riniraihan

PENGEMBANGAN MEMBACA ANAK USIA DINI DENGAN MEDIA FLASH CARD

 

 

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi mata kuliah

“KP Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini”

Yang dibina oleh Dra. Sutansi, M.Pd

 

 

 

KELOMPOK

Binti Sulistiorini

Deti ningtyas

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH

PRODI S1 PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI

Maret 2012

KATA PENGANTAR

 

            Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Karena dengan segala rahmat dan kasih sayang-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengembangan Membaca Anak Usia Dini dengan Media Flash Card” untuk memenuhi tugas mata kuliah KP Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Dalam penulisan makalah ini banyak bantuan yang diperoleh baik berupa tenaga maupun pikiran dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini ucapan terima kasih diucapkan kepada:

1.        Dra. Sutansi, M.Pd, selaku dosen pembimbing mata kuliah ini.

2.        Kedua orangtua dan saudara yang selalu memberikan dukungan dan semangat serta dukungan sehingga makalah ini dapat diselesaikan.

3.        Serta teman-teman yang telah membantu dalam memberikan saran dan masukan dalam penulian makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, ole karena itu saran dan kritik penulis harapkan untuk kesempurnaan makalah ini. Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan pendidikan terutama pendidikan anak usia dini.

 

 

 

 

 

Blitar,     Maret 2012

 

 

 

 

Penulis            

 

 

DAFTAR ISI

 

 

Halaman sampul……………………………………………………………     i

Kata Pengantar……………………………………………………………      ii

Daftar Isi……………………………………………………………………     iii

 

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah……………………………………………….     1      
  2. Rumusan Masalah………………………………………………………     4
  3. Tujuan Penulisan………………………………………………………     4

 

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pengertian Membaca ………………………………………………………………….     5
  2. Tahap-tahap Perkembangan Membaca …………………………………………      6      
  3. Kemampaun Kesiapan Membaca …………………………………………..      6
  4. Tanda-tanda Kesiapan Membaca ……………………………………….      8
  5. Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca Anak …………….       9
  6. Strategi dan Metode Pengembangan Membaca Anak Usia Dini ……..      11
  7. Pengertian Flash Card ……………………………………………………………….      14
  8. Penggunaan Flash Card ……………………………………………………………..      14
  9. Keuntungan Penggunaan Flash Card bagi Pengembangan Membaca Anak Usia Dini …………………………………………………………………………………                       15

 

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan………………………………………………………………………………..     17
  2. Saran……………………………………………………………………………     18

 

DAFTAR RUJUKAN

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.      Latar Belakang

            Persoalan membaca, menulis, dan berhitung atau calistung memang merupakan fenomena tersendiri. Kini menjadi semakin hangat dibicarakan para orang tua yang memiliki anak usia dini dan sekolah dasar karena mereka khawatir anak-anaknya tidak mampu mengikuti pelajaran di sekolahnya nanti jika sedari awal belum dibekali keterampilan calistung.

            Kekhawatiran orang tua pun semakin kuat ketika anak-anaknya belum bisa membaca menjelang masuk sekolah dasar. Hal itu membuat para orang tua akhirnya sedikit memaksa anaknya untuk belajar calistung, khususnya membaca. Terlebih lagi, istilah-istilah “tidak lulus”, “tidak naik kelas”, kini semakin menakutkan karena akan berpengaruh pada biaya sekolah yang bertambah kalau akhirnya harus mengulang kelas.

            Selama ini pendidikan anak usia dini didefinisikan sebagai tempat untuk mempersiapkan anak-anak memasuki masa sekolah yang dimulai di jenjang sekolah dasar. Kegiatan yang dilakukan dalam pendidikan anak usia dini pun hanyalah bermain dengan mempergunakan alat-alat bermain edukatif. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung tidak diperkenankan di tingkat pendidikan anak usia dini, kecuali hanya pengenalan huruf-huruf dan angka-angka, itu pun dilakukan setelah anak-anak memasuki pendidikan anak usia dini tahap yang lebih tinggi.

Hal tersebut terjadi dikarenakan selama ini, teori psikologi perkembangan Jean Piaget telah menjadi rujukan utama kurikulum taman kanak-kanak dan bahkan pendidikan secara umum. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung secara tidak langsung dilarang untuk diperkenalkan pada anak-anak di bawah usia 7 tahun. Piaget beranggapan bahwa pada usia di bawah 7 tahun anak belum mencapai fase operasional konkret. Fase itu adalah fase, dimana anak-anak dianggap sudah bisa berpikir terstruktur. Sementara itu, kegiatan belajar calistung sendiri didefinisikan sebagai kegiatan yang memerlukan cara berpikir terstruktur, sehingga tidak cocok diajarkan kepada anak-anak usia dini yang masih berusia balita.

Pada kenyataannya perkembangan dalam pembelajaran di era informasi sekarang ini sebenarnya sudah semakin jauh berubah. Topik pelajaran bukanlah persoalan yang akan menghambat seseorang, pada usia berapapun, untuk mempelajarinya. Syaratnya hanyalah mengubah cara belajar, disesuaikan dengan kecenderungan gaya belajar dan usianya masing-masing sehingga terasa menyenangkan dan membangkitkan minat untuk terus belajar.

Persoalan terpenting adalah merekonstruksi cara untuk mempelajarinya sehingga anak-anak menganggap kegiatan belajar mereka seperti bermain dan bahkan memang berbentuk sebuah permainan. Dan benar jika membaca diajarkan seperti halnya orang dewasa belajar, besar kemungkinan akan berakibat fatal. Anak-anak bisa kehilangan gairah belajarnya karena menganggap pelajaran itu sangat sulit dan tidak menyenangkan. Namun, merujuk pada temuan Howard Gardner tentang kecerdasan majemuk, sesungguhnya pelajaran calistung hanyalah sebagian kecil pelajaran yang perlu diperoleh setiap anak (Fatoni, 2009). Cara kita memandang calistung semestinya juga sama dengan cara kita memandang pelajaran lain, seperti motorik dan kecerdasan bergaul ataupun musikal.

Pelajaran calistung sendiri bisa membaur dengan kegiatan lainnya yang dirancang dalam kurikulum pendidikan anak usia dini tanpa harus membuat anak-anak terbebani. Adakalanya tidak diperlukan waktu ataupun momentum khusus untuk mengajarkan calistung. Anak-anak bisa belajar membaca lewat poster-poster bergambar yang ditempel di dinding kelas. Biasanya dinding kelas hanya berisi gambar benda-benda. Bisa saja mulai saat ini gambar-gambar itu ditambahi poster-poster kata, dengan ukuran huruf yang cukup besar dan warna yang mencolok. Setiap satu atau dua minggu, gambar-gambar diganti dengan yang baru, dan tentu akan muncul lagi kata-kata baru bersamaan dengan penggantian itu. Dalam waktu satu atau dua tahun, bisa kita hitung, lumayan banyak juga kata yang bisa dibaca anak-anak. Jangan heran kalau akhirnya anak-anak bisa membaca tanpa guru yang merasa stres untuk mengajari mereka menghafal huruf atau mengeja.

Glenn Doman menjadi pelopor dalam pengembangan metode belajar membaca dan matematika bagi anak-anak usia dini.  Glenn Doman adalah contoh lain pendobrak teori perkembangan Piaget. Glenn Doman berhasil membantu menyembuhkan orang-orang yang mengalami cedera otak melalui flash card (Fatoni, 2009). Doman membuat kartu-kartu kata yang ditulis dengan tinta berwarna merah pada karton tebal, dengan ukuran huruf yang cukup besar. Kartu-kartu itu ditampilkan di hadapan si pasien dalam waktu cepat, hanya satu detik per kata. Adanya perkembangan pada otak pasiennya membuat ia ingin mencobanya kepada anak-anak bahkan bayi.

Metode flash cards bagi sebagian besar orang adalah mustahil. Karena, bisa saja anak-anak menghafal kata-kata yang sudah diperkenalkan namun akan kebingungan ketika diberikan kata-kata baru yang belum pernah dibacanya.

Kritik terhadap flash cards memang sering dilontarkan orang, termasuk sebagian ahli psikologi. Hal itu disebabkan flash cards dianggap sebagai cara yang kurang rasional, merusak pembelajaran nalar dan logika. Flash cards berbasis hafalan, sedangkan kemampuan membaca menurut para psikolog dan orang pada umumnya harus diproses melalui tahapan-tahapan fonemik dan fonetik. Anak-anak harus terlebih dahulu mengenal huruf dan mampu membedakan bunyi, sampai akhirnya bisa menggabungkan huruf-huruf tersebut menjadi sebuah kata.

Namun, Doman hanya merekomendasikan pembelajaran membaca dan matematika sekitar 45 detik per hari. Bisa dibayangkan, betapa sebentarnya, dan kemungkinan anak-anak merasa terbebani karena metode itu sangatlah kecil. Tidak mengherankan jika anak-anak usia 2 atau 3 tahun pun sudah mahir membaca dan juga menjadi sangat suka serta tentu saja tidak menolak untuk belajar membaca dengan pendekatan tersebut. Untuk itulah, digunakan media flash card ini untuk pengembangan membaca anak usia dini.

 

 

 

 

  1. B.       Rumusan Masalah

Berdasarkan kajian dari latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah-masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Apakah pengertian membaca?
  2. Apa sajakah tahap-tahap perkembangan membaca?
  3. Apa sajakah kemampuan kesiapan membaca?
  4. Apa sajakah tanda-tanda kesiapan membaca?
  5. Apa sajakah faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca anak?
  6. Bagaimanakah strategi dan metode pengembangan membaca pada anak usia dini?
  7. Apakah pengertian flash card?
  8. Bagaimanakah penggunaan flash card?
  9. Apa sajakah keuntungan penggunaan flash card bagi pengembangan membaca anak?

 

  1. C.      Tujuan

            Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka makalah ini bertujuan untuk :

  1. Menjelaskan tentang pengertian membaca.
  2. Menjelaskan tahap-tahap perkembangan membaca.
  3. Menjelaskan kemampuan kesiapan membaca.
  4. Menjelaskan tanda-tanda kesiapan membaca.
  5. Menjelaskan faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca anak.
  6. Menjelaskan strategi dan metode pengembangan membaca pada anak usia dini.
  7. Menjelaskan pengertian flash card.
  8. Menjelaskan penggunaan flash card.
  9. Menjelaskan keuntungan penggunaan flash card bagi pengembangan membaca anak.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.      Pengertian Membaca

            Membaca pada hakikatnya adalah suatu kegiatan menerjemahkan simbol-simbol ke dalam buny-bunyi dan memahami maknanya. Para ahli memberikan pengertian membaca secara berbeda-beda, diantaranya:

  1. Farris (Rouf, 2009) mendefinisikan membaca sebagai pemrosesan kata-kata, konsep, informasi, dan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh pengarang yang berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman awal pembaca. Dengan demikian, pemehaman diperoleh apabila pembaca mempunyai pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dengan apa yang terdapat di dalam bacaan.
  2. Syafi’i (Rouf, 2009) menyatakan bahwa “membaca adalah suatu proses yang bersifat fisik atau yang disebut proses mekanis, berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual, sedangkan proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi”.
  3. Tarigan (1991:7) menjelaskan bahwa “membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui media bahasa tulis”.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Rouf, 2009) membaca didefinisikan sebagai melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis, yang dibaca secara lisan atau dalam hati. Secara linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi.

            Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca merupakan proses menerjemahkan sandi atau simbol-simbol yang tertulis terhadap teks bacaan dengan memanfaatkan kemampuan melihat (mata) yang dimiliki oleh pembaca, dan menerapkan pola berfikir dan bernalar mengolah teks bacaan secara kritis dan kreatif untuk mendapatkan pesan baik secara tersirat maupun tersurat.

  1. B.       Tahap-tahap Perkembangan Membaca

            Kemampuan membaca pada anak berkembang dalam beberapa tahap. Menurut Cochrane Efal (Dhieni, 2009:13) membagi tahap-tahap perkembangan dasar kemampuan membaca anak pada usia 4 – 6 tahun berlangsung dalam lima tahap, yaitu:

  1. Fantasi (Magical strage)
  2. Pembentukan konsep diri (Self concept strange)
  3. Membaca gemar (Brigging reading strange)
  4. Pengenalan bacaan (Sake-off reader strange)
  5. Membaca lancar (Independent reader strange)

Sehubungan dengan tahap perkembangan kemampuan membaca anak, maka perlu diketahui dan dipahami cara untuk menstimulasi potensi-potensi anak sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus agar potensi yang dimiliki anak dapat dikembangkan secara optimal. Karena para ahli syaraf mengatakan bahwa jika gejala-gejala munculnya ke arah positif maka potensi-potensi tersebut akan menjadi potensi yang tersembunyi (Dhieni, 2009:13). Dengan demikian, lingkungan belajar anak memegang peranan yang penting. Lingkungan belajar yang ada harus menciptakan kegiatan-kegiatan yang mampu mengembangkan potensi yang ada pada anak.

 

  1. C.      Kemampuan Kesiapan Membaca

Sebelum mengajarkan membaca kepada anak, kemampuan kesiapan membaca harus dikuasai terlebih dahulu oleh anak. Kesiapan anak ini harus dikuasi oleh anak agar anak berhasil membaca maunpun menulis. Hal ini bertujuan agar diketahui kemampuan kesiapan yang harus diajarkan atau dikuatkan kepada anak (Dhieni, 2009:13). Kemampuan kesiapan membaca itu antara lain:

  1. Kemampuan membedakan auditorial

Anak-anak harus belajar memahami suara-suara umum di lingkungan mereka dan membedakan suara-suara tersebut. Mereka harus mampu memahami konsep volume, lompatan, petunjuk, durasi, rangkaian, tekanan, tempo, pengulangan, kontras suara, dan membedakan suara-suara huruf dalam alfabet.

  1. Kemampuan diskriminasi visual

Anak-anak harus belajar untuk memahami objek dan pengalaman umum dengan gambar-gambar pada foto, lukisan, dan pantonim.  Mereka harus belajar mengidentifikasi warna-warna dasar dan bentuk-bentuk geometris dan mampu menggabungkan objek-objek berdasarkan warna, bentuk, atau ukuran. Mereka harus mampu membedakan kiri dan kanan warna, bentuk maupun atas bawah, dan mengikuti gerakan dari kiri ke kanan maupun dari atas ke bawah. Mereka harus mampu mengatakan bentuk dari gambar latar belakang, mengemukakan detail pada gambar, dan mengetahui pola-pola visual sederhana. Hingga pada akhirnya, mereka harus mampu untuk memahami dan menamai huruf besar dan huruf kecil.

  1. Kemampuan membuat hubungan suara dengan simbol

Anak harus mampu mengaitkan huruf besar dan huruf kecil dengan nama mereka dan dengan suara yang mereka representasikan. Anakharus tahu bahwa d disebut de dan menetapkan suara pada awal kata daging. Sebagian besar anak-anak akan membuat kemajuan awal yang bagus pada kemampuan ini. Dan sedikit diantaranya akan menguasai semua kemampuan suara dengan simbol hingga masa selanjutnya.

  1. Kemampuan perseptual motoris

Anak-anak harus mampu menggunakan otot halus tangan dan jari mereka untuk melakukan koordinasi gerakan dengan apa yang mereka lihat. Mereka harus melatih kemampuan ini, sehingga mereka mampu menyusun puzzle sederhana, gambar lukisan tangan, membentuk tanah liat, merangkai manik-manik, menuangkan benda cair, dan atau menggunakan gunting. Mereka juga harus mampu memegang krayon atau pensil untuk mewarnai gambar-gambar sederhana dalam garis, menjiplak garis dan bentuk di udara dan kertas, menyalin garis dan bentuk tanpa menjiplak. Hingga pada akhirnya, mereka harus mampu menyalin huruf dan kata, menulis nama mereka, menulis huruf yang memadukan suara.

  1. Kemampuan bahasa lisan

Anak-anak yang memasuki usia pendidikan dini dengan kemampuan subtansial untuk berbicara dan mendengarkan. Meskipun demikian, kemampuan ini harus tetap terus dikembangkan dan diperbaiki. Ank-anak harus belajar mendengarkan, mengingat, mengikuti petunjuk, mencatat detail, dan memahami ide utama. Mereka harus menggunakan dan memperluas kosakata bahasa lisan mereka untuk menjelaskan ide-ide, untuk mendiskripsikan objek dan peristiwa, untuk mengekspresikan perasaan mereka sendiri, atau orang imajiner mereka. Hendaknya mereka menjadi senang dengan berbagai pengalaman bahasa dan senang dalam belajar serta menggunakan kata-kata baru.

