riniraihan

PENGEMBANGAN MEMBACA ANAK USIA DINI DENGAN MEDIA FLASH CARD

Posted on: April 18, 2012

PENGEMBANGAN MEMBACA ANAK USIA DINI DENGAN MEDIA FLASH CARD

 

 

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi mata kuliah

“KP Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini”

Yang dibina oleh Dra. Sutansi, M.Pd

 

 

 

KELOMPOK

Binti Sulistiorini

Deti ningtyas

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH

PRODI S1 PENDIDIKAN GURU ANAK USIA DINI

Maret 2012

KATA PENGANTAR

 

            Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam. Karena dengan segala rahmat dan kasih sayang-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengembangan Membaca Anak Usia Dini dengan Media Flash Card” untuk memenuhi tugas mata kuliah KP Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Dalam penulisan makalah ini banyak bantuan yang diperoleh baik berupa tenaga maupun pikiran dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini ucapan terima kasih diucapkan kepada:

1.        Dra. Sutansi, M.Pd, selaku dosen pembimbing mata kuliah ini.

2.        Kedua orangtua dan saudara yang selalu memberikan dukungan dan semangat serta dukungan sehingga makalah ini dapat diselesaikan.

3.        Serta teman-teman yang telah membantu dalam memberikan saran dan masukan dalam penulian makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, ole karena itu saran dan kritik penulis harapkan untuk kesempurnaan makalah ini. Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan dan kemajuan pendidikan terutama pendidikan anak usia dini.

 

 

 

 

 

Blitar,     Maret 2012

 

 

 

 

Penulis            

 

 

DAFTAR ISI

 

 

Halaman sampul……………………………………………………………     i

Kata Pengantar……………………………………………………………      ii

Daftar Isi……………………………………………………………………     iii

 

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah……………………………………………….     1      
  2. Rumusan Masalah………………………………………………………     4
  3. Tujuan Penulisan………………………………………………………     4

 

BAB II PEMBAHASAN

  1. Pengertian Membaca ………………………………………………………………….     5
  2. Tahap-tahap Perkembangan Membaca …………………………………………      6      
  3. Kemampaun Kesiapan Membaca …………………………………………..      6
  4. Tanda-tanda Kesiapan Membaca ……………………………………….      8
  5. Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca Anak …………….       9
  6. Strategi dan Metode Pengembangan Membaca Anak Usia Dini ……..      11
  7. Pengertian Flash Card ……………………………………………………………….      14
  8. Penggunaan Flash Card ……………………………………………………………..      14
  9. Keuntungan Penggunaan Flash Card bagi Pengembangan Membaca Anak Usia Dini …………………………………………………………………………………                       15

 

BAB III PENUTUP

  1. Kesimpulan………………………………………………………………………………..     17
  2. Saran……………………………………………………………………………     18

 

DAFTAR RUJUKAN

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

  1. A.      Latar Belakang

            Persoalan membaca, menulis, dan berhitung atau calistung memang merupakan fenomena tersendiri. Kini menjadi semakin hangat dibicarakan para orang tua yang memiliki anak usia dini dan sekolah dasar karena mereka khawatir anak-anaknya tidak mampu mengikuti pelajaran di sekolahnya nanti jika sedari awal belum dibekali keterampilan calistung.

            Kekhawatiran orang tua pun semakin kuat ketika anak-anaknya belum bisa membaca menjelang masuk sekolah dasar. Hal itu membuat para orang tua akhirnya sedikit memaksa anaknya untuk belajar calistung, khususnya membaca. Terlebih lagi, istilah-istilah “tidak lulus”, “tidak naik kelas”, kini semakin menakutkan karena akan berpengaruh pada biaya sekolah yang bertambah kalau akhirnya harus mengulang kelas.

            Selama ini pendidikan anak usia dini didefinisikan sebagai tempat untuk mempersiapkan anak-anak memasuki masa sekolah yang dimulai di jenjang sekolah dasar. Kegiatan yang dilakukan dalam pendidikan anak usia dini pun hanyalah bermain dengan mempergunakan alat-alat bermain edukatif. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung tidak diperkenankan di tingkat pendidikan anak usia dini, kecuali hanya pengenalan huruf-huruf dan angka-angka, itu pun dilakukan setelah anak-anak memasuki pendidikan anak usia dini tahap yang lebih tinggi.

Hal tersebut terjadi dikarenakan selama ini, teori psikologi perkembangan Jean Piaget telah menjadi rujukan utama kurikulum taman kanak-kanak dan bahkan pendidikan secara umum. Pelajaran membaca, menulis, dan berhitung secara tidak langsung dilarang untuk diperkenalkan pada anak-anak di bawah usia 7 tahun. Piaget beranggapan bahwa pada usia di bawah 7 tahun anak belum mencapai fase operasional konkret. Fase itu adalah fase, dimana anak-anak dianggap sudah bisa berpikir terstruktur. Sementara itu, kegiatan belajar calistung sendiri didefinisikan sebagai kegiatan yang memerlukan cara berpikir terstruktur, sehingga tidak cocok diajarkan kepada anak-anak usia dini yang masih berusia balita.

Pada kenyataannya perkembangan dalam pembelajaran di era informasi sekarang ini sebenarnya sudah semakin jauh berubah. Topik pelajaran bukanlah persoalan yang akan menghambat seseorang, pada usia berapapun, untuk mempelajarinya. Syaratnya hanyalah mengubah cara belajar, disesuaikan dengan kecenderungan gaya belajar dan usianya masing-masing sehingga terasa menyenangkan dan membangkitkan minat untuk terus belajar.

