riniraihan

METODE/STRATEGI PENGEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL “ BERNYANYI & BERMAIN MUSIK, ROLE PLAYING”

 

TUGAS KELOMPOK

Untuk memenuhi tugas mata kuliah Kajian pengembangan Kemampuan Sosial Emosional Anank Usia Dini

Yang dibina oleh Bapak Musa Sukardi

 

Oleh :

                          Binti Sulistyorini, dkk

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH

PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Maret, 2012

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur penyusun panjatkan atas kehadirat Allah SWT , karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, penyusun dapat menyelesaikan pembuatan makalah yang berjudul ” Metode/strategi pengembangan sosial emosional melalui kegiatan menyanyi, bermain musik dan role playing” dengan baik.

Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Bapak Musa Sukardi selaku dosen mata kuliah Kajian Pengembangan Kemampuan Sosial Emosional Anak Usia Dini yang telah membimbing dalam menyelesaikan makalah ini serta teman-teman yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu memberikan saran dan motivasi.

Penyusun menyadari sepenuhnya atas segala kekurangan pada makalah ini dan sangat mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan makalah ini sehingga dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan informasi tentang metode/strategi pengembangan sosial emosional. Atas segala saran dan bantuan, penyusun ucapkan terima kasih.

 

 

 

 

 

Blitar,    Maret 2012

 

 

Penyusun

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………….. i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………. ii

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………… 1

  1. Latar Belakang………………………………………………………………………….. 1
  2. Rumusan Masalah……………………………………………………………………… 1
  3. Tujuan …………………………………………………………………………………….. 1

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pengertian Menyanyi………………………………………………………………….
  2. Pengertian Bermain Musik…………………………………………………………..
  3. Pengertian Role Playing………………………………………………………………

 

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan……………………………………………………………………………….
  2. Saran………………………………………………………………………………………..

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Stimulasi sangatlah penting dalam proses pembelajaran anak usia dini. Segala sesuatu yang diinderakan anak akan menjadi stimulus terbaik bagi perkembangan mereka. Semua yang dilihat, didengar, disentuh, dirasa, diraba, dicoba, dimanipulasikan, dan juga yang dialami, akan terus menambah referensi perbendaharaan pengetahuan dan pengalaman bagi anak. Hal ini sangat mungkin, sebab anak usia dini berada dalam periode keemasan atau yang biasa disebut sebagai masa Golden Age.

Proses pembelajaran atau pengalaman yang berasal dari lingkungan sangat berpengaruh bagi perkembangan anak. Selain optimalisasi pengembangan fungsi panca indera, lingkungan yang kondusif, aman, dan menyenangkan lebih memberi kesempatan pada anak untuk mengoptimalkan potensi-potensi yang ada pada dirinya. Otak manusia akan selalu memberi respon positif jika segala aktivitas yang dilalui terasa menyenangkan. Demikian halnya dengan apa yang dialami oleh anak. Mereka akan menyerap berbagai informasi yang diberikan oleh orang lain maupun yang dialaminya sendiri apabila hal tersebut terjadi dalam kondisi yang menyenangkan.

Banyak cara yang dapat dilakukan oleh para pendidik untuk menciptakan kondisi yang menyenangkan dalam proses pembelajaran. Bermain, interaksi, eksploratif serta kegiatan musikal adalah beberapa kegiatan yang dapat ”menghidupkan” kegiatan pembelajaran. Bahkan dalam kegiatan musikal, anak tidak hanya merasakan kesenangan tetapi mereka juga dapat terlatih gerak motoriknya, ekspresi, kepekaan terhadap nada dan birama, serta dapat mengembangkan berbagai kecerdasan lain pada anak, seperti bahasa, logika matematis, intra dan interpersonal.

 

  1. B.     Rumusan Masalah
  2. Apakah yang dimaksud dengan Menyanyi?
  3. Apakah yang dimaksud dengan bermain musik?
  4. Apakah yang dimaksud dengan role playing?
  5. C.    Tujuan
  6. Dapat menjelaskan tentang menyanyi
  7. Dapat menjelaskan tentang bermain musik
  8. Dapat menjelaskan tentang role playing

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    Pengertian Metode Pembelajaran PAUD

Menurut kamus bahasa Indonesia, metode dapat diartikan sebagai cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.

Sedangkan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (UU sisdiknas, 2003). Dari pengertian tersebut, secara sederhana dapat diartikan bahwa metode pembelajaran adalah cara yang sistematis dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang sistematis untuk mencapai tujuan pembelajaran anak usia dini, yaitu mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

  1. B.     Metode Bernyanyi

Bernyanyi merupakan salah satu kegiatan yang sangat digemari oleh anak-anak. Hampir setiap anak sangat menikmati lagu-lagu atau nyanyian yang didengarkan, lebih-lebih jika nyanyian tersebut dibawakan oleh anak-anak seusianya dan diikuti dengan gerakan-gerakan tubuh yang sederhana. Melalui nyanyian atau lagu banyak hal yang dapat kita pesankan kepada anak-anak, terutama pesan-pesan moral dan nilai-nilai agama. Melalui kegiatan bernyanyi suasana pembelajaran akan lebih menyenangkan, menggairahkan, membuat anak bahagia, menghilangkan rasa sedih, anak-anak merasa terhibur, dan lebih bersemangat, sehingga pesan-pesan yang kita berikan akan lebih mudah dan lebih cepat diterima serta diserap oleh anak-anak. Dengan bernyanyi potensi belahan otak kanan dapat dioptimalkan, sehinggga pesan-pesan yang kita berikan akan lebih lama mengendap di memori anak (ingatan jangka panjang), dengan demikian anak akan selalu ingat pesan-pesan yang diterimanya.

 

Sebagai pamong PAUD dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif, termasuk dalam hal bernyanyi. Pamong PAUD sangat mungkin dapat mengganti syair lagu anak-anak yang sudah ada menjadi syair baru yang disesuaiakan dengan pesan-pesan yang akan diberikan, atau bahkan mungkin dapat menciptakan lagu-lagu baru. Beberapa hal yang perlu diperhatikan, bila menciptakan lagu untuk anak-anak, adalah : (1) mengandung nilai-nilai agama atau pesan-pesan yang positif, (2) bahasanya indah dan mudah dimengerti anak, (3) tidak terlalu panjang, (4) iramanya mudah dicerna dan (5) syair dan liriknya bisa melibatkan emosi anak (gembira, semangat, kagum, dll). Dalam kegiatan bernyanyi ini akan lebih sempurna jika pamong PAUD dapat mengiringinya dengan alat-alat musik secara langsung, misalnya piano, organ, gitar, biola, seruling, harmonika, pianika, atau alat musik yang lain, sehingga suasana akan lebih hidup dan lebih menyenangkan.

Berikut ini beberapa contoh lagu yang sudah diganti syairnya, sesuai dengan pesan-pesan yang diinginkan.

  1. Lagu ” balonku ada lima” diubah menjadi lagu “rukun Islam yang lima”. Syairnya berubah sebagai berikut :

 Rukun Islam yang lima

Syahadat, sholat, puasa

Zakat bagi si kaya

Haji bagi yang kuasa

Siapa sudah sholat hai….

Siapa sudah zakat

Allah memberi rahmat

Kan selamat di akherat

  1. Lagu ” kring-kring ada sepeda” diubah menjadi lagu “tok-tok ucap salam”, syairnya menjadi :

Tok-tok-tok ucap salam

Assalamualaikum

Bila kau masuk rumah

Tuntunan Rosulullah

Hai-hai-hai anak sholeh

Rajin-rajin belajar

Karena belajar itu

Pasti disayang Allah

Dalam menyanyikan lagu langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh seorang pamong PAUD antara lain adalah : (1) pilihlah lagu yang cocok, dalam arti sesuai dengan tema, situasi dan kondisi, (2) jika itu lagu baru (belum dikenal anak), sebaiknya nyanyikan terlebih dahulu minimal tiga kali, (3) bersama anak-anak nyanyikan lagi secara berulang-ulang, (4) bila perlu bagilah menjadi beberapa kelompok, dan setiap kelompok bernyanyi bersama kelompoknya, (5) pilihlah beberapa anak yang mungkin sudah hafal lagu itu untuk menyanyi secara individu, (6) nyanyikan sekali lagi secara bersama-sama dan (7) ulangi lagi lagu tersebut pada hari yang lain.

  1. C.    Musik untuk Anak Usia Dini

Musik bukan hanya kegiatan yang identik dengan kemampuan bernyanyi. Lebih dari itu, musik juga erat kaitannya dengan kemampuan dan kepekaan seseorang dalam melakukan gerak tari, harmonisasi nada, pengekspresian seni musik, mengikuti ketukan serta penggunaan alat musik, baik alat musik buatan maupun alat musik yang sesungguhnya.

Dengan demikian, adalah sebuah kewajaran jika para pendidik anak usia dini sudah dibekali dengan kemampuan musikal. Bernyanyi sesuai dengan nada, manari dengan penjiwaan, berekspresi dalam berbagai apresiasi musik, serta keterampilan dalam menggunakan satu atau beberapa alat musik sederhana seperti pianika, perkusi, gitar, keyboard, ataupun angklung perlu dikuasai oleh para pendidik anak usia dini. Namun yang jauh lebih penting adalah upaya optimal dari pendidik dalam mentransformasikan kemampuannya tersebut kepada para peserta didik dengan cara-cara yang tepat seperti yang telah diungkapkan sebelumnya.

Bermusik serta mendengarkan musik merupakan salah satu kegiatan yang sangat digemari oleh anak-anak. Hampir setiap anak akan dengan mudah mengikuti kegiatan ini. Sering kita lihat seorang anak yang berhenti sejenak dengan kegiatannya hanya karena ada suara lagu di televisi kemudian ia fokus memperhatikan TV. Ada pula anak-anak yang dengan asiknya bernyanyi lagu-lagu yang sering ia dengar saat mereka sedang makan, mandi, menjelang tidur, ataupun bermain. Bagi anak, musik dapat menimbulkan rasa kebersamaan serta rasa gembira.

Menurut beberapa penelitian, musik sudah dapat distimulasikan sejak anak masih berada dalam kandungan, karena dianggap mampu menstimulasi kerja neuron-neuron pada otak anak. Bagaimanapun, musik akan sangat membantu anak dalam melatih kemampuan menyimak, konsentrasi serta menambah kosakatanya.

Selain bernyanyi dan bereksplorasi dengan alat musik, kegiatan lain dalam musik adalah gerak dan lagu serta menari. Menari sebagai salah satu bentuk kegiatan dari seni musik yang beragam jenisnya, sehingga tidak semua kegiatan tari appropriate (berkesesuaian) bagi anak. Menari lebih spesifik dikatakan oleh Stinson sebagai gerakan yang beraturan, signifikan dan dipengaruhi oleh penjiwaan.Tari yang kreatif adalah gerakan yang ditampilkan secara menarik dengan menyesuaikan alunan lagu atau musik. Terlepas dari itu, gerakan tari untuk anak sebaiknya yang mudah dan tidak terlalu bervariasi, menyenangkan bagi anak, dan dalam kondisi tertentu gerakan tari anak bersifat alami.

Gerakan tari pada anak usia dini umumnya bersifat pengulangan dari 5-6 gerakan, dengan ditambah variasi formasi yang sederhana. Hal penting yang perlu diperhatikan oleh guru ataupun orangtua adalah memperhatikan kondisi fisik dan psikologis anak saat ingin menari. Memaksakan atau menekan anak untuk menunjukkan suatu gerakan tari, terlebih harus sempurna, hanya akan membuat kondisi menjadi semakin buruk dan tidak mengembangkan kreativitas mereka. Berikut ini adalah beberapa contoh kegiatan yang dilakukan guru dan anak berdasarkan indikator kemampuan dari kecerdasan musikal:
1. Menyanyikan lagu-lagu anak
Guru mengajak anak menyanyikan lagu-lagu yang sesuai dengan tema-tema yang digunakan atau yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka. Dalam hal ini guru dapat membuat atau mengkreasikan lagu baru ciptaannya sendiri. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan atau tanpa alat musik pengiring.
2. Bermain Tepuk
Kegiatan bermain tepuk merupakan salah satu kegiatan yang juga sangat digemari anak selain bernyanyi. Anak akan dikenalkan berbagai pola tepuk yang disesuaikan dengan tema-tema. Gerak dan ekspresi sangat memberi pengaruh dalam kegiatan ini. Guru juga dapat berkreasi membuat berbagai permainan tepuk yang memotivasi, mengenalkan sebuah konsep, atau melatih konsentrasi anak.
3. Tebak nada dan lagu
Dalam kegiatan ini, guru dapat melakukannya dengan bantuan alat musik ataupun dengan bersenandung tanpa syair. Kemudian anak diminta menebak lagu berdasarkan bunyi solmisasi dari alat musik tersebut atau nada yang dimunculkan dari suara senandung guru.
4. Bermain alat musik buatan
Ada beberapa jenis alat musik yang bisa dipelajari atau dilatihkan kepada anak. Alat musik juga ada yang berupa alat musik permanen maupun alat musik buatan di mana bahannya dapat diperoleh di sekitar anak. Agar lebih menarik, alat-alat itu kemudian dihiasi dengan berbagai macam hiasan. Saat melaksanakan kegiatan ini sebaiknya guru
5. Gerak dan Lagu-Menari
Secara umum ada dua jenis tarian dalam kegiatan seni itu sendiri. Pertama, kegiatan tari daerah. Kemudian dilanjutkan dengan menari modern. Sebelum anak diajarkan tari, biasanya anak akan diajak bergerak bebas mengikuti irama musik. Kemudian mereka mulai dikenalkan dengan kegiatan gerak tari yang berpola dan menggunakan beberapa formasi.