  1. Membangun sebuah latar belakang pengalaman

Membangun latar belakang pengalaman bagi anak dapat dilakukan dengan bermacam-macam kegiatan, seperti: menceritakan kisah-kisah menarik di kelas, atau menonton film bersama-sama.

 

  1. D.      Tanda-tanda Kesiapan Membaca

Kesiapan anak untuk mengikuti kegiatan membaca atau belajar membaca dapat diketahui dari tanda-tanda kesiapan yang ditunjukkan oleh anak. Dhieni, dkk (2009:17) mengklasifikasikan tanda-tanda kesiapan itu antara lain:

  1. Apakah anak-anak sudah dapat memahami bahasa lisan?

Kemampuan ini dapat diamati pada waktu bercakap-cakap dengan anak, atau apabila disuruh untuk melakukan sesuatu, atau diberi pertanyaan tentang sesuatu. Pemahaman yang dimaksud adalah pemahaman dasar, yaitu kalimat-kalimat sederhana dalam konteks komunikasi, dan sesuai dengan perkembangan bahasa anak.

  1. Apakah anak-anak sudah dapat mengajarkan kata-kata dengan jelas?

Hal ini pun dapat dilakukan ketika bercakap-cakap dengan anak, atau ketika anak mengatakan atau menanyakan sesuatu. Dapat juga dengan menanyakan nama beberapa objek.

  1. Apakah anak-anak sudah mengingat kata?

Kegiatan ini dapat pula diketahui dengan menanyakan pada anak tentang objek-objek tertentu sambil menunjuk objek aslinya. Dan mengulang pertanyaan yang sama keesokan harinya. Jika anak menjawab dengan benar, maka anak tersebut dapat mengingat dengan baik.

  1. Apakah anak-anak sudah mampu mengujarkan bunyi?

Kemampuan ini dapat dikatakan sudah tercakup dalam pertanyaan-pertanyaan di atas. Namun, baik juga diperhatikan secara khusus. Hal ini bisa dilakukan dengan meminta anak untuk menirukan bunyi huruf-huruf yang diujarkan oleh guru.

  1. Apakah anak sudah menunjukkan minat membaca?

Hal ini dapat diketahui dari kegiatan anak memegang buku,membuka-buka buku bacaan lain dan meniru-niru membaca, serta mencoret-coret kertas. Ini berkaitan erat dengan usaha-usaha yang telah dibicarakan terdahulu.

  1. Apakah anak sudah dapat membedakan suara (bunyi) dengan objek secara baik?

Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan pendengaran dan penglihatan. Perilaku ini dapat dilihat dari perilaku anak menanggapi kata-kata suruhan yang berbeda-beda, membedakan berbagaisuara dan bunyi di sekitarnya. Sedang kemampuan membedakan objek-objek dapat diuji melalui berbagai alat permainannya. Dalam kemampuan membedakan hurufhueuf dapat diuji dengan menunjukkan dua huruf yang berbeda dan menanyakan persamaan atau perbedaan huruf itu. Selain kemampuan di atas, kemampuan yang dimaksud juga termasuk kemampuan membedakan arah gerakan, misalnya tangan bergerak dari kiri ke kenan, atau dari atas ke bawah.

 

  1. E.       Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca Anak

Kemampuan membaca ini merupakan kegiatan yang kompleks, artinya banyak faktor yang mempengaruhinya. Tampubolon (­­­­­­­­­­Dhieni, 2009:19) membagi faktor itu menjadi dua, yaitu faktor endogen dan eksogen. Faktor endogen adalah faktor yang berkembang baik secara biologis, maupun psikologis, dan linguistik yang timbul dari diri anak. Sedang, faktor eksogen adalah faktor lingkungan. Kedua faktor ini saling terkait dan mempengaruhi secara bersamaan. Dhieni (2009: 19) menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca, antara lain:

  1. Motivasi

Motivasi merupakan pendorong anak untuk semangat membaca. Motivasi merupakan sebuah ketertarikan untuk membaca. Hal ini penting karena adanya motivasi akan menghasilkan anak yang memiliki kemampuan belajar yang lebih baik. Motivasi sendiri terbagi menjasdi dua berdasarkan sumbernya. Yang pertama adalah motivasi intrinsik, yaitu faktor yang bersumber pada diri pembaca itu sendiri. Yang kedua adalah faktor ekstrinsik, yang bersumbernya terletak di luar pembaca itu.

Cara agar anak termotivasi dan tertarik adalah dengan menyediakan bahan bacaan yang berkualitas tinggi yang memiliki hubungan dengan kehidupan mereka. Selain itu, dapat juga dengan memberi penjelasan kepada anak tentang pengetahuan yang sudah mereka ketahui atau yang belum diketahui, sehingga anak mudah menghubungkan dengan informasi baru. Dalam hal ini, guru sebagai katalisator motivasi dan ketertarikan serta model bagi anak.

  1. Lingkungan keluarga

Seperti yang telah diketahui bahwa anak sangat membutuhkan keteladanan dalam membaca. Keteladanan itu harus sesering mungkin ditunjukkan kepada anak oleh orang tua. Seperti diketahui bahwa anak-anak memiliki potensi untuk meniru secara naluriah. Menurut Leichter (Dhieni, 2009:20) perkembangan kemampuan membaca dan menulis dipengarahui oleh keluarga dalam hal:

  1. Interaksi interpersonal. Interaksi ini terdiri atas pengalaman-pengalaman baca tulis bersama orang tua, saudara, dan anggota keluarga lain di rumah.
  2. Lingkungan fisik. Lingkungan fisik mencakup bahan-bahan bacaan di rumah.
  3. Suasana yan penuh perasaan (emosional) dan memberikan dorongan (motivasional) yang cukup anta individu di rumah, terutama yang tercermin dalam sikap membaca.
  4. Bahan bacaan

Minat baca serta kemampuan membaca seseorang dipengaruhi oleh bahan bacaan. Bahan bacaan yang terlalu sulit bagi seseorang akan mematikan selera untuk membaca. Sehubungan dengan bahan bacaan ini perlu diperhatikan yaitu topik atau isi bacaan dan keterbacaan bahan. Anak harus dikenalkan dengan berbagai macam topik bacaan atu isi bacaan, sehingga dapat menambah wawasan anak namun topik yang di[ih harus menarik bagi anak baik secara segi isi maupun dari segi penyajiannya. Faktor keterbacaan merupakan faktor yang sangat penting dalam pemilihan bahan bacaan. Keterbacaan maupu kesulitan bacaan itu berbeda dengan tingkatan-tingkatan kemampuan anak.

 

  1. F.       Strategi dan Metode Pengembangan Membaca Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini merupakan sebagai tempat bermain, bersosialisasi dan juga sebagai wahana untuk mengembangkan berbagai kemampuan prokolastik yang lebih subtansial. Untuk itu, strategi yang digunakan harus menyediakan dengan tepat sesuai dengan minat yang dibutuhkan anak, juga melibatkan anak dalam situasi yang berbeda dan kelompok kecil, kelompok besar atau secara individual.

Strategi yang dapat digunakan dalam mengembangkan kemampuan membaca anak usia dini adalah dengan pendekatan pengalaman berbahasa. Pendekatan ini diberikan dengan menerapkan konsep DAP (Developmentally Aproppriate Practice) (Dhieni, 2009:22). Pendekatan ini dilakukan melalui bermain dengan menggunakan metode mengajar yang tepat untuk mengembangkan kemampuan membaca serta melibatkan anak dalam kegiatan yang dapat memberi berbagai pengalaman bagi anak. Selain itu, perlu juga memperhatikan motivasi dan minat anak, sehingga kedua faktor itu mampu memberikan pengaruh yang besar dalam pengembangan kemampuan membaca. Strategi ini dilaksanakan dengan memberikan beragam aktivitas yang memperhatikan perkembangan kemampuaan membaca yang dimiliki anak.

Menciptakan suasana bermain pada anak-anak dapat pula dilakukan dengan menggunakan media atau alat permainan, baik media gambar atau yang lain. Pendekatan ini dapat pula dilakukan dengan menggunakan media bermain, seperti kartu, gambar, puzzle, flashcard, dan lain sebagainya.  Selain itu ada beberapa metode yang bisa digunakan dalam pengembangan membaca anak. Metode pengembangan membaca untuk anak usia dini diantaranya (Ceria, 2009):

  1. Pendekatan pengalaman bahasa

            Dalam pendekatan ini guru menggunakan kata-kata anak sendiri untuk membantunya belajar membaca. kata-kata itu dapat berupa penjelasan suatu gambar atau suatu cerita pendek yang dimasukkan ke dalam suatu buku.
            Mula-mula anak itu mengatakan kepada guru apa yang harus ditulis. Setelah beberapa waktu anak-anak dapat menyalin tulisan guru dan akhirnya dapat menulis kata-kata mereka sendiri. Banyak guru menggunakan metode ini sebagai suatu pendekatan pertama untuk membaca. Membaca kata-kata mereka sendiri membantu anak-anak memahami bahwa kata yang tertulis adalah untuk komunikasi makna. Jadi, kekuatan dari pendekatan pengalaman bahasa yang utama adalah dapat membuat anak menggunakan pengalaman mereka sendiri sebagai bahan utama pelajaran membaca. Keunggulan lain dalam pendekatan ini anak menggunakan pola bahasa mereka sendiri, mereka dapat membaca lebih efektif daripada membaca pola bahasa yang ada dalam buku.

  1. Fonik

Metode ini mengandalkan pada pelajaran alfabet yang diberikan terlebih dahulu kepada anak-anak, mempelajari nama-nama huruf dan bunyinya. Setelah mempelajari bunyi huruf mereka mulai merangkum beberapa huruf tertentu untuk membentuk kata-kata.
Contoh : b-a-k r-a- k p-a- k t-a- k
            Untuk memberikan latihan membaca kepada aanak-anak dalam keterampilan ini, buku-buku cerita haruslah dipilih secara terencana, sehingga semua kata bersifat regular, dapat dibunyikan. Luar biasa sukarnya untuk menulis buku dengan kata-kata yang secara fonik bersifat reguler, yang menarik untuk dibaca anak-anak.
            Mempelajari bunyi yang terpencil sangat abstrak bagi anak kecil. Ini tidak berarti apa-apa biasanya mereka menganggapnya sebagai membosankan. Mereka juga harus benar-benar memusatkan pikiran akan pembunyian kata-kata sehingga mereka tidak mampu mengucapkan kata dengan benar tanpa mempunyai gambaran akan artinya. Anak-anak yang diajar dengan metode ini akan belajar dan mengucapkan kata-kata tak bermakna dengan sangat benar, sedangkan jika kata-kata itu dalam kalimat mereka segera tahu bahwa kata-kata itu tidak berarti.
            Karena alasan-alasan inilah metode fonik biasanya tidak diajarkan sampai anak-anak dapat memahami dengan baik dasar-dasar membaca. Tetapi anak-anak yang besar yang merasakan kesukaran membaca, sering merasa pendekatan fonik ini baik bagi mereka.
            Tidak ada bukti pasti bahwa salah satu metode itu lebih unggul daripada yang lain. Kebanyakan guru cenderung menggabung sejumlah metode yang berlainan. Anak-anak yang berlainan memperoleh manfaat dari metode yang berlainan pada tahap yang berlainan.

 

  1. Lihat dan Katakan

Dalam metode ini anak-anak belajar mengenali kata-kata atau kalimat-kalimat keseluruhan, bukanya bunyi-bunyi individu. Mereka memandangi kata-kata, mereka mendengar kata itu diucapkan dan kemudian mereka mengulangi ucpan itu.
            Dua puluh tahun yang lalu orang lazim menggunakan kartu dengan dilihatkan sekilas dalam mengajar dengan metode ini. Kartu-kartu itu dipegang untuk dikenali anak-anak, tapi karena tidak ada petunjuk untuk membantu mereka, si anak menebak-nebak.Sekarang umumnya diakui bahwa lebih baik menunjukkan seluruh kalimat lebih dahulu, dan lebih baik diiringi gambar, kemudian seperangkat kartu kata-kata yang sepadan ditaruh di bawah kalimat, dan akhirnya hanya kartu-kartu itu untuk membuat sebuah kalimat. Dengan cara lain anak-anak dapat memperoleh makna dari dalam kata-kata tercetak dari tahap paling awal belajar membaca.

  1.  Metode pendukung konteks

Bila anak-anak sedang belajar membaca, sangatlah penting bahwa mereka menggunakan buku yang benar-benar menarik bagi mereka. Meskipun demikian mereka tidak dapat menangani terlalu banyak kata baru, dan sukarlah untuk menulis cerita yang menarik dengan kata-kata yang terbatas banyaknya. Untuk mengatasi masalah ini diterbitkan beberapa buku yang memberikan dua versi dari suatu cerita. Bersi panjang seringkali dicantumkan pada satu halaman dan pada halaman sebelahnya ada versi yang lebih pendek.
            Kadang-kadang versi panjang ditaruh pada bagian bawah halaman dan versi pendek dalam gelembung-gelembung bicara. Anak itu mendengar versi panjang sebelum membaca sendiri versi pendeknya. Perbendaharaan kata-kata yang lebih terbatas dari versi pendek dihidupkan karena anak itu dapat mengaitkan dengan apa yang telah ia dengar. Ini merupakan cara yang relatif baru dalam mengajar membaca dini. Cara ini memang membantu untuk membuat kata yang tercetak lebih menarik dan bermakna bagi seorang anak.

 

 

  1. G.      Pengertian Flash Card

Flashcard sering dikenal dengan sebutan education card. Flashcard adalah kartu-kartu bergambar yang dilengkapi kata-kata, yang diperkenalkan oleh Glenn Doman, seorang dokter ahli bedah otak dari Philadelphia, Pennsylvania (Domba, 2009). Gambar-gambar pada flashcard dikelompok-kelompokkan antara lain: seri binatang, buah-buahan, pakaian, warna, bentuk-bentuk angka, dan sebagainya.

Flash Card adalah kartu belajar yang efektif untuk mengingat dan menghafal 3 x lebih cepat (Elexmedia, 2009). Kartu ini mempunyai dua sisi, sisi depan dan sisi belakang. Sisi depan tertulis judul bab, istilah, gambar, pertanyaan atau pernyataan yang perlu diingat. Sementara sisi belakang tertera mind map, definisi, keterangan gambar, jawaban, atau uraian. Namun, tidak semua kartu dalam flashcard seperti di atas, karena flashcard pada dasarnya adalah kartu bergambar yang membantu anak belajar mengingat dan menghafal. Karena tujuan dari metode ini adalah melatih kemampuan otak kanan untuk mengingat gambar dan kata-kata, sehingga perbendaharaan kata dan kemampuan membaca anak bisa dilatih dan ditingkatkan sejak usia dini.

 

  1. H.      Penggunaan Flash Card

Dalam menggunakan flashcard untuk belajar membaca anak, perlu diketahui kunci keberhasilan menggunakan flashcard sebagai education card. Kunci keberhasilan pengenalan melalui flashcard (Zakir, 2010) adalah :

  1. Repetition. Mengucapkan dan mengulangi huruf atau kata pada flashcard dengan lantang dan jelas, tidak terlalu lembut. Dan lebih baik lagi bila susunan kartu yang guru kenalkan benar-benar diingat atau dibagian  belakang kartu bisa diberi nomor sehingga pengulangannya sempurna, tidak acak. Maksud repetition adalah, misalnya hari ini mengenalkan “grapes – banana – peas – apple” maka next session yang di ulang juga susunanannya diusahakan sama yaitu “grapes – banana – peas – apple” dan seterusnya. Setelah lebih dari 3 hari, untuk anak yg sudah bisa bicara ujung-ujung belakang kata, tanya ke mereka, ini apa ya? Dan setelah sudah “khatam” baru boleh diacak.
  2. Gunakan target. Jangan kenalkan macam flashcard secara bersamaan. Contoh: 1 minggu kenalkan dan tamatkan seri kartu A, minggu depan tamat kartu B dan selanjutnya. Siapkan waktu 20-40 menit per sesi.
  3. Menciptakan suasana bermain namun serius dan tetap harus menyenangkan.
  4. mematikan televisi, silent hp, bila perlu tutup pintu kelas saat kegiatan ini dilakukan, supaya anak fokus.
  5. Melihat kesiapan anak untuk belajar. Apakah mereka siap untuk belajar atau tidak. Bila anak rewel, mengantuk, lapar, maka sesi belajar akan sangat tidak menyenangkan.

Tentunya semua sesuai kemampuan anak dan keyakinan guru bahwa anak mampu menangkap dan menerima pelajaran dan pengenalan yang disampaikan.