Persoalan terpenting adalah merekonstruksi cara untuk mempelajarinya sehingga anak-anak menganggap kegiatan belajar mereka seperti bermain dan bahkan memang berbentuk sebuah permainan. Dan benar jika membaca diajarkan seperti halnya orang dewasa belajar, besar kemungkinan akan berakibat fatal. Anak-anak bisa kehilangan gairah belajarnya karena menganggap pelajaran itu sangat sulit dan tidak menyenangkan. Namun, merujuk pada temuan Howard Gardner tentang kecerdasan majemuk, sesungguhnya pelajaran calistung hanyalah sebagian kecil pelajaran yang perlu diperoleh setiap anak (Fatoni, 2009). Cara kita memandang calistung semestinya juga sama dengan cara kita memandang pelajaran lain, seperti motorik dan kecerdasan bergaul ataupun musikal.

Pelajaran calistung sendiri bisa membaur dengan kegiatan lainnya yang dirancang dalam kurikulum pendidikan anak usia dini tanpa harus membuat anak-anak terbebani. Adakalanya tidak diperlukan waktu ataupun momentum khusus untuk mengajarkan calistung. Anak-anak bisa belajar membaca lewat poster-poster bergambar yang ditempel di dinding kelas. Biasanya dinding kelas hanya berisi gambar benda-benda. Bisa saja mulai saat ini gambar-gambar itu ditambahi poster-poster kata, dengan ukuran huruf yang cukup besar dan warna yang mencolok. Setiap satu atau dua minggu, gambar-gambar diganti dengan yang baru, dan tentu akan muncul lagi kata-kata baru bersamaan dengan penggantian itu. Dalam waktu satu atau dua tahun, bisa kita hitung, lumayan banyak juga kata yang bisa dibaca anak-anak. Jangan heran kalau akhirnya anak-anak bisa membaca tanpa guru yang merasa stres untuk mengajari mereka menghafal huruf atau mengeja.

Glenn Doman menjadi pelopor dalam pengembangan metode belajar membaca dan matematika bagi anak-anak usia dini.  Glenn Doman adalah contoh lain pendobrak teori perkembangan Piaget. Glenn Doman berhasil membantu menyembuhkan orang-orang yang mengalami cedera otak melalui flash card (Fatoni, 2009). Doman membuat kartu-kartu kata yang ditulis dengan tinta berwarna merah pada karton tebal, dengan ukuran huruf yang cukup besar. Kartu-kartu itu ditampilkan di hadapan si pasien dalam waktu cepat, hanya satu detik per kata. Adanya perkembangan pada otak pasiennya membuat ia ingin mencobanya kepada anak-anak bahkan bayi.

Metode flash cards bagi sebagian besar orang adalah mustahil. Karena, bisa saja anak-anak menghafal kata-kata yang sudah diperkenalkan namun akan kebingungan ketika diberikan kata-kata baru yang belum pernah dibacanya.

Kritik terhadap flash cards memang sering dilontarkan orang, termasuk sebagian ahli psikologi. Hal itu disebabkan flash cards dianggap sebagai cara yang kurang rasional, merusak pembelajaran nalar dan logika. Flash cards berbasis hafalan, sedangkan kemampuan membaca menurut para psikolog dan orang pada umumnya harus diproses melalui tahapan-tahapan fonemik dan fonetik. Anak-anak harus terlebih dahulu mengenal huruf dan mampu membedakan bunyi, sampai akhirnya bisa menggabungkan huruf-huruf tersebut menjadi sebuah kata.

Namun, Doman hanya merekomendasikan pembelajaran membaca dan matematika sekitar 45 detik per hari. Bisa dibayangkan, betapa sebentarnya, dan kemungkinan anak-anak merasa terbebani karena metode itu sangatlah kecil. Tidak mengherankan jika anak-anak usia 2 atau 3 tahun pun sudah mahir membaca dan juga menjadi sangat suka serta tentu saja tidak menolak untuk belajar membaca dengan pendekatan tersebut. Untuk itulah, digunakan media flash card ini untuk pengembangan membaca anak usia dini.

 

 

 

 

  1. B.       Rumusan Masalah

Berdasarkan kajian dari latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah-masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Apakah pengertian membaca?
  2. Apa sajakah tahap-tahap perkembangan membaca?
  3. Apa sajakah kemampuan kesiapan membaca?
  4. Apa sajakah tanda-tanda kesiapan membaca?
  5. Apa sajakah faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca anak?
  6. Bagaimanakah strategi dan metode pengembangan membaca pada anak usia dini?
  7. Apakah pengertian flash card?
  8. Bagaimanakah penggunaan flash card?
  9. Apa sajakah keuntungan penggunaan flash card bagi pengembangan membaca anak?