  1. Role Playing

Metode bermain peran ini dikategorikan sebagai metode belajar yang berumpun kepada metode perilaku yang diterapkan dalam kegiatan pengembangan. Karakteristiknya adalah adanya kecenderungan memecahkan tugas belajar dalam sejumlah perilaku yang berurutan, konkret dan dapat diamati. Bermain peran dikenal juga dengan sebutan bermain pura-pura, khayalan, fantasi, make belive, atau simbolik. Menurut Piaget, awal main peran dapat menjadi bukti perilaku anak. Ia menyatakan bahwa main peran ditandai oleh penerapan cerita pada objek dan mengulang perilaku menyenangkan yang diingatnya. Piaget menyatakan bahwa keterlibatan anak dalam main peran dan upaya anak mencapai tahap yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak lainnya disebut sebagai collective symbolism. Ia juga menerangkan percakapan lisan yang anak lakukan dengan diri sendiri sebagai idiosyncratic soliloquies.

Mengajarkan Bahasa Inggris Pada Anak-anak Dengan Roleplaying

Ini adalah salah satu cara mengajarkan Bahasa Inggris dengan teknik roleplay. Contoh yang akan diuraikan adalah ketika guru mengajarkan salam; Greetings.

Setelah anak berlatih secara berulang-ulang bagaimana mengucapkan salam seperti good morning, good afternoon, good night dsb. Ajaklah anak-anak untuk bermain peran sambil mengucapkan salam tersebut.

Materi : Good morning

Langkah-langkahnya sbb:

  1.  Guru memberikan instruksi bahwa anak-anak harus menjawab salam ketika ada orang yang masuk ke ruang kelas.
  2. Guru keluar kelas lalu membuka pintu kelas sambil mengucapkan “Good morning..” (anak-anak akan serentak menjawab  ” Good morning..)
  3. Guru meminta beberapa anak untuk keluar kelas  lalu membuka pintu kelas dan bersama-sama mengucapkan ” Good morning…” kepada teman-teman di dalam kelas. ( teman-temannya dengan kompak akan menjawab good morning pula.
  4. Guru juga dapat meminta anak-anak untuk membawa tas dan berperan  ketika mereka masuk kelas di waktu pagi.

Materi : Good Night

Langkah-langkah sbb:

  1. Guru menyiapkan properti penunjang misalnya meja yang akan dijadikan sebagai tempat tidur (bila persiapan matang, guru dapat membawa bantal, selimut  atau piyama anak agar situasi lebih jelas)
  2. Mintalah seorang anak untuk berpura-pura tidur di meja(tempat tidur) tsb.
  3. Guru berperan sebagai ibu yang ingin mengucapkan salam ketika anak akan pergi tidur.
  4. Ucapakan ” Good night..” pada anak ybs  lalu anak menjawab salam yang sama.
  5. Mintalah siswa  secara bergantian untuk menjadi ibu dan anak
  6. Buatlah situasi lucu seperti menambahkan kalimat: “Jangan ngompol ya…”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang sistematis untuk mencapai tujuan pembelajaran anak usia dini, yaitu mengembangkan berbagai potensi anak sejak dini sebagai persiapan untuk hidup dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Bernyanyi merupakan salah satu kegiatan yang sangat digemari oleh anak-anak. Hampir setiap anak sangat menikmati lagu-lagu atau nyanyian yang didengarkan, lebih-lebih jika nyanyian tersebut dibawakan oleh anak-anak seusianya dan diikuti dengan gerakan-gerakan tubuh yang sederhana. Melalui nyanyian atau lagu banyak hal yang dapat kita pesankan kepada anak-anak, terutama pesan-pesan moral dan nilai-nilai agama. Melalui kegiatan bernyanyi suasana pembelajaran akan lebih menyenangkan, menggairahkan, membuat anak bahagia, menghilangkan rasa sedih, anak-anak merasa terhibur, dan lebih bersemangat, sehingga pesan-pesan yang kita berikan akan lebih mudah dan lebih cepat diterima serta diserap oleh anak-anak.

Musik bukan hanya kegiatan yang identik dengan kemampuan bernyanyi. Lebih dari itu, musik juga erat kaitannya dengan kemampuan dan kepekaan seseorang dalam melakukan gerak tari, harmonisasi nada, pengekspresian seni musik, mengikuti ketukan serta penggunaan alat musik, baik alat musik buatan maupun alat musik yang sesungguhnya.

Metode bermain peran ini dikategorikan sebagai metode belajar yang berumpun kepada metode perilaku yang diterapkan dalam kegiatan pengembangan. Karakteristiknya adalah adanya kecenderungan memecahkan tugas belajar dalam sejumlah perilaku yang berurutan, konkret dan dapat diamati. Bermain peran dikenal juga dengan sebutan bermain pura-pura, khayalan, fantasi, make belive, atau simbolik. Menurut Piaget, awal main peran dapat menjadi bukti perilaku anak. Ia menyatakan bahwa main peran ditandai oleh penerapan cerita pada objek dan mengulang perilaku menyenangkan yang diingatnya. Piaget menyatakan bahwa keterlibatan anak dalam main peran dan upaya anak mencapai tahap yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak lainnya disebut sebagai collective symbolism. Ia juga menerangkan percakapan lisan yang anak lakukan dengan diri sendiri sebagai idiosyncratic soliloquies.

 

 

 

  1. Saran
  2.  

 

 

 

 

 

KURIKULUM

REKONSTRUKSI SOSIAL

 

 

 

MAKALAH

Di susun untuk memenuhi mata kuliah

“Pengembangan Kurikulum PAUD”

Yang dibina oleh Ibu Dr. Mardijah Moenir, S.Pd. M.Pd

 

 

 

 

                                                       KELOMPOK

                                    Binti Sulistiorini

                                    Reni Sulistiana

                                    Ratna Dwi Puspita Sari

                                    Ratiza Dhini Praweswari

                                   

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH

PRODI S1 PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI

Oktober 2011

KATA PENGANTAR

 

 

            Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah tugas mata kuliah Pengembangan Kurikulum PAUD yang berjudul “Kurikulum Rekonstruksi Sosial” dengan baik.

Penulis menyadari sepenuhnya atas segala kekurangan pada makalah ini dan penulis dengan senang hati dan akan menerima saran serta kritik demi kesempurnaan makalah ini. Atas segala saran dan bantuan, penulis sampaikan terima kasih.

 

 

 

 

 

Blitar,      Oktober 2011

 

 

 

 

Penulis            

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

 

Halaman Judul……………………………………………………………….……. i

Kata Pengantar…………………………………………………………………… ii

Daftar Isi…………………………………………………………………………. iii

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah………………………………………………1
  2. Rumusan Masalah…………………………………………………….1
  3. Tujuan Penulisan………………………………………………………2

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pengertian kognitif dan krativitas anak usia 0-2 th…………………..3
  2. Perkembangan kognitif dan krativitas anak usia 0-2 th…………………5
  3. Upaya-upaya mengoptimalkan Perkembangan kognitif dan krativitas anak usia 0-2 th………………………………………………………10

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan………………………………………………………………………………..13
  2. Saran…………………………………………………………………………..13

DAFTAR RUJUKAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.      Latar Belakang

Ketika bayi dilahirkan ke dunia, dia memerlukan interaksi dengan orang lain. Interaksi inilah dasar bagi perkembangan sosial emosional seorang anak. Ketika dia berinteraksi, berbagai pengetahuan dan pengalaman baru terbentuk dan dikuatkan. Anak memperkaya bahasa dan kemampuan komunikasinya berkat adanya interaksi sosial. Dalam perkembangannya, anak mempelajari  berbagai aturan, norma dan nilai, juga melalui interaksi sosial.

 

Interaksi sosial yang sehat dan positif membantu meningkatkan perkembangan sosial emosional yang baik. Ketika kita berbicara masalah sosial emosional, ada dua hal yang terlibat, yaitu hubungan sosial dan perkembangan emosi. Hubungan sosial menyangkut hubungan anak dengan orang lain di sekitarnya, termasuk orangtua, teman sebaya, saudara kandung ataupun orang dewasa lainnya. Anak perlu memiliki hubungan sosial yang luas sehingga mudah menyesuaikan diri. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah meningkatkan frekuensi bermain dengan teman sebaya. Interaksi anak dengan teman sebaya dapat mengurangi sifat egosentris anak, serta memahami berbagai aturan sosial.

 

  1. B.       Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, masalah-masalah yang dapat  dirumuskan adalah sebagai berikut:

  1. Apa pengertian social emosional anak usia dini?
  2. Bagaimana perkembangan social emosional anak usia dini?
  3. Model-model pengembangan social emosional anak usia dini?
  4. C.      Tujuan

            Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka makalah ini bertujuan untuk :

  1. menjelaskan pengertian social emosional anak usia dini
  2. menjelaskan perkembangan social emosional anak usia dini.
  3. Macam-macam model pengembangan social emosional anak usia dini.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. menjelaskan pengertian social emosional anak usia dini

      Menurut para ahli pengertian perkembangan social :

  1. Menurut Plato, adalah : Secara pontensi ( fitrah manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial).
  1. Menurut Syamsuddin, mengungkapkan “Sosialisasi adalah proses belajar untuk menjadi makhluksocial
  2. Menurut Loree, “Sosialisasi merupakan suatu proes dimana individu anak melatih kepekaandirinya terhadapan rangsangan – rangsangan social terutama tekanan –tekanan dan tuntutan kehidupan serta belajar bergaul dengan bertingkah lakuseperti orang lain didalam lingkungan social.
  3. Menurut Muhibin. Mengatakan bahwa perkembangan sosial merupakan proses pembentukanpribadi dalam masyarakat.
  4. Menurut Hurlock, bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilakuyang sesuai dengan tuntutan social.“Sosialisasi “ adalah Kemampuan bertingkah laku sesuai dengan norma nilaiatau harapan sosial“.

 

        Emosi adalah suatu keadaan yang kompleksi dapat berupa perasaan / pikiran yang di tandai oleh perubahan biologis yang muncul dari perilaku seseorang.

Menurut para ahli Pengertian Emosi :

  1. Menurut Goleman Bahasa “emosi” merujuk pada suatu perasaan atau pikiran. Pikirin khasnya,suatu keadaan biologis dan psikologis serta rangkaian kecenderungan untukbertindak”.
  2. Menurut SyamsuddinMengemukakan “emosi” merupakan suatu suasana yang komplek dangetaran jiwa yang meyertai atau muncul sebelum atau sesudah terjadinyasuatu perilaku.
  3. menjelaskan perkembangan social emosional anak usia dini.
  4. Macam-macam model pengembangan social emosional anak usia dini.

           

 

 

 

  1. A.     

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    KESIMPULAN
  2. B.     SARAN

 

DAFTAR RUJUKAN

maaf judul bukunya lupa,,,hehehe

yang penasaran boleh langsung menghubungi dosen saya

 

IDENTIFIKASI BUDAYA LOKAL,

NASIONAL DAN UNIVERSAL

 

 

 

 

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi mata kuliah

“Pendidikan Multikultural”

Yang dibina oleh Bpk Kentar Budhojo

 

 

 

 

KELOMPOK

Binti Sulistiorini, dkk

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH

PRODI S1 PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI

Maret 2012


 

 

KATA PENGANTAR

 

            Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Karena dengan segala rahmat dan kasih sayang-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Identifikasi Budaya Lokal, Nasional Dan Universal” untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Multikultural dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Dalam penulisan makalah ini banyak bantuan yang diperoleh baik berupa tenaga maupun pikiran dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini ucapan terima kasih diucapkan kepada:

  1. Bapak Kentar Budhojo selaku dosen pembimbing mata kuliah ini.
  2. Kedua orangtua dan saudara yang selalu memberikan dukungan dan semangat serta dukungan sehingga makalah ini dapat diselesaikan.
  3. Serta teman-teman yang telah membantu dalam memberikan saran dan masukan dalam penulian makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, ole karena itu saran dan kritik penulis harapkan untuk kesempurnaan makalah ini. Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan pendidikan terutama pendidikan anak usia dini.

 

 

 

 

 

Blitar,               April 2012

 

 

 

 

Penulis             

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

Halaman sampul……………………………………………………………       i

Kata Pengantar……………………………………………………………       ii

Daftar Isi……………………………………………………………………       iii

 

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah……………………………………………….       1      
  2. Rumusan Masalah………………………………………………………      4
  3. Tujuan Penulisan………………………………………………………       4

 

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pengertian Budaya…………………………………………………
  2. Budaya Lokal…………………………………………………………………………..
  3. Contoh Budaya Lokal………………………………………………
  4. Pengertian Budaya Nasional…………………………………………
  5. E.      Akar Kebudayaan Indonesia…………………………………………
  6. F.      Budaya Universal………………………………………………….
  7. Dampak Kebudayaan Barat di Indonesia………………………….