 

  1. I.         Keuntungan Penggunaan Flash Card bagi Pengembangan Membaca Anak Usia Dini

Flash card adalah kartu permainan yang dilakukan dengan cara menunjukkan gambar secara cepat untuk memicu otak anak agar dapat merima informasi yang ada di hadapan mereka, dan sangat efektif untuk membantu anak belajar membaca, mengenal angka, mengenal huruf di usia sedini mungkin. Adapun manfaat dari metode Flashcard antara lain (Kaskus, 2010) adalah :

1.         Anak akan dapat membaca pada usia sedini mungkin.

2.         Mengembangkan daya ingat otak kanan.

3.         Melatih kemampuan konsentrasi anak.

4.         Memperbanyak perbendaharaan kata dari anak.

Dengan peningkatan fungsi otak kanan, maka mempunyai fungsi luar biasa seperti :

1.        Photographic memory

2.        Speed reading, listening

3.        Automatic mental processing

4.        Mass-memory

5.        Multiple language acquisition

6.        Computer-like math calculation

7.        Creativity in movement, music and art

8.        Intuitive insight

Begitu luar biasanya fungsi dari otak kanan, sementara hampir seluruh kehidupan masyarakat, baik mulai dari sekolah sampai dengan kegiatan sosial sehari-hari hanya menekankan pada kemampuan otak kiri. Sistem pendidikan dan masyarakat juga saat ini hanya menfokuskan pada kemampuan otak kiri saja. Perkembangan otak kanan seakan-akan ditinggalkan begitu saja sejak anak masuk ke Sekolah Dasar.

Dalam hal ini bukan berarti kegunaan otak kiri tidak penting, otak kiri sangatlah penting, tetapi perkembangan otak kanan tidak bisa diabaikan, artinya diperlukan keseimbangan kemampuan kedua belah otak, supaya kecerdasan anak berkembang dengan maksimal, dan otak kanan dari anak juga ikut dikembangkan sebelum anak terjun ke dunia otak kiri di sebagian besar hidupnya nanti.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan otak kanan, antara lain dengan image training, visualisasi, termasuk juga dengan permainan Flash card ini.

Metode Flash card sudah sangat terkenal di negara-negara maju dan terbukti sangat efektif untuk mengajarkan anak membaca di usia yang sedini mungkin. Maka, harus segera memberikan stimulasi-stimulasi kepada anak, sehingga perkembangan otaknya, baik kiri maupun kanan bisa tumbuh dengan seimbang.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.      KESIMPULAN

Selama ini, pendidikan anak usia dini, tidak diperkenankan adanya pelajaran membaca, karena merujuk pada teori psikologi Piaget beranggapan bahwa pada usia di bawah 7 tahun anak belum mencapai fase operasional konkret. Fase itu adalah fase, dimana anak-anak dianggap sudah bisa berpikir terstruktur. Sementara itu, kegiatan belajar membaca sendiri didefinisikan sebagai kegiatan yang memerlukan cara berpikir terstruktur, sehingga tidak cocok diajarkan kepada anak-anak usia dini yang masih berusia balita.

Namun pada kenyataannya di lapangan, anak-anak dituntut mampu membaca sebagai syarat kelulusan pendaftaran di yang lebih tinngi, yaitu sekolah dasar. Untuk itu bila tidak diajarkan membaca sejak dini, kemungkinan anak tidak bisa lulus seleksi masuk sekolah dasar. Sebenarnya topik pelajaran bukanlah persoalan yang akan menghambat seseorang, pada usia berapapun, untuk mempelajarinya. Syaratnya hanyalah mengubah cara belajar, disesuaikan dengan kecenderungan gaya belajar dan usianya masing-masing sehingga terasa menyenangkan dan membangkitkan minat untuk terus belajar.

Glenn Doman menjadi pelopor dalam pengembangan metode belajar membaca dan matematika bagi anak-anak usia dini.  Glenn Doman adalah contoh lain pendobrak teori perkembangan Piaget. Glenn Doman berhasil membantu menyembuhkan orang-orang yang mengalami cedera otak melalui flash card (Fatoni, 2009). Doman hanya merekomendasikan pembelajaran membaca 45 detik per hari. Sehingga kemungkinan anak-anak merasa terbebani karena metode itu sangatlah kecil. Tidak mengherankan jika anak-anak usia 2 atau 3 tahun pun sudah mahir membaca dan juga menjadi sangat suka serta tentu saja tidak menolak untuk belajar membaca dengan pendekatan tersebut.

Flashcard sering dikenal dengan sebutan education card. Flashcard adalah kartu-kartu bergambar yang dilengkapi kata-kata, yang diperkenalkan oleh Glenn Doman, seorang dokter ahli bedah otak dari Philadelphia, Pennsylvania (Domba, 2009). Flash Card adalah kartu belajar yang efektif untuk mengingat dan menghafal 3 x lebih cepat (Elexmedia, 2009). Flashcard pada dasarnya adalah kartu bergambar yang membantu anak belajar mengingat dan menghafal. Karena tujuan dari metode ini adalah melatih kemampuan otak kanan untuk mengingat gambar dan kata-kata, sehingga perbendaharaan kata dan kemampuan membaca anak bisa dilatih dan ditingkatkan sejak usia dini.

Dengan peningkatan fungsi otak kanan, maka mempunyai fungsi luar biasa seperti : Photographic memory, speed reading, listening, automatic mental processing, mass-memory, multiple language acquisition, computer-like math calculation, creativity in movement, music and art, dan intuitive insight. Metode Flash card sendiri sudah sangat terkenal di negara-negara maju dan terbukti sangat efektif untuk mengajarkan anak membaca di usia yang sedini mungkin. Maka, guru harus segera memberikan stimulasi-stimulasi kepada anak, sehingga perkembangan otaknya, baik kiri maupun kanan bisa tumbuh dengan seimbang.

 

B.       SARAN

Flash card adalah kartu permainan yang dilakukan dengan cara menunjukkan gambar secara cepat untuk memicu otak anak agar dapat merima informasi yang ada di hadapan mereka, dan sangat efektif untuk membantu anak belajar membaca, mengenal angka, mengenal huruf di usia sedini mungkin.

Gambar-gambar pada flashcard dikelompok-kelompokkan antara lain: seri binatang, buah-buahan, pakaian, warna, bentuk-bentuk angka, dan sebagainya. Namun, tidak hanya terpaku pada hal tersebut. Guru sendiri juga mampu untuk membuat flash card sesuai dengan kebutuhan yang sesuai dengan di lapangan tempat guru mengajar. Flash card bisa dibeli di toko, didownload di internet, dan jika menginginkan yang lebih bervariasi dan sesuai dengan kebutuhan bisa membuat sendiri baik itu menggunakan komputer, menggunting gambar dari majalah atau koran, sampai dengan menggambar sendiri.

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Ceria, Bocah. 2009. Metode Pengembangan membaca Untuk Anak, (Online), (http://ceriabocah.blogspot.com/2009/06/metode-pengembangan-membaca-untuk-anak.html, diakses tanggal 25 Pebruari 2012)

 

Dhieni, Nurbiana, dkk. 2009. Metode Pengembangan bahasa. Jakarta: Universitas Terbuka

 

Domba. 2009. Kartu Bergambar Flashcard, (Online), (http://domba-bunting.blogspot.com/2009/04/kartu-bergambar-flashcard.html, diakses tanggal 5 Maret 2012)

 

Elexmedia. 2009. Flash Card, (Online), (http://www.elexmedia.co.id /forum/index.php?topic=15303.0, diakses tanggal 5 Maret 2012)

 

Fatoni. 2009. Pengembangan Kemampuan Membaca Anak Usia Dini Melalui Metode Glenn Domain, (Online), (http://fatonipgsd071644221. wordpress.com/2009/12/30/pengembangan-kemampuan-membaca-anak-usia-dini-melalui-metode-glenn-doman/, diakses tanggal 25 Pebruari 2012)

 

Kaskus. 2010. Flash Card Baby, (Online), (http://www.kaskus.us /showthread.php?t=7213981, diakses tanggal 5 Maret 2012)

 

Rouf, Abdul. 2009. Meode Pengajaran Membaca, (Online), (http://www.mts ppiu.sch.id/bahasa-indonesia/metode-pengajaran-membaca, diakses tanggal 25 Pebruari 2012)

 

Tarigan, Djago. 1991. Bahasa Indonesia I Buku Modul 1-6. Jakarta: Depdikbud

 

Zakir, Chica. 2010. Smarter with Flash Card Learning, (Online), (http://theu rbanmama.com/topics/activities/132/smarter-with-flash-card-learning.html, diakses tanggal 5 Maret 2012)

 

PEMETAAN TAHAPAN BERMAIN ANAK USIA DINI
USIA 3-4 TAHUN

Di susun untuk memenuhi mata kuliah
“kajian pengembangan bermain dan permainan”
Yang dibina oleh Drs. I Wayan Sutama, M.Pd

KELOMPOK
Binti Sulistiorini (100153405967)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH
PRODI S1 PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI
Pebruari 2012
1. Pemetaan

Usia
Tahapan perkembangan bermain

Jean Piaget
Mildred Patren
Hurlock Rubin, Fein & Vandenberg
dan Smilansky

0-1

Sensory Motor Play
Unoccopied Play

Tahap Penjelajahan (Exploratory stage)
1-2 Solitary Play
Bermain Fungsional (Functional Play)
2-3

Symbolic atau Make Believe Play Onlooker Play
3-4 Pararel Play Bermain Bangun Membangun (Constructive Play)
Bermain Pura-pura (Make-believe Play)
4-5 Assosiative Play
5-6 Cooperative Play Tahap Mainan (Toy stage)

6-7

Deskripsi: karakteristik anak usia 3-4 th dalam bermain, anak mulai belajar berinteraksi dengan teman sebayanya walaupun sifat egosentrisnya masih sangat terlihat, karena itulah anak usia ini akan sering bertengkar dengan temannya karena berebut mainan, berebut makanan dan lainnya, tetapi untuk beberapa anak sudah ada yang dapat berbagi dengan temannya, baik berbagi makanan maupun bertukar mainan. Anak usia 3-4 th juga belum bisa untuk menaati peraturan karena jika pada kegiatan-kegiatan tertentu seperti senam dan baris-berbaris anak akan tetap berada di dalam kelas.

2. Pengamatan

a) hasil amatan
• bermain sendiri
• mulai belajar berinteraksi
• bahasanya berkembang pesat
• sering bertengkar
• sering berebut mainan
• sangat tertarik dengan mainan baru, namun cepat bosan
• perhatiannya mudah dialihkan

b) kroscek dengan teori
• Mildred Patren (Assosiative Play) Ditandai dengan adanya interaksi antar anak yang bermain saling tukar mainan, akan tetapi bila diamati anak tidak terlibat dalam kerjasama

Koscek = sesuai,

Dalam gambar anak saling bertukar mainan dan ber komunikasi namun anak asik dengan mainannya yang dipegangnya sendiri.

Terlihat pada gambar diatas, anak bersama-sama bermain balok, namun anak asik menumpuk baloknya sendiri-sendiri. Meskipun anak terlibat Tanya jawab namun mereka bermain sendiri.

• Jean Piaget (Symbolic atau Make Believe Play) Merupakan ciri periode operasional yang ditandai dengan bermain khayal (pura-pura). Pada tahapan ini, anak sudah mulai dapat menggunakan berbagai benda sebagai simbol atau representasi benda lain.

Kroscek = sesuai,

anak-anak menganggap bangku/meja sebagai mobil-mobilan serta dinaikinya

Anak menjadikan meja-meja tersebut sebagai tembok, dan dijadikan rumah-rumahan

Anak menganggap bak sebagai mobil-mobilan

Anak menganggap bak sebagai kereta-keretaan, dan berjalan serta berlari-lari Bergandengan Dengan temannya

• Hurlock, Tahap Penjelajahan (Exploratory stage) Ciri khasnya adalah berupa kegiatan mengenai obyek atau orang lain, mencoba menjangkau atau meraih benda dikelilingannya, lalu mengamatinya.

Kroscek = tidak sesuai, karena anak usia 3-4 tahun lebih tertarik dengan mainan yang dibelinya

• Rubin, Fein & Vandenberg (1983) dan Smilansky (1968)
 Bangun Membangun (Constructive Play)
Tampak pada anak usia 3-6 tahun. Anak membentuk sesuatu, menciptakan bengunan tertentu dengan alat permainan yang tersedia.

Kroscek = sesuai

Anak membangun rumah-rumahan dari meja-meja tersebut

Anak sedang membangun rumah-rumahan dari balok
 Bermain Pura-pura (Make-believe Play)
Banyak dilakukan anak berusia 3-7 tahun. Dalam bermain pura-pura anak menirukan kegiatan orang yang pernah dijumpainya dalam kehidupan sehari-hari.
Kroscek = sesuai,

Anak pura-pura menjadi sopir truk yang sedang mengangkut kayu

KURIKULUM REKONSTRUKSI SOSIAL dan KURIKULUM HUMANISTIK

MAKALAH
DI SUSUN UNTUK MEMENUHI MATA KULIAH
“Pengembangan Kurikulum PAUD”
Yang dibina oleh Ibu Dr. Mardijah Moenir, S.Pd. M.Pd

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH
PRODI S1 PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI
Oktober 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah tugas mata kuliah Pengembangan Kurikulum PAUD yang berjudul “Kurikulum Rekonstruksi Sosial dan Humanistik” dengan baik.
Penulis menyadari sepenuhnya atas segala kekurangan pada makalah ini dan penulis dengan senang hati dan akan menerima saran serta kritik demi kesempurnaan makalah ini. Atas segala saran dan bantuan, penulis sampaikan terima kasih.

