuk menyelesaikan masalah sederhana yaitu bagaimana cara mengambil alat permainan yang ada dalam bungkusan tersebut dengan membuka bungkusan sesuai cara anak sendiri. Diharapkan dengan kegiatan bermain yang diberikan anak akan berkembang visual spasialnya dengan menunjukkan ketertarikan pada alat permainan dan kegiatan bermain tersebut. Khusunya kegiatan bermian ini diharapkan dapat mengembangkan perkembangan fisik khususnya bagi anak yang diobservasi yaitu agar supaya anak dapat mulai menggerakkan dan menggunakan bagian anggota tubuhnya dengan baik sesuai dengan perkembangan seusianya.

 

  1. B.   Tujuan penulisan

Melalui penyusunan buku ini diharapkan nantinya akan berguna bagi para pendidik dan orang tua sebagai pedoman dalam pendidikan dan pengasuhan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak pada rentan usia 0-1 tahun. Supaya pertumbuhan anak pada usia ini dapat berkembang sesuai dengan idealisme pengasuhan anak yang terstandar. Untuk mengantisipasi terjadinya malpraktik atau salah pengasuhan pada awal pertumbuhan dan perkembangan yang merupakan pondasi awal dari pada kehidupan anak kelak di masa mendatang.

 

  1. C.  Ruang Lingkup

Pekembangan fisik anak usia 0 – 1 tahun secara umum Tak ada yang bisa diperbuat bayi berusia satu bulan selain menangis. Tapi lambat-laun, seiring perkembangan kemampuannya, dia mulai bisa menggapai-gapai mainan yang tergantung di atas boksnya. Bayi belajar mengoordinasikan mata dan tangannya, hingga dia bisa meraih mainan itu. Anak usia 2 bulan masih mulai mengenal tangan dan kakinya untuk bermain. Selanjutnya untuk Usia 3-5 bulan sudah mulai dapat menggunakan anggota tubuhnya untuk menahan kepala dengan stabil, dapat mengangkat kepala sejajar badannya ketika diberi rangsangan untuk posisi duduk, hingga akhirnya anak akan mulai bisa duduk sendiri. Memasuki bulan ke 7-8 anak mulai bisa bermain sambil duduk tanpa terjatuh, dan anak mulai mencoba  merangkak. Bersamaan dengan ini, anak dapat melepas sesuatu dengan sengaja, anak akan mengambil benda kemudian melemparnya. Di usia ke 9 anak mulai dapat menggunakan jarinya lebih kuat untuk mencubit atau lebih terkoordinasi dengan baik. Menjelang bulan ke 10 hingga mencapai 1 tahun anak mulai dapat berdiri hingga berjalan sedikit demi sedikit.

Karakteristik anak usia 0-1 tahun sejak dini diantaranya meliputi aspek perkembangan sebagai berikut: perkembangan motorik sosial emosional, bahasa, kognitif. Ciri-ciri bermain anak 0-1 tahun menurut jean piaget anak belajar melalui pengalaman sebelumnya dan gerakan-gerakan spontan dan akhirnya terkoordinasi dengan baik.Dalam kegiatan bermain mempunyai beberapa peranyang mengembangkan multipleintellegence diantaranya: lingustik,matematik,visualspasial,kinestetik,musikal,interpersonal,intrapersonal,natural,spiritual.Permainan bingkisan kivilisik bertujuan mengembangkan kecerdasan jamak anak yang meliputi kecerdasan kinestetik,visual spasial,linguistik,musik. Permainan ini menggunakan bentuk balok yang terbuat dar flanel yang berwarna-warni dalam tujuan supaya lebih menarik yang di dalamnya berisikan kue. Dalam bermain ini tidak da peraturan bermain.

Kegiatan bermain ini diberi nama “Mainan Bingkisan Kivilisik” artinya mainan bermakna alat untuk bermain bingkisan artinya sebuah kotak untuk membungkus mainan, dan kivilisik merupakan kepanjangan dari kinestetik, visual spasial, linguistik dan musik. Sedangkan tujuan dari kegiatan bermain ini untuk mengembangakan beberapa aspek perkembangan anak diantaranya dari segi fisik anak bisa duduk dengan bantuan dan mencoba merangkak. Dari segi bahasa anak mulai merespon bila dipanggil namanya dan mengoceh saat bermain. Sedangkan dari segi seni dapat mendengarkan suara-suara disekitarnya. Kegiatan ini mempunyai beberapa manfaat bagi anak yang antara lain: (a) Mengembangkan  kecerdasan kinestetik anak, (b) Mengembangkan visual spasial anak, (c) Mengembangkan linguistik anak, (d) Mengembangakan musik anak.

 

 

 

LANDASAN TEORI

  1. A.   Karakterisrik Anak Usia 0-1 Tahun

Batasan tentang masa anak cukup bervariasi, istilah anak usia dini adalah anak yang berkisar antara usia 0-8 tahun. Namun bila dilihat  dari jenjang  pendidikan yang

berlaku di Indonesia, maka yang termasuk dalam kelompok anak usia dini adalah

anak usia SD kelas rendah (kelas 1-3), Taman Kanak-kanak, Kelompok Bermain dan

anak masa sebelumnya (masa bayi) (Ernawulan Syaodih: 9).

Masa usia dini merupakan masa yang penting yang perlu mendapat penanganan

sedini mungkin. Khususnya usia bayi 0-1 tahun:

  1. Perkembangan Motorik

Perkembangan motorik merupakan perkembangan unsur kematangan dan pengandalian gerak tubuh. Ada hubungan yang saling mempengaruhi antara kebugaran tubuh, keterampilan motorik, dan kontrol motorik.

Karakkteristik perkembangan motorik umur  0 – 1 tahun: a) Bermain dengan tangan, b) Menahan barang yang di pegangnya, c) Mengangkat kakai dan memainkan jari tangan di depan mata, d) Mencoba merangkak, e) Berjalan jika di pegang atau berpegangan.

  1. Perkembangan Emosi

Emosi merupakan suatu keadaan atau perasaan yang bergejolak pada diriseseorang yang disadari dan diungkapkan melalui wajah atau tindakan, yang berfungsi sebagai inner adjustment (penyesuaian dari dalam) terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan.
Karakteristik perkembangan emosi umur 0 – 1 tahun antara lain: a) Menunjukkan kenyamanan , minat dan kesenangan, b) Menanggapi orang lain selain pada orang tuanya, c) Mempunyai pola tidur yang teratur, d) Mulai berinisiatif untuk berintraksi dengan orang dewasa, e) Menunjukkan emosi yang beragam sepanjang harinya, biasanya berkaitan dengan stimulasi dari lingkungan.

  1. Perkembangan Sosial

Perilaku sosial merupakan aktivitas dalam berhubungan dengan orang lain, baik dengan teman sebaya, orang tua maupun saudara-saudaranya. Sejak kecil anak telah belajar cara berperilaku sosial sesuai dengan harapan orang-orang yang paling dekat dengannya, yaitu dengan ibu, ayah, saudara, dan anggota keluarga yang lain.

Karakteristik perkembangan sosial anak umur 0-1 tahun antara lain: a) Mulai merespon dengan senyum, b) Memperhatikan wajah dan/atau suara orang dewasa, c) Secara visual memilih seseorang dari pada benda diam saat melihat wajah atau mendengar suara seseorang, d) Mulai menyesuaikan tanggapannya pada orang lain, e)  Tersenyum dengan selektif, punya senyuman khusus untuk orang tua atau orang yang di kenalnya.

  1. Perkembangan Bahasa

Bahasa adalah bentuk aturan atau sistem lambang yang digunakan anak dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dilakukan untuk bertukar gagasan, pikiran dan emosi. Bahasa bisa diekspresikan melalui bicara mengacu pada simbol verbal. Karakteristik perkembangan bahasa anak umur 0 – 1 tahun antara lain: a) lebih banyak bersuara dari pada nangis, b) Mulai mengucapkan hurup-hurup hidup saat menangis, c) Menirukan suara saat di timang dengan mendekut, d) Bersuara atau berteriak tidak senang sebagai cara lain dari pada menangis.

  1. Perkembangan Kognitif

Di dalam kehidupan, anak dihadapkan kepada persoalan yang menuntut adanya pemecahan. Menyelesaikan suatu persoalan merupakan langkah yang lebih kompleks pada diri anak. Sebelum anak mampu menyelesaikan persoalan, anak perlu memiliki kemampuan untuk mencari cara penyelesaiannya. Karakteristik perkembangan kognitif anak usia 0-1 tahun antara lain: a) Mengetahui secara visual objek objek yang di letakka 8-10 inci di depan matanya, b) Melihat cahaya, c) Menghitung 3 buah benda, d) Mengikuti isyarat tubuh orang dewasa.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik perkembangan anak usia 0-1 tahun adalah sebagai berikut:

  • Ø Dari segi perkembangan motorik, anak sudah mampu bermain dengan tangan, menahan barang yang di pegangnya, mengangkat kakai dan memainkan jari tangan di depan mata, mencoba merangkak, berjalan jika di pegang atau berpegangan.
  • Ø Dari perkembangan emosi, anak sudah bisa Menunjukkan kenyamanan , minat dan kesenangan, menanggapi orang lain selain pada orang tuanya, mempunyai pola tidur yang teratur, mulai berinisiatif untuk berintraksi dengan orang dewasa, menunjukkan emosi yang beragam sepanjang harinya, biasanya berkaitan dengan stimulasi dari lingkungan.
  • Ø Dari perkembangan sosial, anak sudah mampu mulai merespon dengan senyum, memperhatikan wajah dan/atau suara orang dewasa, secara visual memilih seseorang dari pada benda diam saat melihat wajah atau mendengar suara seseorang, mulai menyesuaikan tanggapannya pada orang lain, tersenyum dengan selektif, punya senyuman khusus untuk orang tua atau orang yang di kenalnya.
  • Ø Perkembangan bahasa, anak sudah bisa lebih banyak bersuara dari pada nangis, mulai mengucapkan hurup-hurup hidup saat menangis, menirukan suara saat di timang dengan mendekut, bersuara atau berteriak tidak senang sebagai cara lain dari pada menangis.
  • Dari perkembangan kognitif, anak sudah mampu mengetahui secara visual objek objek yang di letakka 8-10 inci di depan matanya, melihat cahaya, menghitung 3 buah benda, mengikuti isyarat tubuh orang dewasa.

 

  1. B.   Karakterisrik Perkembangan Bermain Anak usia 0-1 Tahun

Bermain berasal dari kata main yang artinya melakukan permainan untuk menyenangkan hati (dengan menggunakan alat-alat atau tidak), melakukan perbuatan untuk bersenang-senang (dengan alat tertentu atau tidak) dan lain-lain. Adapun bermain berarti melakukan sesuatu untuk bersenang-senang, berbuat sesuatu untuk bersenang-senang saja. Su Laurent dan Peter Reader, 2009: 12 mengemukakan bermain penting sekali bagi perkembangan bayi. Dengan bermain, anak-anak mengenali dunia sekitarnya, mengembangkan kemampuan motorik mereka, dan belajar cara berkomunikasi.

Dari berbagai bahasan mengenai kegiatan bermain, pada umumnya hanya membedakan atau mengkategorikan kegiatan bermain tanpa secara jelas mengemukakan bahwa suatu jenis kegiatan bermain lebih tinggi tingkatan perkembangannya dibandingkan dengan jenis kegiatan lainnya. Karena bermain sebagai kegiatan utama yang mulai tampak sejak bayi berusia 3-4 bulan dan sangat penting bagi perkembangan kognitif anak, social dan kepribadian anak pada umumnya. Bermain selain berfungsi penting bagi perkembangan pribadi juga memiliki fungsi social dan emosianal.melalui bermain anak merasakan berbagai pengalaman emosi: senang, sedih, bergairah, kecewa, bangga, marah. Adapaun tahapan perkembangan bermain menurut para ahli pendidik anak usia dini adalah sebagai berikut:

Menurut Mildred Patren, karakteristik perkembangan bermain anak usia 0-1 tahun  pada tahap bermain unoccopied play (0-4 tahun), mempunyai ciri-ciri: anak tidak benar-benar terlibat dalam kegiatan bermain, melainkan hanya mengamati yang ada disekitarnya yang menarik perhatian anak.

Sedangkan menurut  Jean Piaget (Montolalu: 2.17), perkembangan anak bermain pada tahapsensory motor play (+/- ¾ bulan-1,5 tahun)bermain dimulai pada periode perkembangan koginitif sensori motor, anak belajar melalui skema-skema panca indranya, benda yang dilihat tidak menetap, dipelajari melalui pengalaman-pengalamannya sebelumnya. Gerakan-gerakan dari yang kebetulan sebarangan meningkat kegerakan-gerakan yang lebih disengaja lagi sepanjang tahapan. anak mulai belajar mengkoordinasikan fungsi-fungsi penglihatan dan gerak (seperti melihat benda yang menarik, kemudian merebutnya) dilakukan berulang-ulang karena merasa senang melakukannya.

Sedangkan Hurlock (Montolalu: 2.20) menyebutkan bahwa pada usia ini anak termasuk dalam tahapan bermain Tahap Penjelajahan (Exploratory stage) ) (0-5 tahun), ciri dari tahap penjelajahan berupa kegiatan mengenai objek atau orang lain, mencoba menjangkau atau meraih benda dikelilingannya, lalu mengamatinya. Penjelajahan semakin luas, saat anak sudah dapat merangkak dan berjalan, sehingga anak akan mengamati setiap benda yang akan diraihnya.

Dalam Bronson, bayi lahir sampai 1 tahun (0-1tahun) ciri dari bayi lahir sampai 6 bulan pada kemampuan motorik persepsi, kognitif. Sedangkan menurut Relly, (exploration play) (0-2tahun), ciri dari tahap exploration play berupa timbul keinginantahuannya yang besar untuk menjelejahi dunia sekitarnya dan dirinya sendiri. Bermain bebas tanpa aturan dan sehenda hatinya.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tahapan bermain anak usia 0-1 tahun menurut Mildred Patren anak usia 0-1 tahun termasuk dalam tahapan unoccopied play, Hurlock dalam tahapan bermain tahap penjelajahan (Exploratory stage), Bronson  bayi lahir sampai 6 bulan kemampuan motorik persepsi, kognitif dan terakhir menurut Relly exploration play. Disimpulkan bahwa tahapan bermain anak usia 0-1 tahun berkembangan pada saraf sensorik dan saraf motorik anak dalam hal ini sudah  bisa dilihat anak belajar mengkoordinasikan fungsi-fungsi penglihatan dan gerak (seperti melihat benda yang menarik, kemudian merebutnya) dilakukan berulang-ulang karena merasa senang melakukannya. Hal ini terlihat dari beberapa ciri atau karakteristik yang ditimbulkan oleh anak dan umumnya terjadi pada anak-anak. Oleh karena itu pendidik dan orang tua hendaknya memperhatikan dan memfasilitasi dengan baik masa pertumbuhan dan perkembangan ini.