 

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan………………………………………………………………………………..      17
  2. Saran……………………………………………………………………………     18

 

DAFTAR RUJUKAN

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.       Latar Belakang

            Seiring dengan kemajuan jaman, tradisi dan kebudayaan daerah yang pada awalnya dipegang teguh, di pelihara dan dijaga keberadaannya oleh setiap suku, kini sudah hampir punah. Pada umumnya masyarakat merasa gengsi dan malu apabila masih mempertahankan dan menggunakan budaya lokal atau budaya daerah. Kebanyakan masyarakat memilih untuk menampilkan dan menggunakan kesenian dan budaya modern daripada budaya yang berasal dari daerahnya sendiri yang sesungguhnya justru budaya daerah atau budaya lokallah yang sangat sesuai dengan kepribadian bangsanya.
            Mereka lebih memilih dan berpindah ke budaya asing yang belum tetntu sesuai dengan keperibadian bangsa bahkan masyarakat lebih merasa bangga terhadap budaya asing daripada budaya yang berasal dari daerahnya sendiri..
Tanpa mereka sadari bahwa budaya daerah merupakan faktor utama terbentuknya kebudayaan nasional dan kebudayaan daerah yang mereka miliki merupakan sebuah kekayaan bangsa yang sangat bernilai tinggi dan perlu dijaga kelestarian dan keberadaanya oleh setiap individu di masyarakat. Pada umumnya mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya kebudayaan merupakan jati diri bangsa yang mencerminkan segala aspek kehidupan yang berada didalalmnya.
Besar harapan saya, semoga dengan dibuatnya makalah yang berjudul Budaya Suku Sunda yang didalamnya membahas tentang kebudayaan yang berasal dari daerah Jawa Barat ini menjadi salah satu sarana agar masyarakat menyadari betapa berharganya sebuah kebudayaan bagi suatu bangsa, yang ahirnya akan membuat masyarakat menjadi merasa bangga terhadap budaya daerahnya sendiri.

            Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari banyak pulau dan memiliki berbagai macam suku bangsa, bahasa, adat istiadat atau yang sering kita sebut kebudayaan. Keanekaragaman budaya yang terdapat di Indonesia merupakan suatu bukti bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya.
            Tidak bisa kita pungkiri, bahwa kita pungkiri bahwa kebudayaan daerah merupakan faktor utama berdirinya kebudayaan yang lebih global, yang biasa kita sebut dengan kebudayaan nasional. Maka atas dasar itulah segala bentuk kebudayaan daerah akan sangat berpengaruk terhadap budaya nasional, begitu pula sebaliknya kebudayaan nasional yang bersumber dari kebudayaan daerah, akan sangat berpebgaruh pula terhadap kebudayaan daerah / kebudayaan lokal.
            Kebudayaan merupakan suatau kekayaan yang sangat benilai karena selain merupakan ciri khas dari suatu daerah juga mejadi lambang dari kepribadian suatu bangsa atau daerah.
            Karena kebudayaan merupakan kekayaan serta ciri khas suatu daerah, maka menjaga, memelihara dan melestarikan budaya merupakan kewajiban dari setiap individu, dengan kata lain kebudayaan merupakan kekayaan yang harus dijaga dan dilestarikan oleh setiap suku bangsa.

 

  1. B.       Rumusan Masalah

            Berdasarkan kajian dari latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah-masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa pengertian budaya?
  2. Apakah yang dimaksud budaya lokal?
  3. Apa saja contoh budaya lokal?
  4. Apakah pengertian budaya nasional?
  5. 5.      Bagaimana  akar kebudayaan indonesia?
  6. 6.      Apakah yang dimaksud budaya universal?
  7. Bagaimana dampak kebudayaan barat di indonesia?

 

 

  1. C.       Tujuan

            Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka makalah ini bertujuan untuk :

  1. Menjelaskan Pengertian Budaya
  2. Menjelaskan Budaya Lokal
  3. Menyebutkan beberapa Contoh Budaya Lokal
  4. Menjelaskan Pengertian Budaya Nasional
  5. 5.      Menjelaskan Akar Kebudayaan Indonesia
  6. 6.      Menjelaskan Budaya Universal
  7. Menjelaskan Dampak Kebudayaan Barat di Indonesia

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.     Pengertian Budaya

            Sebuah pepatah latin kuno yang mencerminkan tentang  kebudayaan adalah : tempus mutantur, et nos mutamur in illid. Yang artinya: Waktu berubah, dan kita (ikut) berubah juga di dalamnya. Pepatah tersebut menunjukkan kepada kita bahwa seiring konteks zaman yang berubah, orang-orang dengan alam pikir dan rasa, karsa, dan cipta, kebutuhan dan tantangan yang mengalami perubahan, serta budaya pun ikut berubah.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi budaya menurut beberapa ahli :

  1. Kroeber dan Kluckhohn
  • Budaya menurut definisi deskriptif:
    cenderung melihat budaya sebagai totalitas komprehensif yang menyusun keseluruhan hidup sosial sekaligus menunjukkan sejumlah ranah (bidang kajian) yang membentuk budaya
  • Budaya menurut difinisi historis :
    cenderung melihat budaya sebagai warisan yang dialihturunkan dari generasi satu ke generasi berikutnya
  • Budaya menurut definisi normatif:
    bisa mengambil 2 bentuk. Yang pertama, budaya adalah aturan atau jalan hidup yang membentuk pola-pola perilaku dan tindakn yang konkret. Yang kedua, menekankan peran gugus nilai tanpa mengacu pada perilaku
  • Budaya menurut definisi psikologis:
    cenderung memberi tekanan pada peran budaya sebagai piranti pemecahan masalah yang membuat orang bisa berkomunikasi, belajar, atau memenuhi kebutuhan material maupun emosionalnya
  • Budaya menurut definisi struktural:
    mau menunjuk pada hubungan atau keterkaitan antara aspek-aspek yang terpisah dari budaya sekaligus menyoroti fakta bahwa budaya adalah abstraksi yang berbeda dari perilaku konkret
  • Budaya dilihat dari definisi genetis:
    definisi budaya yang melihat asal usul bagaimana budaya itu bisa eksis atau tetap bertahan. Definisi ini cenderung melihat budaya lahir dari interaksi antar manusia dan tetap bisa bertahan karena ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya
  1. Lehman, Himstreet, dan Batty
         Budaya diartikan sebagai sekumpulan pengalaman hidup yang ada dalam masyarakat mereka sendiri. Pengalaman hidup masyarakat tentu saja sangatlah banyak dan variatif, termasuk di dalamnya bagaimana perilaku dan keyakinan atau kepercayaan masyarakat itu sendiri
  2. Mofstede
         Budaya diartikan sebagai pemrograman kolektif atas pikiran yang membedakan anggota-anggota suatu kategori orang dari kategori lainnya. Dalam hal ini, bisa dikatan juga bahwa budaya adalah pemrograman kolektif yang menggambarkan suatu proses yang mengikat setiap orang segera setelah kita lahir di dunia
  3. Bovee Dan Thill
         Budaya adalah system sharing atas simbol – simbol, kepercayaan, sikap, nilai-nilai, harapan, dan norma-norma untuk berperilaku
  4. Murphy Dan Hildebrandt
    Budaya diartikan sebagai tipikal karakteristik perilaku dalam suatu kelompok. Pengertian in juga mengindikasikan bahwa komunikasi verbal dan non verbal dalam suatu kelompok juga merupakan tipikal dari kelompok tersebut dan cenderung unik atau berbeda dengan yang lainnya
  5. Mitchel
    Budaya merupakan seperangkat nilai-nilai inti, kepercayaan, standar , pengetahuan, moral hukum, dan perilaku yang disampaikan oleh individu – individu dan masyarakat, yang menentukan bagaimana seseorang bertindak, berperasaan, dan memandang dirinya serta orang lain.

            Dari beberapa definisi budaya menurut para ahli diatas, bisa diambil kesimpulan tentang beberapa hal penting  yang dicakup dalam arti budaya yaitu: sekumpulan pengalaman hidup, pemrograman kolektif, system sharing, dan tipikal karakteristik perilaku setiap individu yang ada dalam suatu masyarakat, termasuk di dalamnya tentang bagaimana sistem nilai, norma, simbol-simbol dan kepercayaan atau keyakinan mereka masing-masing.

 

  1. B.     Budaya Lokal

            Dalam wacana kebudayaan dan sosial, sulit untuk mendefinisikan dan memberikan batasan terhadap budaya lokal atau kearifan lokal, mengingat ini akan terkait teks dan konteks, namun secara etimologi dan keilmuan, tampaknya para pakar sudah berupaya merumuskan sebuah definisi terhadap local culture atau local wisdom ini. berikut penjelasannya:

  • Superculture, adalah kebudayaan yang berlaku bagi seluruh masyarakat. Contoh: kebudayaan nasional;
  • Culture, lebih khusus, misalnya berdasarkan golongan etnik, profesi, wilayah atau daerah. Contoh : Budaya Sunda;
  • Subculture, merupakan kebudyaan khusus dalam sebuah culture, namun kebudyaan ini tidaklah bertentangan dengan kebudayaan induknya. Contoh : budaya gotong royong
  • Counter-culture, tingkatannya sama dengan sub-culture yaitu merupakan bagian turunan dari culture, namun counter-culture ini bertentangan dengan kebudayaan induknya. Contoh : budaya individualisme

            Dilihat dari stuktur dan tingkatannya budaya lokal berada pada tingat culture. Hal ini berdasarkan sebuah skema sosial budaya yang ada di Indonesia dimana terdiri dari masyarakat yang bersifat manajemuk dalam stuktur sosial, budaya (multikultural) maupun ekonomi.

            Dalam penjelasannya, kebudayaan suku bangsa adalah sama dengan budaya lokal atau budaya daerah. Sedangkan kebudayaan umum lokal adalah tergantung pada aspek ruang, biasanya ini bisa dianalisis pada ruang perkotaan dimana hadir berbagai budaya lokal atau daerah yang dibawa oleh setiap pendatang, namun ada budaya dominan yang berkembang yaitu misalnya budaya lokal yang ada dikota atau tempat tersebut. Sedangkan kebudayaan nasional adalah akumulasi dari budaya-budaya daerah.

            Definisi Jakobus itu seirama dengan pandangan Koentjaraningrat (2000). Koentjaraningrat memandang budaya lokal terkait dengan istilah suku bangsa, dimana menurutnya, suku bangsa sendiri adalah suatu golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan ’kesatuan kebudayaan’. Dalam hal ini unsur bahasa adalah ciri khasnya.

            Menurut Judistira (2008:141), kebudayaan lokal adalah melengkapi kebudayaan regional, dan kebudayaan regional adalah bagian-bagian yang hakiki dalam bentukan kebudayaan nasional.

            Dalam pengertian yang luas, Judistira (2008:113)  mengatakan bahwa kebudayaan daerah bukan hanya terungkap dari bentuk dan pernyataan rasa keindahan melalui kesenian belaka; tetapi termasuk segala bentuk, dan cara-cara berperilaku, bertindak, serta pola pikiran yang berada jauh dibelakang apa yang tampak tersebut.

 

  1. C.     Contoh Budaya Lokal

            Suku Sunda merupakan suku yang terdapat di Provinsi Jawa Barat. Suku sunda adalah salah satu suku yang memiliki berbagai kebudayaan daerah, diantaranya pakaian tradisional, kesenian tradisional, bahasa daerah, dan lain sebagainya.
            Diantara sekian banyak kebudayaan daerah yang dimiliki oleh suku sunda adalah sebagai berikut :
1. Pakaian Adat/Khas jawa Barat
Suku sunda mempunyai pakaian adat/tradisional yang sangat terkenal, yaitu kebaya. Kebaya merupakan pakaian khas Jawa Barat yang sangat terkenal, sehingga kini kebaya bukan hanya menjadi pakaian khas sunda saja tetapi sudah menjadi pakaian adat nasinal. Itu merupakan suatu bukti bahwa kebudayaan daerah merupakan bagian dari kebudayaan nasional.
2. Kesenian Khas Jawa Barat