Blitar, Oktober 2011

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagaimana aliran filsafat pendidikan yang lain, rekonstruksianisme mendasarkan gagasan rekonstruksinya pada para filsuf terdahulu yang dianggap sebagai “filsuf rekonstruksianis”. Diantaranya adalah Plato yang telah merancang desain negara masa depan (The Republik), dan secara tandas menegaskan bahwa pendidikan menjadi pilar utama dari pembangunan masyarakat baru dan masyarakat terbaik yang di dalamnya terjadi ekualitas seksual, pembinaan pendidikan anak-anak secara komunal, dan diperintah oleh pemimpin yang memiliki akreditasi filosofis. Selain Plato, filsuf Stoic seperti Marcus Aurelius, seorang raja sekaligus filsuf dari kerajaan Romawi, yang mempromosikan “negara dunia” ideal yang terbebaskan dari sekat-sekat nasionalisme dan chauvinisme. Sementara itu, filsuf era Skolastik seperti St. Augustine juga menawarkan upaya rekonstruksi melalui negara Kristen ideal, sebagaimana tertuang dalam karyanya The City of God.
Rekonstruksianis berbeda dari kaum pragmatis tentang bagaimana penerapan metode pragmatis dalam dunia pendidikan. Berbeda pula dengan pendekatan yang dilakukan aliran progresifisme, rekonstruksianisme tidak sekedar ingin “memperbaiki” masyarakat, tetapi juga ingin melakukan perubahan sosial di masyarakat. Sementara itu aliran rekonstruksianisme dalam satu prinsip sependapat dengan perennialisme, bahwa ada satu kebutuhan amat mendesak untuk kejelasan dan kepastian bagi kebudayaan zaman modern saat ini yang sedang berada di tubir kehancuran, kebingungan, dan kesimpangsiuran.
Walaupun demikian, aliran rekonstruksianisme mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang serasi dengan kehidupan. Aliran perennialisme memilih untuk kembali ke alam kebudayaan lama atau dikenal dengan regressive road culture sebagai solusi yang paling ideal. Sedangkan aliran rekonstruksianisme menempuhnya dengan jalan berupaya membina satu konsensus yang paling luas mengenai tujuan pokok tertinggi dalam kehidupan umat manusia.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, masalah-masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pandangan filosofis para tokoh-tokoh rekonstruksionisme?
2. Apa pengertian model kurikulum rekonstruksi sosial?
3. Bagaimana desain kurikulum rekonstruksi sosial?
4. Apa saja komponen-komponen kurikulum?
5. Apa saja pokok-pokok pemikiran pendidikan rekonstruksianisme?
6. Bagaimana pelaksanaan pengajaran rekonstruksi sosial?
7. Apa konsep dasar kurikulum humanistik ?
8. Bagaimana karakteristik kurikulum humanistik ?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka makalah ini bertujuan untuk :
1. Menjelaskan pandangan filosofis tokoh-tokoh rekonstruksionisme.
2. Menjelaskan pengertian model kurikulum rekonstruksi sosial.
3. Menjelaskan desain kurikulum rekonstruksi sosial.
4. Menjelaskan komponen-komponen kurikulum.
5. Menjelaskan pokok-pokok pemikiran pendidikan rekonstruksianisme.
6. Menjelaskan pelaksanaan pengajaran rekonstruksi sosial.
7. Menjelaskan konsep dasar kurikulum humanistik.
8. Menjelaskan karakteristik kurikulum humanistik.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pandangan Filosofis Tokoh-tokoh Rekonstruksionisme
Rekonstruksianisme secara terminologis bukan sebuah filosofi dalam maknanya yang tradisional, karena tidak sampai pada aspek epistemologi dan logika secara mendetail. Hal ini dapat terlihat bahwa rekonstruksianisme lebih mencurahkan perhatian pada rekonstruksi sosial dan budaya di mana kita berpijak. Bisa dikatakan bahwa rekonstruksianisme hampir murni sebuah filsafat sosial, karena membawa penganutnya tidak menjadi filosof professional, akan tetapi menjadi sarjana dan aktifis pendidikan yang berkonsentrasi pada perbaikan kondisi sosial dan budaya.
Beberapa tokoh rekonstruksi diantaranya adalah :
1. George S. Counts (1889-1974)
Dia merupakan figur penting dalam pendidikan di Amerika selama beberapa tahun dan menjadi professor pendidikan pada institusi pendidikan utama seperti universitas Yale, Chicago dan Columbia, serta merupakan penulis lusinan buku yang mengandung banyak aspek pendidikan, filsafat pendidikan dan sosiologi pendidikan.
2. Counts
Pandangan sentral Counts adalah ketika pendidikan dalam sejarah digunakan untuk mengenalkan peserta didik pada tradisi, budaya, sosial dan kondisi budaya, dalam waktu yang sama telah direduksi oleh sains modern, teknologi dan industrialisasi. Sehingga pendidikan sekarang harus diarahkan pada kekuatan positif untuk membangun kultur budaya baru dan mengeliminasi patologi sosial. Dia menegaskan bahwa pendidikan harus memiliki visi dan prospek untuk perubahan sosial secara radikal dan mengimplementasikan proyek tersebut. Counts’ menyeru para pendidik untuk membebaskan diri dari kebiasaan pendidik yang merasa nyaman menjadi pendukung status quo dan terjun bebas menjadi aktor perubahan sosial di masyarakat.
3. Dare the School Build a New Social Order
Menuliskan bahwa jika pendidikan progresif ingin sungguh-sungguh mendidik dan benar-benar progresif. Ia harus membebaskan diri dulu dari pelukan kelas menengah, lalu menghadapi setiap isu sosial dengan berani dan langsung, menjumpai kenyataan hidup yang paling jahannam sekalipun tanpa memicingkan mata, memantapkan hubungan timbal balik yang organik dengan komunitas, mengembangkan teori yang komprehensif dan realistis tentang kesejahteraan, mengambil visi tentang takdir manusia secara tegas dan lantang dan jangan cepat gemetar kalau bertemu dengan hantu yang bernama penanaman dan indoktrinasi.
4. Theodore Brameld (1904-1987)
Dia adalah penulis banyak buku, diantaranya: Toward a Reconstructed Philosophy of Education, Education as Power, dan Patterns of Educational Philosophy. Brameld mengajar filsafat dan filsafat pendidikan, hidup dan mengajar di Puerto Rico, dan pernah mengajar di universitas terkemuka di Amerika. Brameld melihat rekonstruksianisme sebagai filsafat kritis yang tidak hanya mengapresiasi persoalan pendidikan, tetapi juga persoalan budaya. Dia melihat masalah kemanusiaan sedang berada di simpang jalan dan hampir mengalami kehancuran, hanya dengan berusaha penuh kita bisa menyelamatkan kemanusiaan tersebut. Karenanya dia melihat rekonstruksianisme juga sebagai filsafat nilai. Nilai yang dimaksud adalah nilai yang berdasarkan asas-asas supernatural yang menerima nilai natural yang universal, yang abadi berdasarkan prinsip nilai teologis. Brameld juga menekankan untuk membangun tujuan-tujuan yang jernih untuk pembebasan, dalam maksud lain dia menyebut persatuan dunia untuk menghilangkan bias yang ditimbulkan nasionalisme yang sempit dan menyatukan komunitas ke dalam pandangan dunia yang lebih luas. Hal tersebut akan menjadikan pemerintahan-pemerintahan dunia dan peradaban-peradaban dunia di mana orang-orang dari seluruh ras, negara, warna kulit dan kepercayaan ikut terlibat bersama dalam kedamaian dunia.
Menurutnya satu aktifitas filsafat yang utama adalah penjelajahan makna terhadap perbedaan konsepsi dari pusat tujuan penyatuan dunia. Rekonstruksianisme berusaha mencari kesepakatan semua orang tentang tujuan utama yang dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tata susunan baru seluruh lingkungannya. Tujuan ini hanya mungkin diwujudkan melalui usaha kerja sama semua bangsa-bangsa. Secara ringkas rekonstruksianisme bercita-cita mewujudkan dan melaksanakan sintesa, perpaduan ajaran Kristen dan demokrasi modern dengan teknologi modern dan seni modern di dalam satu kebudayaan yang dibina bersama oleh seluruh kedaulatan bangsa-bangsa sedunia. Rekonstruksianisme mencita-citakan terwujudnya satu dunia baru,dengan satu kebudayaan baru di bawah satu kedaulatan dunia ,dalam control mayoritas umat manusia.

B. Pengertian Model Kurikulum Rekonstruksi Sosial
Kurikulum rekonstruksi sosial berbeda dengan model-model kurikulum lainnya. Kurikulum ini lebih memusatkan perhatian pada problem-problema yang dihadapinya dalam masyarakat. Kurikulum ini bersumber pada aliran pendidikan interaksional. Menurut mereka pendidikan bukan upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama, interaksi dan kerja sama. Kerja sama atau interaksi bukan hanya terjadi antara siswa dengan guru, tetapi juga antara siswa dengan siswa, siswa dengan orang-orang di lingkungannya, dan dengan sumber belajar lainnya. Melalui interaksi dan kerja sama ini siswa berusaha memecahkan problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik.
Pandangan rekonstruksi sosial di dalam kurikulum dimulai sekitar tahun 1920-an. Harold Rug mulai melihat dan menyadarkan kawan-kawannya bahwa selama ini terjadi kesenjangan antara kurikulum dengan masyarakat. Ia menginginkan para siswa dengan pengetahuan dan konsep-konsep baru yang diperolehnya dapat mengidentifikasi dan memecahkan masalah-masalah sosial. Setelah diharapkan dapat menciptakan masyarakat yang lebih stabil.
Theodore Brameld, pada awal tahun 1950-an menyampaikan gagasannya tentang rekonstruksi sosial. Dalam masyarakat demokratis, seluruh warga masyarakat harus turut serta dalam perkembangan dana pembaharuan masyarakat. Untuk melaksanakan hal itu sekolah mempunyai posisi yang cukup penting. Sekolah bukan saja dapat membantu individu memperkembangkan kemampuan sosialnya, tetapi juga dapat membantu bagaimana berpartisipasi sebaik-baiknya dalam kegiatan sosial.
Para rekonstruksionis sosial tidak mau terlalu menekankan kebebasan individu. Mereka ingin menyakinkan murid-murid bagaimana masyarakat membuat warganya seperti yang ada sekarang dan bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan pribadi warganya melalui konsensus sosial. Brameld juga ingin memberikan keyakinan tentang pentingnya perubahan sosial. Perubahan sosial tersebut harus dicapai melalui prosedur demokrasi. Para rekonstruksionis sosial menentang intimidasi, menakut-nakuti dan kompromi semu. Mereka mendorong agar para siswa mempunyai pengetahuan yang cukup tentang masalah-masalah sosial yang mendesak (crucial) dan kerja sama atau bergotong-royong untuk memecahkannya.

C. Desain Kurikulum Rekonstruksi Sosial
Ada beberapa ciri desain kurikulum ini.
1. Asumsi. Tujuan utama kurikulum rekosntruksi social adalah menghadapkan para siswa pada tantangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi manusia. Tantangan-tantangan tersebut merupakan bidang garapan studi social, yang perlu didekati dari bidang lain seperti ekonomi, sosiologi, psikologi, estetika, bahkan pengetahuan alam dan matematika. Masalah-masalah masyarakat bersifat universal dan hal ini dapat dikaji dalam kurikulum.
2. Masalah-masalah social yang mendesak. Kegiatan social dipusatkan pada masalah-masalah social yang mendesak. Masalah-masalah tersebut dirumuskan dalam pertanyaan, seperti: Dapatkah kehidupan seperti sekarang ini member kekuatan untuk menghadapi ancaman-ancaman yang akan mengganggu integritas kemanusiaan? Dapatkah tata ekonomi dan politik yang ada dibangun kembali agar setiap orang dapat memanfaatkan sumber-sumber daya alamdan sumber daya manusia seadil mungkin. Pertanyaan-pertanyyan tersebut mengundang pengungkapan lebih mendalam, bukan saja dari buku-buku dan kegiatan laboratoriumtetapi juga dari kehidupan nyata dalam masyarakat.
3. Pola-pola organisasi. Pada tingkat sekolah menegah, pola organisasi kurikulum disusun seperti sebuah roda. Ditengah-tengahnya sebagai poros dipilih sesuatu masalah yang menjadi tema utama dan dibahas secara pleno. Dari tema utama dijabarkan sejumlah topic yang dibahas dalam diskusi-diskusi kelompok, latihan-latihan, kunjungan dan lain-lain. Topic-topik dengan berbagai kegiatan kelompok ini merupakan jari-jari. Semua kegiatan jari-jari tersebut dirangkum menjadi satu kesatuan sebagai bingkai atau velk.

D. Komponen-komponen Kurikulum
Kurikulum rekonstruksi sosial memilki komponen-komponen yang sama dengan model kurikulum lain tetapi isi dan bentuk-bentuknya berbeda.
1. Tujuan dan isi kurikulum.Tujuan program pendidikan setiap tahun berubah. Dalam program pendidikan ekonomi-politik, umpamanya untuk tahun pertama tujuannya membangun kembali dunia ekonomi-politik. Kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut adalah antara lain:
a. mengadakan survei secara kritis terhadap masyarakat
b. mengadakan studi tentang hubungan antara keadaan ekonomi lokal dan ekonomi nasional serta dunia
c. mengadakan studi tentang latar belakang historis dan kecenderungan-kecenderungan perkembangan ekonomi, hubungannya dengan ekonomi local
d. mengkaji praktik politik dalam hubungannya dengna faktor ekonomi
e. memantapkan rencana perubahan praktik politik
f. mengevaluasi semua rencana dengan kriteria, apakah telah memenuhi kepentingan sebagian besar orang.
2. Metode. Dalam pengajaran rekonstruksi sosial para pengembang kurikulum berusaha mencari keselarasan antara tujuan-tujuan nasional dengan tujuan siswa. Guru-guru berusaha membantu para siswa menemukan minat dan kebutuhannya. Sesuai dengan minat masing-masing siswa, baik dalam kegitan pleno maupun kelompok-kelompok berusaha memecahkan masalah sosial yang dihadapinya. Kerja sama baik antara individu dalam kegiatan kelompok, maupun antar kelompok dalam kegiatan pleno sangat mewarnai metode rekonstrusi sosial. Kerja sama ini juga terjadi antara para siswa dengan manusia sumber dari masyarakat. Bagi rekonstruksi sosial, belajar merupakan kegiatan bersama, ada ketergantungan antara seorang dengan yang lainnya. Dalam kegiatan belajar tidak ada kompetisi yang ada adalah kooperasi atau kerja sama, saling pengertian dan konsensus. Anak-anak sejak sekolah dasar pun diharuskan turut serta dalam survei kemasyarakatan serta kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Untuk kelas-kelas tinggi selain mereka dihadapakan pada situasi nyata juga mereka diperkenalkan dengan situasi-situasi ideal. Dengan hal itu diharapkan para siswa dapat menciptakan model-model kasar dan situasi yang akan datang.
3. Interaksi. Guru dan siswa belajar bersama, guru membantu siswa menemukan minat/kebutuhannya dan bersama siswa memecahkan masalah social yang dihadapi. Dalam kegiatan belajar tidak ada kompetisi, yang ada adalah kooperasi atau kerjasama, kerja kelompok, saling pengertian, dan consensus
4. Evaluasi. Dalam kegiatan evaluasi para siswa juga dilibatkan. Keterlibatan mereka terutama dalam memilih, menyusun, dan menilai bahan yang akan diujikan. Soal-soal yang akan diujikan dinilai lebih dulu baik ketepatan maupun keluasan isinya, juga keampuhan menilai pencapaian tujuan-tujuan pembangunan masyarakat yang sifatnya kualitatif. Evaluasi tidak hanya menilai apa yang telah dikuasai siswa, tetapi juga menilai pengaruh kegiatan sekolah terhadap masyarakat. Pengaruh tersebut terutama menyangkut perkembangan masyarakat dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat.