 

  1. C.   Peranan Bermain dalam Memfasilitasi Perkembangan Anak Usia 0-1 Tahun

Bermain merupakan tahap awal dari proses belajar pada anak yang dialami hampir semua orang. Melalui kegiatan bermain yang menyenangkan, seorang anak berusaha untuk menyelidiki dan mendapatkan pengalaman yang banyak. Baik pengalaman dengan dirinya sendiri, orang lain maupun dengan lingkungan di sekitarnya. Dalam kegiatan bermain mempunyai beberapa peran yang dapat mengembangkan perkembangan anak berbasis multiple intelligences diantaranya:

  1. Kecerdasan linguistik

Kecerdasan linguistik menurut amstrong (2002:2) berpendapat bahwa kecerdasan linnguistik adalah kecerdasan dalam mengolah kata atau kemampuan dalam menggunakan kata secara efektif baik secara lisan maupun tertulis. Kecerdasan ini memiliki 4 ketrampilan yaitu membaca, menulis, menyimak, dan berbicara.

Cara untuk mengembangkan kecerdasan linguistik pada anak usia 0-1 tahun antara lain dapat dilakukan dengan cara:

  1. Mengajak anak berbicara sejak bayi, anak memiliki pendengaran yang baik sehingga sangat dianjurkan berkomunikasi dan menstimulasi anak dengan mengajaknya berbicara
  2. Membacakan cerita atau mendongeng sebelum tidur atau dapat dilakukan kapan saja sesuai situasi dan kondisi
  3. Memperdengarkan dan memperkenalkan lagu anak-anak
    1. Kecerdasan logika matematika

Kecerdasan logis matematika yaitu kecerdasan yang berkaitan dengan pengolahan angka kemahiran menggunakan logika atau akal sehat kemampuan menghitung dan kemampuan memecahkan masalah.

Ciri-ciri adalah  dapat mencerna laporan, suka menganalisis dan membuat hipotesa, mampu menjelaskan masalah secara logis, mampu menghubungkan sebab akibat, menyukai pelajaran yang berhubungan dengan angka (wahdah.or.id).

  1. Kecerdasan visual spasial

Kecerdasan spasial yaitu kecerdasan yang berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk memahami apa yang dilihat, kemampuan untuk memvisualisasikan gambar di dalam karena seseorang atau menciptakannya secara nyata maupun di atas kertas. Contoh arsitek designer.

Ciri-cirinya adalah :

  1. Suka membuat dan mempelajari peta, table, diagram, dan skema
  2. Senang membuat corat coret atau sketsa
  3. Suka menjelaskan sesuatu dengan menggunakan gambar denah atau gambar lainnya (wahdah.or.id).
  4. Kecerdasan kinestetik

Menurut amstrong (2002:3) berpendapat bahwa kecerdasan kinestetik atau kecerdasan fisik adalah suatu kecerdasan dimana saat menggunakannya seseorang mampu atau terampil menggunakan anggota tubuhnya untuk melakukan gerakan seperti berlari, menari, membangun sesuatu, melakukan kegiatan seni dan hasta karya.

Cara mengembangkan kecerdasan kinestetik anak adalah dengan kegiatan latihan ketrampilan fisik. Dengan latihan ketrampilan fisik anak akan dapat berkembang fisik motoriknya, seperti merangkak, belajar berdiri, dan mulai dapat melangkan kakinya.

  1. Kecerdasan musikal

Aenurut amstrong (2002:3) berpendapat bahwa kecerdasan musikal adalah kemampuan memahami aneka bentuk kegiatan musikal, dengan cara mempersepsi (penikmat musik), membedakan (kritikus musik), mengubah (komposer) dan mengekspresikan (penyanyi).

Stimulasi untuk kecerdasan musikal adalah ajak anak belajar menyanyikan lagu-lagu walaupun anak belum mengikuti syair lagu yang dinyanyikan.

  1. Kecerdasan interpersonal

Kecerdasan Interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan bekerjasama dengan orang lain, kecerdasan ini amat penting bagi keberhasilan dalam hidup karena banyak aspek kehidupan yang melibatkan interaksi dengan orang lain. Ciri-cirinya adalah :  banyak teman, suka berkonsolidasi, aktif dalam kegiatan kelompok, suka mampu dan mengajari (wahdah.or.id).

  1. Kecerdasan Intrapersonal

Menurut amstrong (2002:4) berpendapat bahwa kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan seseorang untuk berfikir secara reflektif, yaitu mengacu kepada kesadaran reflektifmenganai perasaan dan proses pemikiran diri sendiri. Adapun kegiatan yang mencakup kecerdasan ini adalah berfikir, meditasi, bermimpi, berdiam diri, merenung, menyendiri.

  1. Kecerdasan naturalis, berkaitan dengan kepekaan dalam mengapresiasi alam dan lingkungan sekitar (Inspirasiku.com).

 

  1. Kecerdasan spiritual

Zohar dan Marshall (2001:3-4) beranggapan bahwa kecerdasan spiritual dapat diartikan sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memcahkan persoalan makna dan nilai. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan dalam memandang makna atau hakikat kehidupan ini sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk tuhan Yang Maha Esa yang berkewajiban menjalankan semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa setiap anak mempunyai kemampuan atau potensi untuk bisa cerdas, yaitu multiple intelligences yang ada pada mereka. Seluruh potensi yang ada pada diri anak yang harus dikembangkan dan dioptimalkan. Ketika ada anak yang bermasalah dengan perkembangannya harus segera ditindak lanjuti.  Tugas penulis, orangtua maupun guru sebagai pendidik adalah berusaha sebaik mungkin untuk menemukan dan mengembangkan sebanyak mungkin kecerdasan yang dimiliki oleh masing-masing anak yang dapat mendukung kemampuan kreativitasnya.

 

 

  1. D.   Relevansi Permainan

Relevansi permainan kegiatan bermain “Mainan Bingkisan Kivilisik” ditinjau dari perkembangan anak usia dini menghasilkan kesesuaian antara kegiatan “Mainan bingkisan” dengan tugas perkembangan anak. Menurut Havighurts tugas-tugas perkembangan pada anak bersumber pada tiga hal, yaitu: kematangan fisik, rangsangan atau tuntutan dari masyarakat dan norma pribadi mengenai aspirasi-aspirasinya. Tugas-tugas perkembangan tersebut adalah sebagai berikut: tugas-tugas perkembangan anak usia 0-6 tahun, meliputi belajar memfungsikan visual motoriknya secara sederhana, belajar memakan makanan padat, belajar bahasa, kontrol badan, mengenali realita sosial atau fisiknya, belajar melibatkan diri secara emosional dengan orang tua, saudara dan lainnya, belajar membedakan benar atau salah serta membentuk nurani (duniapsikologi.com).

Sedangkan menurut Erikson dalam bukunya Childhood and Society, Erikson membagi fase dan tugas perkembangan, sebagai berikut: masa bayi (0 – 1 ½ tahun) à pada masa ini disebut sebagai masa saat kepercayaan harus ditanamkan, masa si anak harus belajar bahwa dunia merupakan tempat yang baik baginya, dan masa ia belajar menjadi optimis mengenai kemungkinan-kemungkinan mencapai kepuasan (edukasi.kompasiana.com).

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa tugas perkembangan anak usia 0-1 tahun meliputi kematangan fisik anak, misalnya dengan cara belajar mengambil atau memegang makanan atau benda. Pada usia 0-1 tahun khususnya usia 6-9 bulan dalam kegiatan bermain menggunakan “Mainan Bingkisan Kivilisik” anak diusahakan mulai menjauhkan tangan anak dari mulut. Maksudnya supaya anak mulai mengurangi memasukkan semua benda ke dalam mulutnya, karena sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia 6-9 bulan yang biasanya sudah mulai dapat mengambil dan membuang benda menggunakan tangannya. Sedangkan belajar berbahasa. Pada anak usia 0-1 tahun khususnya usia 6-9 bulan perkembangan bahasa atau cakap anak dapat berkembang melalui bermain “Mainan Bingkisan Kivilisik” untuk merangsang anak bersuara atau berteriak bila tidak senang sebagai cara lain dari pada menangis.

 

 

 

PROFIL PERMAINAN

  1. A.  Identitas Permainan

Kegiatan bermain ini diberi nama “mainan bingkisan kivilisik”. Maksudnya, mainan bermakna alat untuk bermain bingkisan artinya sebuah kotak untuk membungkus mainan, dan kivilisik merupakan kepanjangan dari kinestetik, visual spasial, linguistik dan musik.

 

  1. B.  Tujuan

Kegiatan bermain “Mainan Bingkisan Kivilisik”ini mempunyai tujuan untuk mengembangakan beberapa aspek perkembangan anak diantaranya dari segi fisik anak bisa duduk dengan bantuan dan mencoba merangkak. Dari segi bahasa anak mulai merespon bila dipanggil namanya dan mengoceh saat bermain. Sedangkan dari segi seni dapat mendengarkan suara-suara disekitarnya.

  1. C.  Manfaat

Kegiatan bermain atau permainan “Mainan Bingkisan Kivilisik” ini mempunyai beberapa manfaat bagi anak yang antara lain:

  1. Dengan kegiatan bermain ini kecerdasan kinestetik anak akan Berkembang melalui kegiatan mengambil, meraih,nmemegang dan melempar bingkisan menggunakan tangan anak.
  2. Mengembangkan visual spasial anak

Dengan kegiatan bermain ini, kecerdasan visual spasial anak akan berkembang melalui kegiatan melihat warna dan bentuk gambar, mengamati gerak benda yang dipegangnya.

  1. Mengembangkan linguistik anak

Dengan kegiatan bermain ini kecerdasan linguistik anak akan berkembang melalui kegiatan guru mengajak anak berbicara, dan anak menjerit ketika kegiatan bermain.

  1. Mengembangakan musik anak

Dengan kegiatan bermain ini kecerdasan musikal anak akan berkembang melalui kegiatan anak diajak bernyanyi oleh guru sebelum kegiatan bermain atau selama kegiatan bermain.

 

  1. D.  Peralatan yang Dibutuhkan

Peralatan yang dibutuhkan dalam kegiatan bermain atau permainan “Mainan Bingkisan Kivilisik”  ini adalah antara lain:

  1. Kotak berwarna-warni

kotak yang setiap sisinya berbeda warnanya yang berisi dakron atau spons dan sebuah kotak kecil. Kotak ini digunakan untuk menyimpan mainan yang bisa terlempar dan dapat diraih anak.

 

 

 

 

  1. Kue

Kue untuk diletakkan di dalam kotak.

 

 

 

 

 

  1. E.  Aturan Permainan

Aturan permainan dalam kegiatan bermain atau permainan “Mainan Bingkisan”  ini tidak ada karena anak masih berusia dibawah 1 tahun sehingga anak belum bisa di ajak untuk membuat dan melaksanakan peraturan yang dibuat. Jadi dalam kegiatan ini anak diberikan alat permainan supaya anak bisa memainkan alat permainan itu sebisa mungkin.

 

  1. F.  Setting Permainan

Setting permainan dalam kegiatan bermain “Mainan Bingkisan”  ini tidak ada dikarenakan kegiatan bermain bagi anak usia 0-1 tahun masih bersifat individual dan asal anak mau bermain dengan senang serta anak usia 0-1 tahun masih belum bisa diajak berkomunikasi dengan baik.

 

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. G.  Skenario Permainan

Skenario permainan yang disusun untuk kegiatan bermain “Mainan Bingkisan Kivilisik”  ini adalah:

  1. Menyiapkan alat bermain untuk anak sambil mengajak anak berkomunikasi menggunakan bahasa bayi supaya anak senang terlebih dan tidak menangis.
  2. Memperlihatkan alat permainan kepada anak.
  3. Memperlihatkan cara menggunakan mainan di depan anak sehingga anak akan memperhatikan (jika anak mau).
  4. Memberikan alat permainan kepada anak.
  5. Biarkan anak bermain sendiri sampai anak menemukan benda didalam mainan bingkisan kivilisik.
  6. Setelah anak bermain dan sukses mencapai tujuan dan mendapatkan benda didalam mainan bingkisan, anak mendapat hadiah kue.

 

 

VALIDASI PERMAINAN

 

  1. A.   Pengertian Validasi

Validasi adalah suatu tindakan pembuktian dengan cara yang sesuai bahwa tiap bahan, proses, prosedur, kegiatan, sistem, perlengkapan atau mekanisme yang digunakan dalam produksi dan pengawasan akan senantiasa mencapai hasil yang diinginkan. Validasi juga aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid tidak hanya mampu menghasilkan data yang tepat akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut. Oleh karena itu, tidak ada validitas yang berlaku umum untuk semua tujuan pengukuran. Suatu alat ukur biasanya hanya merupakan ukuran yang valid untuk satu tujuan yang spesifik. Dengan demikian, anggapan valid seperti dinyatakan dalam “alat ukur ini valid” adalah kurang lengkap. Pernyataan valid tersebut harus diikuti oleh keterangan yang menunjuk kepada tujuan (yaitu valid untuk mengukur apa), serta valid bagi kelompok subjek yang mana (violetatniyamani.blogspot.com).

 

  1. B.   Tujuan Validasi

Tujuan validasi adalah untuk menghasilkan hasil analisis yang paling baik. Untuk memperoleh hasil tersebut, semua variabel yang terkait dengan metode analisis harus dipertimbangkan seperti prosedur pengambilan sampel dan tahap penyiapan sampel.

 

  1. C.   Validator

Dalam pelaksanaan validator tersebut penulis menggunakan responden sebagai validator meliputi:

  1. Ahli model permainan adalah dosen yang memiliki kompetensi dibidang pembelajaran anak usia dini, dalam hal ini diharapkan dapat memberikan penjelasan dan penilaian yang objektif tentang permainan yang divalidasi.
  2. Ahli Materi

Ahli materi guru atau kepala PAUD  yang memiliki kompetensi terhadap bidang pengembangan anak usia dini. Yang berperan sebagai ahli materi permainan.

  1. Audien

Audien yang digunakan dalam validasi ini adalah orang tua dari anak yang melakukan permainan.

  1. D.   Proses Validasi

Proses validasi yang pertama dilakukan adalah dengan menyiapkan hasil vidio dari permainan “Mainan Bingkisan Kivilisik” yang telah dipraktekkan kepada anak usia 0-1 tahun untuk diperlihatkan kepada ahli model permainan dan mengisi angket yang telah disiapkan. Kemudian pengisian angket oleh kepala PAUD sebagai ahli materi serta audien atau orang tua dari anak yang telah melihat pelaksaan dari permainan tersebut.

 

  1. E.   Instrumen

Instrumen merupakan alat untuk mendapatkan atau memperoleh data yang diinginkan tentang kegiatan bermain “Mainan Bingkisan”. Dalam kegiatan bermain “Mainan Bingkisan” ini penulis menggunakan instrumen berupa angket dan observasi.

 

  1. F.   Teknik Analisis Data

Pengolahan data dari hasil pengisian angket tersebut menggunakan analisis dengan rumus:

 

Keterangan:

: skor rata-rata

N            : jumlah soal

n             : jumlah jawaban masing-masing option a, b, c, d

1, 2, 3, 4  : bobot masing-masing option a, b, c, d

Kategori penyekoran jawaban sebagai berikut:

a = 4                                              c = 2

b = 3                                             d = 1

 

Prosentase keseluruhan aspek responden dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

 

Keterangan :

: skor rata-rata responden

: prosentase jumlah seluruh responden

N  : jumlah responden

Setelah analisis data yang dilakukan, dilanjutkan dengan interpretasi data yaitu menentukan ukuran validasi permainan yang divalidasi dengan kriteria dari ahli model pembelajaran, ahli materi, dan audien.