  1. Wayang Golek
    Wayang Golek merupakan kesenian tradisional dari Jawa Barat yaitu kesenian yang menapilkan dan membawakan alur sebuah cerita yang bersejarah. Wayang Golek ini menampilkan golek yaitu semacam boneka yang terbuat dari kayu yang memerankan tokoh tertentu dalam cerita pawayangan serta dimainkan oleh seorang Dalang dan diiringi oleh nyanyian serta iringan musik tradisional Jawa Barat yang disebut dengan degung.
  2. Jaipong
    Jaipong merupakan tarian tradisional dari Jawa Barat, yang biasanya menampilkan penari dengan menggunakan pakaian khas Jawa Barat yang disebut kebaya, serta diiringi musik tradisional Jawa Bart yang disebut Musik Jaipong.
    Jaipong ini biasanya dimainkan oleh satu orang atau sekelompok penari yang menarikan berakan – gerakan khas tari jaipong.
  3. Degung
    Degung merupakan sebuah kesenian sunda yang biasany dimainkan pada acara hajatan. Kesenian degung ini digunakan sebagai musik pengiring/pengantar.
    Degung ini merupakan gabungan dari peralatan musik khas Jawa Barat yaitu, gendang, goong, kempul, saron, bonang, kacapi, suling, rebab, dan sebagainya.
    Degung merupakan salah-satu kesenian yang paling populer di Jawa Barat, karena iringan musik degung ini selalu digunakan dalam setiap acara hajatan yang masih menganut adat tradisional, selain itu musik degung juga digunakan sebgai musik pengiring hampir pada setiap pertunjukan seni tradisional Jawa Barat lainnya.
  4. Rampak Gendang
    Rampak Gendang merupakan kesenian yang berasal dari Jawa Barat. Rampak Gendang ini adalah pemainan menabuh gendang secara bersama-sama dengan menggunakan irama tertentu serta menggunakan cara-cara tertentu untuk melakukannya, pada umumnya dimainkan oleh lebih dari empat orang yang telah mempunyai keahlian khusus dalam menabuh gendang. Biasanya rampak gendang ini diadakan pada acara pesta atau pada acara ritual.
  5. Calung
    Di daerah Jawa Barat terdapat kesenian yang disebut Calung, calung ini adalah kesenian yang dibawakan dengan cara memukul/mengetuk bambu yang telah dipotong dan dibentuk sedemikian rupa dengan pemukul/pentungan kecil sehingga menghasilkan nada-nada yang khas.
    Biasanya calung ini ditampilkan dengan dibawakan oleh 5 orang atau lebih. Calung ini biasanya digunakan sebagai pengiring nyanyian sunda atau pengiring dalam lawakan
  6. Pencak Silat
    Pencak silat merupakan kesenian yang berasal dari daerah Jawa Barat, yang kini sudah menjadi kesenian Nasional.
    Pada awalnya pencak Silat ini merupakan tarian yang menggunakan gerakan tertentu yang gerakannya itu mirip dengan gerakan bela diri. Pada umumnya pencak silat ini dibawakan oleh dua orang atau lebih, dengan memakai pakaian yang serba hitam, menggunakan ikat pinggang dari bahan kain yang diikatkan dipinggang, serta memakai ikat kepala dari bahan kain yang orang sunda menyebutnya Iket.
    Pada umumnya kesenian pencaksilat ini ditampilkan dengan diiringi oleh musik yang disebut gendang penca, yaitu musik pengiring yang alat musiknya menggunakan gendang dan terompet.
  7. Sisingaan
    Sisingaan merupakan kesenian yang berasal dari daerah Subang Jawa barat. Kesenian ini ditampilkan dengan cara menggotong patung yang berbentuk seperti singa yang ditunggangi oleh anak kecil dan digotong oleh empat orang serta diiringi oleh tabuhan gendang dan terompet. Kesenian ini biasanya ditampilkan pada acara peringatan hari-hari bersejarah.
  8. Kuda Lumping
    Kuda Lumping merupakan kesenian yang beda dari yang lain, karena dimainkan dengan cara mengundang roh halus sehingga orang yang akan memainkannya seperti kesurupan. Kesenian ini dimainkan dengan cara orang yang sudah kesurupan itu menunggangi kayu yang dibentuk seperti kuda serta diringi dengan tabuhan gendang dan terompet. Keanehan kesenian ini adalah orang yang memerankannya akan mampu memakan kaca serta rumput. Selain itu orang yang memerankannya akan dicambuk seperti halnya menyambuk kuda. Biasanya kesenian ini dipimpin oleh seorang pawang.
    Kesenian ini merupakan kesenian yang dalam memainkannya membutuhkan keahlian yang sangat husus, karena merupakan kesenian yang cukup berbahaya.
  9. Bajidoran
    Bajidoran merupakan sebuah kesenian yang dalam memainkannya hampir sama dengan permainan musik modern, cuma lagu yang dialunkan merupakan lagu tradisional atau lagu daerah Jawa Barat serta alat-alat musik yang digunakannya adalah alat-alat musik tradisional Jawa Barat seperti Gendang, Goong, Saron, Bonang, Kacapi, Rebab, Jenglong serta Terompet.
    Bajidoran ini biasanya ditampilkan dalam sebuah panggung dalam acara pementasan atau acara pesta.
  10. Cianjuran
    Cianjuran merupakan kesenian khas Jawa Barat. Kesenian ini menampilkan nyanyian yang dibawakan oleh seorang penyanyi, lagu yang dibawakannya pun merupakan lagu khas Jawa Barat. Masyarakat Jawa Barat memberikan nama lain untuk nyanyian Cianjuran ini yaitu Mamaos yang artinya bernyanyi.
  11. Kacapi Suling
    Kacapi suling adalah kesenian yang berasal dari daerah Jawa Barat, yaitu permainan alat musik tradisional yang hanya menggunakan Kacapi dan Suling. Kacapi suling ini biasanya digunakan untuk mengiringi nyanyian sunda yang pada umumnya nyanyian atau lagunya dibawakan oleh seorang penyanyi perempuan, yang dalam bahasa sunda disebut Sinden.
  12. Reog
    Di daerah Jawa Barat terdapat kesenian yang disebut Reog, kesenian ini pada umumnya ditampilkan dengan bodoran, serta diiringi dengan musik tradisional yang disebut Calung. Kesenian ini biasanya dimainkan oleh beberapa orang yang mempunyai bakat melawak dan berbakat seni. Kesenian ini ditampilkan dengan membawakan sebuah alur cerita yang kebanyakan cerita yang dibawakan adalah cerita lucu atau lelucon.

 

  1. D.    Pengertian Budaya Nasional

            Budaya Nasional adalah gabungan dari budaya daerah yang ada di Negara tersebut. Itu dimaksudkan budaya daerah yang mengalami asimilasi dan akulturasi dengan dareah lain di suatu Negara akan terus tumbuh dan berkembang menjadi kebiasaan-kebiasaan dari Negara tersebut. Misalkan daerah satu dengan yang lain memang berbeda, tetapi jika dapat menyatukan perbedaan tersebut maka akan terjadi budaya nasional yang kuat yang bisa berlaku di semua daerah di Negara tersebut walaupun tidak semuanya dan juga tidak mengesampingkan budaya daerah tersebut. Contohnya Pancasila sebagai dasar negara, Bahasa Indonesia dan Lagu Kebangsaan yang dicetuskan dalam Sumpah Pemuda 12 Oktober 1928 yang diikuti oleh seluruh pemuda berbagai daerah di Indonesia yang membulatkan tekad untuk menyatukan Indonesia dengan menyamakan pola pikir bahwa Indonesia memang berbeda budaya tiap daerahnya tetapi tetap dalam satu kesatuan Indonesia Raya dalam semboyan “bhineka tunggal ika”.

            Kebudayaan Nasional adalah gabungan dari kebudayaan daerah yang ada di Negara tersebut. Kebudayaan Nasional Indonesia secara hakiki terdiri dari semua budaya yang terdapat dalam wilayah Republik Indonesia. Tanpa budaya-budaya itu tak ada Kebudayaan Nasional. Itu tidak berarti Kebudayaan Nasional sekadar penjumlahan semua budaya lokal di seantero Nusantara. Kebudayan Nasional merupakan realitas, karena kesatuan nasional merupakan realitas. Kebudayaan Nasional akan mantap apabila di satu pihak budaya-budaya Nusantara asli tetap mantap, dan di lain pihak kehidupan nasional dapat dihayati sebagai bermakna oleh seluruh warga masyarakat Indonesia (Suseno; 1992).

            Pembatasan atau perbedaan antara budaya nasional dan budaya lokal atau budaya daerah menjadi sebuah penegasan untuk memilah mana yang disebut budaya nasional dan budaya lokal baik dalam konteks ruang, waktu maupun masyarakat penganutnya.

 

  1. E.     Akar Kebudayaan Indonesia

            Akar kebudayaan Indonesia adalah suatu mekanisme yang terbentuk dari unsur-unsur yang berkaitan dengan zaman prasejarah,jadi ibarat pohon,pohon tidak dapat tumbuh dan berkembang tanpa adanya akar,demikian pula dengan kebudayaan pada suatu Negara tidak dapat tumbuh dan berkembang tanpa adanya akar atau pendahulu yang membentuk kebudayaan tersebut.

            Akar kebudayaan Indonesia berhubungan dengan zaman prasejarah, mulai dari nenek moyang kita yang membawa kebudayaan Dongson, setelah itu diikuti oleh perkembangan Islam di Indonesia. Jadi islam juga merupakan salah satu akar kebudayaan Indonesia.

            Akar budaya kita juga tumbuh dalam kepercayaan bahwa segala yang ada di bumi memiliki ”ruh-ruh” sendiri. Ruh manusia adalah saudaranya, yang dapat melepaskan diri dari dalam badan seseorang, dan ruh itu dapat mengalami bencana dalam petualangannya di luar tubuh kita, yang dapat mengakibatkan yang punya tubuh jatuh sakit atau mati. Manusia harus berbaik-baik dalam hubungannya dengan dunia roh ini.

            Pemujaan nenek moyang merupakan salah satu akar budaya bangsa Indonesia. Pandangan kosmik mengenai kontradiksi antara dunia bawah dan dunia atas tercermin dalam organisasi sosial berbagai suku bangsa kita; garis ibu dan garis ayah, hubungann dasar antara dua suku yang saling mengambil laki-laki dan perempuan dari dua suku untuk perkawinan, membuat tiada satu suku lebih tinggi kedudukannya dari yang lain. Setiap suku bergantian menduduki tempat yang superior dan tempat di bawah. Struktur tradisi kesukuan ini merupakan sebuah mekanisme ke arah demokrasi, yang seandainya kita pandai mengembangkannya dapat merupakan kekuatan untuk tradisi demokrasi bangsa kita.

            Datangnya agama Budha, Hindu dan Islam, bangkitnya feodalisme, lalu datang orang Eropa membawa penindasan penjajah, dan agama Nasrani, lalu lewat pendidikan Barat masuk pula ilmu pengetahuan modern dan tekonologi modern telah mendorong berbagai proses kemasyarakatan, politik, ekonomi, dan budaya, yang akhirnya membawa manusia Indonesia pada keadaan hari ini.

            Akar budaya lama jadi layu dan terlupakan, meskipun ada diantaranya tanpa kita sadari masih berada terlena di bawah sadar kita. Bangkitnya feodalisme di Indonesia dengan lahirnya berbagai kerajaan besar dan kecil telah mengubah hubungan antara kekuasaan dan manusia atau anggota masyarakat. Penjajahan Belanda menggunakan sistem menguasai dan memerintah melalui kelas bangsawan atau feodal lama Indonesia telah meneruskan tradisi feodal berlangsung terus dalam masyarakat kita. Malahan setelah Indonesia merdeka, hubungan-hubungan diwarnai nilai-nilai feodalisme masih berlangsung terus, hingga sering kita mengatakan bahwa kita kini menghadapi neo-feodalisme dalam bentuk-bentuk baru.

            Semua pendidikan modern, falsafah Barat dan Timur, ideologi-ideologi yang datang dari Barat mengenai manusia dan masyarakat. Agama Islam dan Nasrani yang jadi lapis terakhir di atas kepercayaan-kepercayaan lama dan nilai-nilai akar budaya kita, oleh daya sinkritisme manusia Indonesia, semuanya diterima dalam dirinya tanpa banyak konflik dalam jiwa dan diri kita.

            Sesuatu terjadi dalam diri kita, hingga secara budaya tidak mampu memisahkan yang satu dari yang lain: mana yang takhyul, mana yang ilmiah, mana yang bayangan, mana yang kenyataan, mana yang mimpi dan mana dunia nyata. Malahan banyak orang kini membuat ilmu dan teknologi jadi takhyul dalam arti, orang percaya bahwa ilmu dan teknologi dapat menyelesaikan semua masalah manusia di dunia. Dan ada yang berbuat sebaliknya.

            Kita jadi tidak tajam lagi membedakan mana yang batil dan mana yang halal. Karena itu beramai-ramai dan penuh kebahagiaan kita melakukan korupsi besar-besaran, dan tidak merasa bersalah sama sekali (Lubis, dalam ”Pembebasan Budaya-Budaya Kita; 1999).

 

  1. F.      Budaya Universal

Menurut Koentjaraningrat ada tujuh unsur kebudayaan universal, yaitu:
a. Sistem religi yang meliputi:
            o sistem kepercayaan
            o sistem nilai dan pandangan hidup
            o komunikasi keagamaan
            o upacara keagamaan
b. Sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial yang meliputi:
            o kekerabatan
            o asosiasi dan perkumpulan
            o sistem kenegaraan
            o sistem kesatuan hidup
            o perkumpulan
c. Sistem pengetahuan meliputi pengetahuan tentang:
            o flora dan fauna
            o waktu, ruang dan bilangan
            o tubuh manusia dan perilaku antar sesama manusia
d. Bahasa yaitu alat untuk berkomunikasi berbentuk:
            o lisan
            o tulisan
e. Kesenian yang meliputi:
            o seni patung/pahat
            o relief
            o lukis dan gambar
            o rias
            o vokal
            o musik
            o bangunan
            o kesusastraan
            o drama
f. Sistem mata pencaharian hidup atau sistem ekonomi yang meliputi:
            o berburu dan mengumpulkan makanan
            o bercocok tanam
            o peternakan
            o perikanan
            o perdagangan
g. Sistem peralatan hidup atau teknologi yang meliputi:
            o produksi, distribusi, transportasi
            o peralatan komunikasi
            o peralatan konsumsi dalam bentuk wadah
            o pakaian dan perhiasan
            o tempat berlindung dan perumahan
            o senjata
            Budaya Dalam era globalisasi seperti sekarang ini kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia semakin berkembang pesat. Hal ini dapat kita lihat dari semakin banyaknya rakyat Indonesia yang bergaya hidup kebarat-baratan seperti mabuk-mabukkan,clubbing,memakai pakaian mini,bahkan berciuman di tempat umum seperti sudah lumrah di Indonesia. Proses akulturasi di Indonesia tampaknya beralir secara simpang siur, dipercepat oleh usul-usul radikal, dihambat oleh aliran kolot, tersesat dalam ideologi-ideologi, tetapi pada dasarnya dilihat arah induk yang lurus: ”the things of humanity all humanity enjoys”.            Terdapatlah arus pokok yang dengan spontan menerima unsur-unsur kebudayaan internasional yang jelas menguntungkan secara positif. Proses filtrasi perlu dilakukan sedini mungkin supaya kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia tidak akan merusak identitas kebudayaan nasional bangsa kita. Tetapi bukan berarti kita harus menutup pintu akses bangsa barat yang ingin masuk ke Indonesia, karena tidak semua kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia berpengaruh negatif, tetapi juga ada yang memberi pengaruh positif seperti memajukan perkembangan IPTEK di Indonesia. Prioritas yang perlu kita lakukan terhadap kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia adalah kita harus lebih selektif kepada kebudayaan barat.

 

  1. G.    Dampak Kebudayaan Barat di Indonesia

            Dampak kebudayaan barat di Indonesia dicerminkan dalam wujud globalisasi dan modernisasi yang dapat membawa dampak positif dan dampak negatif bagi bangsa kita.