E. Pokok-pokok Pemikiran Pendidikan Rekonstruksianisme
Diantara beberapa prinsi-prinsip pokok pemikiran yang dikembangkan rekonstruksianisme dapat diuraikan sebagai berikut antara lain:
1. Dunia sedang dilanda krisis kemanusiaan, jika praktik-praktik pendidikan yang ada tidak segera direkonstruksi, maka peradaban dunia yang ada akan mengalami kehancuran. Krisis yang dimaksud adalah problem-problem sosial budaya yang timbul akibat semrawutnya persoalan pendudukan, sumber daya alam yang kian menipis, berakibat pada melonjaknya harga minyak dunia, kesenjangan global antara negara kaya dan miskin, kapitalisme global, proliferasi nuklir, rasisme, nasionalisme sempit dan penyalahgunaan teknologi. Seperti diketahui, teknologi saintifik adalah penyumbang terbesar terjadinya peperangan dan bisa membunuh manusia secara efisien lebih dari sebelumnya, tingginya tingkat kematian dari kecelakaan lalu-lintas dan industri menjadi harga yang sangat mahal dari kehidupan yang serba mekanistik saat ini. Teknologi saintifik juga menciptakan budaya rokok dan alkohol serta meningkatkan bahaya kimiawi yang terkandung pada makanan dan lahan pertanian.
2. Perlunya sebuah tatanan sosial semesta. Maksudnya untuk mengatasi persoalan-persoalan global tersebut, perlu kolaborasi menyeluruh dari seluruh antar elemen bangsa-bangsa dunia untuk bersatu menciptakan tata sosial baru yang berasaskan keadilan dan kepentingan kemanusiaan seluruh umat manusia sedunia, dan mengabaikan batasan-batasan primordial seperti ras, warna kulit, suku, bangsa dan agama.
3. Pendidikan formal adalah agen utama dalam upaya rekonstruksi tatanan sosial. Aliran rekonstruksianisme menilai sekolah-sekolah formal yang ada merefleksikan nilai-nilai sosial dominan yang hanya akan mengalihkan patologi sosial, politik, ekonomi dan budaya yang saat ini mendera umat manusia. Karena nya sekolah-sekolah formal harus merekonstruksi secara mendasar peran tradisionalnya dan menjadi sumber inovasi sosial. Bagi mereka pendidikan dapat menjadi instrumen penting untuk membentuk keyakinan masyarakat dan mengarahkan peralihannya ke masa depan.
4. Metode pengajaran harus didasarkan pada prinsip-prinsip demokratis yang bertumpu pada kecerdasan “asali” jumlah mayoritas untuk merenungkan dan menawarkan solusi yang valid bagi persoalan-persoalan umat manusia. Dalam perspektif rekonstruksianis, adalah sebuah keharusan bahwa prosedur-prosedur demokratis perlu digunakan di ruangan kelas setelah para peserta didik diarahkan kepada kesempatan-kesempatan untuk memilih diantara keragaman pilihan-pilihan ekonomi, politik, sosial. Di sisi lain menyembunyikan pendirian-pendiriannya. Ia harus mau mengungkapkan dan mempertahankan pemihakannya secara publik. Lebih dari itu rekonstruksianisme mempunyai kepercayaan besar terhadap kecerdasan dan kemauan baik manusia.
5. Pendidikan formal adalah bagian tak terpisahkan dari solusi sosial dalam krisis dunia global, dan terlibat aktif dalam mengajarkan perubahan sosial. Pendidikan harus memantikkan kesadaran peserta didik akan problematika sosial dan mendorong mereka untuk secara aktif memberikan solusi. Kesadaran sosial (social consciousness) dapat ditumbuhkan dengan menanamkan sikap dan daya kritis terhadap isu-isu kontroversial dalam agama, masyarakat, ekonomi, politik dan pendidikan. Kajian dan diskusi kritis akan membantu para peserta didik melihat ketidak adilan dan ketidak fungsian beberapa aspek system sekarang ini dan akan membantu mereka mengembangkan alternatif alternative bagi kebijaksanaan konvensional.
F. Pelaksanaan Pengajaran Rekonstruksi Sosial
Pengajaran rekonstruksi sosial banyak dilaksanakan di daerah-daerah yang tergolong belum maju dan tingkat ekonominya juga belum tinggi. Pelaksanaan pengajaran ini diarahkan untuk meningkatkan kondisi kehidupan mereka. Sesuai dengan potensi yang ada dalam masyarakat, sekolah mempelajari potensi-potensi tersebut, dengan bantuan biaya dari pemerintah sekolah berusaha mengembangkan potensi tersebut. Di daerah pertanian umpamanya sekolah mengembangkan bidang pertanian dan peternakan, di daerah industry mengembangkan bidang-bidang industry.
Salah satu badan yang banyak mengembangkan baik teori maupun praktik pengajaran rekonstruksi sosial adalah Paulo Freize. Mereka banyak membantu pengembangan daerah-daerah di Amerika Latin. Untuk memerangi kebodohan dan keterbelakangan mereka menggalakkan gerakan budaya akal budi (conscientization). Conscientization merupakan suatu proses pendidikan atau pengajaran di mana siswa tidak diperlakukan sebagai penerima tetapi sebagai pelajar yang aktif. Mereka berusaha membuka diri, memperluas kesadaran tentang realitas sosial budaya dan dengan segala kemampuannya berupaya mengubah dan meningkatkannya.
Sekolah berusaha memberikan penerangan dan melatih kemampuan untuk melihat dan mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi, meningkatkan kemampuan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Dengan gerakan conscientization mereka membantu masyarakat memahami fakta-fakta dan masalah-masalah yang dihadapinya dalam konteks kondisi masyarakat mereka. Keterbatasan dan potensi yang mereka miliki. Bertolak dari kenyataan-kenyataan tersebut mereka membina diri dan membangun masyarakat.
Harold G. Shane seorang professor dari Universitas Indiana Amerika Serikat, mewakili teman-temannya para Futurolog menggunakan perencanaan masa yang akan datang (future planning) sebagai dasar penyusunan kurikulum. Ia menggalakkan perencanaan masa akan datang, dari bukan perencanaan untuk masa depannya sendiri, mereka tidak dapat melepaskan diri dari perkembangan tetapi harus menyesuaikannya.
Shane menyarankan para pengembang kurikulum, agar mempelajari kecenderungan (trends) perkembangan. Kecenderungan utama adalah perkembangan teknologi dengan berbagai dampaknya terhadap kondisi dan perkembangan masyarakat. Kecenderungan lain adalah perkembangan ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Dalam perkembangan sosial yang perlu mendapatkan perhatian utama adalah perkembangan manusia, baik sebagai individu maupun dalam interaksinya dengan yang lain. Untuk mengidentifikasi dan menganalisis kecenderungan-kecenderungan tersebut diperlukan bantuan dari para ahli disiplin ilmu. Dalam pemecahan problema sosial dan membuat kebijaksanaan sosial diperlukan musyawarah dengan warga masyarakat.
Para ahli kurikulum yang berorientasi ke masa depan menyarankan agar isi kurikulum difokuskan pada ; penggalian sumber-sumber alam dan bukan alam, populasi, kesejahteraan masyarakat, masalah air, akibat pertambahan penduduk, ketidakseragaman pemanfaatan sumber-sumber alam, dan lain-lain.
Pandangan rekonstruksi sosial berkembang karena keyakinannya pada kemampuan manusia untuk membangun dunia yang lebih baik. Juga penekanannya tentang peranan ilmu dalam memecahkan masalah-masalah sosial. Beberapa kritikus pendidikan menilai pandangan ini sukar ditetapkan langsung dalam kurikulum (pendidikan). Penyebabnya adalah interpretasi para ahli tentang perkembangan dan masalah-masalah sosial berbeda. Kemampuan warga untuk ikut serta dalam pemecahan masalah juga bervariasi.
G. Konsep Dasar Kurikulum Humanistik
Munculnya teori pendidikan empiristik merupakan cikal bakal dari munculnya pendidikan humanis yang kemudian diikuti dengan kemunculan kurikulum humanistik, hal ini dikarenakan sama-sama mengakui bahwa dalam setiap diri manusia tedapat potensi, dan potensi itulah yang akan dikembangkan melalui pendidikan. Pendidikan humanistik merupakan model pendidikan yang berorientasi dan memandang manusia sebagai manusia (humanisasi), yakni makhluk ciptaan Tuhan dengan fitrahnya. Maka manusia sebagai makhluk hidup, ia harus mampu melangsungkan, mempertahankan, dan mengembangkan hidupnya. Maka posisi pendidikan dapat membangun proses humanisasi, artinya menghargai hak-hak asasi manusia, seperti hak untuk berlaku dan diperlakukan dengan adil, hak untuk menyuarakan kebenaran, hak untuk berbuat kasih sayang, dan lain sebagainya.
Pendidikan humanistik, diharapkan dapat mengembalikan peran dan fungsi manusia yaitu mengembalikan manusia kepada fitrahnya sebagai sebaik-baik makhluk. Maka, manusia “yang manusiawi” yang dihasilkan oleh pendidikan yang humanistik diharapkan dapat mengembangkan dan membentuk manusia berpikir, berasa dan berkemauan dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan yang dapat mengganti sifat individualistik, egoistik, egosentrik dengan sifat kasih sayang kepada sesama manusia, sifat menghormati dan dihormati, sifat ingin memberi dan menerima, sifat saling menolong, sifat ingin mencari kesamaan, sifat menghargai hak-hak asasi manusia, sifat menghargai perbedaan dan sebagainya. Kurikulum merupakan aspek pendidikan yang prinsipil, sebagai turunan dari tujuan, cita-cita atau orientasi pendidikan nasional , sehingga kurikulum menjadi peran yang sangat besar dalam pendidikan. Ada banyak model kurikulum yang berkembang dalam dunia pendidikan, ada banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan kurikulum diantaranya adalah ; kebutuhan zaman, pengaruh sosial politik, dan lain sebaginya. Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa kurikulum humanistik berawal dari aliran pendidikan empiristik kemudian lahirlah pendidikan humanis dan lahir pula kurikulum humanistik, sehingga kurikulum humanistik dikembangkan oleh para ahli pendidikan humanis, yang mana kurikulum ini berdasarkan konsep aliran pendidikan pribadi ( Personalized Education ) yaitu Jhon Dewey ( Progressive Education ) dan J.J. Rousseau ( Romantic Education ) . yang mana aliran ini lebih memberikan tempat kepada siswa, artinya bahwa aliran ini beranggapan bahwa manusia adalah yang pertama dan utama dalam pendidikan, manusia adalah subyek sekaligus obyek dalam pendidikan, dan juga manusia memiliki potensi , kekuatan dan kemampuan dalam dirinya bukan seperti yang dikatakan oleh para nativistik bahwa manusia tak ubahnya gelas kosong yang harus diisi oleh guru, para humanis juga menganggap bahwa manusia atau individu merupakan suatu kesatuan yang utuh dan menyeluruh ( gestalt), sehingga berangkat dari sini, pendidikan diarahkan kepada membina manusia yang utuh bukan saja segi fisik dan inteletual tetapi juga segi sosial dan afektif.
Dalam pendidikan humanis juga ditekankan bagaimana siswa dapat memperluas kesadaran diri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan, ini semua merupakan sebuah solusi dari semakin jauhnya pendidikan dari realitas sosial, oleh karena itu pendidikan humanis berusaha untuk mengembalikan pendidikan kepada realitas sosila dengan menanamkan nilai – nilai sosial dalam proses pendidikan. Ada beberapa aliran yang termasuk dalam pendidikan humanis yaitu pendidikan: konfluen, kritikisme radikal dan mistikisme modern . Kurikulum konfluen dikembangkan oleh para ahli pendidikan konfluen yang ingin menyatukan segi-segi afektif ( sikap, perasaan, nilai ) dengan segi-segi kognitif dan pendidikan konfluen menekankan keutuhan pribadi, individu harus merspons secara utuh, akan tetapi pendidikan konfluen kurang menekankan pengetahuan yang mengandung segi afektif, menurut mereka kurikulum tidak menyiapkan pendidikan tentang sikap, perasaan, dan nilai yang harus dimiliki murid – murid, kurikulum hendaknya mempersiapkan berbagai alternatif yang dapat dipilih murid – murid dalam proses bersikap dan berperasaan dan memberi pertimbangan nilai , yaitu dengan mengajak siswa untuk menyatakan pilihan dan mempertanggung jawabkan sikap – sikap, perasaan – perasaan dan pertimbangan nilai yang telah dipilihnya.
Ada beberapa ciri kurikulum konfluen diantaranya adalah :
1. Partisipasi, kurikulm ini menekankan partisipasi murid dalam belajar, kegiatan belajar adalah belajar bersama.
2. Integrasi, melaui partisipasi dalam berbagai kegiatan kelompok terjadi interaksi, interpenetrasi, dan integrasi dari pemikiran, perasaan, dan juga tindakan.
3. Relevansi, kurikulum berupaya melakukan kontekstualisasi dengan kebutuhan di zamannya, dan juga kebutuhan siswa baik minat dan bakat.
4. Pribadi anak, kurikulum ini juga berupaya mengakomodasi dan menempatkan siswa di posisi utama, sehingga siswa dapat mengembangkan danb mengaktualisasikan segala potensi dirinya.
5. Tujuan, pendidikan ini bertujuan menegmabangkan pribadi yang utuh, yang serasi dengan dirinya maupun lingkungan.
Dasar kurikulum konfluen adalah psikologi gestalt begitu juga prinsip pengajarannya menerapkan terapi gestalt yang menekankan keterbukaan, kesadaran, keunikan, kesatuan dan keseluruhan dan tanggung jawab pribadi
Krikisme Radikal bersumber dari aliran naturalisme atau romantisme Rousseau, mereka memandang pendidikan sebagai upaya untuk membantu anak menemukan dan mengembangkan sendiri segala potensi yang dimilikinya , sedangkan Mistikisme modern adalah aliran yang menekankan latihan dan pengembangan kepekaan perasaan, kehalusan budi pekerti, melalui sensitivity training, yoga, meditasi, dan sebagainya .

H. Karakteristik Kurikulum Humanistik
Kurikulum humanistik memiliki beberapa karakteristik yang tidak lepas dari karakteristik pendidikan humanis, diantaranya adalah :
1. Adanya hubungan yang harmonis antara guru dan siswa.
Untuk membangun suasana belajar yang baik, hubungan antara guru dan siswa harus pula dibangun seharmonis mungkin, sehingga guru tidak terkesan menakutkan, karena pengaruh psikis sangat mempengaruhi daya tangkap siswa dalam belajar, jika kita lihat fenomena pembelajaran disekolah, ada istilah guru killer ataupun dosen killer, ini merupakan bukti bahwa ternyata masih ada dalam proses pembelajaran yang mana guru atau dosen yang ditakuti oleh para siswa atau mahasiswa, dan berimplikasi terhadap daya tangkap siswa.
2. Integralistik
Maksudnya adalah dalam kurikulum humanistik menekankan kesatuan perilaku bukan saja yang bersifat intelektual ( Kognitif) tetapi juga emosional dan tindakan, ini merupakan komitment dari pendidikan humanis yang mana berupaya untuk mengembalikan pendidikan kepada realitas sosial.
3. Totalitas
Maksudnya adalah kurikulum humanistik harus mampu memberikan pengalaman yang menyeluruh ( totalitas ) , bukan terpenggal – penggal ( parsial ).
Model Evaluasi tidak ada kriteria pencapaian. Seperti yang dijelaskan diatas bahwa kurikulum menekankan totalitas, oleh karena itu dalam model evaluasi yang dilakukan tidak ada kriteria pencapaian, karena kurikulum ini lebih menekankan proses bukan hasil, jika kita melihat fenomena UNAS dalam pendidikan kita di Indonesia, kriteria pencapaian yang diformat dalam UNAS sangat tidak humanis, karena hanya menitik beratkan kepada aspek kognitif sehingga keberhasilan pendidikan hanya di nilai dari angka bukan sikap, walaupun dalam KTSP format penilaian menggunakan aspek sikap. Tentunnya hal ini bertentangan dengan pendidikan humanis yang berorientasi terhadap pengembangan potensi manusia.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari uraian makalah diatas maka dapat ditarik kesimpulan. Dalam dunia pendidikan terdapat empat aliran yang sangat berpengaruh salah satunya adalah aliran interaksionis yang mempunyai metode dan konsep kurikulum yang berbeda dengan aliran yang lain metode dan konsep kurikulum aliran interaksionis sering disebut dengan rekonstruksi social.
1. Kurikulum rekonstruksi sosial ini mempunyai latar belakang yang sangat panjang yang sudah dijelaskan diatas dan dilengkapi dengan pandangan para tokoh rekonstrusi sosial yang selalu memberikan kontribusi dan perhatian terhadap dunia ini terutama dalam dunia pendidikan. Kurikulum rekonstruksi sosial lebih memusatkan perhatian pada problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat. Kurikulum rekonstruksi sosial mempunyai pandangan bahwa pendidikan bukan upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama, interaksi, kerja sama antara sisawa dengan siswa, siswa dengan guru maupun interaksi siswa dengan lingkungan sekitar. Tujuan dari kurikulum rekonstruksi sosial ini untuk menciptakan manusia atau peserta didik mampu memecahkan problema-problema yang dihadapinya dalam masyarakat menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik.
Kurikulum rekonstruksi sosial mempunyai desain yang tentunya berbeda dengan kurikulum lain, desain kurikulum rekonstruksi sosial mempunyai bebrapa ciri antara lain:
a. Asumsi
b. masalah-maslah sosial yang mendesak
c. pola-pola organisasi
Sedangkan untuk komponen-komponen kurikulum rekonstruksi sosial terbagi menjadi tiga yakni:
a. Tujuan dan isi kurikulum yang didalmnya mencakup mengadakan survei, mengadakan studi tentang hubungan antara program, mengadakan studi latar belakang, mengkaji praktek, memantapkan rencana, dan mengevaluasi semua rencana.
b. Metode yang bertujuan untuk mencari keselarasan antara tujuan-tujuan nasional dengan tujuan siswa.
c. Pelaksanaan pengajaran rekonstruksi sosial ini banyak dilaksanakan di daerah-daerah yang tergolong belum maju dan tingkat ekonominya juga belum tinggi.
2. Pendidikan humanistik merupakan model pendidikan yang berorientasi dan memandang manusia sebagai manusia (humanisasi), yakni makhluk ciptaan Tuhan dengan fitrahnya. Kurikulum merupakan aspek pendidikan yang prinsipil, sebagai turunan dari tujuan, cita-cita atau orientasi pendidikan nasional , sehingga kurikulum menjadi peran yang sangat besar dalam pendidikan.

B. SARAN
Dari kesimpulan diatas maka penulis dapat saran, mungkin saja dijaman sekarang ini kurikulum rekonstruksi dan humanistik digunakan, namun perlu adanya penyesuaian-penyesuaian, karena permasalahan yang dihadapi juga berbeda-beda.