 

Penyajian Data Prosentase Tingkat Kevalidan

Rentang nilai

Kategori

Bobot

Keterangan

80% – 100%

Sangat Valid

4

Bisa digunakan tanpa revisi

70% – 79%

Valid

3

Bisa digunakan dengan revisi

60% – 69%

Kurang Valid

2

Bisa digunakan dengan sebagian revisi

0% – 59%

Tidak Valid

1

Tidak layak digunakan

 


 

HASIL VALIDASI

  1. A.  Paparan Hasil Validasi

Dari hasil validasi yang dilaksanakan kepada ketiga responden dapat dipaparkan sebagai berikut:

  1. Ahli model permainan

Hasil validasi yang dilaksanakan kepada ahli model permainan dalam hal ini adalah Bu Errifa Susilo, S.Pd, M.pd dengan mengisi angket menghasilkan nilai bahwa kegiatan bermain “mainan bingkisan Kivilisik” untuk anak usia 0-1 tahun adalah 87,5%, yang dikategorikan sangat valid. Yaitu bisa digunakan tanpa revisi.

  1. Ahli materi

Hasil validasi yang dilakukan kepada ahli materi dalam hal ini adalah Ibu kepala Sekolah PAUD dengan mengisi angket menghasilkan nilai bahwa kagiatan bermain “mainan Bingkisan Kivilisik” untuk anak usia 0-1 tahun adalah 85,4%, yang dikategorikan sangat valid. Yaitu bisa digunakan tanpa revisi.

  1. Audien

Hasil validasi yang dilakukan kepada audien dalam hal ini angket di isi oleh pengasuh TPA menghasilkan nilai bahwa kegiatan bermain “minan Bingkisan Kivilisik” untuk anak usia 0-1 tahun adalah 87,5%, yang dikategorikan sangat valid. Yaitu dapat digunakan tanpa revisi.

  1. B.  Pembahasan

Dari paparan hasil validasi yang telah disebutkan di atas, dapat dinyatakan bahwasanya kegiatan bermain dan alat permainan “Mainan Bingkisan Kivilisik” cocok dan dapat digunakan dan diterapkan untuk anak usia dini khususnya anak usia 0-1 tahun. Hal ini terlihat dan terbukti dari hasil validasi yang diperoleh dari ahli model permainan menyatakan bahwa kegiatan bermain ini sangat valid, sedangkan hasil dari ahli materi menyatakan bahwa hasilnya sangat valid, kenudian hasil dari audien yang diisi oleh pengasuh TPA anak menyatakan bahwa hasilnya juga sangat valid. Dari hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa kegiatan bermain “Mainan Bingkisan Kivilisik” ini sangat valid dan dapat digunakan tanpa revisi.

  1. C.  Perbaikan Permainan

Perbaikan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kegiatan bermain “Mainan Bingkisan Kivilisik” adalah sebagai berikut:

  1. Anak diajak menari dengan diiringi musik
  2. Memperlihatkan alat permainan kepada anak.
  3. Memperlihatkan cara menggunakan mainan di depan anak sehingga anak akan memperhatikan (jika anak mau).
  4. Memberikan alat permainan kepada anak.
  5. Biarkan anak bermain sendiri sampai anak menemukan benda didalam mainan bingkisan kivilisik.
  6. Setelah anak bermain dan sukses mencapai tujuan dan mendapatkan benda didalam mainan bingkisan berupa kue.


 

BAB VI

PENUTUP

  1. A.  Kesimpulan

Paparan di atas menjelaskan bahwa perkembangan anak usia 0-1 tahun mempunyai beberapa karakteristik yang antara lain Pekembangan fisik anak usia 0 – 1 tahun secara umum Tak ada yang bisa diperbuat bayi berusia satu bulan selain menangis. Tapi lambat-laun, seiring perkembangan kemampuannya, dia mulai bisa menggapai-gapai mainan yang tergantung di atas boksnya. Bayi belajar mengoordinasikan mata dan tangannya, hingga dia bisa meraih mainan itu. Anak usia 2 bulan masih mulai mengenal tangan dan kakinya untuk bermain. Selanjutnya untuk Usia 3-5 bulan sudah mulai dapat menggunakan anggota tubuhnya untuk menahan kepala dengan stabil, dapat mengangkat kepala sejajar badannya ketika diberi rangsangan untuk posisi duduk, hingga akhirnya anak akan mulai bisa duduk sendiri. Memasuki bulan ke 7-8 anak mulai bisa bermain sambil duduk tanpa terjatuh, dan anak mulai mencoba  merangkak. Bersamaan dengan ini, anak dapat melepas sesuatu dengan sengaja, anak akan mengambil benda kemudian melemparnya. Di usia ke 9 anak mulai dapat menggunakan jarinya lebih kuat untuk mencubit atau lebih terkoordinasi dengan baik. Menjelang bulan ke 10 hingga mencapai 1 tahun anak mulai dapat berdiri hingga berjalan sedikit demi sedikit.

Dari tugas perkembangan tersebut maka disusunlah sebuah buku tentang kegiatan bermin yang cocok untuk anak usia 0-1 tahun sesuai dengan tugas perkembangannya dan bisa digunakan sebagai rujukan untuk kegiatan bermain anak.

  1. B.  Saran
    1. Untuk pendidik dan pengasuh TPA semoga buku ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan tentang kegiatan bermain yang sesuai dengan usia anak.
    2. Untuk para pembaca semoga buku ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang kegiatan bermain anak dan dapat dijadikan acuan untuk kegiatan bermain anak yang sesuai dengan usianya.
    3. Untuk para mahasiswa semoga penyusunan buku ini dapat bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang kegiatan bermain anak yang sesuai dengan usianya.

 


 

DAFTAR RUJUKAN

Prof.Dr.Winarno Surakhmad M.Sc.Ed. dan Drs.Anwar Syah.1997/1998.Psikologi Perkembangan.PT Karya Unipres:Jakarta.

Su Laurent dan Peter Reader. 2009. Ensiklopedia perkembangan Bayi. Erlangga: Jakarta.

Yuliani Nurani Sujiono dan Bambang Sujiono. 2010. Bermain kreatif. PT indeks: Jakarta.

http://violetatniyamani.blogspot.com/2007/09/teori-validitas.htm

 

PENDIDIKAN KARAKTER

ANAK USIA DINI

 

 

 

MAKALAH

Disusun Untuk Memenuhi

Tugas Mata Kuliah “Filsafat Pendidikan”

Yang Dibimbing Oleh Drs. Ahmad Samawi

 

 

 

 

KELOMPOK

Binti Sulistiorini

I’in Suhartiningsih

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH

PRODI S1 PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI

Mei 2012


 

 

KATA PENGANTAR

 

            Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Karena dengan segala rahmat dan kasih sayang-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pendidikan Karakter Anak Usia Dini” untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Dalam penulisan makalah ini banyak bantuan yang diperoleh baik berupa tenaga maupun pikiran dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini ucapan terima kasih diucapkan kepada:

  1. Drs. Ahmad Samawi, selaku dosen pembimbing mata kuliah ini.
  2. Kedua orangtua dan saudara yang selalu memberikan dukungan dan semangat serta dukungan sehingga makalah ini dapat diselesaikan.
  3. Serta teman-teman yang telah membantu dalam memberikan saran dan masukan dalam penulian makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, ole karena itu saran dan kritik penulis harapkan untuk kesempurnaan makalah ini. Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan pendidikan terutama pendidikan anak usia dini.

 

 

 

 

 

Blitar,     Mei 2012

 

 

 

 

Penulis            

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

Halaman sampul……………………………………………………………     i

Kata Pengantar……………………………………………………………      ii

Daftar Isi……………………………………………………………………     iii

 

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah……………………………………………….     1      
  2. Rumusan Masalah………………………………………………………     4
  3. Tujuan Penulisan………………………………………………………     4

 

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pengertian Karakter…………………………………………………………………………..
  2. Pendidikan Karakter………………………………………………………………………….
  3. Fungsi Pendidikan Karakter……………………………………………………………….
  4. Tujuan Pendidikan Karakter………………………………………………………………
  5. Hubungan Antara Pendidikan Karakter Dengan Kecerdasan…………………
  6. Peran Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Mengembangkan Dan Menanamkan Pendidikan Karakter…………………………………………………..
  7. Implementasi Pendidikan Karakter  Pada Pendidikan Anak Usia Dini…………………………………………………………………………………………….

 

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan………………………………………………………………………………..    
  2. Saran……………………………………………………………………………    

 

DAFTAR RUJUKAN

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang

            Usia dini utamanya di Taman Kanak-kanak merupakan usia yang efektif untuk mengembangkan berbagai potensi dan kepribadian yang dimiliki oleh anak. Upaya pengembangan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara termasuk melalaui pendidikan karakter dalam pembelajaran. Kegiatan ini tidak hanya terkait dengan kemampuan kognitif saja tetapi juga kesiapan mental, sosial dan emosional. Oleh karena itu dalam pelaksanaanya harus dilakukan secara menarik, bervariasi dan menyenangkan.

            Penerapan pendidikan karakter pada anak usia dini dapat dituangkan dalam program harian, yaitu tentang kepribadian anak, kemandirian, kedisiplinan, dan tanggung jawab sehingga anak siap mengikuti pada jenjang pendidikan selanjutnya dan masa dewasanya.

            Taman Kanak-kanak merupakan pendidikan bagi anak usia dini yang berada pada jalur formal yang tentunya harus mampu mempertahankan citra dan kwalitas pembelajaran sehingga masyarakat tetap mengakui mutu dan proses belajar mengajar yang dilaksanakan. Salah satunya yaitu menyiapkan anak didik yang berkarakter.

            Dengan ditulisnya makalah ini maka diharapkan dapat membantu para pendidik dalam menerapkan pendidikan karakter pada penyusunan perencanaan pembelajaran sehingga pembelajaran lebih terarah, efektif dan efisien dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.

 

  1. B.     Rumusan Masalah

            Berdasar uraian latar belakang di atas maka rumusan masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut :

  1. Apakah pengertian karakter?
  2. Apakah pendidikan karakter itu?
  3. Apakah fungsi dari pendidikan karakter?
  4. Apakah tujuan dari pendidikan karakter?
  5. Bagaimana hubungan antara pendidikan karakter dengan kecerdasan?
  6. Bagaimana peran lembaga Pendidikan Anak Usia Dini dalam mengembangkan dan menanamkan pendidikan karakter?
  7. Bagaimanakah implementasi pendidikan karakter khususnya pada Pendidikan Anak Usia Dini?

 

  1. C.    Tujuan

            Berdasar dari rumusan masalah, maka tujuan dari penulisan ini yaitu sebagai berikut :

  1. Untuk menjelaskan tentang pengertian karakter
  2. Untuk menjelaskan tentang pengertian pendidikan karakter
  3. Untuk menjelaskan tentang fungsi dari pendidikan karakter
  4. Untuk menjelaskan tentang tujuan dari pendidikan karakter
  5. Untuk menjelaskan tentang hubungan antara pendidikan karakter dengan kecerdasan
  6. Untuk menjelaskan tentang peran lembaga Pendidikan Anak Usia Dini dalam mengembnagkan dan menanamkan pendidikan karakter
  7. Untuk menjelaskan tentang penerapan pendidikan karakter khususnya pada Pendidikan Anak Usia Dini

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.  Pengertian Karakter

            Istilah karakter berasal dari bahasa Yunani, charassein yang berarti mengukir. Membentuk karakter diibaratkan seperti mengukir di atas batu permata atau permukaan besi yang keras. Dari sini kemudian berkembang pengertian karakter yang diartikan sebagai tanda khusus atau pola perilaku. Doni Koesoema A (2007:80) memahami bahwa karakter adalah sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik yang bersifat khas dari seseorang yang bersumber dari hasil bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan. Menurut Pusat Bahasa Depdiknas, pengertian karakter adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, dan watak.

            Jadi bisa disimpulkan bahwa karakter itu erat kaitannya dengan personality. Seseorang bisa dikatakan berkarakter apabila tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral. Individu yang berkarakter baik atau unggul adalah seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dirinya, lingkungan, bangsa dan negara, serta dunia internasional pada umunya dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasinya (perasaanya). Karakter itu lebih bersifat spontanitas maksudnya dalam bersikap atau melakukan perbuatan telah menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak perlu difikirkan lagi. 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                   

  1. B.  Pendidikan Karakter

            Pendidikan adalah proses internalisasi nilai budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga orang dan masyarakat menjadi beradap. Pendidikan bukan hanya merupakan sarana menstransfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi yakni sebagai sarana pembudayaan dan penyaluran nilai (enkulturasi dan sosialisasi). Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter ini berkutat pada empat hal yaitu olah hati, olah pikir, olah rasa dan olah raga. Olah hati yang dimaksud adalah berkata, bersikap, dan berperilaku jujur. Olah pikir artinya cerdas yang selalu merasa membutuhkan pengetahuan. Olah rasa artinya memilki cita-cita. Sedang olah raga artinya enjaga kesehatan di tengah-tengah menggapai cita-cita tersebut.

            Pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif (Puskur, 2010). Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak supaya menjadi manusia, warga masyarakat dan warga negara yang baik. 

 

  1. C.  Fungsi dari pendidikan karakter

            Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (kognitif), sikap dan perasaan (afektif), dan tindakan (aksi). Tanpa ketiga aspek ini maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan maka seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan hidup termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis.

            Fungsi dari pendidikan karakter dan budaya bangsa menurut Puskur (2010) adalah sebagai berikut :

  1. Pengembangan ; pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi pribadi yang berperilaku baik,
  2. Perbaikan ; memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat
  3. Penyaring ; untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai budaya dan karakter budaya yang bermartabat

 

  1. D.  Tujuan Pendidikan Karakter

            Mengacu pada dasar falsafah bangsa, maka Pancasila sebagai kristalisasi nilai budaya bangsa Indonesia, harus tetap menjadi rujukan dalam menerapkan berbagai aktivitas kehidupan berbangsa dan bernegara termasuk di dalamnya baik aktivitas menata program dan menyelenggarakan pendidikan, maka sila-sila Pancasila merupakan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia tetap merupakan pilar dalam mewujudkan proses penyelenggaraan pendidikan karakter. Dr. Ratna Megawangi pencetus karakter di Indonesia menyebutkan nilai-nilai karakter, diantaranya yaitu :

  1. Cinta Tuhan dan kebenaran
  2. Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian
  3. Amanah
  4. Hormat dan santun
  5. Kasih sayang, kepedulian,dan kerja sama
  6. Percaya diri, kreatif, dan pantang menyerah
  7. Keadilan dan kepemimpinan
  8. Baik dan rendah hati
  9. Toleransi dan cinta damai

            Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, seimbang, dan sesuai dengan standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya dalam mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.

            Tujuan pendidikan karakter menurut Puskur (2010) yaitu sebagai berikut :

  1. Mengembangkan potensi kalbu/nurani/ afektif peserta didik sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa
  2. Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius
  3. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa
  4. Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif dan berwawasan kebangsaan
  5. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan

 

  1. E.  Hubungan antara Pendidikan Karakter dengan Kecerdasan dan Keberhasilan Akademik

            Pengertian karakter ini banyak dikaitkan dengan pengertian budi pekerti, akhlak mulia, moral, dan bahkan dengan kecerdasan ganda (multiple intelligence). Terkait dengan kecerdasan ganda, bahwa kecerdasan meliputi empat pilar saling terkait satu sama lain, yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial sering disebut sebagai kecerdasan yang berdiri sendiri yang lebih disebut dengan pengertian cerdas pada umunya, dengan ukuran baku internasional yang dikenal dengan istilah IQ. Sementara kecerdasan yang lainnya belum atau tidak memiliki ukuran matematis sebagaimana kecerdasan intelektual. Kecerdasan di luar kecerdasan intelektual inilah yang lebih dekat dengan pengertian karakter pada umumnya. Dr. Martin Luther King tokoh spiritual kulit hitam di Amerika Serikat menyatakan bahwa pendidikan bertujuan untuk melahirkan insan cerdas secara komprehensif, menyeluruh dan berkarakter kuat.