Dampak Positif

a. Perubahan Tata Nilai dan Sikap

            Adanya modernisasi dan globalisasi dalam budaya menyebabkan pergeseran nilai dan sikap masyarakat yang semua irasional menjadi rasional.

b. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi

            Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat menjadi lebih mudah dalam beraktivitas dan mendorong untuk berpikir lebih maju.

c. Tingkat Kehidupan yang lebih Baik

            Dibukanya industri yang memproduksi alat-alat komunikasi dan transportasi yang canggih merupakan salah satu usaha mengurangi penggangguran dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.

 

Dampak Negatif

Dampak negatif modernisasi dan globalisasi adalah sebagai berikut.

a. Pola Hidup Konsumtif

            Perkembangan industri yang pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah. Dengan begitu masyarakat mudah tertarik untuk mengonsumsi barang dengan banyak pilihan yang ada.

b. Sikap Individualistik

            Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktivitasnya. Kadang mereka lupa bahwa mereka adalah makhluk sosial.

c. Gaya Hidup Kebarat-baratan

            Tidak semua budaya Barat baik dan cocok diterapkan di Indonesia. Budaya negatif yang mulai menggeser budaya asli adalah anak tidak lagi hormat kepada orang tua, kehidupan bebas remaja, dan lain-lain.

d. Kesenjangan Sosial

            Apabila dalam suatu komunitas masyarakat hanya ada beberapa individu yang dapat mengikuti arus modernisasi dan globalisasi maka akan memperdalam jurang pemisah antara individu dengan individu lain yang stagnan. Hal ini menimbulkan kesenjangan sosial. Kesenjangan social menyebabkan adanya jarak antara si kaya dan si miskin sehingga sangat mungkin bias merusak kebhinekaan dan ketunggalikaan Bangsa Indonesia

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.       KESIMPULAN

            Dalam wacana kebudayaan dan sosial, sulit untuk mendefinisikan dan memberikan batasan terhadap budaya lokal atau kearifan lokal, mengingat ini akan terkait teks dan konteks, namun secara etimologi dan keilmuan, tampaknya para pakar sudah berupaya merumuskan sebuah definisi terhadap local culture atau local wisdom ini. berikut penjelasannya:

  • Superculture, adalah kebudayaan yang berlaku bagi seluruh masyarakat. Contoh: kebudayaan nasional;
  • Culture, lebih khusus, misalnya berdasarkan golongan etnik, profesi, wilayah atau daerah. Contoh : Budaya Sunda;
  • Subculture, merupakan kebudyaan khusus dalam sebuah culture, namun kebudyaan ini tidaklah bertentangan dengan kebudayaan induknya. Contoh : budaya gotong royong
  • Counter-culture, tingkatannya sama dengan sub-culture yaitu merupakan bagian turunan dari culture, namun counter-culture ini bertentangan dengan kebudayaan induknya. Contoh : budaya individualisme

Contok beberapa budaya lokal

1. Pakaian adat khas Barat yang disebut Kebaya
2. Wayang Golek
3. Jaipong
4. Degung
5. Rampak Gendang
6. Calung
7. Pencak Silat
8. Sisingaan
9. Kudalumping
10. Bajidoran
11. Cianjuran
12. Kacapi Suling, dan
13. Reog.

            Budaya Nasional adalah gabungan dari budaya daerah yang ada di Negara tersebut. Itu dimaksudkan budaya daerah yang mengalami asimilasi dan akulturasi dengan dareah lain di suatu Negara akan terus tumbuh dan berkembang menjadi kebiasaan-kebiasaan dari Negara tersebut

            Akar kebudayaan Indonesia berhubungan dengan zaman prasejarah, mulai dari nenek moyang kita yang membawa kebudayaan Dongson, setelah itu diikuti oleh perkembangan Islam di Indonesia. Jadi islam juga merupakan salah satu akar kebudayaan Indonesia.

Menurut Koentjaraningrat ada tujuh unsur kebudayaan universal, yaitu:
a. Sistem religi yang meliputi:
     o sistem kepercayaan
     o sistem nilai dan pandangan hidup
     o komunikasi keagamaan
     o upacara keagamaan
b. Sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial yang meliputi:
     o kekerabatan
     o asosiasi dan perkumpulan
     o sistem kenegaraan
     o sistem kesatuan hidup
     o perkumpulan
c. Sistem pengetahuan meliputi pengetahuan tentang:
     o flora dan fauna
     o waktu, ruang dan bilangan
     o tubuh manusia dan perilaku antar sesama manusia
d. Bahasa yaitu alat untuk berkomunikasi berbentuk:
     o lisan
     o tulisan
e. Kesenian yang meliputi:
     o seni patung/pahat
     o relief
     o lukis dan gambar
     o rias
     o vokal
     o musik
     o bangunan
     o kesusastraan
     o drama
f. Sistem mata pencaharian hidup atau sistem ekonomi yang meliputi:
     o berburu dan mengumpulkan makanan
     o bercocok tanam
     o peternakan
     o perikanan
     o perdagangan
g. Sistem peralatan hidup atau teknologi yang meliputi:
     o produksi, distribusi, transportasi
     o peralatan komunikasi
     o peralatan konsumsi dalam bentuk wadah
     o pakaian dan perhiasan
     o tempat berlindung dan perumahan
     o senjata

 

  1. B.       SARAN

       Berikut ini adalah cara-cara mempertahankan kebudayaan Indonesia :

  • Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.
  • Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.
  • Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.
  • Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar- benarnya dan seadil- adilnya.
  • Selektif terhadap kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia
  • Pemerintah harus Menghak-patenkan kebudayaan-kebudayaan di Indonesia.

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Budaya, Lokal. 2011. Contoh Budaya Jawa Barat. (Online), (Http://Budayalokal2.Blogspot.Com/2011/05/Contoh-Budaya-Jawa-  Barat.Html, Diakses Tanggal 13 April 2012)

            Widhihartanto. 2011. Tarian Angguk Hasil Pencampuran Budaya Lokal            Dan      Manca Di Masa Lalu. (Online),           (Http://Widhihartanto.Wordpress.Com/2011/05/18/Tarian-Angguk-Hasil-        Pencampuran-Budaya-Lokal-Dan-Manca-Di-Masa-Lalu/, Diakses Tanggal     13        April 2012)

 

Budaya, Lokal2. 2011. Pengertian Budaya Lokal, (Onlina),    (Http://Budayalokal2.Blogspot.Com/2011/05/Pengertian-Budaya-           Lokal.Html,      Diakses Tanggal 13 April 2012)

 

Cara Pedia. Pengertian Definisi Budaya Menurut Para Ahli, (Online),             (Http://Carapedia.Com/Pengertian_Definisi_Budaya_Menurut_Para_Ahli_        Info      481.Html, Diakses Tanggal 13 April 2012)

 

Dahlan, Forum. 2009. Kebudayaan Nasional. (Online),             (Http://Dahlanforum.Wordpress.Com/2009/10/11/Kebudayaan-Nasional/,        Diakses Tanggal 13 April 2012)

 

Fiveaidy. 2011. Pengertian Budaya Lokal, (Online),   (Http://Fiveaidy.Wordpress.Com/2011/01/25/Pengertian-Budaya-Lokal/,             Diakses Tanggal 13 April 2012)

 

Ghosasquare. 2009. Pengertian Budaya. (Online),      (Http://Ghosasquare.Blogspot.Com/2009/01/Pengertian-Budaya-Daerah-            Dan-Budaya.Html, Diakses Tanggal 13 April 2012)

 

Rustandhie . 2008. Kata Pengantar Seiring Dengan Kemajuan, (Online),             (Http://Rustandhie.Blogspot.Com/2008/11/Kata-Pengantar-Seiring-      Dengan-Kemajuan.Html, Diakses Tanggal 13 April 2012)

 

Redaksi, Geo. 2008. Unsur-Unsur Budaya Universal. (Online), (Http://Geo- Redaksi.Blogspot.Com/2008/09/Unsur-Unsur-Budaya-Universal.Html,             Diakses , Tanggal 13 April 2012)

Image

 

 

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi mata kuliah

“KP Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini”

Yang dibina oleh Dra. Sutansi, M.Pd

 

 

 

KELOMPOK

Binti Sulistiorini, dkk

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH

PRODI S1 PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI

Maret 2012

KATA PENGANTAR

 

            Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Karena dengan segala rahmat dan kasih sayang-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengembangan Membaca Anak Usia Dini dengan Media Flash Card” untuk memenuhi tugas mata kuliah KP Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Dalam penulisan makalah ini banyak bantuan yang diperoleh baik berupa tenaga maupun pikiran dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini ucapan terima kasih diucapkan kepada:

  1. Dra. Sutansi, M.Pd, selaku dosen pembimbing mata kuliah ini.
  2. Kedua orangtua dan saudara yang selalu memberikan dukungan dan semangat serta dukungan sehingga makalah ini dapat diselesaikan.
  3. Serta teman-teman yang telah membantu dalam memberikan saran dan masukan dalam penulian makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, ole karena itu saran dan kritik penulis harapkan untuk kesempurnaan makalah ini. Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan pendidikan terutama pendidikan anak usia dini.

 

 

 

 

 

Blitar,     Maret 2012

 

 

 

 

Penulis            

 

 

DAFTAR ISI

 

 

Halaman sampul……………………………………………………………     i

Kata Pengantar……………………………………………………………      ii

Daftar Isi……………………………………………………………………     iii

 

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah……………………………………………….     1      
  2. Rumusan Masalah………………………………………………………     4
  3. Tujuan Penulisan………………………………………………………     4

 

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pengertian Membaca ………………………………………………………………….     5
  2. Tahap-tahap Perkembangan Membaca …………………………………………      6      
  3. Kemampaun Kesiapan Membaca …………………………………………..      6
  4. Tanda-tanda Kesiapan Membaca ……………………………………….      8
  5. Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca Anak …………….       9
  6. Strategi dan Metode Pengembangan Membaca Anak Usia Dini ……..      11
  7. Pengertian Flash Card ……………………………………………………………….      14
  8. Penggunaan Flash Card ……………………………………………………………..      14
  9. Keuntungan Penggunaan Flash Card bagi Pengembangan Membaca Anak Usia Dini …………………………………………………………………………………                       15

 

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan………………………………………………………………………………..     17
  2. Saran……………………………………………………………………………     18

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Ceria, Bocah. 2009. Metode Pengembangan membaca Untuk Anak, (Online), (http://ceriabocah.blogspot.com/2009/06/metode-pengembangan-membaca-untuk-anak.html, diakses tanggal 25 Pebruari 2012)

 

Dhieni, Nurbiana, dkk. 2009. Metode Pengembangan bahasa. Jakarta: Universitas Terbuka

 

Domba. 2009. Kartu Bergambar Flashcard, (Online), (http://domba-bunting.blogspot.com/2009/04/kartu-bergambar-flashcard.html, diakses tanggal 5 Maret 2012)

 

Elexmedia. 2009. Flash Card, (Online), (http://www.elexmedia.co.id /forum/index.php?topic=15303.0, diakses tanggal 5 Maret 2012)

 

Fatoni. 2009. Pengembangan Kemampuan Membaca Anak Usia Dini Melalui Metode Glenn Domain, (Online), (http://fatonipgsd071644221. wordpress.com/2009/12/30/pengembangan-kemampuan-membaca-anak-usia-dini-melalui-metode-glenn-doman/, diakses tanggal 25 Pebruari 2012)

 

Kaskus. 2010. Flash Card Baby, (Online), (http://www.kaskus.us /showthread.php?t=7213981, diakses tanggal 5 Maret 2012)

 

Rouf, Abdul. 2009. Meode Pengajaran Membaca, (Online), (http://www.mts ppiu.sch.id/bahasa-indonesia/metode-pengajaran-membaca, diakses tanggal 25 Pebruari 2012)

 

Tarigan, Djago. 1991. Bahasa Indonesia I Buku Modul 1-6. Jakarta: Depdikbud

 

Zakir, Chica. 2010. Smarter with Flash Card Learning, (Online), (http://theu rbanmama.com/topics/activities/132/smarter-with-flash-card-learning.html, diakses tanggal 5 Maret 2012)

 

 

Tags:

konco rini raihan

my pren pren….

PENGEMBANGAN MEMBACA ANAK USIA DINI DENGAN MEDIA FLASH CARD

 

 

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi mata kuliah

“KP Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini”

Yang dibina oleh Dra. Sutansi, M.Pd

 

 

 

KELOMPOK

Binti Sulistiorini

Deti ningtyas

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH

PRODI S1 PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI

Maret 2012

KATA PENGANTAR

 

            Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Karena dengan segala rahmat dan kasih sayang-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengembangan Membaca Anak Usia Dini dengan Media Flash Card” untuk memenuhi tugas mata kuliah KP Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Dalam penulisan makalah ini banyak bantuan yang diperoleh baik berupa tenaga maupun pikiran dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini ucapan terima kasih diucapkan kepada:

1.        Dra. Sutansi, M.Pd, selaku dosen pembimbing mata kuliah ini.

2.        Kedua orangtua dan saudara yang selalu memberikan dukungan dan semangat serta dukungan sehingga makalah ini dapat diselesaikan.

3.        Serta teman-teman yang telah membantu dalam memberikan saran dan masukan dalam penulian makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, ole karena itu saran dan kritik penulis harapkan untuk kesempurnaan makalah ini. Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan pendidikan terutama pendidikan anak usia dini.