 

  1. C.      Tujuan

            Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka makalah ini bertujuan untuk :

  1. Menjelaskan tentang pengertian membaca.
  2. Menjelaskan tahap-tahap perkembangan membaca.
  3. Menjelaskan kemampuan kesiapan membaca.
  4. Menjelaskan tanda-tanda kesiapan membaca.
  5. Menjelaskan faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca anak.
  6. Menjelaskan strategi dan metode pengembangan membaca pada anak usia dini.
  7. Menjelaskan pengertian flash card.
  8. Menjelaskan penggunaan flash card.
  9. Menjelaskan keuntungan penggunaan flash card bagi pengembangan membaca anak.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.      Pengertian Membaca

            Membaca pada hakikatnya adalah suatu kegiatan menerjemahkan simbol-simbol ke dalam buny-bunyi dan memahami maknanya. Para ahli memberikan pengertian membaca secara berbeda-beda, diantaranya:

  1. Farris (Rouf, 2009) mendefinisikan membaca sebagai pemrosesan kata-kata, konsep, informasi, dan gagasan-gagasan yang dikemukakan oleh pengarang yang berhubungan dengan pengetahuan dan pengalaman awal pembaca. Dengan demikian, pemehaman diperoleh apabila pembaca mempunyai pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dengan apa yang terdapat di dalam bacaan.
  2. Syafi’i (Rouf, 2009) menyatakan bahwa “membaca adalah suatu proses yang bersifat fisik atau yang disebut proses mekanis, berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual, sedangkan proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi”.
  3. Tarigan (1991:7) menjelaskan bahwa “membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan penulis melalui media bahasa tulis”.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Rouf, 2009) membaca didefinisikan sebagai melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis, yang dibaca secara lisan atau dalam hati. Secara linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi.

            Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca merupakan proses menerjemahkan sandi atau simbol-simbol yang tertulis terhadap teks bacaan dengan memanfaatkan kemampuan melihat (mata) yang dimiliki oleh pembaca, dan menerapkan pola berfikir dan bernalar mengolah teks bacaan secara kritis dan kreatif untuk mendapatkan pesan baik secara tersirat maupun tersurat.

  1. B.       Tahap-tahap Perkembangan Membaca

            Kemampuan membaca pada anak berkembang dalam beberapa tahap. Menurut Cochrane Efal (Dhieni, 2009:13) membagi tahap-tahap perkembangan dasar kemampuan membaca anak pada usia 4 – 6 tahun berlangsung dalam lima tahap, yaitu:

  1. Fantasi (Magical strage)
  2. Pembentukan konsep diri (Self concept strange)
  3. Membaca gemar (Brigging reading strange)
  4. Pengenalan bacaan (Sake-off reader strange)
  5. Membaca lancar (Independent reader strange)

Sehubungan dengan tahap perkembangan kemampuan membaca anak, maka perlu diketahui dan dipahami cara untuk menstimulasi potensi-potensi anak sesuai dengan tahap-tahap perkembangannya. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus agar potensi yang dimiliki anak dapat dikembangkan secara optimal. Karena para ahli syaraf mengatakan bahwa jika gejala-gejala munculnya ke arah positif maka potensi-potensi tersebut akan menjadi potensi yang tersembunyi (Dhieni, 2009:13). Dengan demikian, lingkungan belajar anak memegang peranan yang penting. Lingkungan belajar yang ada harus menciptakan kegiatan-kegiatan yang mampu mengembangkan potensi yang ada pada anak.

 

  1. C.      Kemampuan Kesiapan Membaca

Sebelum mengajarkan membaca kepada anak, kemampuan kesiapan membaca harus dikuasai terlebih dahulu oleh anak. Kesiapan anak ini harus dikuasi oleh anak agar anak berhasil membaca maunpun menulis. Hal ini bertujuan agar diketahui kemampuan kesiapan yang harus diajarkan atau dikuatkan kepada anak (Dhieni, 2009:13). Kemampuan kesiapan membaca itu antara lain:

  1. Kemampuan membedakan auditorial

Anak-anak harus belajar memahami suara-suara umum di lingkungan mereka dan membedakan suara-suara tersebut. Mereka harus mampu memahami konsep volume, lompatan, petunjuk, durasi, rangkaian, tekanan, tempo, pengulangan, kontras suara, dan membedakan suara-suara huruf dalam alfabet.

  1. Kemampuan diskriminasi visual

Anak-anak harus belajar untuk memahami objek dan pengalaman umum dengan gambar-gambar pada foto, lukisan, dan pantonim.  Mereka harus belajar mengidentifikasi warna-warna dasar dan bentuk-bentuk geometris dan mampu menggabungkan objek-objek berdasarkan warna, bentuk, atau ukuran. Mereka harus mampu membedakan kiri dan kanan warna, bentuk maupun atas bawah, dan mengikuti gerakan dari kiri ke kanan maupun dari atas ke bawah. Mereka harus mampu mengatakan bentuk dari gambar latar belakang, mengemukakan detail pada gambar, dan mengetahui pola-pola visual sederhana. Hingga pada akhirnya, mereka harus mampu untuk memahami dan menamai huruf besar dan huruf kecil.

  1. Kemampuan membuat hubungan suara dengan simbol

Anak harus mampu mengaitkan huruf besar dan huruf kecil dengan nama mereka dan dengan suara yang mereka representasikan. Anakharus tahu bahwa d disebut de dan menetapkan suara pada awal kata daging. Sebagian besar anak-anak akan membuat kemajuan awal yang bagus pada kemampuan ini. Dan sedikit diantaranya akan menguasai semua kemampuan suara dengan simbol hingga masa selanjutnya.