            Adakah hubungan antara karakter dengan keberhasilan akademik?

Sebuah buku yang baru terbit berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Faktor-faktor yang menyebabkan kurang berhasil di bidang akademik bukan hanya terketak pada kecerdasan otak, tetapi pada masalah karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemapuan berkomunikasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80% dipengaruhi oleh kecerdasan emosi dan hanya 20% ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya akan mengalami kesulitan dalam belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan bila tidak cepat ditangani  maka akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh para remaja misalnya tawuran, narkoba, miras dan sebagainya.

 

  1. F.   Peran lembaga Pendidikan Anak Usia Dini dalam mengembangkan dan menanamkan pendidikan karakter

            Lembaga pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam upaya untuk membentuk karakter, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah di dalam lingkungan keluarga. Apabila seorang anak memperoleh pendidikan karakter yang baik dalam keluarga, maka anak tersebut selanjutnya akan berkarakter baik pula. Namun banyak orang tua yang hanya mementingkan aspek kecerdasan otak daripada pendidikan karakter.

            Peran lembaga pendidikan diibaratkan sebagai “mesin” untuk mencetak sumber daya manusia yang berkarakter. Lembaga pendidikan menjadi “bengkel” bagi perbaikan moralitas bangsa yang terkikis oleh dampak negatif modernisasi. Pendidikan dituntut berperan aktif sebagai agen perubahan.

 

G. Implementasi pendidikan karakter khususnya pada Pendidikan Anak Usia Dini

            Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaan nilai-nilai karaker kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kecerdasan atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan maupun kebangsaaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen harus dilibatkan termasuk komponen itu sendiri yaitu kurikulum, prose pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana dan prasarana, pembiayaan dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.

            Selam ini pendidikan dalam lingkungan keluarga belum memberikan kontribusi berarti dalam mendukung pencapaian kompetensi dan pembentukan karakter peserta didik. Kesibukan orang tua yang relatif tinggi, kurangnya pemahaman orang tua dalam mendidik anak, pengaruh pergaulan luar, dan pengaruh media elektronik ditengarai bisa mempengaruhi perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahn tersebut yaitu melalui pendidikan karakter terpadu, yaitu memadukan dan mengoptimalkan kegiatan pendidikan informal lingkungan keluarga dengan pendidikan formal di sekolah.

            Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut meliputi nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan.

            Dalam menerapkan pendidikan karakter di sekolah terdapat empat model yaitu :

  1. 1.      Model otonom

     Memposisikan pendidikan karakter sebagai mata pelajaran tersendiri yang menghendaki adanya rumusan yang jelas tentang standar isi, kompetensi dasar, silabus, rencana pembelajaran, bahan ajar, metodologi dan evaluasi pembelajaran.

  1. 2.      Model integrasi

     Mengintergasikan pendidikan karakter dengan seluruh bidang pengembangan ditepuh dengan paradigma bahwa semua guru adalah pengajar karakter. Pada tingkat PAUD terdapat lima bidang pengembangan yang dapat diintergasikan dengan pendidikan karakter, yaitu bidang pengembangan Nilai Agama dan Moral, bidang pengembangan Sosial, Emosional dan Kemandirian, bidang pengembangan Bahasa, bidang pengembangan Kognitif, bidang pengembangan Fisik Motorik. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai perlu dikembangkan dan dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian pembelajaran nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif tetapi internalisasi dan pengamalan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

  1. 3.      Model suplemen

     Pendidikan karakter juga dilaksanakan di luar jam sekolah yang mana dapat ditempuh dengan dua cara yaitu melaui kegiatan ekstrakurikuler dan melalui kegiatan kemitraan dengan lembaga lain yang memiilki kapabilitas dalam pembinaan karakter.

     Kegiatan ekstrakurikuler merupakan salah satu media yang efektif untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler dapat membantu pengembangan peserta didik sesuai kebutuhan, potensi, bakat dan minat. Selain itu dengan kegiatan ini diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dan rasa tanggung jawab, sosial, serta potensi peserta didik.

  1. 4.      Model kolaborasi

     Merupakan kolaborasi dari semua model dan merupakan upaya untuk mengoptimalkan kelebihan setiap model dan menutupi kekurangan masing-masing pada sisi lain.

           

            Selain model penerapan pendidikan karakter di sekolah, terdapat juga alternatif pembelajaran pendidikan karakter di sekolah yaitu :

  1. 1.      Tahap pembelajaran

     Dalam pendidikna karakter menuju pada terbentuknya akhlak mulia dalam diri maka terdapat tiga tahapan yang harus dilalui yaitu :

a)      Moral knowing, bertujuan agar peserta didik mampu membedakan antara nilai karakter mulia dengan karakter tercela

b)     Moral loving, bertujuan untuk menubuhkan rasa cinta dan rasa membutuhkan terhadap karakter mulia

c)      Moral doing, merupakan puncak keberhasilan pendidikan karakter yang mana peserta didik mempraktikkan karakter mulia tersebut dalam kehidupan sehari-hari

  1. 2.      CTL Sebagai Alternatif Dalam Pendidikan Karakter

     Cotextual Teaching Learning adalah proses pendidikan yang mana mengaitkan pebelajaran dengan pengalaman nyata peserta didik. Peserta didik diharapkan belajar langsung dengan mencari dan menggabungkan informasi secara aktif dari masyarakat lalu menggabungkannya untuk alasan tertentu. Selanjutnya peserta didik dirangsang untuk mengajukan pertanyaan seputar karakter. Pertanyaan ini akan membantu peserta didik untuk menemukan kaitan antara pelajaran di kelas dengan situasi yang mereka alami baik di sekolah, rumah maupun masyarakat. Dalam upaya menguatkan kesadaran berkarakter positif maka peserta didik perlu dibawa ke dalam pengalaman hidup bersama orang lain dalam situasi yang sangat berbeda dari kehidupan sehari-harinya.

     Di sekolah pendidikan karakter adalah integrated dalam berbagai disiplin ilmu. Lalu bagaimana pendidikan karakter dapat diberikan dan disampaikan secara efektif kepada peserta didik? Berikut adalah strategi efektif dalam melakukan pembelajaran pembentukan karakter yaitu :

a)      Involve the parents (libatkan orang tua)

          Libatkan orang tua dalam kegiatan sekolah. Selain itu selalu melakukan komunikasi yang intensif dan terbuka demi membangun tegaknya moral anak.

b)     Role playing (bermain peran)

          Peserta didik terutama anak usia dini sangat suka sekali bermain peran. Guru hendaknya memberikan kesepatan pada peserta didik untuk memerankan peran-peran tertentu

c)      Introduce reading good books (mengenalkan macam-   macam buku bagus)

Lupakan lembar kegiatan siswa untuk sementara waktu. Sudah waktunya para peserta didik mengeksplorasi keajaiban membaca. Buku adalah pusat kekuatan nilai. Banyak sekali nilai yang tertanam melalui membaca dongeng.

d)     Play games (bermain game)

          Melalui permainan game  kita dapat menanamkan pentingnya rasa tanggung jawab, dan kerja sam dengan tim.

e)      Praise and recognition (pujian dan pengakuan)

          Memperkuat setiap perbuatan baik dengan memberikan pujian dan pengakuan sebagai bentuk motivasi.

          Apapun strategi yang dilakukan guru, yang terpenting yaitu selalu menunjukkna contoh yang baik .  Kita harus ingat bahwa peserta didik belajar sesuatu melalui imitasi. Jika mereka bisa meniru cara orang tua/ guru berbicara, berapa banyak lagi nilai yang bisa orang dan guru pancarkan? Disamping itun juga di sekolah adanya dukungan-dukungan penciptaan lingkungan dengan memampang slogan-slogan yang berisi ajakan dan anjuran untuk selalu berkarakter mulia.


 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

     Dari uraian diatas maka dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya yakni:

  • Membentuk karakter diibaratkan seperti mengukir di atas batu permata atau permukaan besi yang keras. Dari sini kemudian berkembang pengertian karakter yang diartikan sebagai tanda khusus atau pola perilaku. Doni Koesoema A (2007:80) memahami bahwa karakter adalah sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik yang bersifat khas dari seseorang yang bersumber dari hasil bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan. Menurut Pusat Bahasa Depdiknas, pengertian karakter adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, dan watak.
  • Pendidikan adalah proses internalisasi nilai budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga orang dan masyarakat menjadi beradap.       Pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif (Puskur, 2010)
  • Fungsi dari pendidikan karakter dan budaya bangsa menurut Puskur (2010)

ü  Pengembangan ; pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi pribadi yang berperilaku baik,

ü  Perbaikan ; memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat

ü  Penyaring ; untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai budaya dan karakter budaya yang bermartabat

  • Faktor-faktor yang menyebabkan kurang berhasil di bidang akademik bukan hanya terketak pada kecerdasan otak, tetapi pada masalah karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemapuan berkomunikasi.
  • Peran lembaga pendidikan diibaratkan sebagai “mesin” untuk mencetak sumber daya manusia yang berkarakter. Lembaga pendidikan menjadi “bengkel” bagi perbaikan moralitas bangsa yang terkikis oleh dampak negatif modernisasi. Pendidikan dituntut berperan aktif sebagai agen perubahan
  • Pendidikan karakter di sekolah juga sangat terkait dengan manajemen atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan yang dimaksud adalah bagaimana pendidikan karakter direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan dalam kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah secara memadai. Pengelolaan tersebut meliputi nilai yang perlu ditanamkan, muatan kurikulum, pembelajaran, penilaian, pendidik dan tenaga kependidikan.

 

  1. B.     Saran

     Penulis dapat memberikan beberapa saran berdasarkan uraian diatas, Mengingat pentingnya pendidikan karakter sebagai penunjang harmonisan manyarakat, maka sejak dini hendaknya ditanamkan pendidikan karakter, bukan hanya disekolah, namun juga di lingkungan keluarga dan sekolah. Jadi penting sekali kerjasama antara pihak-pihak tersbut demi suksesnya kepribadian anak-anak bangsa yang baik.

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Soenarko, bambang. 2010. Konsep pendidikan karakter. Kediri: universitas nusantara.

 

 

 

 

 

 

METODE/STRATEGI PENGEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL “ BERNYANYI & BERMAIN MUSIK, ROLE PLAYING”

 

TUGAS KELOMPOK

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian pengembangan Kemampuan Sosial Emosional Anank Usia Dini

Yang dibina oleh Bapak Musa Sukardi

 

Oleh :

                          Binti Sulistyorini, dkk

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH

PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Maret, 2012

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur penyusun panjatkan atas kehadirat Allah SWT , karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, penyusun dapat menyelesaikan pembuatan makalah yang berjudul ” Metode/strategi pengembangan sosial emosional melalui kegiatan menyanyi, bermain musik dan role playing” dengan baik.

Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Bapak Musa Sukardi selaku dosen mata kuliah Kajian Pengembangan Kemampuan Sosial Emosional Anak Usia Dini yang telah membimbing dalam menyelesaikan makalah ini serta teman-teman yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu memberikan saran dan motivasi.

Penyusun menyadari sepenuhnya atas segala kekurangan pada makalah ini dan sangat mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan makalah ini sehingga dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan informasi tentang metode/strategi pengembangan sosial emosional. Atas segala saran dan bantuan, penyusun ucapkan terima kasih.

 

 

 

 

 

Blitar,    Maret 2012

 

 

Penyusun

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………….. i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………. ii

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………… 1

  1. Latar Belakang………………………………………………………………………….. 1
  2. Rumusan Masalah……………………………………………………………………… 1
  3. Tujuan …………………………………………………………………………………….. 1

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pengertian Menyanyi………………………………………………………………….
  2. Pengertian Bermain Musik…………………………………………………………..
  3. Pengertian Role Playing………………………………………………………………

 

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan……………………………………………………………………………….
  2. Saran………………………………………………………………………………………..

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Stimulasi sangatlah penting dalam proses pembelajaran anak usia dini. Segala sesuatu yang diinderakan anak akan menjadi stimulus terbaik bagi perkembangan mereka. Semua yang dilihat, didengar, disentuh, dirasa, diraba, dicoba, dimanipulasikan, dan juga yang dialami, akan terus menambah referensi perbendaharaan pengetahuan dan pengalaman bagi anak. Hal ini sangat mungkin, sebab anak usia dini berada dalam periode keemasan atau yang biasa disebut sebagai masa Golden Age.

Proses pembelajaran atau pengalaman yang berasal dari lingkungan sangat berpengaruh bagi perkembangan anak. Selain optimalisasi pengembangan fungsi panca indera, lingkungan yang kondusif, aman, dan menyenangkan lebih memberi kesempatan pada anak untuk mengoptimalkan potensi-potensi yang ada pada dirinya. Otak manusia akan selalu memberi respon positif jika segala aktivitas yang dilalui terasa menyenangkan. Demikian halnya dengan apa yang dialami oleh anak. Mereka akan menyerap berbagai informasi yang diberikan oleh orang lain maupun yang dialaminya sendiri apabila hal tersebut terjadi dalam kondisi yang menyenangkan.

Banyak cara yang dapat dilakukan oleh para pendidik untuk menciptakan kondisi yang menyenangkan dalam proses pembelajaran. Bermain, interaksi, eksploratif serta kegiatan musikal adalah beberapa kegiatan yang dapat ”menghidupkan” kegiatan pembelajaran. Bahkan dalam kegiatan musikal, anak tidak hanya merasakan kesenangan tetapi mereka juga dapat terlatih gerak motoriknya, ekspresi, kepekaan terhadap nada dan birama, serta dapat mengembangkan berbagai kecerdasan lain pada anak, seperti bahasa, logika matematis, intra dan interpersonal.

 

  1. B.     Rumusan Masalah
  2. Apakah yang dimaksud dengan Menyanyi?
  3. Apakah yang dimaksud dengan bermain musik?
  4. Apakah yang dimaksud dengan role playing?
  5. C.    Tujuan
  6. Dapat menjelaskan tentang menyanyi
  7. Dapat menjelaskan tentang bermain musik
  8. Dapat menjelaskan tentang role playing

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    Pengertian Metode Pembelajaran PAUD

Menurut kamus bahasa Indonesia, metode dapat diartikan sebagai cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.

Sedangkan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (UU sisdiknas, 2003). Dari pengertian tersebut, secara sederhana dapat diartikan bahwa metode pembelajaran adalah cara yang sistematis dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang sistematis untuk mencapai tujuan pembelajaran anak usia dini, yaitu mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

  1. B.     Metode Bernyanyi

Bernyanyi merupakan salah satu kegiatan yang sangat digemari oleh anak-anak. Hampir setiap anak sangat menikmati lagu-lagu atau nyanyian yang didengarkan, lebih-lebih jika nyanyian tersebut dibawakan oleh anak-anak seusianya dan diikuti dengan gerakan-gerakan tubuh yang sederhana. Melalui nyanyian atau lagu banyak hal yang dapat kita pesankan kepada anak-anak, terutama pesan-pesan moral dan nilai-nilai agama. Melalui kegiatan bernyanyi suasana pembelajaran akan lebih menyenangkan, menggairahkan, membuat anak bahagia, menghilangkan rasa sedih, anak-anak merasa terhibur, dan lebih bersemangat, sehingga pesan-pesan yang kita berikan akan lebih mudah dan lebih cepat diterima serta diserap oleh anak-anak. Dengan bernyanyi potensi belahan otak kanan dapat dioptimalkan, sehinggga pesan-pesan yang kita berikan akan lebih lama mengendap di memori anak (ingatan jangka panjang), dengan demikian anak akan selalu ingat pesan-pesan yang diterimanya.