 

 

 

 

 

Blitar,     Maret 2012

 

 

 

 

Penulis            

 

 

DAFTAR ISI

 

 

Halaman sampul……………………………………………………………     i

Kata Pengantar……………………………………………………………      ii

Daftar Isi……………………………………………………………………     iii

 

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah……………………………………………….     1      
  2. Rumusan Masalah………………………………………………………     4
  3. Tujuan Penulisan………………………………………………………     4

 

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pengertian Membaca ………………………………………………………………….     5
  2. Tahap-tahap Perkembangan Membaca …………………………………………      6      
  3. Kemampaun Kesiapan Membaca …………………………………………..      6
  4. Tanda-tanda Kesiapan Membaca ……………………………………….      8
  5. Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca Anak …………….       9
  6. Strategi dan Metode Pengembangan Membaca Anak Usia Dini ……..      11
  7. Pengertian Flash Card ……………………………………………………………….      14
  8. Penggunaan Flash Card ……………………………………………………………..      14
  9. Keuntungan Penggunaan Flash Card bagi Pengembangan Membaca Anak Usia Dini …………………………………………………………………………………                       15

 

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan………………………………………………………………………………..     17
  2. Saran……………………………………………………………………………     18

 

DAFTAR RUJUKAN

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.      Latar Belakang

            Persoalan membaca, menulis, dan berhitung atau calistung memang merupakan fenomena tersendiri. Kini menjadi semakin hangat dibicarakan para orang tua yang memiliki anak usia dini dan sekolah dasar karena mereka khawatir anak-anaknya tidak mampu mengikuti pelajaran di sekolahnya nanti jika sedari awal belum dibekali keterampilan calistung.

            Kekhawatiran orang tua pun semakin kuat ketika anak-anaknya belum bisa membaca menjelang masuk sekolah dasar. Hal itu membuat para orang tua akhirnya sedikit memaksa anaknya untuk belajar calistung, khususnya membaca. Terlebih lagi, istilah-istilah “tidak lulus”, “tidak naik kelas”, kini semakin menakutkan karena akan berpengaruh pada biaya sekolah yang bertambah kalau akhirnya harus mengulang kelas.

            Selama ini pendidikan anak usia dini didefinisikan sebagai tempat untuk mempersiapkan anak-anak memasuki masa sekolah yang dimulai di jenjang sekolah dasar. Kegiatan yang dilakukan dalam pendidikan anak usia dini pun hanyalah bermain dengan mempergunakan alat-alat bermain edukatif. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung tidak diperkenankan di tingkat pendidikan anak usia dini, kecuali hanya pengenalan huruf-huruf dan angka-angka, itu pun dilakukan setelah anak-anak memasuki pendidikan anak usia dini tahap yang lebih tinggi.

Hal tersebut terjadi dikarenakan selama ini, teori psikologi perkembangan Jean Piaget telah menjadi rujukan utama kurikulum taman kanak-kanak dan bahkan pendidikan secara umum. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung secara tidak langsung dilarang untuk diperkenalkan pada anak-anak di bawah usia 7 tahun. Piaget beranggapan bahwa pada usia di bawah 7 tahun anak belum mencapai fase operasional konkret. Fase itu adalah fase, dimana anak-anak dianggap sudah bisa berpikir terstruktur. Sementara itu, kegiatan belajar calistung sendiri didefinisikan sebagai kegiatan yang memerlukan cara berpikir terstruktur, sehingga tidak cocok diajarkan kepada anak-anak usia dini yang masih berusia balita.

Pada kenyataannya perkembangan dalam pembelajaran di era informasi sekarang ini sebenarnya sudah semakin jauh berubah. Topik pelajaran bukanlah persoalan yang akan menghambat seseorang, pada usia berapapun, untuk mempelajarinya. Syaratnya hanyalah mengubah cara belajar, disesuaikan dengan kecenderungan gaya belajar dan usianya masing-masing sehingga terasa menyenangkan dan membangkitkan minat untuk terus belajar.

Persoalan terpenting adalah merekonstruksi cara untuk mempelajarinya sehingga anak-anak menganggap kegiatan belajar mereka seperti bermain dan bahkan memang berbentuk sebuah permainan. Dan benar jika membaca diajarkan seperti halnya orang dewasa belajar, besar kemungkinan akan berakibat fatal. Anak-anak bisa kehilangan gairah belajarnya karena menganggap pelajaran itu sangat sulit dan tidak menyenangkan. Namun, merujuk pada temuan Howard Gardner tentang kecerdasan majemuk, sesungguhnya pelajaran calistung hanyalah sebagian kecil pelajaran yang perlu diperoleh setiap anak (Fatoni, 2009). Cara kita memandang calistung semestinya juga sama dengan cara kita memandang pelajaran lain, seperti motorik dan kecerdasan bergaul ataupun musikal.

Pelajaran calistung sendiri bisa membaur dengan kegiatan lainnya yang dirancang dalam kurikulum pendidikan anak usia dini tanpa harus membuat anak-anak terbebani. Adakalanya tidak diperlukan waktu ataupun momentum khusus untuk mengajarkan calistung. Anak-anak bisa belajar membaca lewat poster-poster bergambar yang ditempel di dinding kelas. Biasanya dinding kelas hanya berisi gambar benda-benda. Bisa saja mulai saat ini gambar-gambar itu ditambahi poster-poster kata, dengan ukuran huruf yang cukup besar dan warna yang mencolok. Setiap satu atau dua minggu, gambar-gambar diganti dengan yang baru, dan tentu akan muncul lagi kata-kata baru bersamaan dengan penggantian itu. Dalam waktu satu atau dua tahun, bisa kita hitung, lumayan banyak juga kata yang bisa dibaca anak-anak. Jangan heran kalau akhirnya anak-anak bisa membaca tanpa guru yang merasa stres untuk mengajari mereka menghafal huruf atau mengeja.

Glenn Doman menjadi pelopor dalam pengembangan metode belajar membaca dan matematika bagi anak-anak usia dini.  Glenn Doman adalah contoh lain pendobrak teori perkembangan Piaget. Glenn Doman berhasil membantu menyembuhkan orang-orang yang mengalami cedera otak melalui flash card (Fatoni, 2009). Doman membuat kartu-kartu kata yang ditulis dengan tinta berwarna merah pada karton tebal, dengan ukuran huruf yang cukup besar. Kartu-kartu itu ditampilkan di hadapan si pasien dalam waktu cepat, hanya satu detik per kata. Adanya perkembangan pada otak pasiennya membuat ia ingin mencobanya kepada anak-anak bahkan bayi.

Metode flash cards bagi sebagian besar orang adalah mustahil. Karena, bisa saja anak-anak menghafal kata-kata yang sudah diperkenalkan namun akan kebingungan ketika diberikan kata-kata baru yang belum pernah dibacanya.

Kritik terhadap flash cards memang sering dilontarkan orang, termasuk sebagian ahli psikologi. Hal itu disebabkan flash cards dianggap sebagai cara yang kurang rasional, merusak pembelajaran nalar dan logika. Flash cards berbasis hafalan, sedangkan kemampuan membaca menurut para psikolog dan orang pada umumnya harus diproses melalui tahapan-tahapan fonemik dan fonetik. Anak-anak harus terlebih dahulu mengenal huruf dan mampu membedakan bunyi, sampai akhirnya bisa menggabungkan huruf-huruf tersebut menjadi sebuah kata.

Namun, Doman hanya merekomendasikan pembelajaran membaca dan matematika sekitar 45 detik per hari. Bisa dibayangkan, betapa sebentarnya, dan kemungkinan anak-anak merasa terbebani karena metode itu sangatlah kecil. Tidak mengherankan jika anak-anak usia 2 atau 3 tahun pun sudah mahir membaca dan juga menjadi sangat suka serta tentu saja tidak menolak untuk belajar membaca dengan pendekatan tersebut. Untuk itulah, digunakan media flash card ini untuk pengembangan membaca anak usia dini.

 

 

 

 

  1. B.       Rumusan Masalah

Berdasarkan kajian dari latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah-masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Apakah pengertian membaca?
  2. Apa sajakah tahap-tahap perkembangan membaca?
  3. Apa sajakah kemampuan kesiapan membaca?
  4. Apa sajakah tanda-tanda kesiapan membaca?
  5. Apa sajakah faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca anak?
  6. Bagaimanakah strategi dan metode pengembangan membaca pada anak usia dini?
  7. Apakah pengertian flash card?
  8. Bagaimanakah penggunaan flash card?
  9. Apa sajakah keuntungan penggunaan flash card bagi pengembangan membaca anak?

 

  1. C.      Tujuan

            Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka makalah ini bertujuan untuk :

  1. Menjelaskan tentang pengertian membaca.
  2. Menjelaskan tahap-tahap perkembangan membaca.
  3. Menjelaskan kemampuan kesiapan membaca.
  4. Menjelaskan tanda-tanda kesiapan membaca.
  5. Menjelaskan faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca anak.
  6. Menjelaskan strategi dan metode pengembangan membaca pada anak usia dini.
  7. Menjelaskan pengertian flash card.
  8. Menjelaskan penggunaan flash card.
  9. Menjelaskan keuntungan penggunaan flash card bagi pengembangan membaca anak.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.      Pengertian Membaca

            Membaca pada hakikatnya adalah suatu kegiatan menerjemahkan simbol-simbol ke dalam buny-bunyi dan memahami maknanya. Para ahli memberikan pengertian membaca secara berbeda-beda, diantaranya:

  1. Farris (Rouf, 2009) mendefinisikan membaca sebagai pemrosesan kata-kata, konsep, informasi, dan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh pengarang yang berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman awal pembaca. Dengan demikian, pemehaman diperoleh apabila pembaca mempunyai pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dengan apa yang terdapat di dalam bacaan.
  2. Syafi’i (Rouf, 2009) menyatakan bahwa “membaca adalah suatu proses yang bersifat fisik atau yang disebut proses mekanis, berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual, sedangkan proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi”.
  3. Tarigan (1991:7) menjelaskan bahwa “membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui media bahasa tulis”.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Rouf, 2009) membaca didefinisikan sebagai melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis, yang dibaca secara lisan atau dalam hati. Secara linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi.

            Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca merupakan proses menerjemahkan sandi atau simbol-simbol yang tertulis terhadap teks bacaan dengan memanfaatkan kemampuan melihat (mata) yang dimiliki oleh pembaca, dan menerapkan pola berfikir dan bernalar mengolah teks bacaan secara kritis dan kreatif untuk mendapatkan pesan baik secara tersirat maupun tersurat.

  1. B.       Tahap-tahap Perkembangan Membaca

            Kemampuan membaca pada anak berkembang dalam beberapa tahap. Menurut Cochrane Efal (Dhieni, 2009:13) membagi tahap-tahap perkembangan dasar kemampuan membaca anak pada usia 4 – 6 tahun berlangsung dalam lima tahap, yaitu:

  1. Fantasi (Magical strage)
  2. Pembentukan konsep diri (Self concept strange)
  3. Membaca gemar (Brigging reading strange)
  4. Pengenalan bacaan (Sake-off reader strange)
  5. Membaca lancar (Independent reader strange)

Sehubungan dengan tahap perkembangan kemampuan membaca anak, maka perlu diketahui dan dipahami cara untuk menstimulasi potensi-potensi anak sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus agar potensi yang dimiliki anak dapat dikembangkan secara optimal. Karena para ahli syaraf mengatakan bahwa jika gejala-gejala munculnya ke arah positif maka potensi-potensi tersebut akan menjadi potensi yang tersembunyi (Dhieni, 2009:13). Dengan demikian, lingkungan belajar anak memegang peranan yang penting. Lingkungan belajar yang ada harus menciptakan kegiatan-kegiatan yang mampu mengembangkan potensi yang ada pada anak.

 

  1. C.      Kemampuan Kesiapan Membaca

Sebelum mengajarkan membaca kepada anak, kemampuan kesiapan membaca harus dikuasai terlebih dahulu oleh anak. Kesiapan anak ini harus dikuasi oleh anak agar anak berhasil membaca maunpun menulis. Hal ini bertujuan agar diketahui kemampuan kesiapan yang harus diajarkan atau dikuatkan kepada anak (Dhieni, 2009:13). Kemampuan kesiapan membaca itu antara lain:

  1. Kemampuan membedakan auditorial

Anak-anak harus belajar memahami suara-suara umum di lingkungan mereka dan membedakan suara-suara tersebut. Mereka harus mampu memahami konsep volume, lompatan, petunjuk, durasi, rangkaian, tekanan, tempo, pengulangan, kontras suara, dan membedakan suara-suara huruf dalam alfabet.

  1. Kemampuan diskriminasi visual

Anak-anak harus belajar untuk memahami objek dan pengalaman umum dengan gambar-gambar pada foto, lukisan, dan pantonim.  Mereka harus belajar mengidentifikasi warna-warna dasar dan bentuk-bentuk geometris dan mampu menggabungkan objek-objek berdasarkan warna, bentuk, atau ukuran. Mereka harus mampu membedakan kiri dan kanan warna, bentuk maupun atas bawah, dan mengikuti gerakan dari kiri ke kanan maupun dari atas ke bawah. Mereka harus mampu mengatakan bentuk dari gambar latar belakang, mengemukakan detail pada gambar, dan mengetahui pola-pola visual sederhana. Hingga pada akhirnya, mereka harus mampu untuk memahami dan menamai huruf besar dan huruf kecil.

  1. Kemampuan membuat hubungan suara dengan simbol

Anak harus mampu mengaitkan huruf besar dan huruf kecil dengan nama mereka dan dengan suara yang mereka representasikan. Anakharus tahu bahwa d disebut de dan menetapkan suara pada awal kata daging. Sebagian besar anak-anak akan membuat kemajuan awal yang bagus pada kemampuan ini. Dan sedikit diantaranya akan menguasai semua kemampuan suara dengan simbol hingga masa selanjutnya.