  1. Kemampuan perseptual motoris

Anak-anak harus mampu menggunakan otot halus tangan dan jari mereka untuk melakukan koordinasi gerakan dengan apa yang mereka lihat. Mereka harus melatih kemampuan ini, sehingga mereka mampu menyusun puzzle sederhana, gambar lukisan tangan, membentuk tanah liat, merangkai manik-manik, menuangkan benda cair, dan atau menggunakan gunting. Mereka juga harus mampu memegang krayon atau pensil untuk mewarnai gambar-gambar sederhana dalam garis, menjiplak garis dan bentuk di udara dan kertas, menyalin garis dan bentuk tanpa menjiplak. Hingga pada akhirnya, mereka harus mampu menyalin huruf dan kata, menulis nama mereka, menulis huruf yang memadukan suara.

  1. Kemampuan bahasa lisan

Anak-anak yang memasuki usia pendidikan dini dengan kemampuan subtansial untuk berbicara dan mendengarkan. Meskipun demikian, kemampuan ini harus tetap terus dikembangkan dan diperbaiki. Ank-anak harus belajar mendengarkan, mengingat, mengikuti petunjuk, mencatat detail, dan memahami ide utama. Mereka harus menggunakan dan memperluas kosakata bahasa lisan mereka untuk menjelaskan ide-ide, untuk mendiskripsikan objek dan peristiwa, untuk mengekspresikan perasaan mereka sendiri, atau orang imajiner mereka. Hendaknya mereka menjadi senang dengan berbagai pengalaman bahasa dan senang dalam belajar serta menggunakan kata-kata baru.

  1. Membangun sebuah latar belakang pengalaman

Membangun latar belakang pengalaman bagi anak dapat dilakukan dengan bermacam-macam kegiatan, seperti: menceritakan kisah-kisah menarik di kelas, atau menonton film bersama-sama.

 

  1. D.      Tanda-tanda Kesiapan Membaca

Kesiapan anak untuk mengikuti kegiatan membaca atau belajar membaca dapat diketahui dari tanda-tanda kesiapan yang ditunjukkan oleh anak. Dhieni, dkk (2009:17) mengklasifikasikan tanda-tanda kesiapan itu antara lain:

  1. Apakah anak-anak sudah dapat memahami bahasa lisan?

Kemampuan ini dapat diamati pada waktu bercakap-cakap dengan anak, atau apabila disuruh untuk melakukan sesuatu, atau diberi pertanyaan tentang sesuatu. Pemahaman yang dimaksud adalah pemahaman dasar, yaitu kalimat-kalimat sederhana dalam konteks komunikasi, dan sesuai dengan perkembangan bahasa anak.

  1. Apakah anak-anak sudah dapat mengajarkan kata-kata dengan jelas?

Hal ini pun dapat dilakukan ketika bercakap-cakap dengan anak, atau ketika anak mengatakan atau menanyakan sesuatu. Dapat juga dengan menanyakan nama beberapa objek.

  1. Apakah anak-anak sudah mengingat kata?

Kegiatan ini dapat pula diketahui dengan menanyakan pada anak tentang objek-objek tertentu sambil menunjuk objek aslinya. Dan mengulang pertanyaan yang sama keesokan harinya. Jika anak menjawab dengan benar, maka anak tersebut dapat mengingat dengan baik.

  1. Apakah anak-anak sudah mampu mengujarkan bunyi?

Kemampuan ini dapat dikatakan sudah tercakup dalam pertanyaan-pertanyaan di atas. Namun, baik juga diperhatikan secara khusus. Hal ini bisa dilakukan dengan meminta anak untuk menirukan bunyi huruf-huruf yang diujarkan oleh guru.

  1. Apakah anak sudah menunjukkan minat membaca?

Hal ini dapat diketahui dari kegiatan anak memegang buku,membuka-buka buku bacaan lain dan meniru-niru membaca, serta mencoret-coret kertas. Ini berkaitan erat dengan usaha-usaha yang telah dibicarakan terdahulu.

  1. Apakah anak sudah dapat membedakan suara (bunyi) dengan objek secara baik?

Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan pendengaran dan penglihatan. Perilaku ini dapat dilihat dari perilaku anak menanggapi kata-kata suruhan yang berbeda-beda, membedakan berbagaisuara dan bunyi di sekitarnya. Sedang kemampuan membedakan objek-objek dapat diuji melalui berbagai alat permainannya. Dalam kemampuan membedakan hurufhueuf dapat diuji dengan menunjukkan dua huruf yang berbeda dan menanyakan persamaan atau perbedaan huruf itu. Selain kemampuan di atas, kemampuan yang dimaksud juga termasuk kemampuan membedakan arah gerakan, misalnya tangan bergerak dari kiri ke kenan, atau dari atas ke bawah.

 

  1. E.       Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca Anak

Kemampuan membaca ini merupakan kegiatan yang kompleks, artinya banyak faktor yang mempengaruhinya. Tampubolon (­­­­­­­­­­Dhieni, 2009:19) membagi faktor itu menjadi dua, yaitu faktor endogen dan eksogen. Faktor endogen adalah faktor yang berkembang baik secara biologis, maupun psikologis, dan linguistik yang timbul dari diri anak. Sedang, faktor eksogen adalah faktor lingkungan. Kedua faktor ini saling terkait dan mempengaruhi secara bersamaan. Dhieni (2009: 19) menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca, antara lain:

  1. Motivasi

Motivasi merupakan pendorong anak untuk semangat membaca. Motivasi merupakan sebuah ketertarikan untuk membaca. Hal ini penting karena adanya motivasi akan menghasilkan anak yang memiliki kemampuan belajar yang lebih baik. Motivasi sendiri terbagi menjasdi dua berdasarkan sumbernya. Yang pertama adalah motivasi intrinsik, yaitu faktor yang bersumber pada diri pembaca itu sendiri. Yang kedua adalah faktor ekstrinsik, yang bersumbernya terletak di luar pembaca itu.