 

Sebagai pamong PAUD dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif, termasuk dalam hal bernyanyi. Pamong PAUD sangat mungkin dapat mengganti syair lagu anak-anak yang sudah ada menjadi syair baru yang disesuaiakan dengan pesan-pesan yang akan diberikan, atau bahkan mungkin dapat menciptakan lagu-lagu baru. Beberapa hal yang perlu diperhatikan, bila menciptakan lagu untuk anak-anak, adalah : (1) mengandung nilai-nilai agama atau pesan-pesan yang positif, (2) bahasanya indah dan mudah dimengerti anak, (3) tidak terlalu panjang, (4) iramanya mudah dicerna dan (5) syair dan liriknya bisa melibatkan emosi anak (gembira, semangat, kagum, dll). Dalam kegiatan bernyanyi ini akan lebih sempurna jika pamong PAUD dapat mengiringinya dengan alat-alat musik secara langsung, misalnya piano, organ, gitar, biola, seruling, harmonika, pianika, atau alat musik yang lain, sehingga suasana akan lebih hidup dan lebih menyenangkan.

Berikut ini beberapa contoh lagu yang sudah diganti syairnya, sesuai dengan pesan-pesan yang diinginkan.

  1. Lagu ” balonku ada lima” diubah menjadi lagu “rukun Islam yang lima”. Syairnya berubah sebagai berikut :

 Rukun Islam yang lima

Syahadat, sholat, puasa

Zakat bagi si kaya

Haji bagi yang kuasa

Siapa sudah sholat hai….

Siapa sudah zakat

Allah memberi rahmat

Kan selamat di akherat

  1. Lagu ” kring-kring ada sepeda” diubah menjadi lagu “tok-tok ucap salam”, syairnya menjadi :

Tok-tok-tok ucap salam

Assalamualaikum

Bila kau masuk rumah

Tuntunan Rosulullah

Hai-hai-hai anak sholeh

Rajin-rajin belajar

Karena belajar itu

Pasti disayang Allah

Dalam menyanyikan lagu langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh seorang pamong PAUD antara lain adalah : (1) pilihlah lagu yang cocok, dalam arti sesuai dengan tema, situasi dan kondisi, (2) jika itu lagu baru (belum dikenal anak), sebaiknya nyanyikan terlebih dahulu minimal tiga kali, (3) bersama anak-anak nyanyikan lagi secara berulang-ulang, (4) bila perlu bagilah menjadi beberapa kelompok, dan setiap kelompok bernyanyi bersama kelompoknya, (5) pilihlah beberapa anak yang mungkin sudah hafal lagu itu untuk menyanyi secara individu, (6) nyanyikan sekali lagi secara bersama-sama dan (7) ulangi lagi lagu tersebut pada hari yang lain.

  1. C.    Musik untuk Anak Usia Dini

Musik bukan hanya kegiatan yang identik dengan kemampuan bernyanyi. Lebih dari itu, musik juga erat kaitannya dengan kemampuan dan kepekaan seseorang dalam melakukan gerak tari, harmonisasi nada, pengekspresian seni musik, mengikuti ketukan serta penggunaan alat musik, baik alat musik buatan maupun alat musik yang sesungguhnya.

Dengan demikian, adalah sebuah kewajaran jika para pendidik anak usia dini sudah dibekali dengan kemampuan musikal. Bernyanyi sesuai dengan nada, manari dengan penjiwaan, berekspresi dalam berbagai apresiasi musik, serta keterampilan dalam menggunakan satu atau beberapa alat musik sederhana seperti pianika, perkusi, gitar, keyboard, ataupun angklung perlu dikuasai oleh para pendidik anak usia dini. Namun yang jauh lebih penting adalah upaya optimal dari pendidik dalam mentransformasikan kemampuannya tersebut kepada para peserta didik dengan cara-cara yang tepat seperti yang telah diungkapkan sebelumnya.

Bermusik serta mendengarkan musik merupakan salah satu kegiatan yang sangat digemari oleh anak-anak. Hampir setiap anak akan dengan mudah mengikuti kegiatan ini. Sering kita lihat seorang anak yang berhenti sejenak dengan kegiatannya hanya karena ada suara lagu di televisi kemudian ia fokus memperhatikan TV. Ada pula anak-anak yang dengan asiknya bernyanyi lagu-lagu yang sering ia dengar saat mereka sedang makan, mandi, menjelang tidur, ataupun bermain. Bagi anak, musik dapat menimbulkan rasa kebersamaan serta rasa gembira.

Menurut beberapa penelitian, musik sudah dapat distimulasikan sejak anak masih berada dalam kandungan, karena dianggap mampu menstimulasi kerja neuron-neuron pada otak anak. Bagaimanapun, musik akan sangat membantu anak dalam melatih kemampuan menyimak, konsentrasi serta menambah kosakatanya.

Selain bernyanyi dan bereksplorasi dengan alat musik, kegiatan lain dalam musik adalah gerak dan lagu serta menari. Menari sebagai salah satu bentuk kegiatan dari seni musik yang beragam jenisnya, sehingga tidak semua kegiatan tari appropriate (berkesesuaian) bagi anak. Menari lebih spesifik dikatakan oleh Stinson sebagai gerakan yang beraturan, signifikan dan dipengaruhi oleh penjiwaan.Tari yang kreatif adalah gerakan yang ditampilkan secara menarik dengan menyesuaikan alunan lagu atau musik. Terlepas dari itu, gerakan tari untuk anak sebaiknya yang mudah dan tidak terlalu bervariasi, menyenangkan bagi anak, dan dalam kondisi tertentu gerakan tari anak bersifat alami.

Gerakan tari pada anak usia dini umumnya bersifat pengulangan dari 5-6 gerakan, dengan ditambah variasi formasi yang sederhana. Hal penting yang perlu diperhatikan oleh guru ataupun orangtua adalah memperhatikan kondisi fisik dan psikologis anak saat ingin menari. Memaksakan atau menekan anak untuk menunjukkan suatu gerakan tari, terlebih harus sempurna, hanya akan membuat kondisi menjadi semakin buruk dan tidak mengembangkan kreativitas mereka. Berikut ini adalah beberapa contoh kegiatan yang dilakukan guru dan anak berdasarkan indikator kemampuan dari kecerdasan musikal:
1. Menyanyikan lagu-lagu anak
Guru mengajak anak menyanyikan lagu-lagu yang sesuai dengan tema-tema yang digunakan atau yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Dalam hal ini guru dapat membuat atau mengkreasikan lagu baru ciptaannya sendiri. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan atau tanpa alat musik pengiring.
2. Bermain Tepuk
Kegiatan bermain tepuk merupakan salah satu kegiatan yang juga sangat digemari anak selain bernyanyi. Anak akan dikenalkan berbagai pola tepuk yang disesuaikan dengan tema-tema. Gerak dan ekspresi sangat memberi pengaruh dalam kegiatan ini. Guru juga dapat berkreasi membuat berbagai permainan tepuk yang memotivasi, mengenalkan sebuah konsep, atau melatih konsentrasi anak.
3. Tebak nada dan lagu
Dalam kegiatan ini, guru dapat melakukannya dengan bantuan alat musik ataupun dengan bersenandung tanpa syair. Kemudian anak diminta menebak lagu berdasarkan bunyi solmisasi dari alat musik tersebut atau nada yang dimunculkan dari suara senandung guru.
4. Bermain alat musik buatan
Ada beberapa jenis alat musik yang bisa dipelajari atau dilatihkan kepada anak. Alat musik juga ada yang berupa alat musik permanen maupun alat musik buatan di mana bahannya dapat diperoleh di sekitar anak. Agar lebih menarik, alat-alat itu kemudian dihiasi dengan berbagai macam hiasan. Saat melaksanakan kegiatan ini sebaiknya guru
5. Gerak dan Lagu-Menari
Secara umum ada dua jenis tarian dalam kegiatan seni itu sendiri. Pertama, kegiatan tari daerah. Kemudian dilanjutkan dengan menari modern. Sebelum anak diajarkan tari, biasanya anak akan diajak bergerak bebas mengikuti irama musik. Kemudian mereka mulai dikenalkan dengan kegiatan gerak tari yang berpola dan menggunakan beberapa formasi.

  1. Role Playing

Metode bermain peran ini dikategorikan sebagai metode belajar yang berumpun kepada metode perilaku yang diterapkan dalam kegiatan pengembangan. Karakteristiknya adalah adanya kecenderungan memecahkan tugas belajar dalam sejumlah perilaku yang berurutan, konkret dan dapat diamati. Bermain peran dikenal juga dengan sebutan bermain pura-pura, khayalan, fantasi, make belive, atau simbolik. Menurut Piaget, awal main peran dapat menjadi bukti perilaku anak. Ia menyatakan bahwa main peran ditandai oleh penerapan cerita pada objek dan mengulang perilaku menyenangkan yang diingatnya. Piaget menyatakan bahwa keterlibatan anak dalam main peran dan upaya anak mencapai tahap yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak lainnya disebut sebagai collective symbolism. Ia juga menerangkan percakapan lisan yang anak lakukan dengan diri sendiri sebagai idiosyncratic soliloquies.

Mengajarkan Bahasa Inggris Pada Anak-anak Dengan Roleplaying

Ini adalah salah satu cara mengajarkan Bahasa Inggris dengan teknik roleplay. Contoh yang akan diuraikan adalah ketika guru mengajarkan salam; Greetings.

Setelah anak berlatih secara berulang-ulang bagaimana mengucapkan salam seperti good morning, good afternoon, good night dsb. Ajaklah anak-anak untuk bermain peran sambil mengucapkan salam tersebut.

Materi : Good morning

Langkah-langkahnya sbb:

  1.  Guru memberikan instruksi bahwa anak-anak harus menjawab salam ketika ada orang yang masuk ke ruang kelas.
  2. Guru keluar kelas lalu membuka pintu kelas sambil mengucapkan “Good morning..” (anak-anak akan serentak menjawab  ” Good morning..)
  3. Guru meminta beberapa anak untuk keluar kelas  lalu membuka pintu kelas dan bersama-sama mengucapkan ” Good morning…” kepada teman-teman di dalam kelas. ( teman-temannya dengan kompak akan menjawab good morning pula.
  4. Guru juga dapat meminta anak-anak untuk membawa tas dan berperan  ketika mereka masuk kelas di waktu pagi.

Materi : Good Night

Langkah-langkah sbb:

  1. Guru menyiapkan properti penunjang misalnya meja yang akan dijadikan sebagai tempat tidur (bila persiapan matang, guru dapat membawa bantal, selimut  atau piyama anak agar situasi lebih jelas)
  2. Mintalah seorang anak untuk berpura-pura tidur di meja(tempat tidur) tsb.
  3. Guru berperan sebagai ibu yang ingin mengucapkan salam ketika anak akan pergi tidur.
  4. Ucapakan ” Good night..” pada anak ybs  lalu anak menjawab salam yang sama.
  5. Mintalah siswa  secara bergantian untuk menjadi ibu dan anak
  6. Buatlah situasi lucu seperti menambahkan kalimat: “Jangan ngompol ya…”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang sistematis untuk mencapai tujuan pembelajaran anak usia dini, yaitu mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Bernyanyi merupakan salah satu kegiatan yang sangat digemari oleh anak-anak. Hampir setiap anak sangat menikmati lagu-lagu atau nyanyian yang didengarkan, lebih-lebih jika nyanyian tersebut dibawakan oleh anak-anak seusianya dan diikuti dengan gerakan-gerakan tubuh yang sederhana. Melalui nyanyian atau lagu banyak hal yang dapat kita pesankan kepada anak-anak, terutama pesan-pesan moral dan nilai-nilai agama. Melalui kegiatan bernyanyi suasana pembelajaran akan lebih menyenangkan, menggairahkan, membuat anak bahagia, menghilangkan rasa sedih, anak-anak merasa terhibur, dan lebih bersemangat, sehingga pesan-pesan yang kita berikan akan lebih mudah dan lebih cepat diterima serta diserap oleh anak-anak.

Musik bukan hanya kegiatan yang identik dengan kemampuan bernyanyi. Lebih dari itu, musik juga erat kaitannya dengan kemampuan dan kepekaan seseorang dalam melakukan gerak tari, harmonisasi nada, pengekspresian seni musik, mengikuti ketukan serta penggunaan alat musik, baik alat musik buatan maupun alat musik yang sesungguhnya.

Metode bermain peran ini dikategorikan sebagai metode belajar yang berumpun kepada metode perilaku yang diterapkan dalam kegiatan pengembangan. Karakteristiknya adalah adanya kecenderungan memecahkan tugas belajar dalam sejumlah perilaku yang berurutan, konkret dan dapat diamati. Bermain peran dikenal juga dengan sebutan bermain pura-pura, khayalan, fantasi, make belive, atau simbolik. Menurut Piaget, awal main peran dapat menjadi bukti perilaku anak. Ia menyatakan bahwa main peran ditandai oleh penerapan cerita pada objek dan mengulang perilaku menyenangkan yang diingatnya. Piaget menyatakan bahwa keterlibatan anak dalam main peran dan upaya anak mencapai tahap yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak lainnya disebut sebagai collective symbolism. Ia juga menerangkan percakapan lisan yang anak lakukan dengan diri sendiri sebagai idiosyncratic soliloquies.

 

 

 

  1. Saran
  2.  

 

 

 

 

 

KURIKULUM

REKONSTRUKSI SOSIAL

 

 

 

MAKALAH

Di susun untuk memenuhi mata kuliah

“Pengembangan Kurikulum PAUD”

Yang dibina oleh Ibu Dr. Mardijah Moenir, S.Pd. M.Pd

 

 

 

 

                                                       KELOMPOK

                                    Binti Sulistiorini

                                    Reni Sulistiana

                                    Ratna Dwi Puspita Sari

                                    Ratiza Dhini Praweswari

                                   

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH

PRODI S1 PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI

Oktober 2011

KATA PENGANTAR

 

 

            Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah tugas mata kuliah Pengembangan Kurikulum PAUD yang berjudul “Kurikulum Rekonstruksi Sosial” dengan baik.

Penulis menyadari sepenuhnya atas segala kekurangan pada makalah ini dan penulis dengan senang hati dan akan menerima saran serta kritik demi kesempurnaan makalah ini. Atas segala saran dan bantuan, penulis sampaikan terima kasih.