DAFTAR RUJUKAN

Sukmadinata, nana syaodih, 1997. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung. PT Remaja Rosda Karya.

http://bitungsibryan.blogspot.com/2010/12/kurikulum-rekonstruksi-sosial.html

http://ndriizwitsal.blogspot.com/2011/06/model-rekonstruksi-sosial.html

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH
PRODI S1 PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI
Desember 2011

Prodi : S1 PAUD
Mata Kuliah : Antropologi

ANTROPOLOGI
1. Menurut ahli Antropolog Amerika, L.H.Morgan, ada tiga tahap perkembangan kebudayaan manusia, yaitu savagery, barbarisme dan civilization yang melukiskan proses evolusi manusia dan masyarakat dari semua manusia dan masyarakat di dunia.
2. Antropologi adalah kajian tentang manusia dan cara-cara hidup mereka.
3. Antroplogi sebagai sebuah ilmu mengalami tahapan-tahapan dalam dalam perkembangannya. Koentjaraningrat (1986:1-5) membaginya ke dalam 4 (empat) tahap, yakni:
a) Tahap pertama, ditandai dengan tulisan tangan bangsa Eropa yang melakukan penjajahan di benua Afrika, Asia, dan Amerika pada akhir abad ke-15. Tulisan itu merupakan deskripsi keadaan bangsa-bangsa yang mereka singgahi. Deskripsi yang dituliskan mencakup adat istiadat, suku, susunan masyarakat, bahasa, dan ciri-ciri fisik. Deskripsi tersebut sangat menarik bagi masyarakat Eropa karena berbeda dengan keadaan di Eropa pada umumnya. Bahan deskripsi itu disebut juga Etnografi (Etnos berarti bangsa)
b) Tahap kedua, mereka menginginkan tulisan-tulisan atau deskripsi yang tersebar itu dikumpulkan jadi satu dan diterbitkan. Isinya disusun berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat, yaitu masyarakat dan kebudayaan manusia berevolusi dengan sangat lambat, dari tingkat rendah sampai tingkat tertinggi. Dari sinilah bangsa-bangsa digolongkan menurut tingkat evolusinya. Sekitar tahun 1860, terbit karangan yang mengaklasifikasikan berbagai kebudayaan tingkat evolusinya. Saat itu lahirlah antropologi.
Dengan demikian pada tahap kedua ini, antroplogi telah bersifat akademis. Pada tahap ini, antropologi mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitiv untuk memperoleh pengertian mengenai tingkat-tingkat perkembangan dalam sejarah evolusi dan sejarah penyebaran manusia di dunia.
c) Tahap ke tiga, antropologi menjadi ilmu yang praktis. Pada tahap ini, antropologi mempalajari masyarakat jajahan demi kepentingan kolonial. Hal ini berlangsung sekitar awal abad ke-20. Pada abad ini, antropologi semakin penting untuk mengukuhkan dominasi bangsa-bangsa Eropa Barat di daerah jajahannya. Dengan antropologi, bangsa Eropa mempelajari dan tahu bagaimana menghadapi masyarakat daerah jajahannya. Selain itu, bangsa–bangsa terjajah pada umumnya belum sekompleks bangsa Eropa Barat. Oleh karena itu, mempelajari bangsa-bangsa terjajah bagi bangsa Eropa dapat menambah pengertian mereka tentang masyarakat mereka sendiri (Bangsa Eropa Barat) yang kompleks.
d) Tahap ke empat, antropologi berkembang sangat luas, baik dalam akurasi bahan pengetahuanya maupun ketajaman metode-metode ilmiahnya. Hal ini berlangsung sekitar pertengahan abad ke-20. Sasaran penelitian antropologi di masa ini bukan lagi suku bangsa primitiv dan bangsa Eropa Barat, tapi beralih pada penduduk pedesaan, baik mengenai keanekaragaman fisik, masyarakat, maupun kebudayaannya termasuk suku bangsa di daerah pedesaan di Amerika dan Eropa Barat itu sendiri, peralihan sasaran penelitian itu terutama disebabkan oleh munculnya ketidaksenangan terhadap penjajahan dan makin berkurangnya masyarakat yang dianggap primitiv.
4. Menurut R. Bedediet (Harsojo,1984:1) perhatian ilmu pengetahuan ini ditujukan kepada sifat khusus badaniah dan cara produksi tradisi serta nilai-nilai yang membuat pergaulan hidup yang satu berbeda dari pergaulan hidup lainnya.
5. Menurut William A. Havilan Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisai yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
6. Menurut David Hunter Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang manusia.
7. Menurut Koentjaraningrat Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk pada fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.
Dari definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antroplogi yaitu sebuah ilmu yanag mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berperilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnnya berbeda-beda.
8. Antropologi pendidikan merupakan sebuah kajian sistematik, tidak hanya mengenai praktek pendidikan dalam perspektif budaya, tetapi juga tentang asumsi yang dipakai antropologi terhadap pendidikan dan asumsi yang dicerminkan oleh praktek-praktek pendidikan. (Imran Manan dalam Zamzami, http://Izamzami.multiply.com/reviews/item/s)3)
9. Menurut Shomad (2009:1), antropologi pendidikan mengkaji penggunaan teori-teori dan metode yang digunakan oleh para antropolog serta pengetahuan khususnya yang berhubungan dengan kebutuhan manusia atau masyarakat. Dengan demikian, antropologi pendidikan bukan menghasilkan ahli-ahli antropologi melainkan menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang pendidikan melalui perspektif antropologi.
10. Pendidikan dapat diperoleh melalui lembaga formal dan informal. Penyampaian kebudayaan melalui lembaga informal tersebut dilakukan semenjak kecil di dalam lingkungan keluarganya. Dalam masyarakat, pendidikan memiliki fungsi yang sangat besar dalam memahami kebudayaan sebagai satu keseluruhan.
11. Antropologi pendidikan dihasilkan melalui teori khusus dan percobaan yang terpisah dengan kajian yang sistematis mengenai praktek pendidikan dalam perspektif budaya, sehingga antropologi menyimpulkan bahwa sekolah merupakan sebuah benda budaya yang menjadi skema nilai-nilai dalam membimbing masyarakat.
12. Ralphlinton dalam Shomad (2009:3) menganggap kebudayaan adalah warisan sosial. Warisan sosial tersebut mempunyai dua fungsi. Pertama, fungsi bagi penyesuaian diri dengan masyarakat. Kedua, fungsi bagi penyesuaian diri dengan lingkungan.
13. Shomad (2009:3-4), menjelaskan implementasi pendidikan sebagai penyesuaian diri dengan masyarakat, lingkungan dan kebudayaan sebagai bentuk ruang lingkup antroplogi pendidikan berlangsung dalam Proses sosialisasi, proses Enkulturasi, proses Internalisasi.
14. Antropologi pendidikan dihasilkan melalui teori khusus dan percobaan yang terpisah dengan kajian yang sistematis mengenai praktek pendidikan dalam prespektif budaya, sehingga antropolog menyimpulkan bahwa sekolah merupakan sebuah benda budaya yang menjadi skema nilai-nilai dalam membimbing masyarakat. Namun ada kalanya sejumlah metode mengajar kurang efektif dari media pendidikan sehingga sangat berlawanan dengan data yang didapat di lapangan oleh para antropolog. Tugas para pendidik bukan hanya mengeksploitasi nilai kebudayaan namun menatanya dan menghubungkannya dengan pemikiran dan praktek pendidikan sebagai satu keseluruhan.
15. Makna kebudayaan, secara sederhana berarti semua cara hidup (ways of life) yang telah dikembangkan oleh anggota masyarakat. Dari prespektif lain kita bisa memandang suatu kebudayaan sebagai perilaku yang dipelajari dan dialami bersama (pikiran, tindakan, perasaan) dari suatu masyarakat tertentu termasuk artefak-artefaknya, dipelajari dalam arti bahwa perilaku tersebut disampaikan (transmitted) secara sosial, bukan diwariskan secara genetis dan dialami bersama dalam arti dipraktekkan baik oleh seluruh anggota masyarakat atau beberapa kelompok dalam suatu masyarakat.
16. Pada dasarnya gejala kebudayaan dapat diklasifikasikan sebagai kegiatan/aktivitas, gagasan/ide dan artefak yang diperoleh, dipelajari dan dialami. Kebudayaan dapat diklasifikasikan atas terknologi sebagai alat-alat yang digunakan, organisasi sosial sebagai kegiatan institusi kebudayaan dan ideologi yang menjadi pengetahuan atas kebudayaan tersebut. Menurut R. Linton, kebudayaan dapat diklasifikasikan atas:
a) Universals: pemikiran-pemikiran, perbuatan, perasaan dan artefak yang dikenal bagi semua orang dewasa dalam suatu masyarakat.
b) Specialisties: gejala yang dihayati hanya oleh anggota kelompok sosial tertentu.
c) Alternatives: gejala yang dihayati oleh sejumlah individu tertentu seperti golongan profesi.
17. Kebudayaan merupakan gabungan dari keseluruhan kesatuan yang ada dan tersusun secara unik sehingga dapat dipahami dan mengingat masyarakat pembentuknya. Setiap kebudayaan memiliki konfigurasi yang cocok dengan sikap-sikap dan kepercayaan dasar dari masyarakat, sehingga pada akhirnya membentuk sistem yang interdependen, dimana koherensinya lebih dapat dirasakan daripada dipikirkan pembentuknya. Kebudayaan dapat bersifat sistematis sehingga dapat menjadi selektif, menciptakan dan menyesuaikan menurut dasar-dasar dari konfigurasi tertentu. Kebudayaan akan lancar dan berkembang apabila terciptanya suatu integrasi yang saling berhubungan.
18. Dalam kebudayaan terdapat subsistem yang paling penting yaitu foci yang menjadi kumpulan pola perilaku yang menyerap banyak waktu dan tenaga. Apabila suatu kebudayaan makin terintegrasi maka fokus tersebut akan makin berkuasa terhadap pola perilaku dan makin berhubungan fokus tersebut satu dengan yang lainnya dan begitu pula sebaliknya. Kebudayaan akan rusak dan bahkan bisa hancur apabila perubahan yang terjadi terlalu dipaksakan, sehingga tidak sesuai dengan keadaan masyarakat tempat kebudayaan tersebut berkembang. Perubahan tersebut didorong oleh adanya tingkat integrasi yang tinggi dalam kebudayaan. Apabila tidak terintegrasi maka kebudayaan tersebut akan mudah menyerap serangkaian inovasi sehingga dapat menghancurkan kebudayaan itu sendiri.
19. Studi antropologi melihat perkembangan daur hidup manusia, mulai dari masa bayi, masa penyapihan, masa kanak-kanak, masa remaja, masa puber, masa sesudah menikah, masa kehamilan, masa lanjut usia, dll. Pada masa peralihan antara satu tingkat kehidupan ke tingkat berikutnya, biasanya diadakan pesta atau upacara dan sifatnya universal, dengan maksud bahwa seseoarang telah masuk ke dalam suatu lingkungan sosial yang baru dan lebih luas.
20. Secara umum antropologi budaya mencakup antropologi bahasa yang mengkaji bentuk-bentuk bahasa: arkeologi yang mengkaji kebudayaan-kebudayaan yang telah punah; kemudian etnologi yang mengkaji kebudayaan yang masih ada dan dapat diamati secara langsung.

Panduan Penulisan Media Parenting

1. Sistematika
a. Halaman Judul
b. Kata Pengantar
c. Pendahuluan (berisi overview/pandangan sekilas tentang materi parenting yang akan disajikan secara utuh dan ringkas);
d. Pengertian (berisi konsep dan pengertian tentang materi yang menjadi pokok bahasan)
e. Ruang Lingkup (berisi aspek-aspek atau komponen-komponen materi parenting yang menjadi pokok bahasan);
f. Pentingnya (Mengapa diperlukan materi parenting yang jadi pokok bahasan, berisi apa yang terjadi bila materi parenting yang menjadi pokok bahasan tidak dikuasai dan diterapkan oleh orangtua dan keluarga anak);
g. Bagaimana guru menerapkan materi parenting yang jadi pokok bahasan pada orangtua dan keluarga siswa (berisi langkah-langkah praktis yang harus dilakukan guru kepada orangtua siswa agar orangtua siswa menerapkan materi parenting yang menjadi pokok bahasan pada anaknya di tengah keluarganya);
h. Bagaimana orangtua menerapkan materi parenting yang jadi pokok bahasan pada siswa di tengah keluarganya (berisi langkah-langkah praktis yang harus dilakukan orangtua untuk menumbuhkan materi parenting yang menjadi pokok bahasan);
i. Bagaimana orangtua dan guru mengevaluasi penerapan materi parenting yang jadi pokok bahasan (berisi tentang evaluasi proses, evaluasi hasil, substansi evaluasi proses, substansi evaluasi hasil, prosedur (metode) evaluasi proses, prosedur (metode) substansi evaluasi hasil);
j. Rangkuman/summarize (berisi ringkasan tentang materi dari awal sampai akhir. Dibanding dengan Pendahuluan/overview, ringkasan lebih rinci dan mendalam);
k. Pendalaman (berisi tes yang bisa mengungkap pemahaman pembaca (guru) tentang materi yang disajikan, bentuk tes baik berupa pertanyaan terbuka atau tertutup dengan jawaban pilihan ganda;
l. Balikan Hasil Pendalaman (berisi kunci jawaban yang benar dari tes yang disajikan dalam pendalaman serta balikan bagi pembaca, apa yang telah bisa dicapai dengan skor dan jawaban yang telah diberikan serta tindak lanjut apa yang perlu dilakukan pembaca, baik yang telah menguasai materi yang disajikan maupun belum mencapai tingkat pemahaman yang memadai;
2. Bahasa yang digunakan bersifat sederhana, mudah dimengerti;
3. Materi dan contoh-contoh diambilkan dari permasalahan pendidikan anak oleh keluarga dalam kehidupan sehari-hari, penerapannya juga berupa langkah-langkah praktis;
4. Bila memiliki foto-foto atau gambar ilustrasi yang relevan dengan pokok bahasan mohon dilampirkan;
5. Naskah akan diedit agar terjadi keseragaman dan kebersinambungan dengan naskah-naskah materi parenting yang lain;
6. Kertas ukuran setengah folio (8,5” x 6,5”), huruf arial/comic sans ukuran 10, spasi 1, kecuali untuk judul dan sub judul huruf bisa lebih besar; naskah sekitar 20 – 30 halaman (termasuk gambar/ilustrasi, kalau ada);

Contoh Sistematika

Contoh Judul Kemampuan Materi parenting yang dibahas:
Menjadikan Anak Berpikir Kritis
Isi meliputi:
• Pengantar
• Pendahuluan
• Apa Itu Kemampuan Berpikir Kritis?
• Meliputi Apa saja Kemampuan Berpikir Kritis itu?
1. Kemampuan Menganalisis Permasalahan untuk Menemukan Akar Permasalahan;
2. Kemampuan Menemukan Alternatif Pemecahan secara Kreatif, Sistematis dan Efektif
3. Kemampuan Memilih Alternatif Pemecahan Permasalahan yang Terbaik
4. Kemampuan Menyiapkan dan Mengorganisasi Pelaksanaan Alternatif Pemecahan yang Dipilih
5. Keberanian untuk Melaksanakan Alternatif Pemecahan yang Dipilih
6. Kemampuan untuk Mengevaluasi Tindakan Alternatif Pemecahan yang Sedang dan Telah Dilaksanakan
• Mengapa diperlukan Kemampuan Berpikir Kritis?
• Apa yang Perlu Dilakukan orangtua kepada anaknya dalam keluarga untuk Menumbuhkan Kemampuan Berpikir Kritis Anak?
• Apa yang Perlu Dilakukan Orangtua dan keluarga pada anaknya yang Mengalami Kesulitan utk Menumbuhkan Kemampuan Berpikir Kritis?
• Apa yang Perlu Dilakukan Guru kepada Orangtua Siswa untuk membantu menumbuhkan Kemampuan Berpikir Kritis?
• Bagaimana mengevaluasi Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis?
1. Evaluasi Proses Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis
2. Evaluasi Hasil Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis
3. Substansi Evaluasi Proses Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis
4. Substansi Evaluasi Hasil Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis
5. Prosedur Evaluasi Proses Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis
6. Prosedur Evaluasi Hasil Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis
Rangkuman
Pendalaman
Balikan Hasil Pendalaman
Daftar Pustaka

STRATEGI PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN
UNTUK ANAK USIA DINI

MAKALAH
Di susun untuk memenuhi mata kuliah
“Strategi Pembelajaran Anak Usia Dini”
Yang Dibina Oleh Drs. I Wayan Sutama, M.Pd.

KELOMPOK 9
Binti Sulistiorini

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH
PRODI S1 PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI
Desember 2011
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah tugas mata kuliah Strategi Pembelajaran Anak Usia Dini yang berjudul “Strategi Pengembangan Kepribadian Untuk Anak Usia Dini” dengan baik.
Penulis menyadari sepenuhnya atas segala kekurangan pada makalah ini dan penulis dengan senang hati dan akan menerima saran serta kritik demi kesempurnaan makalah ini. Atas segala saran dan bantuan, penulis sampaikan terima kasih.