Cara agar anak termotivasi dan tertarik adalah dengan menyediakan bahan bacaan yang berkualitas tinggi yang memiliki hubungan dengan kehidupan mereka. Selain itu, dapat juga dengan memberi penjelasan kepada anak tentang pengetahuan yang sudah mereka ketahui atau yang belum diketahui, sehingga anak mudah menghubungkan dengan informasi baru. Dalam hal ini, guru sebagai katalisator motivasi dan ketertarikan serta model bagi anak.

  1. Lingkungan keluarga

Seperti yang telah diketahui bahwa anak sangat membutuhkan keteladanan dalam membaca. Keteladanan itu harus sesering mungkin ditunjukkan kepada anak oleh orang tua. Seperti diketahui bahwa anak-anak memiliki potensi untuk meniru secara naluriah. Menurut Leichter (Dhieni, 2009:20) perkembangan kemampuan membaca dan menulis dipengarahui oleh keluarga dalam hal:

  1. Interaksi interpersonal. Interaksi ini terdiri atas pengalaman-pengalaman baca tulis bersama orang tua, saudara, dan anggota keluarga lain di rumah.
  2. Lingkungan fisik. Lingkungan fisik mencakup bahan-bahan bacaan di rumah.
  3. Suasana yan penuh perasaan (emosional) dan memberikan dorongan (motivasional) yang cukup anta individu di rumah, terutama yang tercermin dalam sikap membaca.
  4. Bahan bacaan

Minat baca serta kemampuan membaca seseorang dipengaruhi oleh bahan bacaan. Bahan bacaan yang terlalu sulit bagi seseorang akan mematikan selera untuk membaca. Sehubungan dengan bahan bacaan ini perlu diperhatikan yaitu topik atau isi bacaan dan keterbacaan bahan. Anak harus dikenalkan dengan berbagai macam topik bacaan atu isi bacaan, sehingga dapat menambah wawasan anak namun topik yang di[ih harus menarik bagi anak baik secara segi isi maupun dari segi penyajiannya. Faktor keterbacaan merupakan faktor yang sangat penting dalam pemilihan bahan bacaan. Keterbacaan maupu kesulitan bacaan itu berbeda dengan tingkatan-tingkatan kemampuan anak.

 

  1. F.       Strategi dan Metode Pengembangan Membaca Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini merupakan sebagai tempat bermain, bersosialisasi dan juga sebagai wahana untuk mengembangkan berbagai kemampuan prokolastik yang lebih subtansial. Untuk itu, strategi yang digunakan harus menyediakan dengan tepat sesuai dengan minat yang dibutuhkan anak, juga melibatkan anak dalam situasi yang berbeda dan kelompok kecil, kelompok besar atau secara individual.

Strategi yang dapat digunakan dalam mengembangkan kemampuan membaca anak usia dini adalah dengan pendekatan pengalaman berbahasa. Pendekatan ini diberikan dengan menerapkan konsep DAP (Developmentally Aproppriate Practice) (Dhieni, 2009:22). Pendekatan ini dilakukan melalui bermain dengan menggunakan metode mengajar yang tepat untuk mengembangkan kemampuan membaca serta melibatkan anak dalam kegiatan yang dapat memberi berbagai pengalaman bagi anak. Selain itu, perlu juga memperhatikan motivasi dan minat anak, sehingga kedua faktor itu mampu memberikan pengaruh yang besar dalam pengembangan kemampuan membaca. Strategi ini dilaksanakan dengan memberikan beragam aktivitas yang memperhatikan perkembangan kemampuaan membaca yang dimiliki anak.

Menciptakan suasana bermain pada anak-anak dapat pula dilakukan dengan menggunakan media atau alat permainan, baik media gambar atau yang lain. Pendekatan ini dapat pula dilakukan dengan menggunakan media bermain, seperti kartu, gambar, puzzle, flashcard, dan lain sebagainya.  Selain itu ada beberapa metode yang bisa digunakan dalam pengembangan membaca anak. Metode pengembangan membaca untuk anak usia dini diantaranya (Ceria, 2009):

  1. Pendekatan pengalaman bahasa

            Dalam pendekatan ini guru menggunakan kata-kata anak sendiri untuk membantunya belajar membaca. kata-kata itu dapat berupa penjelasan suatu gambar atau suatu cerita pendek yang dimasukkan ke dalam suatu buku.
            Mula-mula anak itu mengatakan kepada guru apa yang harus ditulis. Setelah beberapa waktu anak-anak dapat menyalin tulisan guru dan akhirnya dapat menulis kata-kata mereka sendiri. Banyak guru menggunakan metode ini sebagai suatu pendekatan pertama untuk membaca. Membaca kata-kata mereka sendiri membantu anak-anak memahami bahwa kata yang tertulis adalah untuk komunikasi makna. Jadi, kekuatan dari pendekatan pengalaman bahasa yang utama adalah dapat membuat anak menggunakan pengalaman mereka sendiri sebagai bahan utama pelajaran membaca. Keunggulan lain dalam pendekatan ini anak menggunakan pola bahasa mereka sendiri, mereka dapat membaca lebih efektif daripada membaca pola bahasa yang ada dalam buku.