  1. Kemampuan perseptual motoris

Anak-anak harus mampu menggunakan otot halus tangan dan jari mereka untuk melakukan koordinasi gerakan dengan apa yang mereka lihat. Mereka harus melatih kemampuan ini, sehingga mereka mampu menyusun puzzle sederhana, gambar lukisan tangan, membentuk tanah liat, merangkai manik-manik, menuangkan benda cair, dan atau menggunakan gunting. Mereka juga harus mampu memegang krayon atau pensil untuk mewarnai gambar-gambar sederhana dalam garis, menjiplak garis dan bentuk di udara dan kertas, menyalin garis dan bentuk tanpa menjiplak. Hingga pada akhirnya, mereka harus mampu menyalin huruf dan kata, menulis nama mereka, menulis huruf yang memadukan suara.

  1. Kemampuan bahasa lisan

Anak-anak yang memasuki usia pendidikan dini dengan kemampuan subtansial untuk berbicara dan mendengarkan. Meskipun demikian, kemampuan ini harus tetap terus dikembangkan dan diperbaiki. Ank-anak harus belajar mendengarkan, mengingat, mengikuti petunjuk, mencatat detail, dan memahami ide utama. Mereka harus menggunakan dan memperluas kosakata bahasa lisan mereka untuk menjelaskan ide-ide, untuk mendiskripsikan objek dan peristiwa, untuk mengekspresikan perasaan mereka sendiri, atau orang imajiner mereka. Hendaknya mereka menjadi senang dengan berbagai pengalaman bahasa dan senang dalam belajar serta menggunakan kata-kata baru.

  1. Membangun sebuah latar belakang pengalaman

Membangun latar belakang pengalaman bagi anak dapat dilakukan dengan bermacam-macam kegiatan, seperti: menceritakan kisah-kisah menarik di kelas, atau menonton film bersama-sama.

 

  1. D.      Tanda-tanda Kesiapan Membaca

Kesiapan anak untuk mengikuti kegiatan membaca atau belajar membaca dapat diketahui dari tanda-tanda kesiapan yang ditunjukkan oleh anak. Dhieni, dkk (2009:17) mengklasifikasikan tanda-tanda kesiapan itu antara lain:

  1. Apakah anak-anak sudah dapat memahami bahasa lisan?

Kemampuan ini dapat diamati pada waktu bercakap-cakap dengan anak, atau apabila disuruh untuk melakukan sesuatu, atau diberi pertanyaan tentang sesuatu. Pemahaman yang dimaksud adalah pemahaman dasar, yaitu kalimat-kalimat sederhana dalam konteks komunikasi, dan sesuai dengan perkembangan bahasa anak.

  1. Apakah anak-anak sudah dapat mengajarkan kata-kata dengan jelas?

Hal ini pun dapat dilakukan ketika bercakap-cakap dengan anak, atau ketika anak mengatakan atau menanyakan sesuatu. Dapat juga dengan menanyakan nama beberapa objek.

  1. Apakah anak-anak sudah mengingat kata?

Kegiatan ini dapat pula diketahui dengan menanyakan pada anak tentang objek-objek tertentu sambil menunjuk objek aslinya. Dan mengulang pertanyaan yang sama keesokan harinya. Jika anak menjawab dengan benar, maka anak tersebut dapat mengingat dengan baik.

  1. Apakah anak-anak sudah mampu mengujarkan bunyi?

Kemampuan ini dapat dikatakan sudah tercakup dalam pertanyaan-pertanyaan di atas. Namun, baik juga diperhatikan secara khusus. Hal ini bisa dilakukan dengan meminta anak untuk menirukan bunyi huruf-huruf yang diujarkan oleh guru.

  1. Apakah anak sudah menunjukkan minat membaca?

Hal ini dapat diketahui dari kegiatan anak memegang buku,membuka-buka buku bacaan lain dan meniru-niru membaca, serta mencoret-coret kertas. Ini berkaitan erat dengan usaha-usaha yang telah dibicarakan terdahulu.

  1. Apakah anak sudah dapat membedakan suara (bunyi) dengan objek secara baik?

Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan pendengaran dan penglihatan. Perilaku ini dapat dilihat dari perilaku anak menanggapi kata-kata suruhan yang berbeda-beda, membedakan berbagaisuara dan bunyi di sekitarnya. Sedang kemampuan membedakan objek-objek dapat diuji melalui berbagai alat permainannya. Dalam kemampuan membedakan hurufhueuf dapat diuji dengan menunjukkan dua huruf yang berbeda dan menanyakan persamaan atau perbedaan huruf itu. Selain kemampuan di atas, kemampuan yang dimaksud juga termasuk kemampuan membedakan arah gerakan, misalnya tangan bergerak dari kiri ke kenan, atau dari atas ke bawah.

 

  1. E.       Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca Anak

Kemampuan membaca ini merupakan kegiatan yang kompleks, artinya banyak faktor yang mempengaruhinya. Tampubolon (­­­­­­­­­­Dhieni, 2009:19) membagi faktor itu menjadi dua, yaitu faktor endogen dan eksogen. Faktor endogen adalah faktor yang berkembang baik secara biologis, maupun psikologis, dan linguistik yang timbul dari diri anak. Sedang, faktor eksogen adalah faktor lingkungan. Kedua faktor ini saling terkait dan mempengaruhi secara bersamaan. Dhieni (2009: 19) menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca, antara lain:

  1. Motivasi

Motivasi merupakan pendorong anak untuk semangat membaca. Motivasi merupakan sebuah ketertarikan untuk membaca. Hal ini penting karena adanya motivasi akan menghasilkan anak yang memiliki kemampuan belajar yang lebih baik. Motivasi sendiri terbagi menjasdi dua berdasarkan sumbernya. Yang pertama adalah motivasi intrinsik, yaitu faktor yang bersumber pada diri pembaca itu sendiri. Yang kedua adalah faktor ekstrinsik, yang bersumbernya terletak di luar pembaca itu.

Cara agar anak termotivasi dan tertarik adalah dengan menyediakan bahan bacaan yang berkualitas tinggi yang memiliki hubungan dengan kehidupan mereka. Selain itu, dapat juga dengan memberi penjelasan kepada anak tentang pengetahuan yang sudah mereka ketahui atau yang belum diketahui, sehingga anak mudah menghubungkan dengan informasi baru. Dalam hal ini, guru sebagai katalisator motivasi dan ketertarikan serta model bagi anak.

  1. Lingkungan keluarga

Seperti yang telah diketahui bahwa anak sangat membutuhkan keteladanan dalam membaca. Keteladanan itu harus sesering mungkin ditunjukkan kepada anak oleh orang tua. Seperti diketahui bahwa anak-anak memiliki potensi untuk meniru secara naluriah. Menurut Leichter (Dhieni, 2009:20) perkembangan kemampuan membaca dan menulis dipengarahui oleh keluarga dalam hal:

  1. Interaksi interpersonal. Interaksi ini terdiri atas pengalaman-pengalaman baca tulis bersama orang tua, saudara, dan anggota keluarga lain di rumah.
  2. Lingkungan fisik. Lingkungan fisik mencakup bahan-bahan bacaan di rumah.
  3. Suasana yan penuh perasaan (emosional) dan memberikan dorongan (motivasional) yang cukup anta individu di rumah, terutama yang tercermin dalam sikap membaca.
  4. Bahan bacaan

Minat baca serta kemampuan membaca seseorang dipengaruhi oleh bahan bacaan. Bahan bacaan yang terlalu sulit bagi seseorang akan mematikan selera untuk membaca. Sehubungan dengan bahan bacaan ini perlu diperhatikan yaitu topik atau isi bacaan dan keterbacaan bahan. Anak harus dikenalkan dengan berbagai macam topik bacaan atu isi bacaan, sehingga dapat menambah wawasan anak namun topik yang di[ih harus menarik bagi anak baik secara segi isi maupun dari segi penyajiannya. Faktor keterbacaan merupakan faktor yang sangat penting dalam pemilihan bahan bacaan. Keterbacaan maupu kesulitan bacaan itu berbeda dengan tingkatan-tingkatan kemampuan anak.

 

  1. F.       Strategi dan Metode Pengembangan Membaca Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini merupakan sebagai tempat bermain, bersosialisasi dan juga sebagai wahana untuk mengembangkan berbagai kemampuan prokolastik yang lebih subtansial. Untuk itu, strategi yang digunakan harus menyediakan dengan tepat sesuai dengan minat yang dibutuhkan anak, juga melibatkan anak dalam situasi yang berbeda dan kelompok kecil, kelompok besar atau secara individual.

Strategi yang dapat digunakan dalam mengembangkan kemampuan membaca anak usia dini adalah dengan pendekatan pengalaman berbahasa. Pendekatan ini diberikan dengan menerapkan konsep DAP (Developmentally Aproppriate Practice) (Dhieni, 2009:22). Pendekatan ini dilakukan melalui bermain dengan menggunakan metode mengajar yang tepat untuk mengembangkan kemampuan membaca serta melibatkan anak dalam kegiatan yang dapat memberi berbagai pengalaman bagi anak. Selain itu, perlu juga memperhatikan motivasi dan minat anak, sehingga kedua faktor itu mampu memberikan pengaruh yang besar dalam pengembangan kemampuan membaca. Strategi ini dilaksanakan dengan memberikan beragam aktivitas yang memperhatikan perkembangan kemampuaan membaca yang dimiliki anak.

Menciptakan suasana bermain pada anak-anak dapat pula dilakukan dengan menggunakan media atau alat permainan, baik media gambar atau yang lain. Pendekatan ini dapat pula dilakukan dengan menggunakan media bermain, seperti kartu, gambar, puzzle, flashcard, dan lain sebagainya.  Selain itu ada beberapa metode yang bisa digunakan dalam pengembangan membaca anak. Metode pengembangan membaca untuk anak usia dini diantaranya (Ceria, 2009):

  1. Pendekatan pengalaman bahasa

            Dalam pendekatan ini guru menggunakan kata-kata anak sendiri untuk membantunya belajar membaca. kata-kata itu dapat berupa penjelasan suatu gambar atau suatu cerita pendek yang dimasukkan ke dalam suatu buku.
            Mula-mula anak itu mengatakan kepada guru apa yang harus ditulis. Setelah beberapa waktu anak-anak dapat menyalin tulisan guru dan akhirnya dapat menulis kata-kata mereka sendiri. Banyak guru menggunakan metode ini sebagai suatu pendekatan pertama untuk membaca. Membaca kata-kata mereka sendiri membantu anak-anak memahami bahwa kata yang tertulis adalah untuk komunikasi makna. Jadi, kekuatan dari pendekatan pengalaman bahasa yang utama adalah dapat membuat anak menggunakan pengalaman mereka sendiri sebagai bahan utama pelajaran membaca. Keunggulan lain dalam pendekatan ini anak menggunakan pola bahasa mereka sendiri, mereka dapat membaca lebih efektif daripada membaca pola bahasa yang ada dalam buku.

  1. Fonik

Metode ini mengandalkan pada pelajaran alfabet yang diberikan terlebih dahulu kepada anak-anak, mempelajari nama-nama huruf dan bunyinya. Setelah mempelajari bunyi huruf mereka mulai merangkum beberapa huruf tertentu untuk membentuk kata-kata.
Contoh : b-a-k r-a- k p-a- k t-a- k
            Untuk memberikan latihan membaca kepada aanak-anak dalam keterampilan ini, buku-buku cerita haruslah dipilih secara terencana, sehingga semua kata bersifat regular, dapat dibunyikan. Luar biasa sukarnya untuk menulis buku dengan kata-kata yang secara fonik bersifat reguler, yang menarik untuk dibaca anak-anak.
            Mempelajari bunyi yang terpencil sangat abstrak bagi anak kecil. Ini tidak berarti apa-apa biasanya mereka menganggapnya sebagai membosankan. Mereka juga harus benar-benar memusatkan pikiran akan pembunyian kata-kata sehingga mereka tidak mampu mengucapkan kata dengan benar tanpa mempunyai gambaran akan artinya. Anak-anak yang diajar dengan metode ini akan belajar dan mengucapkan kata-kata tak bermakna dengan sangat benar, sedangkan jika kata-kata itu dalam kalimat mereka segera tahu bahwa kata-kata itu tidak berarti.
            Karena alasan-alasan inilah metode fonik biasanya tidak diajarkan sampai anak-anak dapat memahami dengan baik dasar-dasar membaca. Tetapi anak-anak yang besar yang merasakan kesukaran membaca, sering merasa pendekatan fonik ini baik bagi mereka.
            Tidak ada bukti pasti bahwa salah satu metode itu lebih unggul daripada yang lain. Kebanyakan guru cenderung menggabung sejumlah metode yang berlainan. Anak-anak yang berlainan memperoleh manfaat dari metode yang berlainan pada tahap yang berlainan.

 

  1. Lihat dan Katakan

Dalam metode ini anak-anak belajar mengenali kata-kata atau kalimat-kalimat keseluruhan, bukanya bunyi-bunyi individu. Mereka memandangi kata-kata, mereka mendengar kata itu diucapkan dan kemudian mereka mengulangi ucpan itu.
            Dua puluh tahun yang lalu orang lazim menggunakan kartu dengan dilihatkan sekilas dalam mengajar dengan metode ini. Kartu-kartu itu dipegang untuk dikenali anak-anak, tapi karena tidak ada petunjuk untuk membantu mereka, si anak menebak-nebak.Sekarang umumnya diakui bahwa lebih baik menunjukkan seluruh kalimat lebih dahulu, dan lebih baik diiringi gambar, kemudian seperangkat kartu kata-kata yang sepadan ditaruh di bawah kalimat, dan akhirnya hanya kartu-kartu itu untuk membuat sebuah kalimat. Dengan cara lain anak-anak dapat memperoleh makna dari dalam kata-kata tercetak dari tahap paling awal belajar membaca.