Blitar, Desember 2011

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman Judul……………………………………………………………….……. i
Kata Pengantar…………………………………………………………………… ii
Daftar Isi…………………………………………………………………………. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah……………………………………………………1
B. Rumusan Masalah………………………………………………………….1
C. Tujuan Penulisan……………………………………………………………2
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Kepribadian Anak Usia Dini
B. Perkembangan Kepribadian Anak Usia Dini
C. Hal-Hal Yang Perlu Dikembangkan Untuk Menunjang Kepribadian Anak Usia Dini
D. Penerapan Kepribadian Di Lembaga-Lembaga Anak Usia Dini
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan…………………………………………………………………………………….13
B. Saran………………………………………………………………………………..13
DAFTAR RUJUKAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam Ilmu Kesehatan Anak istilah pertumbuhan dan perkembangan menyangkut semua aspek kemajuan yang dicapai oleh jasad manusia dari konsepsi sampai dewasa.
Faktor penentu tumbuh kembang adalah faktor genetik herediter konstitusional, yang menentukan potensi bawaan anak, dan factor lingkungan yang menentukan tercapai atau tidaknyanya potensi tersebut.
Kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang digolongkan menjadi tiga yaitu kebutuhan fisis-bomedis (‘asuh’), berupa pangan, sandang, papan, perawatan kesehatan dasar, hygiene, sanitasi,kesegaran jasmani, rekreasi; kebutuhan emosi / kasih sayang (‘asih’); dan kebutuhan akan stimulasi mental (‘asah’) yang merupakan cikal bakal proses pembelajaran (pendidikan dan pelatihan) pada anak.
Jenis tumbuh kembang dibedakan menjadi tiga, yaitu tumbuh kembang fisik, intelektual, dan sosial emosional. Tumbuh kembang fisis meliputi perubahan dalam bentuk besar dan fungsi organisme atau individu. Tumbuh kembang intelektual berkaitan dengan kepandaian berkomunikasi dan kemampuan menangani materi yang bersifat abstrak dan simbolik, seperti berbicara, bermain, berhitung, dan membaca. Tumbuh kembang social emosional bergantung pada kemampuan bayi untuk membentuk ikatan batin, berkasih sayang, menangani kegelisahan akibat suatu frustasi, dan mengelola rangsangan agresif.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, masalah-masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian kepribadian anak usia dini?
2. Bagaimana perkembangan kepribadian anak usia dini?
3. Apa saja yang perlu dikembangkan untuk menunjang kepribadian anak usia dini?
4. Bagaimana penerapan kepribadian tersebut di lembaga-lembaga anak usia dini?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka makalah ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui pengertian kepribadian anak usia dini?
2. Mengetahui perkembangan kepribadian anak usia dini?
3. Mengetahui apa saja yang perlu dikembangkan untuk menunjang kepribadian anak usia dini?
4. Mengetahui bagaimana penerapan kepribadian tersebut di lembaga-lembaga anak usia dini?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kepribadian Anak Usia Dini
1. Pengertian Kepribadian
Terdapat beberapa pengertian kepribadian menurut para ahli diantaranya sebagai berikut:
a. Yinger
Kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan system kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian instruksi.
b. M.A.W Bouwer
Kepribadian adalah corak tingkah laku social yang meliputi corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini dan sikap-sikap seseorang.
c. Cuber
Kepribadian adalah gabungan keseluruhan dari sifat-sifat yang tampak dan dapat dilihat oleh seseorang.
d. Theodore R. Newcombe
Kepribadian adalah organisasi sikap-sikap yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku.
e. Agus Sujanto dkk (2004)
suatu totalitas psikofisis yang kompleks dari individu, sehingga nampak dalam tingkah lakunya yang unik.
f. Kartini Kartono dan Dali Gulo dalam Sjarkawim (2006)
sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain; integrasi karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku, minat, pendiriran, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang; segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui oleh orang lain.
g. Allport
susunan sistem-sistem psikofisik yang dinamis dalam diri individu, yang menentukan penyesuaian yang unik terhadap lingkungan. Sistem psikofisik yang dimaksud Allport meliputi kebiasaan, sikap, nilai, keyakinan, keadaan emosional, perasaan dan motif yang bersifat psikologis tetapi mempunyai dasar fisik dalam kelenjar, saraf, dan keadaan fisik anak secara umum.
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kepribadian merupakan suatu susunan sistem psikofisik (psikis dan fisik yang berpadu dan saling berinteraksi dalam mengarahkan tingkah laku) yang kompleks dan dinamis dalam diri seorang individu, yang menentukan penyesuaian diri individu tersebut terhadap lingkungannya, sehingga akan tampak dalam tingkah lakunya yang unik dan berbeda dengan orang lain.
Juga bukan sebagai bakat kodrati, melainkan terbentuk oleh proses sosialisasi. kepribadian merupakan kecenderungan psikologis seseorang untuk melakukan tingkah laku social tertentu, baik berupa perasaan, berpikir, bersikap, dan berkehendak maupun perbuatan.

2. Struktur Kepribadian
Dalam teori psikoanalitik, struktur kepribadian manusia itu terdiri dari id, ego dan superego.
a. Id
Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”.
b. Ego
Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego.
c. Superego
Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik- buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan ego.
Gerald Corey menyatakan dalam perspektif aliran Freud ortodoks, manusia dilihat sebagai sistem energi, dimana dinamika kepribadian itu terdiri dari cara-cara untuk mendistribusikan energi psikis kepada id, ego dan super ego, tetapi energi tersebut terbatas, maka satu diantara tiga sistem itu memegang kontrol atas energi yang ada, dengan mengorbankan dua sistem lainnya, jadi kepribadian manusia itu sangat ditentukan oleh energi psikis yang menggerakkan.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian
faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian menurut Sigmund Freud adalah antara lain:
a. Faktor biologis & genetika (keturunan)
b. Faktor pola asuh
c. Faktor lingkungan
d. Faktor pendidikan
e. Faktor pengalaman (perjalanan dan pengalaman hidup sehari-hari)

4. Tahap-tahap kepribadian
Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap.
Freud menyatakan kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun (dalam A.Supratika), yaitu:
1. tahap oral
Anak memperoleh kepuasan dan kenikmatan yang bersumber pada mulutnya. Hubungan sosial lebih bersifat fisik, seperti makan atau minum susu. Objek sosial terdekat adalah ibu, terutama saat menyusu.
2. tahap anal (1-3 tahun)
Pada fase ini pusat kenikmatannya terletak di anus, terutama saat buang air besar. Inilah saat yang paling tepat untuk mengajarkan disiplin pada anak termasuk toilet training. Pada masa ini anak sudah menjadi individu yang mampu bertanggung jawab atas beberapa kegiatan tertentu.
3. tahap palus: 3-6 tahun dan tahap laten: 6-12 tahun
Anak mulai tertarik dengan perbedaan anatomis antara laki-laki dan perempuan. Pada anak laki-laki kedekatan dengan ibunya menimbulkan perasaan sayang yang disebut Oedipus Complex. Sedangkan pada anak perempuan disebut Electra Complex.
4. tahap genetal: 12-18 tahun
Alat-alat reproduksi sudah mulai masak, pusat kepuasannya berada pada daerah kelamin. Energi psikis (libido) diarahkan untuk hubungan-hubungan heteroseksual. Rasa cintanya pada anggota keluarga dialihkan pada orang lain yang berlawan jenis.
5. tahap dewasa, yang terbagi dewasa awal, usia setengah baya dan usia senja.

B. Hal-Hal Yang Perlu Dikembangkan Untuk Menunjang Kepribadian Anak Usia Dini
1. Nilai moral
Kegiatan Belaja Pola Orientasi Moral Anak Taman Kanak-kanak Pada usia Taman Kanak-kanak anak telah memiliki pola moral yang harus dilihat dan dipelajari dalam rangka pengembangan moralitasnya. Orientasi moral diidentifikasikan dengan moral position atau ketetapan hati, yaitu sesuatu yang dimiliki seseorang terhadap suatu nilai moral yang didasari oleh cognitive motivation aspects dan affective motivation aspects.
Anak usia dini pada usia ini amasih sangat labil, mudah terbawa arus, dan mudah terpengaruh. Mereka sangat membutuhkan bimbingan, proses latihan, serta pembiasaan yang terus-menerus. Moralitas anak Taman Kanak-kanak dan perkembangannya dalam tatanan kehidupan dunia mereka dapat dilihat dari sikap dancara berhubungan dengan orang lain (sosialisasi), cara berpakaian dan berpenampilan, serta sikap dan kebiasaan makan. Demikian pula, sikap dan perilaku anak dapat memperlancar hubungannyadengan orang lain. Penanaman moral kepada anak usia Taman Kanak-kanak dapat dilakukandengan berbagai cara dan lebih disarankan untuk menggunakan pendekatan yang bersifatindividual, persuasif, demokratis, keteladanan, informal, dan agamis. Beberapa program yang dapat diterapkan di Taman Kanak-kanak dalam rangka menanamkan dan mengembangkan perilaku moral anak di antaranya dengan bercerita, bermain peran, bernyanyi, mengucapkan sajak, dan program pembiasaan lainnya.
Pengembangan Kemampuan Kepribadian/Moral bagi Anak Taman Kanak-kanak Perkembangan moral dan etika pada diri anak Taman Kanak-kanak dapat diarahkan pada pengenalan kehidupan pribadi anak dalam kaitannya dengan orang lain. Misalnya, mengenalkandan menghargai perbedaan di lingkungan tempat anak hidup, mengenalkan peran gender dengan orang lain, serta mengembangkan kesadaran anak akan hak dan tanggung jawabnya. Puncak yang diharapkan dari tujuan pengembangan moral anak Taman Kanak-kanak adalah adanyaketerampilan afektif anak itu sendiri, yaitu keterampilan utama untuk merespon orang lain dan pengalaman-pengalaman barunya, serta memunculkan perbedaan-perbedaan dalam kehidupanteman disekitarnya. Hal yang bersifat substansial tentang pengembangan moral anak usia TamanKanak-kanak di antaranya adalah pembentukan karakter, kepribadian, dan perkembangansosialnya. Guru Taman Kanak-kanak harus menguasai strategi pengembangan emosional, sosial,moral dan agama bagi anak Taman Kanak-kanak. Juga, guru Taman Kanak-kanak perlu untuk senantiasa mengadakan penelitian tentang pengembangan dan inovasi dalam bidang pendidikan bagi anak usia prasekolah.
2. Nilai agama
Agama adalah aturan dan wahyu Tuhan yang sengaja diturunkan agar manusia dapat hidup teratur, damai, sejahtera, bermartabat, dan bahagia baik dunia maupun akhirat. Ajaran agama juga berisi seperangkat norma yang akan mengantarkan manusia pada suatu peradaban. Dengan demikian eksistensi agama merupakan kebutuhan primer bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, agama sangat perlu ditanamkan sejak dini kepada anak-anak didik dalam berbagai institusi pendidikan, baik formal maupun non formal. Program PAUD/Taman Kanak-kanak merupakan lembaga pendidikan yang pertama dalam lingkungan sekolah, keberadaannya sangat strategis untuk menumbuhkan jiwa keagamaan anak-anak agar mereka menjadi orang-orang yang taat, terbiasa berbuat baik, dan peduli terhadap segala aturan agama yang diajarkan kepadanya. Dalam kaitan ini guru dan orang tua harus terampil menyampaikan hal ini kepada anak didiknya agar tertanam dalam jiwa mereka kebutuhan akan nilai-nilai agama (Hidayat, 2007 : 7.3).
Menurut Abdullah Nasih Ulwan, esensi pengembangan moral dan nilai-nilai agama di antaranya meliputi:
a. pendidikan iman dan ibadah, artinya sejak usia dini masalah keimanan sudah harus tertanam dengan kokoh pada diri anak, demikian pula praktek-praktek ibadah juga sudah mulai dibiasakan oleh pendidik dilatihkan pada anak
b. pendidikan akhlak (moral), artinya sejak dini anak sudah harus dikenalkan dan dibiasakan untuk bertutur kata, bersikap, dan perilaku secara sopan serta dikenalkan keutamaan-keutamaan sifat terpuji (Yani dkk, 2002 : 118).

Program pembentukan perilaku merupakan kegiatan yang secara terus-menerus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari anak di Taman Kanak-kanak. Melalui program ini diharapkan anak dapat melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Pembentukan perilaku melalui pembiasaan yang dimaksud adalah meliputi pembentukan moral-agama, pancasila, perasaan/emosi, hidup bermasyarakat, dan disiplin. Adapun tujuannya adalah untuk mempersiapkan anak sedini mungkin dalam mengembangkan sikap dan perilaku yang didasari oleh nilai-nilai moral-agama dan pancasila. Sedangkan kompetensi yang ingin dicapai pada aspek pengembangan moral dan nilai-nilai agama adalah kemampuan melakukan ibadah, mengenal Tuhan, percaya akan ciptaan Tuhan, dan mencintai sesama (Hidayat, 2007 : 5.13).
3. Social emosional
Perkembangan sosial emosional meliputi perkembangan dalam hal emosi kepribadian, dan hubungan interpersonal (Papua, dkk, 2004) . Perkembangan sosial emosional berkisar tentang proses sosialisasi, yaitu proses ketika anak mempelajari nilai- nilai dan perilaku yang diterima dari masyarakat (Dodge, dkk, 2002).
Dalam periode pra sekolah, anak mampu mengembangkan diri dengan berbagai orang dari berbagai tatanan, yaitu keluarga, sekolah dan teman sebaya. Perkembangan sosial biasanya dimaksudkan, sebagai perkembangan tingkah laku anak dalam menyesuaikan diri dengan aturan- aturan yang berlaku di dalam masyarakat dimana anak berada.
Perkembangan sosial diperoleh dari kematangan dan kesempatan belajar dari berbagai respon lingkungan terhadap anak, pada usia dua tahun anak- anak mulai memantapkan identitas dirinya dan selalu ingin menunjukan kemauan dan kemampuannya dengan berbagai pertanyaan. Tidak jarang pada saat tersebut anak- anak dinilai sebagai anak keras kepala.
Di usia ini anak mengalami banyak perubahan baik fisik dan mental, dengan karakteristik sebagai berikut:
a. Berkembangnya konsep diri, secara perlahan pemahamannya tentang kehidupan berkembang. Anak mulai menyadari bahwa dirinya, identitasnya karena kesadarannya itu menunjukan “Akunya” (eksitensi diri). Segalanya ingin ia coba, ia merasa dirinya bisa.
b. Munculnya egosentris, diusia ini anak berfikir bahwa segala yang ada dan tersedia adalah untuk dirinya, semuanya ada untuk memenuhi kebutuhannya. Kuatnya egosentris ini mempengaruhi perilaku anak dalam bermain, saat bermain anak enggan untuk meminjamkan mainannya pada anak lain juga menolak mengembalikan mainan pinjamannya. Wajarlah jika saat seperti ini terjadi konflik dengan temannya. Pada saat mengalami konflik ini anak belum bisa menyelesaikannya secara efektif, ia cenderung menghindar dan menyalahkan orang lain.
c. Rasa ingin tahu yang tinggi, rasa ingin tahu meliputi berbagai hal termasuk seksual sehingga ia selalu bereksplorasi dalam apapun dimanapun.
d. Imajinasi yang tinggi, imajinasi yang tinggi di usia ini sangat mendominasi setiap perilakunya, sehingga anak sulit membedakan mana khayalan mana kenyataan. Ia kadang suka melebih- lebihkan cerita. Daya imajinasi ini biasanya melahirkan teman imajiner (teman yang tidak pernah ada), teman khayalan ini mampu mencurahkan segala pengalaman dan perasaannya.
e. Belajar menimbang rasa, Diusia 4 tahun minat meniru terhadap teman- temannya mulai berkembang, anak mulai bisa terlibat dalam permainan kelompok bersama teman- temannya walaupun kerap terjadi pertengkaran. Hal ini karena ia masih memikirkan dirinya sendiri. Empati anak mulai berkembang, ia mulai merasakan apa yang sedang orang lain rasakan. Jika melihat ibunya bersedih ia akan mendekati, memeluk dan membawa sesuatu yang dapat menghibur. pada masa ini anak mulai belajar konsep benar salah.
f. Munculnya control internal, Kontrol internal muncul di akhir masa usia pra sekolah, perasaan malu mulai muncul ia akan merasa malu dan bersalah jika ia melakukan perbuatan yang salah. Dengan demikian tepatnya diusia 5 tahun ia sudah siap terjun kelingkungan di luar rumah dan sudah sanggup menyesuaikan diri dengan standar perilaku yang di harapkan.
g. Belajar dari lingkungan, Anak mulai meniru apa yang sering dilakukannya ia belajar mengidentifikasi dirinya dengan model yang dilihatnya misalnya ia akan berperilaku sama persis seperti apa yang di lihatnya di TV dan ia pun akan bercita- cita sama seperti profesi orang tuanya. Jadi di usia ini lingkunganlah yang sangat berperan dalam membentuk perilakunya.
h. Berkembangnya cara berfikir, Anak mulai mengembangkan pemahamannya tentang hubungan benda antara bagian dan keseluruhan. Pemahaman konsep waktu belum berkembang sempurna anak belum bisa membedakan antara tadi pagi dan kemarin sore.
i. Berkembangnya kemampuan berbahasa, dibidang masa sebelumnya anak lebih bisa diajak berkomunikasi, ia mulai mengungkapkan keinginannya dengan bahasa verbal, namun kadang- kadang ia ingin bereksperimen dengan kata- kata yang kotor atau yang mengejutkan orang tuanya.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari makalah yang telah kami paparkan diatas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
• kepribadian merupakan suatu susunan sistem psikofisik (psikis dan fisik yang berpadu dan saling berinteraksi dalam mengarahkan tingkah laku) yang kompleks dan dinamis dalam diri seorang individu, yang menentukan penyesuaian diri individu tersebut terhadap lingkungannya, sehingga akan tampak dalam tingkah lakunya yang unik dan berbeda dengan orang lain.
• struktur kepribadian manusia itu terdiri dari id, ego dan superego.
• faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian menurut Sigmund Freud diantaranya, Faktor biologis & genetika (keturunan), Faktor pola asuh, Faktor lingkungan, Faktor pendidikan, Faktor pengalaman (perjalanan dan pengalaman hidup sehari-hari).