  1. Fonik

Metode ini mengandalkan pada pelajaran alfabet yang diberikan terlebih dahulu kepada anak-anak, mempelajari nama-nama huruf dan bunyinya. Setelah mempelajari bunyi huruf mereka mulai merangkum beberapa huruf tertentu untuk membentuk kata-kata.
Contoh : b-a-k r-a- k p-a- k t-a- k
            Untuk memberikan latihan membaca kepada aanak-anak dalam keterampilan ini, buku-buku cerita haruslah dipilih secara terencana, sehingga semua kata bersifat regular, dapat dibunyikan. Luar biasa sukarnya untuk menulis buku dengan kata-kata yang secara fonik bersifat reguler, yang menarik untuk dibaca anak-anak.
            Mempelajari bunyi yang terpencil sangat abstrak bagi anak kecil. Ini tidak berarti apa-apa biasanya mereka menganggapnya sebagai membosankan. Mereka juga harus benar-benar memusatkan pikiran akan pembunyian kata-kata sehingga mereka tidak mampu mengucapkan kata dengan benar tanpa mempunyai gambaran akan artinya. Anak-anak yang diajar dengan metode ini akan belajar dan mengucapkan kata-kata tak bermakna dengan sangat benar, sedangkan jika kata-kata itu dalam kalimat mereka segera tahu bahwa kata-kata itu tidak berarti.
            Karena alasan-alasan inilah metode fonik biasanya tidak diajarkan sampai anak-anak dapat memahami dengan baik dasar-dasar membaca. Tetapi anak-anak yang besar yang merasakan kesukaran membaca, sering merasa pendekatan fonik ini baik bagi mereka.
            Tidak ada bukti pasti bahwa salah satu metode itu lebih unggul daripada yang lain. Kebanyakan guru cenderung menggabung sejumlah metode yang berlainan. Anak-anak yang berlainan memperoleh manfaat dari metode yang berlainan pada tahap yang berlainan.

 

  1. Lihat dan Katakan

Dalam metode ini anak-anak belajar mengenali kata-kata atau kalimat-kalimat keseluruhan, bukanya bunyi-bunyi individu. Mereka memandangi kata-kata, mereka mendengar kata itu diucapkan dan kemudian mereka mengulangi ucpan itu.
            Dua puluh tahun yang lalu orang lazim menggunakan kartu dengan dilihatkan sekilas dalam mengajar dengan metode ini. Kartu-kartu itu dipegang untuk dikenali anak-anak, tapi karena tidak ada petunjuk untuk membantu mereka, si anak menebak-nebak.Sekarang umumnya diakui bahwa lebih baik menunjukkan seluruh kalimat lebih dahulu, dan lebih baik diiringi gambar, kemudian seperangkat kartu kata-kata yang sepadan ditaruh di bawah kalimat, dan akhirnya hanya kartu-kartu itu untuk membuat sebuah kalimat. Dengan cara lain anak-anak dapat memperoleh makna dari dalam kata-kata tercetak dari tahap paling awal belajar membaca.

  1.  Metode pendukung konteks

Bila anak-anak sedang belajar membaca, sangatlah penting bahwa mereka menggunakan buku yang benar-benar menarik bagi mereka. Meskipun demikian mereka tidak dapat menangani terlalu banyak kata baru, dan sukarlah untuk menulis cerita yang menarik dengan kata-kata yang terbatas banyaknya. Untuk mengatasi masalah ini diterbitkan beberapa buku yang memberikan dua versi dari suatu cerita. Bersi panjang seringkali dicantumkan pada satu halaman dan pada halaman sebelahnya ada versi yang lebih pendek.
            Kadang-kadang versi panjang ditaruh pada bagian bawah halaman dan versi pendek dalam gelembung-gelembung bicara. Anak itu mendengar versi panjang sebelum membaca sendiri versi pendeknya. Perbendaharaan kata-kata yang lebih terbatas dari versi pendek dihidupkan karena anak itu dapat mengaitkan dengan apa yang telah ia dengar. Ini merupakan cara yang relatif baru dalam mengajar membaca dini. Cara ini memang membantu untuk membuat kata yang tercetak lebih menarik dan bermakna bagi seorang anak.

 

 

  1. G.      Pengertian Flash Card

Flashcard sering dikenal dengan sebutan education card. Flashcard adalah kartu-kartu bergambar yang dilengkapi kata-kata, yang diperkenalkan oleh Glenn Doman, seorang dokter ahli bedah otak dari Philadelphia, Pennsylvania (Domba, 2009). Gambar-gambar pada flashcard dikelompok-kelompokkan antara lain: seri binatang, buah-buahan, pakaian, warna, bentuk-bentuk angka, dan sebagainya.

Flash Card adalah kartu belajar yang efektif untuk mengingat dan menghafal 3 x lebih cepat (Elexmedia, 2009). Kartu ini mempunyai dua sisi, sisi depan dan sisi belakang. Sisi depan tertulis judul bab, istilah, gambar, pertanyaan atau pernyataan yang perlu diingat. Sementara sisi belakang tertera mind map, definisi, keterangan gambar, jawaban, atau uraian. Namun, tidak semua kartu dalam flashcard seperti di atas, karena flashcard pada dasarnya adalah kartu bergambar yang membantu anak belajar mengingat dan menghafal. Karena tujuan dari metode ini adalah melatih kemampuan otak kanan untuk mengingat gambar dan kata-kata, sehingga perbendaharaan kata dan kemampuan membaca anak bisa dilatih dan ditingkatkan sejak usia dini.