  1.  Metode pendukung konteks

Bila anak-anak sedang belajar membaca, sangatlah penting bahwa mereka menggunakan buku yang benar-benar menarik bagi mereka. Meskipun demikian mereka tidak dapat menangani terlalu banyak kata baru, dan sukarlah untuk menulis cerita yang menarik dengan kata-kata yang terbatas banyaknya. Untuk mengatasi masalah ini diterbitkan beberapa buku yang memberikan dua versi dari suatu cerita. Bersi panjang seringkali dicantumkan pada satu halaman dan pada halaman sebelahnya ada versi yang lebih pendek.
            Kadang-kadang versi panjang ditaruh pada bagian bawah halaman dan versi pendek dalam gelembung-gelembung bicara. Anak itu mendengar versi panjang sebelum membaca sendiri versi pendeknya. Perbendaharaan kata-kata yang lebih terbatas dari versi pendek dihidupkan karena anak itu dapat mengaitkan dengan apa yang telah ia dengar. Ini merupakan cara yang relatif baru dalam mengajar membaca dini. Cara ini memang membantu untuk membuat kata yang tercetak lebih menarik dan bermakna bagi seorang anak.

 

 

  1. G.      Pengertian Flash Card

Flashcard sering dikenal dengan sebutan education card. Flashcard adalah kartu-kartu bergambar yang dilengkapi kata-kata, yang diperkenalkan oleh Glenn Doman, seorang dokter ahli bedah otak dari Philadelphia, Pennsylvania (Domba, 2009). Gambar-gambar pada flashcard dikelompok-kelompokkan antara lain: seri binatang, buah-buahan, pakaian, warna, bentuk-bentuk angka, dan sebagainya.

Flash Card adalah kartu belajar yang efektif untuk mengingat dan menghafal 3 x lebih cepat (Elexmedia, 2009). Kartu ini mempunyai dua sisi, sisi depan dan sisi belakang. Sisi depan tertulis judul bab, istilah, gambar, pertanyaan atau pernyataan yang perlu diingat. Sementara sisi belakang tertera mind map, definisi, keterangan gambar, jawaban, atau uraian. Namun, tidak semua kartu dalam flashcard seperti di atas, karena flashcard pada dasarnya adalah kartu bergambar yang membantu anak belajar mengingat dan menghafal. Karena tujuan dari metode ini adalah melatih kemampuan otak kanan untuk mengingat gambar dan kata-kata, sehingga perbendaharaan kata dan kemampuan membaca anak bisa dilatih dan ditingkatkan sejak usia dini.

 

  1. H.      Penggunaan Flash Card

Dalam menggunakan flashcard untuk belajar membaca anak, perlu diketahui kunci keberhasilan menggunakan flashcard sebagai education card. Kunci keberhasilan pengenalan melalui flashcard (Zakir, 2010) adalah :

  1. Repetition. Mengucapkan dan mengulangi huruf atau kata pada flashcard dengan lantang dan jelas, tidak terlalu lembut. Dan lebih baik lagi bila susunan kartu yang guru kenalkan benar-benar diingat atau dibagian  belakang kartu bisa diberi nomor sehingga pengulangannya sempurna, tidak acak. Maksud repetition adalah, misalnya hari ini mengenalkan “grapes – banana – peas – apple” maka next session yang di ulang juga susunanannya diusahakan sama yaitu “grapes – banana – peas – apple” dan seterusnya. Setelah lebih dari 3 hari, untuk anak yg sudah bisa bicara ujung-ujung belakang kata, tanya ke mereka, ini apa ya? Dan setelah sudah “khatam” baru boleh diacak.
  2. Gunakan target. Jangan kenalkan macam flashcard secara bersamaan. Contoh: 1 minggu kenalkan dan tamatkan seri kartu A, minggu depan tamat kartu B dan selanjutnya. Siapkan waktu 20-40 menit per sesi.
  3. Menciptakan suasana bermain namun serius dan tetap harus menyenangkan.
  4. mematikan televisi, silent hp, bila perlu tutup pintu kelas saat kegiatan ini dilakukan, supaya anak fokus.
  5. Melihat kesiapan anak untuk belajar. Apakah mereka siap untuk belajar atau tidak. Bila anak rewel, mengantuk, lapar, maka sesi belajar akan sangat tidak menyenangkan.

Tentunya semua sesuai kemampuan anak dan keyakinan guru bahwa anak mampu menangkap dan menerima pelajaran dan pengenalan yang disampaikan.

 

  1. I.         Keuntungan Penggunaan Flash Card bagi Pengembangan Membaca Anak Usia Dini

Flash card adalah kartu permainan yang dilakukan dengan cara menunjukkan gambar secara cepat untuk memicu otak anak agar dapat merima informasi yang ada di hadapan mereka, dan sangat efektif untuk membantu anak belajar membaca, mengenal angka, mengenal huruf di usia sedini mungkin. Adapun manfaat dari metode Flashcard antara lain (Kaskus, 2010) adalah :

1.         Anak akan dapat membaca pada usia sedini mungkin.

2.         Mengembangkan daya ingat otak kanan.

3.         Melatih kemampuan konsentrasi anak.

4.         Memperbanyak perbendaharaan kata dari anak.

Dengan peningkatan fungsi otak kanan, maka mempunyai fungsi luar biasa seperti :

1.        Photographic memory

2.        Speed reading, listening

3.        Automatic mental processing

4.        Mass-memory

5.        Multiple language acquisition

6.        Computer-like math calculation

7.        Creativity in movement, music and art

8.        Intuitive insight

Begitu luar biasanya fungsi dari otak kanan, sementara hampir seluruh kehidupan masyarakat, baik mulai dari sekolah sampai dengan kegiatan sosial sehari-hari hanya menekankan pada kemampuan otak kiri. Sistem pendidikan dan masyarakat juga saat ini hanya menfokuskan pada kemampuan otak kiri saja. Perkembangan otak kanan seakan-akan ditinggalkan begitu saja sejak anak masuk ke Sekolah Dasar.

Dalam hal ini bukan berarti kegunaan otak kiri tidak penting, otak kiri sangatlah penting, tetapi perkembangan otak kanan tidak bisa diabaikan, artinya diperlukan keseimbangan kemampuan kedua belah otak, supaya kecerdasan anak berkembang dengan maksimal, dan otak kanan dari anak juga ikut dikembangkan sebelum anak terjun ke dunia otak kiri di sebagian besar hidupnya nanti.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan otak kanan, antara lain dengan image training, visualisasi, termasuk juga dengan permainan Flash card ini.

Metode Flash card sudah sangat terkenal di negara-negara maju dan terbukti sangat efektif untuk mengajarkan anak membaca di usia yang sedini mungkin. Maka, harus segera memberikan stimulasi-stimulasi kepada anak, sehingga perkembangan otaknya, baik kiri maupun kanan bisa tumbuh dengan seimbang.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.      KESIMPULAN

Selama ini, pendidikan anak usia dini, tidak diperkenankan adanya pelajaran membaca, karena merujuk pada teori psikologi Piaget beranggapan bahwa pada usia di bawah 7 tahun anak belum mencapai fase operasional konkret. Fase itu adalah fase, dimana anak-anak dianggap sudah bisa berpikir terstruktur. Sementara itu, kegiatan belajar membaca sendiri didefinisikan sebagai kegiatan yang memerlukan cara berpikir terstruktur, sehingga tidak cocok diajarkan kepada anak-anak usia dini yang masih berusia balita.

Namun pada kenyataannya di lapangan, anak-anak dituntut mampu membaca sebagai syarat kelulusan pendaftaran di yang lebih tinngi, yaitu sekolah dasar. Untuk itu bila tidak diajarkan membaca sejak dini, kemungkinan anak tidak bisa lulus seleksi masuk sekolah dasar. Sebenarnya topik pelajaran bukanlah persoalan yang akan menghambat seseorang, pada usia berapapun, untuk mempelajarinya. Syaratnya hanyalah mengubah cara belajar, disesuaikan dengan kecenderungan gaya belajar dan usianya masing-masing sehingga terasa menyenangkan dan membangkitkan minat untuk terus belajar.

Glenn Doman menjadi pelopor dalam pengembangan metode belajar membaca dan matematika bagi anak-anak usia dini.  Glenn Doman adalah contoh lain pendobrak teori perkembangan Piaget. Glenn Doman berhasil membantu menyembuhkan orang-orang yang mengalami cedera otak melalui flash card (Fatoni, 2009). Doman hanya merekomendasikan pembelajaran membaca 45 detik per hari. Sehingga kemungkinan anak-anak merasa terbebani karena metode itu sangatlah kecil. Tidak mengherankan jika anak-anak usia 2 atau 3 tahun pun sudah mahir membaca dan juga menjadi sangat suka serta tentu saja tidak menolak untuk belajar membaca dengan pendekatan tersebut.

Flashcard sering dikenal dengan sebutan education card. Flashcard adalah kartu-kartu bergambar yang dilengkapi kata-kata, yang diperkenalkan oleh Glenn Doman, seorang dokter ahli bedah otak dari Philadelphia, Pennsylvania (Domba, 2009). Flash Card adalah kartu belajar yang efektif untuk mengingat dan menghafal 3 x lebih cepat (Elexmedia, 2009). Flashcard pada dasarnya adalah kartu bergambar yang membantu anak belajar mengingat dan menghafal. Karena tujuan dari metode ini adalah melatih kemampuan otak kanan untuk mengingat gambar dan kata-kata, sehingga perbendaharaan kata dan kemampuan membaca anak bisa dilatih dan ditingkatkan sejak usia dini.

Dengan peningkatan fungsi otak kanan, maka mempunyai fungsi luar biasa seperti : Photographic memory, speed reading, listening, automatic mental processing, mass-memory, multiple language acquisition, computer-like math calculation, creativity in movement, music and art, dan intuitive insight. Metode Flash card sendiri sudah sangat terkenal di negara-negara maju dan terbukti sangat efektif untuk mengajarkan anak membaca di usia yang sedini mungkin. Maka, guru harus segera memberikan stimulasi-stimulasi kepada anak, sehingga perkembangan otaknya, baik kiri maupun kanan bisa tumbuh dengan seimbang.

 

B.       SARAN

Flash card adalah kartu permainan yang dilakukan dengan cara menunjukkan gambar secara cepat untuk memicu otak anak agar dapat merima informasi yang ada di hadapan mereka, dan sangat efektif untuk membantu anak belajar membaca, mengenal angka, mengenal huruf di usia sedini mungkin.

Gambar-gambar pada flashcard dikelompok-kelompokkan antara lain: seri binatang, buah-buahan, pakaian, warna, bentuk-bentuk angka, dan sebagainya. Namun, tidak hanya terpaku pada hal tersebut. Guru sendiri juga mampu untuk membuat flash card sesuai dengan kebutuhan yang sesuai dengan di lapangan tempat guru mengajar. Flash card bisa dibeli di toko, didownload di internet, dan jika menginginkan yang lebih bervariasi dan sesuai dengan kebutuhan bisa membuat sendiri baik itu menggunakan komputer, menggunting gambar dari majalah atau koran, sampai dengan menggambar sendiri.

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Ceria, Bocah. 2009. Metode Pengembangan membaca Untuk Anak, (Online), (http://ceriabocah.blogspot.com/2009/06/metode-pengembangan-membaca-untuk-anak.html, diakses tanggal 25 Pebruari 2012)

 

Dhieni, Nurbiana, dkk. 2009. Metode Pengembangan bahasa. Jakarta: Universitas Terbuka

 

Domba. 2009. Kartu Bergambar Flashcard, (Online), (http://domba-bunting.blogspot.com/2009/04/kartu-bergambar-flashcard.html, diakses tanggal 5 Maret 2012)

 

Elexmedia. 2009. Flash Card, (Online), (http://www.elexmedia.co.id /forum/index.php?topic=15303.0, diakses tanggal 5 Maret 2012)

 

Fatoni. 2009. Pengembangan Kemampuan Membaca Anak Usia Dini Melalui Metode Glenn Domain, (Online), (http://fatonipgsd071644221. wordpress.com/2009/12/30/pengembangan-kemampuan-membaca-anak-usia-dini-melalui-metode-glenn-doman/, diakses tanggal 25 Pebruari 2012)

 

Kaskus. 2010. Flash Card Baby, (Online), (http://www.kaskus.us /showthread.php?t=7213981, diakses tanggal 5 Maret 2012)

 

Rouf, Abdul. 2009. Meode Pengajaran Membaca, (Online), (http://www.mts ppiu.sch.id/bahasa-indonesia/metode-pengajaran-membaca, diakses tanggal 25 Pebruari 2012)

 

Tarigan, Djago. 1991. Bahasa Indonesia I Buku Modul 1-6. Jakarta: Depdikbud

 

Zakir, Chica. 2010. Smarter with Flash Card Learning, (Online), (http://theu rbanmama.com/topics/activities/132/smarter-with-flash-card-learning.html, diakses tanggal 5 Maret 2012)

 

selalu saja aku merindu
bahkan saat ku tau dia tak sendiri
apakah karena aku terlalu mencintainya?
ataukah dia adalah hal terindah di hidupku

gila, qku ini sudah gila
mengapa merindu?????
ku tau aku dan dia tak sama
dan tak mungkin bersama
dilihat dari segi apapun kita ini bagaikan air dan minyak

sekian lama aku menghapus
menghapus cinta dalam hati
melupakan segala kenangan yang pernah terjadi
men dell wajahnya dalam memory

bagiku dia adalah penyiksaan
sekecil apapun ingatan tentangnya harus dihapus
kalo q punya setip…bakalan tak setip
lak ora yo tak setipo wae

setelah ini kumohon jauhkanlah dia dari ingatanku
walau sekecil apapun hapus saja semua
hingga aku tak ingat apapun tentangnya
q capek dengan perasaan q sendiri

tolong q ya Rab

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.