B. SARAN
Dari kesimpulan diatas maka kami selaku penulis dapat memberi beberapa saran, yakni: Untuk membentuk kepribadian diperlukan pengulangan-pengulangan agar anak tersebut terbiasa dan melakukan hal tersebut atas dasar kemauannya sediri

DAFTAR RUJUKAN

http://ebekunt.wordpress.com/2010/07/27/strategi-pembelajaran-untuk-anak-usia-dini/

http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/1943463-pengertian-kepribadian-menurut-para-ahli/

http://maidun-gleekapay.blogspot.com/2008/05/psikologi-perkembangan-kepribadian_06.html

http://blog.pgpaud.ac.id/tujuan-pengembangan-moral-dan-nilai-nilai-agama-pada-program-paud

http://www.anakciremai.com/2008/11/makalah-psikologi-tentang-reaksi-dan.html

MEREKA SUDAH MULAI ‘MEREKAM’

Dari artikel diatas telah diuraikan bahwa kemampuan anak merekam berkembang sangat pesat dan terdapat lima jenis daya ingat pada anak usia 2 tahun yakni:
1. daya ingat secara visual
2. daya ingat yang berhubungan dengan pendengaran
3. daya ingat yang berhubungan dengan penciuman
4. daya ingat yang berhubungan dengan gerak
5. daya ingat yang berhubungan dengan bahasa

KEMAMPUAN DAYA INGAT ANAK

Setiap anak memiliki kemempuan daya ingat yang berbeda-beda diantaranya:
1. Kemampuan antisipasi
Ketika anak menonton acara TV kesukaannya anak akan menunjukkan antusias menjelang waktu tayang acara tersebut. Bahkan jika TV lupa tidak dinyalakan, ia akan meminta untuk menyalakannya.
2. Kemampuan mendengar
Anak sudah bisa mendengar intruksi dan mampu untuk merasakan serta melaksanakan intruksi tersebut. Misalnya “tolong ambilkan sendokitu saying”, maka anak akan melakukan interusi tersebut.
3. Kemampuan mengatasi masalah
Anak menggunakan bekal pengetahuannya dari satu situasi lain yang berbeda. Begitu ia mampu untuk memasukkan potongan puzzle sesuai dengan gambarnya, ia akan mampu melakukan dengan mudah untuk kedua kalinya.
4. Kemampuan bahasa
Diawali dengan kemampuan untuk mengingatkan kembali huruf yang pernah dilihat sebelumnya, anak bisa memperluas pengertian bahasanya. Pada saat dibacakan sajak, misalnya, yang pertama diingat adalah beberapa baris huruf terakhir, tapi melalui peragaan bersama, sajak tersebut akan bisa diingat sepenuhnya.
5. Kemampuan mengenal
Walau beberapa bulan tidak bertemu kakek dan neneknya, kemampuan daya ingat akan bekerja saat anak bertemu mereka.

CERDAS SOSIAL

Ada beberapa kegiatan yang dapat mendorong kecerdasan social anak diantaranya:
1. Mengembangakan dukungan social, dukungan social diduga merupakan sumber dukungan terbesar dalam pelatihan sosialisasi. Mulai dari orang terdekat dirumah: ibu, bapak, nenek, kakek, lalu om, bude, pakde, guru, tetangga, teman-teman anak.
Media/teknik yang digunakan:
Sesering mungkin ajak anak bertemu sanak saudara, untuk melatih anak tata cara bersosialisasi, berlatih sabar menunggu orang tua bercakap-cakap, berlatih menjawab pertanyaan standar tentang siapa namanya, berapa umurnya, kelas berapa, apa hobinya, dll.
2. Membuat aturan tingkah laku, anak harus dilatih mematuhi peraturan tertulis/tidak tertulis soal tingkah laku, karena kemudahan bersosialisasi ternyata tergantung kemampuan seseorang memahami aturan. Jika ceroboh dan masa bodoh pasti tidak disukai orang, jika santun akan disukai orang.
Media/teknik yang digunakan:
Beritahu anak peraturan umum yang berlaku di tempat yang akan dikunjungi, jauh dari sebelumnya. Misalnya, sebelum berkunjung dirumah nenek yang penuh koleksi pecah belah mahal, anak sudah diberitahu, dilatih, tentang konsekwensinya jika melanggar peraturan.
3. Member tugas pekerjaan rumah, pada dasarnya anak yang aktif suka sekali disuruh bergarak. Jadi jangan sungkan/tidak percaya jika hendak meminta tolong mengerjakan sesuatu pada anak.
Media/teknik yang digunakan:
Beri tugas rutin rumah tangga kepada setiap anak, mulai usia 18 bulan ketas. Bentuk tugasnya sngat bervariasitergantung kemampuan masing-masing anak. Jadikan itu sebagai ungkapan kasih saying mereka terhadap keluarga.
4. Mencari cara penyelesaikan konflik, latihan menghargai perbedaan pendapat, lati anak untuk menyelaesaikan konflik, bukan mengadu atau menghindari konflik. “Berbeda itu indah” adalah kata kunci untuk memahami perbedaan.
Media/teknik yang digunakan:
Jika anak dating dan mengadukan konflik yang dihadapi, jangan langsung member solusi, tanyakan apa yang terjadi, bagaimana jalan keluar yang terbaik menurut ana. Bertindaklah seperti sebuah cermin, agar anak menemukan sendiri jawaban jitu untuk menyelesaikan konflik.
5. Mendorong kegiatan social di lingkungan, sikap kita terhadap kejadian yang menimpa orang lain adalah contoh bagia anak. Kepedulian kita anak memudahkan proses empati anak terhadap lingkungan, walaupun tidak langsung terkait dengan dirinya.
Media/teknik yang digunakan:
Tunjukkan dan contohkan sikap peduli setiap ada orang menderita. Siapkan uang receh untuk penegemis, jangan bersikap negative pada peminta sumbangan (jika tidak mau member katakana dengan sopan). Ajak anak ke panti asuhan/rumah jompo untuk berbagi rezeki sekaligus mensyukuri nikmat memiliki keluarga.
6. Menumbuhkan sikap ramah dan menjauhkan buruk sangka, sikap kita terhadap perbedaan akan menjadi patokan apakah kita termasuk orang yang buruk sangka atau tidak. Anak sangat mudah menangkap bahasa tubuh, bahasa verbalatau bahasa apapun yang kita pakai dalam berburuk sangka (bisik-bisik, mncibir dll)
Media/teknik yang digunakan:
Bersikaplah ramah terhadap semua orang. Jangan samakan ramah dengan lemah. Ramah tepi tetap waspada akan membuat kita disukao sekalid=gus dihormati orang lain. Hindari membicarakan kejelekan orang. Jika ingin anak waspada terhadap orang tertentu, beri tips. Misalnya: “kalau ada om itu kamu harus panggil mama ya. Nanti mama temani kami”.

Kalau aku salah omong, perbaiki dong

Anak usia 2 tahun sering banya melakukan kekeliruan ketika berbicara, ketika anak mulai bertutur anatara 6 bulan sampai 2 tahun, bunyi yang dikeluarkan cenderung merupakan tiruan sempurna terhadap lingkungannya. “apa yang ia dengar akan diucapkannya”.
Keterkaitan bahasa dan pikiran akan terbentuk ketika anak umur 2tahun atau lebih. Begitu anak mulai berpikir untuk merumuskan dan mengirimkan pesan-pesan sendiri lewat penuturan, kekeliruan berbahasa akan sangat banyak dan tak terhindarkan. Orang tua sebaiknya membantu anak batita memperbaiki kemampuan bahasanya dengan cara mengatasi masalahnya, diantaranya:
1. Kalimatnya terlalu singkat
Anak batita jarang sekali bicara dalam kalimat penuh. Mereka cenderung menggunakan kata seperlunya dan membuang kata yang tak perlu. Misalnya, dedek mamam / adek mau makan.
Memperbaikinya: perluasnya kalimat anak. Tiap kali anak mengucapkan kalimat super singkat, tanggapi dengan mengulaingi apa yang akan diucapkan dalam bentuk lengkap. Misalnya: jika anak berkata “dedek mamam”, tanggapi “oh, adeh mau makan?”
2. Penyempitan dan perluasan arti kata
Anak batita kadang melihat tiap kata hanya memiliki satu hubungan kata tunggal dengan apa yang pertama kali diasosiasikan dengan satu kata. Missal, ‘mama’ adalah orang yang pertama kali mengasuhnya, dan ‘kucing’ adalah hewan berbulu, berekor, berkaki empat yang pertama kali dikenalnya. Ketika ada makna tumpang tindih pada satu kata, anak sulit memahaminya. Misalnya, ‘mam’ juga adalah seorang ‘perempuan’, atau nenekpun adalah seorang ‘mama’ bagi orang lain. Kekeliruan ini disebut penyempitan arti kata. Kadang kala anak juga kesulitan bila kosa katanya tak cukup memedai untuk mengungkapkan pengalaman baru. Misalnya, anak mengatakan ‘kucing’ untuk menyebut najing, kambing, singa, harimau dan semua hewan yang berbulu, berkaki empat, berekor yang ditemuinya. Kekeliruan ini disebut ‘perluasan arti kata’.
Memperbaikinya: berikan sejumlah informasi akurat dan penjelasan yang memungkinkan anak untuk menata ulang dan memperluas system klasifikasi kata dalm otaknya. Misalnya, saat kita menyebut diri kita sebagai mama, tambahkan juga informasi lain, ini mama adek, namanya lisa, mama adek perempuan. Mama lisa juga punya mama, namnya eyang putri, eyang putri juga perempuan. Sedangkan untuk membantu anak memiliki kosa kata memadai untuk mengungkapkan pengalamannya, adalah mengenal berbagai pilihan kata tiap kali anak menyebutkan kata tertentu. Misalnya anak menunjuk kandang singa di kebun binatang sambil mengatakan kucing, maka tanggapan kita adalah adek mau lihat singa?
3. Keliru tata bahasa
Anak batita seringkali belum bisa menggunakan kalimat aktif (awalan me) dan pasif (awalan di). Misalnya “dedek pukul kakak” disini tidak jelas siapa yang memukul dan siapa yang dipukul.
Memperbaikinya: pahami dulu situasinya. Misalnya, “ya, betul dedek dipukul kakak”.
Perhatikan bahwa ‘bersabar’ dan ‘tak mencela’ adalah tips dalam upaya memperbaiki kekeliruan anak, anak yang selau dicela ketika salah, mungkin tak akan berbuat kesalahan, tapi mungkin dia akan berhenti bicara, dan tak ada peningkatan apapun. Sebaiknya anak yang kekeliruannya dianggap lucu, lau tak diberi penjelasan, pengembangan serta tak dibantu menyusun kata-katanya, mungkin akan keterusan.

Let’s play math!

Konsep matematika dapat diajarkan sebelum anak masuk taman kanak-kanak. Matematikan bukan hanya tentang penjumlahan, pengurangan, pembagian, perkalian atau konsep konsep rumit lainnya, ada banyak hal sederhana yang berkaitan dengan matematika yang dapat diajarkan pada anak sejak dini, namun disesuaikan juga dengan tingkat perkembangan anak
Permainan-permainan yang dapat diajarkan diantanya:
• Jumlah
Siapkan wadah plastic dan 5 buah bola kecil warna-warni. Lalu, mintalah anak anada untuk memasukkan bola-bola itu sambil menghitungnya bersama-sama.
• Tempat yang benar
Bisa menggunakan mainan kayu bongkar pasang berbentuk segitiga, lingkaran, serta persegi warna warni. Minta anak memasukkan keeping-keping ketempat yang benar sambil menjelaskan apa nama bentuk keeping tersebut.
• Meronce
Guntinglah kertas warna-warni beraneka rwarna menjadi bentuk segitiga, lingkaran, segi empat, dan beri lubang dibagian tengahnya. Gunting pula sedotan sepanjang 1 cm dan siapkan benang wol. Lalu, ajarkanlah si kecil meronce kertas bergantian dengan potongan sedotan sambil menyebutkan nama bentuknya. Setelah si kecil sudah cukup lancer, anda hanya perlu menyebutkan bentuknya, dan dialah yang meroncenya.
• Menyusun batu
Ajaklah si kecil mengumpulkan beberapa batu kerikil. Cuci bersih dan gunakan untukbermain. Caranya, anda berdua bisa menyusun bersama-sama batu-batu itu menjadi bentuk segitiga, lingkaran dan segiempat, jelaskan nama bentuknya setiap kali menyusun batu-batu itu. Setelah ia sudah cukup lancer melakukannya, ajaklah si kecil berlomba bersam-sama.
• Menggambar
Siapkan buku gambar berukuran besar atau beberapa lembar HVS serta spidol. Lalu gambarlah titik-titik yang berbentuk angka dan bentuk-bentuk segitiga, lingkaran dan segi empat, lalu minta si kecil menyambung titik- titik tersebut, sambil anda menjelaskan bentuk atau angka yang sedang ia gambar.
• Merangkai
Siapkan beberapa tangkai bunga. Ambil 5 tangkai untuk bunga merahdan 4 tangkai untuk bunga warna kuning. Lalu berikan intruksi kepada si kecil untuk memesukkan bunga-bunga satu per satu kedalam gelas berisi air, sambil menghitung bersama-sama.

KEGIATAN BEJAJAR ‘BRAIN-BASED’
UNTUK MELEJITKAN ‘MUSIC SMART’DAN ‘SOCIAL SMART’

Berikut ini beberapa cara mengembangkan kecerdasan music:
1. Menyanyikan atau memutar lagu-lagu
Putar berbagai aliran music ringan-termasuk sweet rock dan jazzy-sebagai materi awal. Sweet music dapat menambah koleksi pengetahuan si kecil.
Media/teknik yang dipakai
CD audio/kaset putar saat yang tepat, saat anak santai, sedang makan, sedang bersiap tidur.
2. Melatih kepekaan terhadap ritme
Sejak usia 1-5 tahun anak sudah dapat menikmati music. Perhatikan saat ia mendengar lagu lalu menggerakkan badan, bertepuk tangan, tersenyum atau tertawa.
Media/teknik yang dipakai
Karena lagu yang diputar tujuannya untuk didengarkan anak secara seksama, sesuaikan dengan kondisi anak.
3. Mengiringi anak belajar menyanyi awal
Ajarkan anak bersenandung/berdendang. Ini akan mengenalkan notasi padanya. Misalnya, lagu pelangi-pelangi dengan lalala lilili
Media/teknik yang dipakai
Putarkan lagu tanpa kata dan bersenandunglah bersama anak dengan gitar atau keyboard.
4. Bergerak sambil menyanyi
Bergerak bebas sambil bernyanyi gembira baik untuk latihan berekspresi
Media/teknik yang dipakai
Putarlah lagu kesukaan anak, dorong anak mengekspresikan syair-syairnya.
5. Action song
Lagu-lagu dengan aksi memang diciptakan untuk dilakonkan semua. Misalnya, lagu jari jempol sambil menunjukkan jempol.
Media/teknik yang dipakai
Rekaman lagu-lagu aksi versi lama untuk anak
6. Membuat alat music sendiri
Ajarkan anak menbuat gendang, gitar kardus, krecekan, sesudah selesai siapkan pertunjukan dengan melatih beberapa lagu andalan yang disukai semua anak. Undang anggota keluarga besar untuk menyaksikan anak unjuk kebolehan main band.
7. Kreativitas dengan music
Ajak anak menggambar sesuai music yang akan diputar. Minta mereka memilih alat gambar yang disukai dan cocok dengan beat musiknya.
Media/teknik yang dipakai
Aneka music yang pendek masa putarnya. Perdengarkan dulu lagu sesaat, lalu minta anak mulai menggambar sesuai tempo music. Untuk anak batita minta mereka menbuat titik/goresan saat tempo.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.