 

  1. H.      Penggunaan Flash Card

Dalam menggunakan flashcard untuk belajar membaca anak, perlu diketahui kunci keberhasilan menggunakan flashcard sebagai education card. Kunci keberhasilan pengenalan melalui flashcard (Zakir, 2010) adalah :

  1. Repetition. Mengucapkan dan mengulangi huruf atau kata pada flashcard dengan lantang dan jelas, tidak terlalu lembut. Dan lebih baik lagi bila susunan kartu yang guru kenalkan benar-benar diingat atau dibagian  belakang kartu bisa diberi nomor sehingga pengulangannya sempurna, tidak acak. Maksud repetition adalah, misalnya hari ini mengenalkan “grapes – banana – peas – apple” maka next session yang di ulang juga susunanannya diusahakan sama yaitu “grapes – banana – peas – apple” dan seterusnya. Setelah lebih dari 3 hari, untuk anak yg sudah bisa bicara ujung-ujung belakang kata, tanya ke mereka, ini apa ya? Dan setelah sudah “khatam” baru boleh diacak.
  2. Gunakan target. Jangan kenalkan macam flashcard secara bersamaan. Contoh: 1 minggu kenalkan dan tamatkan seri kartu A, minggu depan tamat kartu B dan selanjutnya. Siapkan waktu 20-40 menit per sesi.
  3. Menciptakan suasana bermain namun serius dan tetap harus menyenangkan.
  4. mematikan televisi, silent hp, bila perlu tutup pintu kelas saat kegiatan ini dilakukan, supaya anak fokus.
  5. Melihat kesiapan anak untuk belajar. Apakah mereka siap untuk belajar atau tidak. Bila anak rewel, mengantuk, lapar, maka sesi belajar akan sangat tidak menyenangkan.

Tentunya semua sesuai kemampuan anak dan keyakinan guru bahwa anak mampu menangkap dan menerima pelajaran dan pengenalan yang disampaikan.

 

  1. I.         Keuntungan Penggunaan Flash Card bagi Pengembangan Membaca Anak Usia Dini

Flash card adalah kartu permainan yang dilakukan dengan cara menunjukkan gambar secara cepat untuk memicu otak anak agar dapat merima informasi yang ada di hadapan mereka, dan sangat efektif untuk membantu anak belajar membaca, mengenal angka, mengenal huruf di usia sedini mungkin. Adapun manfaat dari metode Flashcard antara lain (Kaskus, 2010) adalah :

1.         Anak akan dapat membaca pada usia sedini mungkin.

2.         Mengembangkan daya ingat otak kanan.

3.         Melatih kemampuan konsentrasi anak.

4.         Memperbanyak perbendaharaan kata dari anak.

Dengan peningkatan fungsi otak kanan, maka mempunyai fungsi luar biasa seperti :

1.        Photographic memory

2.        Speed reading, listening

3.        Automatic mental processing

4.        Mass-memory

5.        Multiple language acquisition

6.        Computer-like math calculation

7.        Creativity in movement, music and art

8.        Intuitive insight

Begitu luar biasanya fungsi dari otak kanan, sementara hampir seluruh kehidupan masyarakat, baik mulai dari sekolah sampai dengan kegiatan sosial sehari-hari hanya menekankan pada kemampuan otak kiri. Sistem pendidikan dan masyarakat juga saat ini hanya menfokuskan pada kemampuan otak kiri saja. Perkembangan otak kanan seakan-akan ditinggalkan begitu saja sejak anak masuk ke Sekolah Dasar.

Dalam hal ini bukan berarti kegunaan otak kiri tidak penting, otak kiri sangatlah penting, tetapi perkembangan otak kanan tidak bisa diabaikan, artinya diperlukan keseimbangan kemampuan kedua belah otak, supaya kecerdasan anak berkembang dengan maksimal, dan otak kanan dari anak juga ikut dikembangkan sebelum anak terjun ke dunia otak kiri di sebagian besar hidupnya nanti.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan otak kanan, antara lain dengan image training, visualisasi, termasuk juga dengan permainan Flash card ini.

Metode Flash card sudah sangat terkenal di negara-negara maju dan terbukti sangat efektif untuk mengajarkan anak membaca di usia yang sedini mungkin. Maka, harus segera memberikan stimulasi-stimulasi kepada anak, sehingga perkembangan otaknya, baik kiri maupun kanan bisa tumbuh dengan seimbang.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.      KESIMPULAN

Selama ini, pendidikan anak usia dini, tidak diperkenankan adanya pelajaran membaca, karena merujuk pada teori psikologi Piaget beranggapan bahwa pada usia di bawah 7 tahun anak belum mencapai fase operasional konkret. Fase itu adalah fase, dimana anak-anak dianggap sudah bisa berpikir terstruktur. Sementara itu, kegiatan belajar membaca sendiri didefinisikan sebagai kegiatan yang memerlukan cara berpikir terstruktur, sehingga tidak cocok diajarkan kepada anak-anak usia dini yang masih berusia balita.