 

 

 

 

 

Blitar,      Oktober 2011

 

 

 

 

Penulis            

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

 

Halaman Judul……………………………………………………………….……. i

Kata Pengantar…………………………………………………………………… ii

Daftar Isi…………………………………………………………………………. iii

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah………………………………………………1
  2. Rumusan Masalah…………………………………………………….1
  3. Tujuan Penulisan………………………………………………………2

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pengertian kognitif dan krativitas anak usia 0-2 th…………………..3
  2. Perkembangan kognitif dan krativitas anak usia 0-2 th…………………5
  3. Upaya-upaya mengoptimalkan Perkembangan kognitif dan krativitas anak usia 0-2 th………………………………………………………10

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan………………………………………………………………………………..13
  2. Saran…………………………………………………………………………..13

DAFTAR RUJUKAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.      Latar Belakang

Ketika bayi dilahirkan ke dunia, dia memerlukan interaksi dengan orang lain. Interaksi inilah dasar bagi perkembangan sosial emosional seorang anak. Ketika dia berinteraksi, berbagai pengetahuan dan pengalaman baru terbentuk dan dikuatkan. Anak memperkaya bahasa dan kemampuan komunikasinya berkat adanya interaksi sosial. Dalam perkembangannya, anak mempelajari  berbagai aturan, norma dan nilai, juga melalui interaksi sosial.

 

Interaksi sosial yang sehat dan positif membantu meningkatkan perkembangan sosial emosional yang baik. Ketika kita berbicara masalah sosial emosional, ada dua hal yang terlibat, yaitu hubungan sosial dan perkembangan emosi. Hubungan sosial menyangkut hubungan anak dengan orang lain di sekitarnya, termasuk orangtua, teman sebaya, saudara kandung ataupun orang dewasa lainnya. Anak perlu memiliki hubungan sosial yang luas sehingga mudah menyesuaikan diri. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah meningkatkan frekuensi bermain dengan teman sebaya. Interaksi anak dengan teman sebaya dapat mengurangi sifat egosentris anak, serta memahami berbagai aturan sosial.

 

  1. B.       Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, masalah-masalah yang dapat  dirumuskan adalah sebagai berikut:

  1. Apa pengertian social emosional anak usia dini?
  2. Bagaimana perkembangan social emosional anak usia dini?
  3. Model-model pengembangan social emosional anak usia dini?
  4. C.      Tujuan

            Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka makalah ini bertujuan untuk :

  1. menjelaskan pengertian social emosional anak usia dini
  2. menjelaskan perkembangan social emosional anak usia dini.
  3. Macam-macam model pengembangan social emosional anak usia dini.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. menjelaskan pengertian social emosional anak usia dini

      Menurut para ahli pengertian perkembangan social :

  1. Menurut Plato, adalah : Secara pontensi ( fitrah manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial).
  1. Menurut Syamsuddin, mengungkapkan “Sosialisasi adalah proses belajar untuk menjadi makhluksocial
  2. Menurut Loree, “Sosialisasi merupakan suatu proes dimana individu anak melatih kepekaandirinya terhadapan rangsangan – rangsangan social terutama tekanan –tekanan dan tuntutan kehidupan serta belajar bergaul dengan bertingkah lakuseperti orang lain didalam lingkungan social.
  3. Menurut Muhibin. Mengatakan bahwa perkembangan sosial merupakan proses pembentukanpribadi dalam masyarakat.
  4. Menurut Hurlock, bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilakuyang sesuai dengan tuntutan social.“Sosialisasi “ adalah Kemampuan bertingkah laku sesuai dengan norma nilaiatau harapan sosial“.

 

        Emosi adalah suatu keadaan yang kompleksi dapat berupa perasaan / pikiran yang di tandai oleh perubahan biologis yang muncul dari perilaku seseorang.

Menurut para ahli Pengertian Emosi :

  1. Menurut Goleman Bahasa “emosi” merujuk pada suatu perasaan atau pikiran. Pikirin khasnya,suatu keadaan biologis dan psikologis serta rangkaian kecenderungan untukbertindak”.
  2. Menurut SyamsuddinMengemukakan “emosi” merupakan suatu suasana yang komplek dangetaran jiwa yang meyertai atau muncul sebelum atau sesudah terjadinyasuatu perilaku.
  3. menjelaskan perkembangan social emosional anak usia dini.
  4. Macam-macam model pengembangan social emosional anak usia dini.

           

 

 

 

  1. A.     

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    KESIMPULAN
  2. B.     SARAN

 

DAFTAR RUJUKAN

maaf judul bukunya lupa,,,hehehe

yang penasaran boleh langsung menghubungi dosen saya

 

IDENTIFIKASI BUDAYA LOKAL,

NASIONAL DAN UNIVERSAL

 

 

 

 

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi mata kuliah

“Pendidikan Multikultural”

Yang dibina oleh Bpk Kentar Budhojo

 

 

 

 

KELOMPOK

Binti Sulistiorini, dkk

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH

PRODI S1 PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI

Maret 2012


 

 

KATA PENGANTAR

 

            Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Karena dengan segala rahmat dan kasih sayang-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Identifikasi Budaya Lokal, Nasional Dan Universal” untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Multikultural dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Dalam penulisan makalah ini banyak bantuan yang diperoleh baik berupa tenaga maupun pikiran dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini ucapan terima kasih diucapkan kepada:

  1. Bapak Kentar Budhojo selaku dosen pembimbing mata kuliah ini.
  2. Kedua orangtua dan saudara yang selalu memberikan dukungan dan semangat serta dukungan sehingga makalah ini dapat diselesaikan.
  3. Serta teman-teman yang telah membantu dalam memberikan saran dan masukan dalam penulian makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, ole karena itu saran dan kritik penulis harapkan untuk kesempurnaan makalah ini. Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan pendidikan terutama pendidikan anak usia dini.

 

 

 

 

 

Blitar,               April 2012

 

 

 

 

Penulis             

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

Halaman sampul……………………………………………………………       i

Kata Pengantar……………………………………………………………       ii

Daftar Isi……………………………………………………………………       iii

 

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah……………………………………………….       1      
  2. Rumusan Masalah………………………………………………………      4
  3. Tujuan Penulisan………………………………………………………       4

 

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pengertian Budaya…………………………………………………
  2. Budaya Lokal…………………………………………………………………………..
  3. Contoh Budaya Lokal………………………………………………
  4. Pengertian Budaya Nasional…………………………………………
  5. E.      Akar Kebudayaan Indonesia…………………………………………
  6. F.      Budaya Universal………………………………………………….
  7. Dampak Kebudayaan Barat di Indonesia………………………….

 

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan………………………………………………………………………………..      17
  2. Saran……………………………………………………………………………     18

 

DAFTAR RUJUKAN

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.       Latar Belakang

            Seiring dengan kemajuan jaman, tradisi dan kebudayaan daerah yang pada awalnya dipegang teguh, di pelihara dan dijaga keberadaannya oleh setiap suku, kini sudah hampir punah. Pada umumnya masyarakat merasa gengsi dan malu apabila masih mempertahankan dan menggunakan budaya lokal atau budaya daerah. Kebanyakan masyarakat memilih untuk menampilkan dan menggunakan kesenian dan budaya modern daripada budaya yang berasal dari daerahnya sendiri yang sesungguhnya justru budaya daerah atau budaya lokallah yang sangat sesuai dengan kepribadian bangsanya.
            Mereka lebih memilih dan berpindah ke budaya asing yang belum tetntu sesuai dengan keperibadian bangsa bahkan masyarakat lebih merasa bangga terhadap budaya asing daripada budaya yang berasal dari daerahnya sendiri..
Tanpa mereka sadari bahwa budaya daerah merupakan faktor utama terbentuknya kebudayaan nasional dan kebudayaan daerah yang mereka miliki merupakan sebuah kekayaan bangsa yang sangat bernilai tinggi dan perlu dijaga kelestarian dan keberadaanya oleh setiap individu di masyarakat. Pada umumnya mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya kebudayaan merupakan jati diri bangsa yang mencerminkan segala aspek kehidupan yang berada didalalmnya.
Besar harapan saya, semoga dengan dibuatnya makalah yang berjudul Budaya Suku Sunda yang didalamnya membahas tentang kebudayaan yang berasal dari daerah Jawa Barat ini menjadi salah satu sarana agar masyarakat menyadari betapa berharganya sebuah kebudayaan bagi suatu bangsa, yang ahirnya akan membuat masyarakat menjadi merasa bangga terhadap budaya daerahnya sendiri.

            Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari banyak pulau dan memiliki berbagai macam suku bangsa, bahasa, adat istiadat atau yang sering kita sebut kebudayaan. Keanekaragaman budaya yang terdapat di Indonesia merupakan suatu bukti bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya.
            Tidak bisa kita pungkiri, bahwa kita pungkiri bahwa kebudayaan daerah merupakan faktor utama berdirinya kebudayaan yang lebih global, yang biasa kita sebut dengan kebudayaan nasional. Maka atas dasar itulah segala bentuk kebudayaan daerah akan sangat berpengaruk terhadap budaya nasional, begitu pula sebaliknya kebudayaan nasional yang bersumber dari kebudayaan daerah, akan sangat berpebgaruh pula terhadap kebudayaan daerah / kebudayaan lokal.
            Kebudayaan merupakan suatau kekayaan yang sangat benilai karena selain merupakan ciri khas dari suatu daerah juga mejadi lambang dari kepribadian suatu bangsa atau daerah.
            Karena kebudayaan merupakan kekayaan serta ciri khas suatu daerah, maka menjaga, memelihara dan melestarikan budaya merupakan kewajiban dari setiap individu, dengan kata lain kebudayaan merupakan kekayaan yang harus dijaga dan dilestarikan oleh setiap suku bangsa.

 

  1. B.       Rumusan Masalah

            Berdasarkan kajian dari latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah-masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa pengertian budaya?
  2. Apakah yang dimaksud budaya lokal?
  3. Apa saja contoh budaya lokal?
  4. Apakah pengertian budaya nasional?
  5. 5.      Bagaimana  akar kebudayaan indonesia?
  6. 6.      Apakah yang dimaksud budaya universal?
  7. Bagaimana dampak kebudayaan barat di indonesia?

 

 

  1. C.       Tujuan

            Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka makalah ini bertujuan untuk :

  1. Menjelaskan Pengertian Budaya
  2. Menjelaskan Budaya Lokal
  3. Menyebutkan beberapa Contoh Budaya Lokal
  4. Menjelaskan Pengertian Budaya Nasional
  5. 5.      Menjelaskan Akar Kebudayaan Indonesia
  6. 6.      Menjelaskan Budaya Universal
  7. Menjelaskan Dampak Kebudayaan Barat di Indonesia

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.     Pengertian Budaya

            Sebuah pepatah latin kuno yang mencerminkan tentang  kebudayaan adalah : tempus mutantur, et nos mutamur in illid. Yang artinya: Waktu berubah, dan kita (ikut) berubah juga di dalamnya. Pepatah tersebut menunjukkan kepada kita bahwa seiring konteks zaman yang berubah, orang-orang dengan alam pikir dan rasa, karsa, dan cipta, kebutuhan dan tantangan yang mengalami perubahan, serta budaya pun ikut berubah.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi budaya menurut beberapa ahli :

  1. Kroeber dan Kluckhohn
  • Budaya menurut definisi deskriptif:
    cenderung melihat budaya sebagai totalitas komprehensif yang menyusun keseluruhan hidup sosial sekaligus menunjukkan sejumlah ranah (bidang kajian) yang membentuk budaya
  • Budaya menurut difinisi historis :
    cenderung melihat budaya sebagai warisan yang dialihturunkan dari generasi satu ke generasi berikutnya
  • Budaya menurut definisi normatif:
    bisa mengambil 2 bentuk. Yang pertama, budaya adalah aturan atau jalan hidup yang membentuk pola-pola perilaku dan tindakn yang konkret. Yang kedua, menekankan peran gugus nilai tanpa mengacu pada perilaku
  • Budaya menurut definisi psikologis:
    cenderung memberi tekanan pada peran budaya sebagai piranti pemecahan masalah yang membuat orang bisa berkomunikasi, belajar, atau memenuhi kebutuhan material maupun emosionalnya
  • Budaya menurut definisi struktural:
    mau menunjuk pada hubungan atau keterkaitan antara aspek-aspek yang terpisah dari budaya sekaligus menyoroti fakta bahwa budaya adalah abstraksi yang berbeda dari perilaku konkret
  • Budaya dilihat dari definisi genetis:
    definisi budaya yang melihat asal usul bagaimana budaya itu bisa eksis atau tetap bertahan. Definisi ini cenderung melihat budaya lahir dari interaksi antar manusia dan tetap bisa bertahan karena ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya
  1. Lehman, Himstreet, dan Batty
         Budaya diartikan sebagai sekumpulan pengalaman hidup yang ada dalam masyarakat mereka sendiri. Pengalaman hidup masyarakat tentu saja sangatlah banyak dan variatif, termasuk di dalamnya bagaimana perilaku dan keyakinan atau kepercayaan masyarakat itu sendiri
  2. Mofstede
         Budaya diartikan sebagai pemrograman kolektif atas pikiran yang membedakan anggota-anggota suatu kategori orang dari kategori lainnya. Dalam hal ini, bisa dikatan juga bahwa budaya adalah pemrograman kolektif yang menggambarkan suatu proses yang mengikat setiap orang segera setelah kita lahir di dunia
  3. Bovee Dan Thill
         Budaya adalah system sharing atas simbol – simbol, kepercayaan, sikap, nilai-nilai, harapan, dan norma-norma untuk berperilaku
  4. Murphy Dan Hildebrandt
    Budaya diartikan sebagai tipikal karakteristik perilaku dalam suatu kelompok. Pengertian in juga mengindikasikan bahwa komunikasi verbal dan non verbal dalam suatu kelompok juga merupakan tipikal dari kelompok tersebut dan cenderung unik atau berbeda dengan yang lainnya
  5. Mitchel
    Budaya merupakan seperangkat nilai-nilai inti, kepercayaan, standar , pengetahuan, moral hukum, dan perilaku yang disampaikan oleh individu – individu dan masyarakat, yang menentukan bagaimana seseorang bertindak, berperasaan, dan memandang dirinya serta orang lain.

            Dari beberapa definisi budaya menurut para ahli diatas, bisa diambil kesimpulan tentang beberapa hal penting  yang dicakup dalam arti budaya yaitu: sekumpulan pengalaman hidup, pemrograman kolektif, system sharing, dan tipikal karakteristik perilaku setiap individu yang ada dalam suatu masyarakat, termasuk di dalamnya tentang bagaimana sistem nilai, norma, simbol-simbol dan kepercayaan atau keyakinan mereka masing-masing.

 

  1. B.     Budaya Lokal

            Dalam wacana kebudayaan dan sosial, sulit untuk mendefinisikan dan memberikan batasan terhadap budaya lokal atau kearifan lokal, mengingat ini akan terkait teks dan konteks, namun secara etimologi dan keilmuan, tampaknya para pakar sudah berupaya merumuskan sebuah definisi terhadap local culture atau local wisdom ini. berikut penjelasannya:

  • Superculture, adalah kebudayaan yang berlaku bagi seluruh masyarakat. Contoh: kebudayaan nasional;
  • Culture, lebih khusus, misalnya berdasarkan golongan etnik, profesi, wilayah atau daerah. Contoh : Budaya Sunda;
  • Subculture, merupakan kebudyaan khusus dalam sebuah culture, namun kebudyaan ini tidaklah bertentangan dengan kebudayaan induknya. Contoh : budaya gotong royong
  • Counter-culture, tingkatannya sama dengan sub-culture yaitu merupakan bagian turunan dari culture, namun counter-culture ini bertentangan dengan kebudayaan induknya. Contoh : budaya individualisme

            Dilihat dari stuktur dan tingkatannya budaya lokal berada pada tingat culture. Hal ini berdasarkan sebuah skema sosial budaya yang ada di Indonesia dimana terdiri dari masyarakat yang bersifat manajemuk dalam stuktur sosial, budaya (multikultural) maupun ekonomi.

            Dalam penjelasannya, kebudayaan suku bangsa adalah sama dengan budaya lokal atau budaya daerah. Sedangkan kebudayaan umum lokal adalah tergantung pada aspek ruang, biasanya ini bisa dianalisis pada ruang perkotaan dimana hadir berbagai budaya lokal atau daerah yang dibawa oleh setiap pendatang, namun ada budaya dominan yang berkembang yaitu misalnya budaya lokal yang ada dikota atau tempat tersebut. Sedangkan kebudayaan nasional adalah akumulasi dari budaya-budaya daerah.

            Definisi Jakobus itu seirama dengan pandangan Koentjaraningrat (2000). Koentjaraningrat memandang budaya lokal terkait dengan istilah suku bangsa, dimana menurutnya, suku bangsa sendiri adalah suatu golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan ’kesatuan kebudayaan’. Dalam hal ini unsur bahasa adalah ciri khasnya.

            Menurut Judistira (2008:141), kebudayaan lokal adalah melengkapi kebudayaan regional, dan kebudayaan regional adalah bagian-bagian yang hakiki dalam bentukan kebudayaan nasional.

            Dalam pengertian yang luas, Judistira (2008:113)  mengatakan bahwa kebudayaan daerah bukan hanya terungkap dari bentuk dan pernyataan rasa keindahan melalui kesenian belaka; tetapi termasuk segala bentuk, dan cara-cara berperilaku, bertindak, serta pola pikiran yang berada jauh dibelakang apa yang tampak tersebut.

 

  1. C.     Contoh Budaya Lokal

            Suku Sunda merupakan suku yang terdapat di Provinsi Jawa Barat. Suku sunda adalah salah satu suku yang memiliki berbagai kebudayaan daerah, diantaranya pakaian tradisional, kesenian tradisional, bahasa daerah, dan lain sebagainya.
            Diantara sekian banyak kebudayaan daerah yang dimiliki oleh suku sunda adalah sebagai berikut :
1. Pakaian Adat/Khas jawa Barat
Suku sunda mempunyai pakaian adat/tradisional yang sangat terkenal, yaitu kebaya. Kebaya merupakan pakaian khas Jawa Barat yang sangat terkenal, sehingga kini kebaya bukan hanya menjadi pakaian khas sunda saja tetapi sudah menjadi pakaian adat nasinal. Itu merupakan suatu bukti bahwa kebudayaan daerah merupakan bagian dari kebudayaan nasional.
2. Kesenian Khas Jawa Barat

  1. Wayang Golek
    Wayang Golek merupakan kesenian tradisional dari Jawa Barat yaitu kesenian yang menapilkan dan membawakan alur sebuah cerita yang bersejarah. Wayang Golek ini menampilkan golek yaitu semacam boneka yang terbuat dari kayu yang memerankan tokoh tertentu dalam cerita pawayangan serta dimainkan oleh seorang Dalang dan diiringi oleh nyanyian serta iringan musik tradisional Jawa Barat yang disebut dengan degung.
  2. Jaipong
    Jaipong merupakan tarian tradisional dari Jawa Barat, yang biasanya menampilkan penari dengan menggunakan pakaian khas Jawa Barat yang disebut kebaya, serta diiringi musik tradisional Jawa Bart yang disebut Musik Jaipong.
    Jaipong ini biasanya dimainkan oleh satu orang atau sekelompok penari yang menarikan berakan – gerakan khas tari jaipong.
  3. Degung
    Degung merupakan sebuah kesenian sunda yang biasany dimainkan pada acara hajatan. Kesenian degung ini digunakan sebagai musik pengiring/pengantar.
    Degung ini merupakan gabungan dari peralatan musik khas Jawa Barat yaitu, gendang, goong, kempul, saron, bonang, kacapi, suling, rebab, dan sebagainya.
    Degung merupakan salah-satu kesenian yang paling populer di Jawa Barat, karena iringan musik degung ini selalu digunakan dalam setiap acara hajatan yang masih menganut adat tradisional, selain itu musik degung juga digunakan sebgai musik pengiring hampir pada setiap pertunjukan seni tradisional Jawa Barat lainnya.
  4. Rampak Gendang
    Rampak Gendang merupakan kesenian yang berasal dari Jawa Barat. Rampak Gendang ini adalah pemainan menabuh gendang secara bersama-sama dengan menggunakan irama tertentu serta menggunakan cara-cara tertentu untuk melakukannya, pada umumnya dimainkan oleh lebih dari empat orang yang telah mempunyai keahlian khusus dalam menabuh gendang. Biasanya rampak gendang ini diadakan pada acara pesta atau pada acara ritual.
  5. Calung
    Di daerah Jawa Barat terdapat kesenian yang disebut Calung, calung ini adalah kesenian yang dibawakan dengan cara memukul/mengetuk bambu yang telah dipotong dan dibentuk sedemikian rupa dengan pemukul/pentungan kecil sehingga menghasilkan nada-nada yang khas.
    Biasanya calung ini ditampilkan dengan dibawakan oleh 5 orang atau lebih. Calung ini biasanya digunakan sebagai pengiring nyanyian sunda atau pengiring dalam lawakan
  6. Pencak Silat
    Pencak silat merupakan kesenian yang berasal dari daerah Jawa Barat, yang kini sudah menjadi kesenian Nasional.
    Pada awalnya pencak Silat ini merupakan tarian yang menggunakan gerakan tertentu yang gerakannya itu mirip dengan gerakan bela diri. Pada umumnya pencak silat ini dibawakan oleh dua orang atau lebih, dengan memakai pakaian yang serba hitam, menggunakan ikat pinggang dari bahan kain yang diikatkan dipinggang, serta memakai ikat kepala dari bahan kain yang orang sunda menyebutnya Iket.
    Pada umumnya kesenian pencaksilat ini ditampilkan dengan diiringi oleh musik yang disebut gendang penca, yaitu musik pengiring yang alat musiknya menggunakan gendang dan terompet.
  7. Sisingaan
    Sisingaan merupakan kesenian yang berasal dari daerah Subang Jawa barat. Kesenian ini ditampilkan dengan cara menggotong patung yang berbentuk seperti singa yang ditunggangi oleh anak kecil dan digotong oleh empat orang serta diiringi oleh tabuhan gendang dan terompet. Kesenian ini biasanya ditampilkan pada acara peringatan hari-hari bersejarah.
  8. Kuda Lumping
    Kuda Lumping merupakan kesenian yang beda dari yang lain, karena dimainkan dengan cara mengundang roh halus sehingga orang yang akan memainkannya seperti kesurupan. Kesenian ini dimainkan dengan cara orang yang sudah kesurupan itu menunggangi kayu yang dibentuk seperti kuda serta diringi dengan tabuhan gendang dan terompet. Keanehan kesenian ini adalah orang yang memerankannya akan mampu memakan kaca serta rumput. Selain itu orang yang memerankannya akan dicambuk seperti halnya menyambuk kuda. Biasanya kesenian ini dipimpin oleh seorang pawang.
    Kesenian ini merupakan kesenian yang dalam memainkannya membutuhkan keahlian yang sangat husus, karena merupakan kesenian yang cukup berbahaya.
  9. Bajidoran
    Bajidoran merupakan sebuah kesenian yang dalam memainkannya hampir sama dengan permainan musik modern, cuma lagu yang dialunkan merupakan lagu tradisional atau lagu daerah Jawa Barat serta alat-alat musik yang digunakannya adalah alat-alat musik tradisional Jawa Barat seperti Gendang, Goong, Saron, Bonang, Kacapi, Rebab, Jenglong serta Terompet.
    Bajidoran ini biasanya ditampilkan dalam sebuah panggung dalam acara pementasan atau acara pesta.
  10. Cianjuran
    Cianjuran merupakan kesenian khas Jawa Barat. Kesenian ini menampilkan nyanyian yang dibawakan oleh seorang penyanyi, lagu yang dibawakannya pun merupakan lagu khas Jawa Barat. Masyarakat Jawa Barat memberikan nama lain untuk nyanyian Cianjuran ini yaitu Mamaos yang artinya bernyanyi.
  11. Kacapi Suling
    Kacapi suling adalah kesenian yang berasal dari daerah Jawa Barat, yaitu permainan alat musik tradisional yang hanya menggunakan Kacapi dan Suling. Kacapi suling ini biasanya digunakan untuk mengiringi nyanyian sunda yang pada umumnya nyanyian atau lagunya dibawakan oleh seorang penyanyi perempuan, yang dalam bahasa sunda disebut Sinden.
  12. Reog
    Di daerah Jawa Barat terdapat kesenian yang disebut Reog, kesenian ini pada umumnya ditampilkan dengan bodoran, serta diiringi dengan musik tradisional yang disebut Calung. Kesenian ini biasanya dimainkan oleh beberapa orang yang mempunyai bakat melawak dan berbakat seni. Kesenian ini ditampilkan dengan membawakan sebuah alur cerita yang kebanyakan cerita yang dibawakan adalah cerita lucu atau lelucon.

 

  1. D.    Pengertian Budaya Nasional

            Budaya Nasional adalah gabungan dari budaya daerah yang ada di Negara tersebut. Itu dimaksudkan budaya daerah yang mengalami asimilasi dan akulturasi dengan dareah lain di suatu Negara akan terus tumbuh dan berkembang menjadi kebiasaan-kebiasaan dari Negara tersebut. Misalkan daerah satu dengan yang lain memang berbeda, tetapi jika dapat menyatukan perbedaan tersebut maka akan terjadi budaya nasional yang kuat yang bisa berlaku di semua daerah di Negara tersebut walaupun tidak semuanya dan juga tidak mengesampingkan budaya daerah tersebut. Contohnya Pancasila sebagai dasar negara, Bahasa Indonesia dan Lagu Kebangsaan yang dicetuskan dalam Sumpah Pemuda 12 Oktober 1928 yang diikuti oleh seluruh pemuda berbagai daerah di Indonesia yang membulatkan tekad untuk menyatukan Indonesia dengan menyamakan pola pikir bahwa Indonesia memang berbeda budaya tiap daerahnya tetapi tetap dalam satu kesatuan Indonesia Raya dalam semboyan “bhineka tunggal ika”.

            Kebudayaan Nasional adalah gabungan dari kebudayaan daerah yang ada di Negara tersebut. Kebudayaan Nasional Indonesia secara hakiki terdiri dari semua budaya yang terdapat dalam wilayah Republik Indonesia. Tanpa budaya-budaya itu tak ada Kebudayaan Nasional. Itu tidak berarti Kebudayaan Nasional sekadar penjumlahan semua budaya lokal di seantero Nusantara. Kebudayan Nasional merupakan realitas, karena kesatuan nasional merupakan realitas. Kebudayaan Nasional akan mantap apabila di satu pihak budaya-budaya Nusantara asli tetap mantap, dan di lain pihak kehidupan nasional dapat dihayati sebagai bermakna oleh seluruh warga masyarakat Indonesia (Suseno; 1992).

            Pembatasan atau perbedaan antara budaya nasional dan budaya lokal atau budaya daerah menjadi sebuah penegasan untuk memilah mana yang disebut budaya nasional dan budaya lokal baik dalam konteks ruang, waktu maupun masyarakat penganutnya.

 

  1. E.     Akar Kebudayaan Indonesia

            Akar kebudayaan Indonesia adalah suatu mekanisme yang terbentuk dari unsur-unsur yang berkaitan dengan zaman prasejarah,jadi ibarat pohon,pohon tidak dapat tumbuh dan berkembang tanpa adanya akar,demikian pula dengan kebudayaan pada suatu Negara tidak dapat tumbuh dan berkembang tanpa adanya akar atau pendahulu yang membentuk kebudayaan tersebut.

            Akar kebudayaan Indonesia berhubungan dengan zaman prasejarah, mulai dari nenek moyang kita yang membawa kebudayaan Dongson, setelah itu diikuti oleh perkembangan Islam di Indonesia. Jadi islam juga merupakan salah satu akar kebudayaan Indonesia.

            Akar budaya kita juga tumbuh dalam kepercayaan bahwa segala yang ada di bumi memiliki ”ruh-ruh” sendiri. Ruh manusia adalah saudaranya, yang dapat melepaskan diri dari dalam badan seseorang, dan ruh itu dapat mengalami bencana dalam petualangannya di luar tubuh kita, yang dapat mengakibatkan yang punya tubuh jatuh sakit atau mati. Manusia harus berbaik-baik dalam hubungannya dengan dunia roh ini.

            Pemujaan nenek moyang merupakan salah satu akar budaya bangsa Indonesia. Pandangan kosmik mengenai kontradiksi antara dunia bawah dan dunia atas tercermin dalam organisasi sosial berbagai suku bangsa kita; garis ibu dan garis ayah, hubungann dasar antara dua suku yang saling mengambil laki-laki dan perempuan dari dua suku untuk perkawinan, membuat tiada satu suku lebih tinggi kedudukannya dari yang lain. Setiap suku bergantian menduduki tempat yang superior dan tempat di bawah. Struktur tradisi kesukuan ini merupakan sebuah mekanisme ke arah demokrasi, yang seandainya kita pandai mengembangkannya dapat merupakan kekuatan untuk tradisi demokrasi bangsa kita.

            Datangnya agama Budha, Hindu dan Islam, bangkitnya feodalisme, lalu datang orang Eropa membawa penindasan penjajah, dan agama Nasrani, lalu lewat pendidikan Barat masuk pula ilmu pengetahuan modern dan tekonologi modern telah mendorong berbagai proses kemasyarakatan, politik, ekonomi, dan budaya, yang akhirnya membawa manusia Indonesia pada keadaan hari ini.

            Akar budaya lama jadi layu dan terlupakan, meskipun ada diantaranya tanpa kita sadari masih berada terlena di bawah sadar kita. Bangkitnya feodalisme di Indonesia dengan lahirnya berbagai kerajaan besar dan kecil telah mengubah hubungan antara kekuasaan dan manusia atau anggota masyarakat. Penjajahan Belanda menggunakan sistem menguasai dan memerintah melalui kelas bangsawan atau feodal lama Indonesia telah meneruskan tradisi feodal berlangsung terus dalam masyarakat kita. Malahan setelah Indonesia merdeka, hubungan-hubungan diwarnai nilai-nilai feodalisme masih berlangsung terus, hingga sering kita mengatakan bahwa kita kini menghadapi neo-feodalisme dalam bentuk-bentuk baru.

            Semua pendidikan modern, falsafah Barat dan Timur, ideologi-ideologi yang datang dari Barat mengenai manusia dan masyarakat. Agama Islam dan Nasrani yang jadi lapis terakhir di atas kepercayaan-kepercayaan lama dan nilai-nilai akar budaya kita, oleh daya sinkritisme manusia Indonesia, semuanya diterima dalam dirinya tanpa banyak konflik dalam jiwa dan diri kita.

            Sesuatu terjadi dalam diri kita, hingga secara budaya tidak mampu memisahkan yang satu dari yang lain: mana yang takhyul, mana yang ilmiah, mana yang bayangan, mana yang kenyataan, mana yang mimpi dan mana dunia nyata. Malahan banyak orang kini membuat ilmu dan teknologi jadi takhyul dalam arti, orang percaya bahwa ilmu dan teknologi dapat menyelesaikan semua masalah manusia di dunia. Dan ada yang berbuat sebaliknya.

            Kita jadi tidak tajam lagi membedakan mana yang batil dan mana yang halal. Karena itu beramai-ramai dan penuh kebahagiaan kita melakukan korupsi besar-besaran, dan tidak merasa bersalah sama sekali (Lubis, dalam ”Pembebasan Budaya-Budaya Kita; 1999).

 

  1. F.      Budaya Universal

Menurut Koentjaraningrat ada tujuh unsur kebudayaan universal, yaitu:
a. Sistem religi yang meliputi:
            o sistem kepercayaan
            o sistem nilai dan pandangan hidup
            o komunikasi keagamaan
            o upacara keagamaan
b. Sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial yang meliputi:
            o kekerabatan
            o asosiasi dan perkumpulan
            o sistem kenegaraan
            o sistem kesatuan hidup
            o perkumpulan
c. Sistem pengetahuan meliputi pengetahuan tentang:
            o flora dan fauna
            o waktu, ruang dan bilangan
            o tubuh manusia dan perilaku antar sesama manusia
d. Bahasa yaitu alat untuk berkomunikasi berbentuk:
            o lisan
            o tulisan
e. Kesenian yang meliputi:
            o seni patung/pahat
            o relief
            o lukis dan gambar
            o rias
            o vokal
            o musik
            o bangunan
            o kesusastraan
            o drama
f. Sistem mata pencaharian hidup atau sistem ekonomi yang meliputi:
            o berburu dan mengumpulkan makanan
            o bercocok tanam
            o peternakan
            o perikanan
            o perdagangan
g. Sistem peralatan hidup atau teknologi yang meliputi:
            o produksi, distribusi, transportasi
            o peralatan komunikasi
            o peralatan konsumsi dalam bentuk wadah
            o pakaian dan perhiasan
            o tempat berlindung dan perumahan
            o senjata
            Budaya Dalam era globalisasi seperti sekarang ini kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia semakin berkembang pesat. Hal ini dapat kita lihat dari semakin banyaknya rakyat Indonesia yang bergaya hidup kebarat-baratan seperti mabuk-mabukkan,clubbing,memakai pakaian mini,bahkan berciuman di tempat umum seperti sudah lumrah di Indonesia. Proses akulturasi di Indonesia tampaknya beralir secara simpang siur, dipercepat oleh usul-usul radikal, dihambat oleh aliran kolot, tersesat dalam ideologi-ideologi, tetapi pada dasarnya dilihat arah induk yang lurus: ”the things of humanity all humanity enjoys”.            Terdapatlah arus pokok yang dengan spontan menerima unsur-unsur kebudayaan internasional yang jelas menguntungkan secara positif. Proses filtrasi perlu dilakukan sedini mungkin supaya kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia tidak akan merusak identitas kebudayaan nasional bangsa kita. Tetapi bukan berarti kita harus menutup pintu akses bangsa barat yang ingin masuk ke Indonesia, karena tidak semua kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia berpengaruh negatif, tetapi juga ada yang memberi pengaruh positif seperti memajukan perkembangan IPTEK di Indonesia. Prioritas yang perlu kita lakukan terhadap kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia adalah kita harus lebih selektif kepada kebudayaan barat.

 

  1. G.    Dampak Kebudayaan Barat di Indonesia

            Dampak kebudayaan barat di Indonesia dicerminkan dalam wujud globalisasi dan modernisasi yang dapat membawa dampak positif dan dampak negatif bagi bangsa kita.

Dampak Positif

a. Perubahan Tata Nilai dan Sikap

            Adanya modernisasi dan globalisasi dalam budaya menyebabkan pergeseran nilai dan sikap masyarakat yang semua irasional menjadi rasional.

b. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi

            Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat menjadi lebih mudah dalam beraktivitas dan mendorong untuk berpikir lebih maju.

c. Tingkat Kehidupan yang lebih Baik

            Dibukanya industri yang memproduksi alat-alat komunikasi dan transportasi yang canggih merupakan salah satu usaha mengurangi penggangguran dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.

 

Dampak Negatif

Dampak negatif modernisasi dan globalisasi adalah sebagai berikut.

a. Pola Hidup Konsumtif

            Perkembangan industri yang pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah. Dengan begitu masyarakat mudah tertarik untuk mengonsumsi barang dengan banyak pilihan yang ada.

b. Sikap Individualistik

            Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktivitasnya. Kadang mereka lupa bahwa mereka adalah makhluk sosial.

c. Gaya Hidup Kebarat-baratan

            Tidak semua budaya Barat baik dan cocok diterapkan di Indonesia. Budaya negatif yang mulai menggeser budaya asli adalah anak tidak lagi hormat kepada orang tua, kehidupan bebas remaja, dan lain-lain.

d. Kesenjangan Sosial

            Apabila dalam suatu komunitas masyarakat hanya ada beberapa individu yang dapat mengikuti arus modernisasi dan globalisasi maka akan memperdalam jurang pemisah antara individu dengan individu lain yang stagnan. Hal ini menimbulkan kesenjangan sosial. Kesenjangan social menyebabkan adanya jarak antara si kaya dan si miskin sehingga sangat mungkin bias merusak kebhinekaan dan ketunggalikaan Bangsa Indonesia

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.       KESIMPULAN

            Dalam wacana kebudayaan dan sosial, sulit untuk mendefinisikan dan memberikan batasan terhadap budaya lokal atau kearifan lokal, mengingat ini akan terkait teks dan konteks, namun secara etimologi dan keilmuan, tampaknya para pakar sudah berupaya merumuskan sebuah definisi terhadap local culture atau local wisdom ini. berikut penjelasannya:

  • Superculture, adalah kebudayaan yang berlaku bagi seluruh masyarakat. Contoh: kebudayaan nasional;
  • Culture, lebih khusus, misalnya berdasarkan golongan etnik, profesi, wilayah atau daerah. Contoh : Budaya Sunda;
  • Subculture, merupakan kebudyaan khusus dalam sebuah culture, namun kebudyaan ini tidaklah bertentangan dengan kebudayaan induknya. Contoh : budaya gotong royong
  • Counter-culture, tingkatannya sama dengan sub-culture yaitu merupakan bagian turunan dari culture, namun counter-culture ini bertentangan dengan kebudayaan induknya. Contoh : budaya individualisme

Contok beberapa budaya lokal

1. Pakaian adat khas Barat yang disebut Kebaya
2. Wayang Golek
3. Jaipong
4. Degung
5. Rampak Gendang
6. Calung
7. Pencak Silat
8. Sisingaan
9. Kudalumping
10. Bajidoran
11. Cianjuran
12. Kacapi Suling, dan
13. Reog.

            Budaya Nasional adalah gabungan dari budaya daerah yang ada di Negara tersebut. Itu dimaksudkan budaya daerah yang mengalami asimilasi dan akulturasi dengan dareah lain di suatu Negara akan terus tumbuh dan berkembang menjadi kebiasaan-kebiasaan dari Negara tersebut

            Akar kebudayaan Indonesia berhubungan dengan zaman prasejarah, mulai dari nenek moyang kita yang membawa kebudayaan Dongson, setelah itu diikuti oleh perkembangan Islam di Indonesia. Jadi islam juga merupakan salah satu akar kebudayaan Indonesia.

Menurut Koentjaraningrat ada tujuh unsur kebudayaan universal, yaitu:
a. Sistem religi yang meliputi:
     o sistem kepercayaan
     o sistem nilai dan pandangan hidup
     o komunikasi keagamaan
     o upacara keagamaan
b. Sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial yang meliputi:
     o kekerabatan
     o asosiasi dan perkumpulan
     o sistem kenegaraan
     o sistem kesatuan hidup
     o perkumpulan
c. Sistem pengetahuan meliputi pengetahuan tentang:
     o flora dan fauna
     o waktu, ruang dan bilangan
     o tubuh manusia dan perilaku antar sesama manusia
d. Bahasa yaitu alat untuk berkomunikasi berbentuk:
     o lisan
     o tulisan
e. Kesenian yang meliputi:
     o seni patung/pahat
     o relief
     o lukis dan gambar
     o rias
     o vokal
     o musik
     o bangunan
     o kesusastraan
     o drama
f. Sistem mata pencaharian hidup atau sistem ekonomi yang meliputi:
     o berburu dan mengumpulkan makanan
     o bercocok tanam
     o peternakan
     o perikanan
     o perdagangan
g. Sistem peralatan hidup atau teknologi yang meliputi:
     o produksi, distribusi, transportasi
     o peralatan komunikasi
     o peralatan konsumsi dalam bentuk wadah
     o pakaian dan perhiasan
     o tempat berlindung dan perumahan
     o senjata

 

  1. B.       SARAN

       Berikut ini adalah cara-cara mempertahankan kebudayaan Indonesia :

  • Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.
  • Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.
  • Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.
  • Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar- benarnya dan seadil- adilnya.
  • Selektif terhadap kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia
  • Pemerintah harus Menghak-patenkan kebudayaan-kebudayaan di Indonesia.

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Budaya, Lokal. 2011. Contoh Budaya Jawa Barat. (Online), (Http://Budayalokal2.Blogspot.Com/2011/05/Contoh-Budaya-Jawa-  Barat.Html, Diakses Tanggal 13 April 2012)

            Widhihartanto. 2011. Tarian Angguk Hasil Pencampuran Budaya Lokal            Dan      Manca Di Masa Lalu. (Online),           (Http://Widhihartanto.Wordpress.Com/2011/05/18/Tarian-Angguk-Hasil-        Pencampuran-Budaya-Lokal-Dan-Manca-Di-Masa-Lalu/, Diakses Tanggal     13        April 2012)

 

Budaya, Lokal2. 2011. Pengertian Budaya Lokal, (Onlina),    (Http://Budayalokal2.Blogspot.Com/2011/05/Pengertian-Budaya-           Lokal.Html,      Diakses Tanggal 13 April 2012)

 

Cara Pedia. Pengertian Definisi Budaya Menurut Para Ahli, (Online),             (Http://Carapedia.Com/Pengertian_Definisi_Budaya_Menurut_Para_Ahli_        Info      481.Html, Diakses Tanggal 13 April 2012)

 

Dahlan, Forum. 2009. Kebudayaan Nasional. (Online),             (Http://Dahlanforum.Wordpress.Com/2009/10/11/Kebudayaan-Nasional/,        Diakses Tanggal 13 April 2012)

 

Fiveaidy. 2011. Pengertian Budaya Lokal, (Online),   (Http://Fiveaidy.Wordpress.Com/2011/01/25/Pengertian-Budaya-Lokal/,             Diakses Tanggal 13 April 2012)

 

Ghosasquare. 2009. Pengertian Budaya. (Online),      (Http://Ghosasquare.Blogspot.Com/2009/01/Pengertian-Budaya-Daerah-            Dan-Budaya.Html, Diakses Tanggal 13 April 2012)

 

Rustandhie . 2008. Kata Pengantar Seiring Dengan Kemajuan, (Online),             (Http://Rustandhie.Blogspot.Com/2008/11/Kata-Pengantar-Seiring-      Dengan-Kemajuan.Html, Diakses Tanggal 13 April 2012)

 

Redaksi, Geo. 2008. Unsur-Unsur Budaya Universal. (Online), (Http://Geo- Redaksi.Blogspot.Com/2008/09/Unsur-Unsur-Budaya-Universal.Html,             Diakses , Tanggal 13 April 2012)

Image

 

 

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi mata kuliah

“KP Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini”

Yang dibina oleh Dra. Sutansi, M.Pd

 

 

 

KELOMPOK

Binti Sulistiorini, dkk

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH

PRODI S1 PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI

Maret 2012

KATA PENGANTAR

 

            Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Karena dengan segala rahmat dan kasih sayang-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengembangan Membaca Anak Usia Dini dengan Media Flash Card” untuk memenuhi tugas mata kuliah KP Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Dalam penulisan makalah ini banyak bantuan yang diperoleh baik berupa tenaga maupun pikiran dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini ucapan terima kasih diucapkan kepada:

  1. Dra. Sutansi, M.Pd, selaku dosen pembimbing mata kuliah ini.
  2. Kedua orangtua dan saudara yang selalu memberikan dukungan dan semangat serta dukungan sehingga makalah ini dapat diselesaikan.
  3. Serta teman-teman yang telah membantu dalam memberikan saran dan masukan dalam penulian makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, ole karena itu saran dan kritik penulis harapkan untuk kesempurnaan makalah ini. Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan pendidikan terutama pendidikan anak usia dini.

 

 

 

 

 

Blitar,     Maret 2012

 

 

 

 

Penulis            

 

 

DAFTAR ISI

 

 

Halaman sampul……………………………………………………………     i

Kata Pengantar……………………………………………………………      ii

Daftar Isi……………………………………………………………………     iii

 

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah……………………………………………….     1      
  2. Rumusan Masalah………………………………………………………     4
  3. Tujuan Penulisan………………………………………………………     4

 

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pengertian Membaca ………………………………………………………………….     5
  2. Tahap-tahap Perkembangan Membaca …………………………………………      6      
  3. Kemampaun Kesiapan Membaca …………………………………………..      6
  4. Tanda-tanda Kesiapan Membaca ……………………………………….      8
  5. Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca Anak …………….       9
  6. Strategi dan Metode Pengembangan Membaca Anak Usia Dini ……..      11
  7. Pengertian Flash Card ……………………………………………………………….      14
  8. Penggunaan Flash Card ……………………………………………………………..      14
  9. Keuntungan Penggunaan Flash Card bagi Pengembangan Membaca Anak Usia Dini …………………………………………………………………………………                       15

 

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan………………………………………………………………………………..     17
  2. Saran……………………………………………………………………………     18

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Ceria, Bocah. 2009. Metode Pengembangan membaca Untuk Anak, (Online), (http://ceriabocah.blogspot.com/2009/06/metode-pengembangan-membaca-untuk-anak.html, diakses tanggal 25 Pebruari 2012)

 

Dhieni, Nurbiana, dkk. 2009. Metode Pengembangan bahasa. Jakarta: Universitas Terbuka

 

Domba. 2009. Kartu Bergambar Flashcard, (Online), (http://domba-bunting.blogspot.com/2009/04/kartu-bergambar-flashcard.html, diakses tanggal 5 Maret 2012)

 

Elexmedia. 2009. Flash Card, (Online), (http://www.elexmedia.co.id /forum/index.php?topic=15303.0, diakses tanggal 5 Maret 2012)

 

Fatoni. 2009. Pengembangan Kemampuan Membaca Anak Usia Dini Melalui Metode Glenn Domain, (Online), (http://fatonipgsd071644221. wordpress.com/2009/12/30/pengembangan-kemampuan-membaca-anak-usia-dini-melalui-metode-glenn-doman/, diakses tanggal 25 Pebruari 2012)

 

Kaskus. 2010. Flash Card Baby, (Online), (http://www.kaskus.us /showthread.php?t=7213981, diakses tanggal 5 Maret 2012)

 

Rouf, Abdul. 2009. Meode Pengajaran Membaca, (Online), (http://www.mts ppiu.sch.id/bahasa-indonesia/metode-pengajaran-membaca, diakses tanggal 25 Pebruari 2012)

 

Tarigan, Djago. 1991. Bahasa Indonesia I Buku Modul 1-6. Jakarta: Depdikbud

 

Zakir, Chica. 2010. Smarter with Flash Card Learning, (Online), (http://theu rbanmama.com/topics/activities/132/smarter-with-flash-card-learning.html, diakses tanggal 5 Maret 2012)

 

 

Tags:

konco rini raihan

my pren pren….