Namun pada kenyataannya di lapangan, anak-anak dituntut mampu membaca sebagai syarat kelulusan pendaftaran di yang lebih tinngi, yaitu sekolah dasar. Untuk itu bila tidak diajarkan membaca sejak dini, kemungkinan anak tidak bisa lulus seleksi masuk sekolah dasar. Sebenarnya topik pelajaran bukanlah persoalan yang akan menghambat seseorang, pada usia berapapun, untuk mempelajarinya. Syaratnya hanyalah mengubah cara belajar, disesuaikan dengan kecenderungan gaya belajar dan usianya masing-masing sehingga terasa menyenangkan dan membangkitkan minat untuk terus belajar.

Glenn Doman menjadi pelopor dalam pengembangan metode belajar membaca dan matematika bagi anak-anak usia dini.  Glenn Doman adalah contoh lain pendobrak teori perkembangan Piaget. Glenn Doman berhasil membantu menyembuhkan orang-orang yang mengalami cedera otak melalui flash card (Fatoni, 2009). Doman hanya merekomendasikan pembelajaran membaca 45 detik per hari. Sehingga kemungkinan anak-anak merasa terbebani karena metode itu sangatlah kecil. Tidak mengherankan jika anak-anak usia 2 atau 3 tahun pun sudah mahir membaca dan juga menjadi sangat suka serta tentu saja tidak menolak untuk belajar membaca dengan pendekatan tersebut.

Flashcard sering dikenal dengan sebutan education card. Flashcard adalah kartu-kartu bergambar yang dilengkapi kata-kata, yang diperkenalkan oleh Glenn Doman, seorang dokter ahli bedah otak dari Philadelphia, Pennsylvania (Domba, 2009). Flash Card adalah kartu belajar yang efektif untuk mengingat dan menghafal 3 x lebih cepat (Elexmedia, 2009). Flashcard pada dasarnya adalah kartu bergambar yang membantu anak belajar mengingat dan menghafal. Karena tujuan dari metode ini adalah melatih kemampuan otak kanan untuk mengingat gambar dan kata-kata, sehingga perbendaharaan kata dan kemampuan membaca anak bisa dilatih dan ditingkatkan sejak usia dini.

Dengan peningkatan fungsi otak kanan, maka mempunyai fungsi luar biasa seperti : Photographic memory, speed reading, listening, automatic mental processing, mass-memory, multiple language acquisition, computer-like math calculation, creativity in movement, music and art, dan intuitive insight. Metode Flash card sendiri sudah sangat terkenal di negara-negara maju dan terbukti sangat efektif untuk mengajarkan anak membaca di usia yang sedini mungkin. Maka, guru harus segera memberikan stimulasi-stimulasi kepada anak, sehingga perkembangan otaknya, baik kiri maupun kanan bisa tumbuh dengan seimbang.

 

B.       SARAN

Flash card adalah kartu permainan yang dilakukan dengan cara menunjukkan gambar secara cepat untuk memicu otak anak agar dapat merima informasi yang ada di hadapan mereka, dan sangat efektif untuk membantu anak belajar membaca, mengenal angka, mengenal huruf di usia sedini mungkin.

Gambar-gambar pada flashcard dikelompok-kelompokkan antara lain: seri binatang, buah-buahan, pakaian, warna, bentuk-bentuk angka, dan sebagainya. Namun, tidak hanya terpaku pada hal tersebut. Guru sendiri juga mampu untuk membuat flash card sesuai dengan kebutuhan yang sesuai dengan di lapangan tempat guru mengajar. Flash card bisa dibeli di toko, didownload di internet, dan jika menginginkan yang lebih bervariasi dan sesuai dengan kebutuhan bisa membuat sendiri baik itu menggunakan komputer, menggunting gambar dari majalah atau koran, sampai dengan menggambar sendiri.

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

 

Ceria, Bocah. 2009. Metode Pengembangan membaca Untuk Anak, (Online), (http://ceriabocah.blogspot.com/2009/06/metode-pengembangan-membaca-untuk-anak.html, diakses tanggal 25 Pebruari 2012)

 

Dhieni, Nurbiana, dkk. 2009. Metode Pengembangan bahasa. Jakarta: Universitas Terbuka

 

Domba. 2009. Kartu Bergambar Flashcard, (Online), (http://domba-bunting.blogspot.com/2009/04/kartu-bergambar-flashcard.html, diakses tanggal 5 Maret 2012)

 

Elexmedia. 2009. Flash Card, (Online), (http://www.elexmedia.co.id /forum/index.php?topic=15303.0, diakses tanggal 5 Maret 2012)

 

Fatoni. 2009. Pengembangan Kemampuan Membaca Anak Usia Dini Melalui Metode Glenn Domain, (Online), (http://fatonipgsd071644221. wordpress.com/2009/12/30/pengembangan-kemampuan-membaca-anak-usia-dini-melalui-metode-glenn-doman/, diakses tanggal 25 Pebruari 2012)

 

Kaskus. 2010. Flash Card Baby, (Online), (http://www.kaskus.us /showthread.php?t=7213981, diakses tanggal 5 Maret 2012)

 

Rouf, Abdul. 2009. Meode Pengajaran Membaca, (Online), (http://www.mts ppiu.sch.id/bahasa-indonesia/metode-pengajaran-membaca, diakses tanggal 25 Pebruari 2012)

 

Tarigan, Djago. 1991. Bahasa Indonesia I Buku Modul 1-6. Jakarta: Depdikbud

 

Zakir, Chica. 2010. Smarter with Flash Card Learning, (Online), (http://theu rbanmama.com/topics/activities/132/smarter-with-flash-card-learning.html, diakses tanggal 5 Maret 2012)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: